Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Papa Sibuk


__ADS_3

"Papa nggak asik!" ucap Liam, lalu menyuapkan sesendok nasi goreng buatan bundanya.


Hari ini Daris harus berangkat ke luar kota.


Dan betul dugaan Merry dan Daris, anak-anak marah dan tidak bisa mengerti.


"Iya, kerja terus, jarang main sama kita!" Luham ikut menimpali.


Daris benar-benar dipojokkan oleh anaknya.


Sabar saja, tidak perlu marah-marah. Tidak perlu marah sampai berteriak "Papa kan kerja buat kamu. Harus ngerti dong!"


Tidak perlu seperti itu.


Perlahan-lahan saja dijelaskan. Semakin bertumbuh besar nantinya mereka akan mengerti secara perlahan.


Biarkan semuanya mengalir dengan semestinya. Dan yang pasti, Daris dan Merry akan selalu mengajarkan kebaikan. Berusaha semaksimal mungkin yang Daris dan Merry mampu.


"Iya, Papa kan sedang kerja. Maaf ya kalau Papa sibuk banget. Nanti Papa usahakan untuk pandai membagi waktu!" jawab Daris.


Sebenarnya memang seharusnya pandai membagi waktu. Selain faktor agar tidak kekurangan waktu bersama keluarga, tapi juga faktor kesehatan.

__ADS_1


"Iya, lagipula dibalik kesibukan Papa, kita juga harus bersyukur. Alhamdulillah Papa diberi pekerjaan yang bagus sama Allah. Banyak loh orang diluar sana yang tidak seberuntung Papa. Mereka tidak punya pekerjaan. Sulit mencari pekerjaan. Keuangannya sulit. Tapi Alhamdulillah kan rejekinya Papa lancar." jelas Merry dengan sebaik mungkin yang ia mampu.


Liam dan Luham terdiam merenungi perkataan kedua orangtuanya.


Sebetulnya hatinya masih tidak rela papanya terlalu sibuk. Namun, apa yang dikatakan bundanya juga benar.


"Tapi Papa selalu sibuk!" jawab Luham.


Dibalik gejolak hati mereka, tetap ada rasa penolakan. Tetap saja papanya sibuk. Jangan terlalu sibuk masa tidak bisa?


Daris tersenyum mendengar penuturan bijak dari istrinya tadi. Memang tidak salah pilih istri dan ibu untuk anak-anaknya.


Daris benar-benar mendapatkan berlian. Entah kenapa dirinya begitu beruntung.


Daris akan menjadi orang yang paling menyesal jika hal tersebut terjadi.


"Papa minta maaf ya!" pinta Daris kepada anak-anaknya.


Liam dan Luham masih terdiam. Sesungguhnya cukup sulit untuk menerima keadaan ini.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi!" jawab Liam.

__ADS_1


Ya sama seperti jawaban sebelum-sebelumnya. Pasti seperti itu.


Daris tersenyum kepada anak-anaknya.


Daris juga akan berusaha untuk pandai membagi waktu. Ia juga tidak ingin kehilangan momen masa kecil anak-anaknya yang tidak bisa terulang kembali.


Ingin menjadi ayah yang bisa menemani anaknya untuk bercerita tentang segala hal. Ayah yang juga bisa menjadi teman bagi anaknya.


Daris akan berusaha tentang itu. Walaupun entah kenapa semakin lama pekerjaannya membuatnya semakin sibuk.


Tanggung jawabnya di perusahaan semakin besar. Waktu bersama keluarga semakin berkurang.


Selalu berangkat pagi dan pulang malam.


Untuk menjemput Emir siang hari saat pulang sekolah juga harus pandai mencuri waktu.


Karena bagaimanapun Daris juga ingin menjadi atasan yang disiplin bagi karyawan nya. Bukan atasan yang seenaknya sendiri. Atasan yang harus lebih rajin dari karyawan nya, agar karyawan nya bisa termotivasi juga untuk rajin.


Berusaha memberi contoh yang baik. Ya, walaupun Daris sendiri masih jauh dari kata baik. Namanya juga terus berusaha agar lebih baik.


"Iya, nanti sebagai gantinya, kalau papa pulang kita jalan satu keluarga. Terserah deh mau kemana, Papa nurut!" ucap Daris.

__ADS_1


Asalkan masih satu kota sih. Kalau luar kota kayaknya nggak bisa! batin Daris.


__ADS_2