
Tiba waktunya di penghujung pertandingan. Bunyi peluit wasit terdengar menandakan pertandingan sudah berakhir.
Dan, ya, seperti dugaan sebelumnya. Tim Luham dan Liam menang. Ini semua berkat kerja keras mereka.
Semua penonton yang mendukung tim mereka berdiri, bersorak gembira, dan bertepuk tangan.
Begitupun dengan tim yang mendukung tim lain juga ikut memberikan tepuk tangan.
"Kalian hebat, kalian luar biasa!" teriak Al untuk tim Luham dan Liam.
"Huu, menang menang, yeey!" teriak Raya.
Emir juga ikut bersorak-sorak sembari meloncat-loncat.
Sedangkan Daris terus tersenyum sambil bergumam, "Luar biasa. Anak-anak yang hebat dan berbakat!"
Bibir Merry pun juga terus tersenyum. Dalam hatinya bahagia atas kemenangan mereka dan bersyukur anak-anaknya baik-baik saja.
Sejak tadi Merry terus berdoa supaya anak-anaknya tidak sampai jatuh dan luka. Supaya anak-anaknya dan teman-temannya semua baik-baik saja.
"Harus terus dikembangkan kalau kayak gini. Bisa jadi tim yang hebat mereka!" ujar Daris kepada Merry.
Merry mengangguk. "Mereka semua memang hebat, Mas. Mereka juga latihan dengan sungguh-sungguh. Proses memang tidak mengkhianati hasil!" jawab Merry.
Sedari tadi matanya tertuju kepada kedua anaknya. Mereka nampak sumringah bersama teman-teman satu timnya.
Saling berpelukan dan tertawa.
__ADS_1
Si kembar yang sama-sama menjadi penyuka bola. Mereka sudah aktif mengikuti futsal sebelum Merry hadir di kehidupan mereka.
Pernah Merry bertanya kenapa mereka suka bermain bola?
Jawaban mereka sederhana. Bermain bola ada suatu hal yang menyenangkan. Kalah menang pun mereka tetap suka bermain bola.
Merry menyimpulkan jika hobi mereka memang bermain bola.
Sebagai ibu tentu Merry mendukung selagi itu hal positif. Bagus juga kalau sukanya olahraga. Bukan suka dengan hal-hal yang cenderung ke negatif.
Sebetulnya Daris juga suka bermain bola. Dulu dia juga aktif dalam tim sepak bola. Hanya saja, sekarang sudah tidak pernah.
Entah nanti Emir suka atau tidak.
Namun, jika dilihat-lihat, Emir tidak begitu tertarik dengan bola. Dia lebih suka berenang. Apapun itu dia suka berenang.
Setelah semuanya selesai.
Saat Luham dan Liam bertemu dengan papa, bunda, adik, om, dan tantenya.
"Kita menang, Pa, Bun!" teriak Liam sambil berpelukan kepada Daris.
Luham juga langsung berpelukan dengan bundanya.
Setelah itu, mereka bersalaman. Dan gantian Liam memeluk Merry, Luham memeluk Daris.
Setelahnya juga Raya dan Al berganti memeluk.
__ADS_1
"Congrats!" ujar Al saat memeluk Luham dan Liam secara bergantian sambil menepuk-nepuk punggung mereka.
Luham dan Liam bahagia bukan hanya karena tim mereka memenangkan pertandingan ini. Namun, karena keluarganya juga menonton dan menyaksikan kemenangan ini.
"Lawannya hebat, Pa. Cuma selisih satu gol aja!" ujar Luham kepada Daris.
"Iya dong, mereka kan juga hebat. Berlatih dengan sungguh-sungguh juga!" jawab Daris.
"Makanya, latihan yang semangat. Biar jadi tim futsal yang hebat!" Al ikut menimpali.
"Kakak menang nanti dapet hadiah?" tanya Emir sambil menarik-narik baju Liam.
"Dapet dong!" jawab Liam dengan bangga.
"Hadiahnya banyak?" tanya Emir lagi dengan penasaran.
"Hahaha," Sedangkan Raya langsung tertawa mendengar pertanyaan Emir.
Merry, Daris, dan Al langsung melihat Raya kenapa dia tertawa.
"Kenapa?" tanya Al dengan heran. Perasaan nggak ada yang lucu.
"Emir itu hadiah aja yang dipikirin. Sama kayak Om Al, hahaha. Duit, duit, dan duit terus yang dipikirin!" jawab Raya masih tetap tertawa.
Al tergelak. Ya iyalah bocah. Kagak ada duit nggak bisa makan gua.
Daris dan Merry terkekeh.
__ADS_1
Awas, awalnya emang saling bully. Lama-lama jadi saling...