
Merry dan Daris kembali menjaga Luham di luar ruangan. Mereka duduk di kursi tunggu depan ruang ICU. Jujur sebenarnya tidak nyaman di tempat seperti ini. Namun, demi Luham di mana pun mereka berada akan sebisa mungkin mereka menyamankan diri.
Merry dan Daris duduk bersandingan.
"Mamanya anak-anak udah tahu Pak?" tanya Merry karena bagaimanapun mamanya harus tahu tentang kondisi anaknya.
Daris mengangguk, tentu saja Ambar sudah tahu, Daris sudah mengabarinya.
"Tapi nggak bisa jenguk!" jawab Daris sendu.
Daris memang memaklumi keadaan Ambar yang tinggal di Australia, tapi jujur Daris kasihan pada Luham karena dalam keadaan seperti ini tak ada seorang ibu di sampingnya, padahal ibunya masih hidup.
Kalau saja mereka bertukar posisi, sejauh apa pun Daris berada, mendengar kabar anaknya sedang sakit apalagi sampai sekarang masih koma, pasti Daris berusaha untuk datang.
Merry diam saja, ia tak mau menghakimi orang lain. Merry juga takut salah bicara, takut bicaranya nanti membuat hubungan Daris dan Ambar jelek dan renggang. Padahal, mereka harus kompak demi anak-anak mereka. Bayangkan saja, mereka sudah punya tiga anak.
"Sebaiknya setelah ini Bapak pulang dulu sebentar, pasti anak-anak di rumah rindu sama Bapak!" pinta Merry.
"Kamu benar Mer!" Daris menyetujui permintaan Merry. Daris juga rindu dengan anak-anaknya di rumah.
"Terus kalau saya pulang kamu nggak papa di sini sendirian?" tanya Daris dengan perasaan tidak enak.
"Ya nggak papa lah Pak!" jawab Merry sembari terkekeh kecil.
Sempat terlintas ide di otak Daris apa enaknya nyuruh Al ke sini untuk menemani Merry ya? Tapi Daris langsung membuang jauh-jauh ide itu, bisa-bisa Merry dipelet sama playboy cap kandang itu!! Udah lah, emang lebih baik Merry sendiri.
"Aku cuma sebentar kok!" ujar Daris.
Lama juga nggak papa Pak! batin Merry sambil terkekeh.
*****
Daris POV
Pulang dari rumah sakit tempat Luham di rawat dan melewati jalan ini membuat ingatan gue empat tahun yang lalu menyeruak.
Di rumah sakit itu juga dulu Emir dilahirkan.
Namun, sayangnya kelahiran Emir tak mendapat sambutan kebahagiaan yang penuh selayaknya kelahiran si kembar dulu.
Kelahiran Emir adalah tanda jika bahtera rumah tangga gue dengan Ambar segera berakhir.
Dulu melewati jalanan ini gue membawa Emir pulang tanpa mamanya, tanpa Ambar.
__ADS_1
Ambar lebih memilih pulang ke rumah orangtuanya sembari menunggu proses perceraian kita beres. Dulu gue sempat nggak habis pikir, apa dia nggak sayang pada Emir?
Mirisnya, Emir kecil tak mendapat ASI dari mamanya.
Dulu di jalan ini, tapi di mobil lama gue, Almarhum Mama gue duduk di sebelah gue yang sedang menyetir mobil sembari memangku Emir yang masih berusia lima hari. Tepatnya sepulang Emir dari rumah sakit tempat ia dilahirkan.
Dan gue ingat betul dulu Raya, Luham, dan Liam menyambut kami di rumah dengan hiasan tulisan di dinding "Welcome Adek Emir!"
Mereka menyambut kehadiran adiknya dengan suka cita, tapi sayang mamanya sudah tak pulang lagi ke rumah itu.
Gue memang ikhlas dengan perceraian kami, hanya saja terkadang merasa kasihan dengan anak-anak. Kadang gue juga nggak habis pikir kenapa Ambar nggak bisa mengendalikan egonya demi anak-anak, apakah dia lupa sudah punya tiga anak?
Ambar lebih memilih menikah dengan pria bule masa lalunya, Ambar sangat terobsesi pada pria bule itu.
Dulu gue udah melakukan apapun agar dia nggak pergi dari hidup gue dan anak-anak.
Gue lakuin itu karena di satu sisi dulu gue cinta banget sama Ambar dan sisi lain anak-anak butuh Ambar, dia adalah ibu dari ketiga anak. Kita udah punya tiga anak.
Namun sayang, perjuangan gue nggak menghasilkan apa-apa. Perjuangan gue sia-sia.
Namanya juga terobsesi, ya udah gue nggak bisa maksa. Dengan berat hati gue lepasin dia.
Jujur di awal perceraian gue sempat dendam dan berharap agar rumah tangga Ambar yang baru menjadi rumah tangga yang nggak sehat. Dengan harapan "Rasain Lo udah ninggalin gue, nggak bahagia kan hidup Lo sekarang?"
Gue memacu mobil dengan kecepatan sedang. Gue berusaha menenangkan hati gue sebelum sampai di rumah, jadi saat sampai di rumah hanya kebahagiaan yang gue berikan kepada anak-anak.
Berbicara tentang Ambar, gue kasihan sama Luham nggak bisa dijenguk mamanya. Tapi ya udah mau gimana lagi? Setidaknya gue tenang karena di sana ada Merry.
Jujur ini kali kedua gue melihat Merry panik, yang pertama saat tragedi yang menimpa Emir dulu dan yang kedua yang sekarang ini, tragedi pada Luham.
Nah, stop, lampu lalu lintas berwana merah! Harus antrian dulu gue. Nggak papa deh sabar aja.
Tanpa sengaja gue melihat ibu-ibu paruh baya naik ojek juga sedang mengantri di sebelah mobil gue. Gue menajamkan netra gue, itu ibunya Ambar kan? Alhamdulillah beliau masih sehat.
Beliau pasti udah tahu kalau cucunya masuk rumah sakit, tapi sayang belum jenguk juga sampai sekarang. Ya, positive thinking aja lah, mungkin beliau masih sibuk. Dari dulu sampai sekarang memang beliau tak berubah, suka naik ojek.
*****
Author POV
Merry duduk sendirian di kursi tunggu.
Tiba-tiba muncul di depannya seorang lelaki tampan tapi masih tampan Daris menurut Merry.
__ADS_1
Wow, Queen Merry! batin Al.
Al berusaha seformal mungkin walaupun dalam hatinya menjerit-jerit ingin segera mengeluarkan jurus maut andalan Al.
"Pak Daris di mana?" tanya Al.
"Pulang, sebentar kok, kamu ada perlu sama Pak Daris?" jawab Merry dengan santai. Hatinya sedang tidak ingin judes pada orang lain.
"Mau menjenguk Luham!" jawab Al.
"Nggak sia-sia gue cape ngantor tapi nyempetin ke sini! Mana tiba-tiba ketemu Queen Merry, eh sekarang berduaan lagi!" ucap Al dalam hati.
Tapi tiba-tiba muncul seorang perawat yang lewat di depan mereka.
"Ralat nggak jadi berduaan, dari tadi ada yang lewat terus di depan kita!" gerutu Al dalam hati.
"Boleh saya duduk?" tanya Al pada Merry.
"Silahkan, kursi di sini berlaku untuk umum!" jawab dengan singkat, padat, dan jelas.
Akhirnya, Al pun duduk di sebelah Merry. Al mengambil posisi nyaman, supaya terlihat elegan dan macho di depan Merry.
"Bagaimana keadaan Luham?" tanya Al.
Merry tersenyum masam, ingin rasanya Merry segera melihat Luham sadar.
"Kata dokter udah lebih baik dari sebelumnya!" jawab Merry sekadarnya.
"Semoga segera membaik ya keadaan Luham, dia anak yang baik! Kasihan sekali keadaannya seperti ini!" ujar Al dengan sendu.
Tak dapat dipungkiri, anak-anak Daris memang akrab dengan Al, sudah seperti Om sendiri.
"Aamiin," Merry mengamini perkataan Al.
--------------------------
Spesial double up untuk kalian 🖤🖤
Jangan lupa like, komen, dan vote yaa!!
Oh ya buat yang belum mem favoritkan cerita ini, yuk difavoritkan! Biar kalian tahu update an terbarunya!!
Oh ya, jangan lupa doakan Luham agar cepat sembuh ya!!
__ADS_1
Luv Luv sampe tumpah-tumpah untuk kalian semua 🖤🖤