
"Bunda, Emil mau mamam kue tobeli!" tunjuk Emir pada cake strawberry.
Acara pernikahan mereka dilaksanakan dengan tema kekeluargaan, jadi pengantinnya membaur bersama para tamu.
"Luham juga mau Bunda!" sahut Luham.
"Kak Liam mau juga?" tanya Merry pada Liam karena tidak meminta seperti yang lainnya.
"Liam suka yang coklat!" jawab Liam yang ternyata sedari tadi sudah fokus pada kue coklat.
"Oke, Bunda ambilin dulu ya!" ujar Merry sembari berdiri dari duduknya.
"Wait wait, pengantinnya duduk manis aja di sini! Pengantin itu ibarat raja dan ratu sehari, jadi biarkan Raya sekarang yang berperan sebagai pelayanan! Kak Merry duduk aja, biar Raya yang ngambilin kue untuk anak-anak!" Raya menahan Merry agar tidak berdiri.
Merry tersenyum melihat tingkah Raya.
Setelah kepergian Raya.
"Bunda, kata Tante Laya, besok Emil mau punya dedek ya?" tanya Emir dengan polos dan berhasil menarik perhatian Luham.
"Beneran Bunda?" tanya Luham dengan semangat.
"Adiknya cewek kan Bunda?" tanya Luham lagi.
"Cowok Kakak!!" jelas Emir.
"Ih, cewek aja! Kita bertiga udah cowok semua
loh Dek!" tutur Luham.
"Emil mau dedek cowok, telus main bola baleng!" jelas Emir sok dewasa.
"Ih, cewek juga bisa main bola! Iya kan Bunda?" tanya Luham pada Merry.
Kepala Merry pusing tujuh keliling, kenapa juga mereka ngomongin adik. Adik apa woy? Raya juga ngapain ngajarin gitu!
"Adiknya di pelut ya Bunda?" tanya Emir dengan polos.
"Serius Bunda? Ini di perut ada adiknya?" tanya Luham dengan takjub sembari mendekat dan memegang perut Merry.
"Emil juga mau pegang Adik!" Emir ikut-ikutan ingin memegang perut Merry.
"Beneran ya Bunda? Jadi di perut Bunda ini ada dedek bayi kaya pas Mama hamil Emir?" tanya Luham dengan serius.
"Bisa gerak-gerak kan Bunda?" sambung Luham heboh.
"Emil mau pegang Adek gelak-gelak!" Si kecil Emir juga ikutan heboh.
Merry melihat sekitarnya, astaga anak-anak ini megang-megang perutnya, bisa-bisa dia dikira udah hamidun sebelum nikah.
"Pa Pa, di perut Bunda ada adiknya!" Ternyata setelah berbincang-bincang dengan tamu undangan, Daris ikut bergabung bersama anak dan istrinya.
Baru datang langsung disambut pernyataan yang ambigu oleh Luham.
Daris mengerutkan dahinya, apa maksudnya?
"Belum ada Kakak, kalau mau minta adik harus minta dulu sama Allah!" jelas Merry supaya salah paham ini tidak berkepanjangan.
__ADS_1
"Maksudnya Bunda?" tanya Luham bingung.
"Kalau Kakak pengen adik, harus berdoa sama Allah biar dikasih adik!" jelas Merry.
"Emil mau doa bial punya adik!" sahut Emir antusias.
"Dan satu lagi, kalau pengen punya adik, setiap hari semuanya harus bobo di kamar sendiri! Nggak boleh tiap hari minta tidur sama Papa dan Bunda!" ujar Daris ikut menimpali.
Mata Merry langsung terbelalak, gila nih Daris, bisa-bisanya kepikiran ngomong gitu.
"Tapi Emil mau bobo sama Bunda!" jawab Emir dengan sedih.
Sepertinya Emir ingin membatalkan keinginannya untuk punya adik kalau ternyata syarat ingin punya adik ngga boleh tidur sama Bundanya tiap malam.
"Ya boleh tidur sama Bunda, tapi jangan setiap hari!" jelas Daris dengan mantap.
Kepala Merry mendadak pusing mendengar anak dan bapak bernegosiasi tentang hal demikian. Otak Merry juga jadi traveling membayangkan yang iya-iya.
"Boleh banget kalau Emir, Kakak Luham, dan Kakak Liam tidur sama Bunda!" sahut Merry mencoba menengahi.
Masa iya sama anak sendiri tega nggak ngebolehin tidur bareng Papa dan Bundanya.
Tadi ngomongin adik sampai heboh, sekarang negosiasi tidur bareng. Astaga, yang sabar Merry, ini masih permulaan.
"Pa,nanti malam kita masih tidur di sini?" tanya Liam. Akhirnya, si penyimak setia negosiasi sedari tadi ikut angkat bicara.
"Iya Kak, kenapa?" jawab Daris.
"Liam tidur sama Papa ya?" pinta Liam.
"Kalau Emil mau tidul sama Bunda!" sahut Merry.
Daris menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau ngomong nggak boleh ini sama anak sendiri, mau ngomong boleh berarti malam ini mereka tidurnya rombongan dong?
"Iya boleh, malam ini kita tidur bareng! Papa, Bunda, Kak Liam, Kak Luham, Adek Emir, semuanya tidur bareng!" jelas Daris yang sebenarnya kurang ikhlas dengan perkataannya barusan.
Heh, sumpah, dulu mana mungkin Merry mikir hal demikian, tapi sekarang hal seperti ini sudah menjadi topik pembicaraan yang penting.
"Hai hai keponakan Tante yang ganteng-ganteng, pesanannya udah nyampe!" seru Raya sambil membawa banyak makanan.
"Serius makanan segitu banyaknya cuma pesenan anak-anak?" tanya Daris karena tercengang dengan bawaan Raya yang banyak.
Raya nyengir kuda, ya jelas nggak lah!
"Ih Kakak, Raya kan juga butuh makan, pesanannya sih tadi cuma tiga kue, tapi ini sisanya untuk kebutuhan Raya sendiri hihi!" jelas Raya sambil cekikikan.
Daris langsung tertawa, sudah hafal dengan model an adiknya ini.
"Kak Merry ini Kak kue!" tawar Raya pada
Merry.
"Udah, kamu makan aja! Kakak udah kenyang!" tolak Merry karena rasanya ia kurang ***** makan.
"Kakak nggak ditawari nih?"tanya Daris.
"Ambil sendiri aja, tuh deket tempat makanannya!"
__ADS_1
"Dasar pelit!" jawab Daris.
Di kuris yang letaknya lumayan jauh dari tempat Merry sekeluarga duduk, Amar duduk melihat mereka dengan miris.
Dipangkuannya ada Chan yang sedari tadi ingin berlari ke Merry, tapi Amar selalu menahannya.
Amar tidak ingin menganggu kebahagiaan keluarga itu. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya juga perih melihat kebahagiaan itu.
"Chan mau Bunda, Papi!" pinta Chan yang sedari tadi juga melihat ke arah Merry.
"Iya nanti boleh kok ketemu Bunda, tapi nanti dulu ya!" bujuk Amar pada putranya.
"Chan pengen ke Bunda sekarang!" Kekeuh Chan.
"Nanti ya sayang, sabar!" Amar mencoba memberi penjelasan pada putranya.
"Kata Bi Sami, sebentar lagi Bunda pindah ke rumah Om Daris ya Pi?" tanya Chan dengan sedih.
Sudah sedih nggak boleh ke Merry oleh Papinya, ditambah lagi katanya Merry mau pindah ke rumah Daris, Chan semakin sedih.
Hati Amar teriris mendengarnya, ia merasa bersalah pada putranya. Seharusnya memang saat ini Merry menjadi istrinya dan anaknya bisa bahagia mendapatkan ibu Merry.
Mendengar fakta bahwasanya Merry setelah ini akan tinggal di rumah suaminya bukan hanya Chan yang sedih, Amar juga sedih.
"Beneran ya Pi?" tanya Chan lagi.
"Iya sayang!" Dengan berat hati Amar menjawab demikian.
"Kenapa Pi? Berarti Kak Luham, Kak Liam, dan Emir juga tinggal bareng Bunda?" tanya Chan lagi.
Amar jadi bingung mau menjawab bagaimana.
"Kenapa Bunda nggak tinggal sama kita aja?" tanya Chan dengan polos.
Rasanya, Chan tidak terima kalau Merry tinggal dengan Daris. Kenapa tidak tinggal dengan dia dan papinya saja?
"Bunda Merry itu Bundanya mereka, jadi harus tinggal bareng dong!" jelas Amar.
"Bunda Merry yang hamil mereka?" tanya Chan lagi.
Suatu saat kamu akan mengerti Nak! batin Amar.
Anaknya ini memang jeli terhadap apapun, Chan tidak akan berhenti bertanya sebelum ia puas mendapat informasi yang ia inginkan.
"Pokoknya Chan tenang aja, kalau Chan mau ketemu Bunda Merry bisa kok! Chan masih tetap seperti biasanya!" jelas Amar.
Tenang saja, mereka kan tetap terikat dengan hubungan kekeluargaan.
"Chan mau setiap hari sama Bunda Pi!" ujar Chan dengan yakin.
Amar bingung harus bagaimana.
"Chan akan selalu bersama Bunda Merry, jangan khawatir!" jelas Amar sembari tersenyum pada putranya.
-------------------------------
Nulis part ini, Author kasihan sama Chan😌
__ADS_1