Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Tidak Dianggap


__ADS_3

"Kak, bukunya aman kan nggak ada yang ketinggalan?" tanya Merry saat keluar kecil mereka berada di ruang makan untuk sarapan .


"Tidak Bunda. Sudah dicocokkan dengan jadwal pelajaran tadi!" jawab Liam.


"Ini bekalnya jangan sampai lupa loh!" ujar Merry.


"Berangkat sama papa ya, seperti biasa!" Daris ikut menimpali.


Namun, tak ada jawaban dari kedua anaknya. Mereka tetap sibuk mengunyah makanan.


Sedari tadi keberadaan Daris seperti tak dianggap oleh anaknya. Mereka hanya menjawab pertanyaan bundanya.


Daris dan Merry saling melirik.


"Sabar," ucap Merry tanpa suara.


Daris mengangguk sembari tersenyum pahit. Sejak kejadian kemarin, anak-anaknya enggan untuk berbicara dengannya. Kecuali Emir yang tidak mengerti apa-apa.


Daris dan Merry memang belum mencoba menjelaskan kepada anak-anak. Mereka masih menunggu waktu yang tepat.


"Papa nanya loh Kak, dijawab dong!" tegur Merry dengan perlahan.


Luham melihat bundanya. "Kita sudah buat janji dengan Pak Sopir Bun. Janji harus ditepati kan?" Luham justru bertanya balik kepada bundanya.


Mendengar jawaban dari Luham, Daris tersenyum sembari mengangguk. Itu adalah ajarannya selama ini kepada anak-anak.

__ADS_1


Ya tidak papa, sepulang kerja nanti Daris akan menyelesaikan permasalahannya ini kepada anak-anak.


Namun, ada satu hal yang membuat Daris jadi bertanya-tanya. Apakah anak-anak saat ini juga marah kepada Ambar? Atau hanya kepadanya saja?


" Ya sudah kalau mau berangkat sama Pak Sopir. Nanti yang rajin dan yang baik ya di sekolah!" jawab Merry.


"Siap, Bunda!" jawab mereka serentak.


"Nanti Bunda jadi jemput kita sekolah kan?" tanya Luham.


"Jadi dong!" jawab Merry.


"Nanti Bunda sama Papa jemput kalian!" Daris ikut menimpali.


"Sama Emil juga!" Merasa namanya tak disebut oleh papanya, Emir langsung angkat bicara.


Daris mencubit pelan pipi Emir dengan gemas. Anak itu sedang duduk di dekat papanya. Sekarang dia sudah mandiri mau makan sendiri.


"Emir sama Bi Sami aja di rumah. Nggak usah ikut. Kan papa nggak ngajak Emir!" Daris mulai mengusili anak bungsunya.


Emir menggeleng. "Emil ikut Papa!" ucapnya.


"Papa kan nggak ngajak Emir. Ya, Emir di rumah aja dong!" ucap Daris.


Merry mendengarnya sambil geleng-geleng. Awas saja kalau sampai Emir ngambek sampai nggak mau berangkat sekolah.

__ADS_1


"Emil diajak kok!" jawabnya dengan penuh penekanan.


"Diajak sama siapa?" tanya Daris.


"Sama Kak Liam sama Kak Luam!" jawabnya dengan penuh keyakinan.


Daris tertawa. Boleh juga jawabannya.


"Nanti yang nyetir kan papa. Jadi seharusnya yang ngajak papa dong. Karena papa nggak ngajak Emir, jadi nanti Emir di rumah aja sama Bi Sami. Nanti Emir berdiri di teras, terus papa dan bunda di dalam mobil, terus nanti papa bilang, dada Emir, papa dan bunda mau berangkat dulu, Emir di rumah aja yaa!" Daris semakin menjadi-jadi saat mengusili anaknya.


"Nanti Emil masyuk duluan ke mobil!" Untungnya Emir sudah bukan Emir yang cengeng. Dia tidak mudah menyerah dan menangis saat diusili oleh papanya.


"Memangnya Emir bisa sendiri?" tanya Daris.


Sambil menyuapkan sesuap sendok nasi, Emir menggeleng.


"Lah kan nggak bisa, gimana dong?" tanya Daris.


"Minta tolong Bibi!" jawabnya yang berhasil membuat Merry tersenyum.


Daris tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Biasanya Liam dan Luham akan ikut menyahut, entah dia ikut mengusili Emir atau justru membela Emir. Semuanya pasti ribut dan heboh.


Namun, sekarang mereka hanya dan menyimak.

__ADS_1


__ADS_2