Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Apa Kamu Bersedia Menjadi...


__ADS_3

Happy Reading Guys


----------------------------------


"Emil mau itu Bunda!" Emir bersorak gembira saat menemukan robot idamannya.


"Ayo ke sana!" Merry mengajak Emir mendekat ke robot yang diinginkan Emir.


"Mommy mau ikut atau tunggu ke mana dulu gitu?" tanya Merry pada Mommy Tyas.


"Ikut dong, Mommy juga seneng bisa ikut gini!" jawab Mommy Tyas.


"Beneran yang ini?" tanya Merry saat mereka sudah sampai di tempat.


"Emil mau yang ini!" jawab Emir dengan mantab.


Setelah menemukan keinginan Emir, Merry mencarikan juga untuk Luham dan Liam. Mengingat Luham dan Liam, Merry jadi tertarik untuk membelikan seperangkat atk untuk si kembar. Lucu mungkin ya bisa mereka gunakan untuk masuk sekolah ajaran baru nanti, bermanfaat juga tentunya.


Setelah menemukan robot untuk kembar, akhirnya Merry berpindah ke tempat alat tulis kantor. Saat dari sana Merry bingung, mau beli yang seperti apa?


"Gimana ya? Apa yang ini, tapi kok terlalu dewasa banget kaya punya anak kuliahan!" ucap Merry bermonolog, sedangkan Mommy Tyas dan Emir menunggu di tempat lain karena Emir ingin ice cream.


Karena dirasa gayanya atk nya terlalu dewasa untuk si kembar, akhirnya Merry berpindah ke tempat yang atk nya lebih untuk anak kecil.


Merry memilih-milih yang mana yang kira-kira cocok untuk si kembar.


"Kalau yang ini kayanya terlalu cute deh buat si kembar, nggak cocok ih!" Merry sangat bingung harus memilih yang mana. Kayanya si kembar itu cool masa mau dibelikan yang modelnya lucu-lucu begini. Tapi, kalau dibelikan yang terlalu dewasa mereka kan masih kecil juga, biarkan lah mereka berekspresi sesuai dengan usianya.


Sampai akhirnya Merry teringat saat dulu masuk ke kamar Emir dan si kembar. Ya, Merry seperti mendapat jawaban atas kebingungannya sedari tadi.


Merry berpindah tempat lagi mencoba mencari yang seperti selera si kembar. Mungkin sih, Merry juga tidak tahu pasti apakah atk yang dia pilih memang benar selera si kembar.


Alat tulis kantor yang Merry pilih bergaya elegan tapi masih ada unsur cute nya, jadi elegan tapi tidak terlihat seperti milik anak kuliahan atau bahkan atk pegawai kantoran.


Atk itu ada tasnya berwarna abu-abu. Isinya ada buku tulis dua puluh biji, bolpoin hitam sepuluh biji, pensil lima biji, penghapus dua biji, penggaris satu, busur, rautan, dan lain sebagainya.


"Dah, ini aja deh! Semoga mereka suka dan bermanfaat!" Merry mengambil model yang seperti itu dua karena memang untuk kembar kan. Jadi, biar punya semua dan modelnya sama.


Setelah beres semua, Merry pergi menemui Emir dan Mommy Tyas.


"Mom, udah?" Merry bertanya sambil menghapus sisa ice cream yang berantakan di pinggir mulut Emir.


"Udah apa? Udah beli ice cream nya Emir? Udah tuh, udah dimakan juga!" jawab Mommy Tyas.


"Kamu gimana, udah beres? Yang dicari udah dibeli?" lanjut Mommy Tyas bertanya pada Merry.


"Udah nih Mom!" jawab Merry sambil menunjukkan sebuah paper bag besar yang berisi dua tas atk milik si kembar.


"Udah, kita pulang kan? Atau ada tujuan lain lagi?" tanya Mommy Tyas.


Merry melihat jam tangannya, udah pukul 16.15 WIB. "Nggak usah lah Mom, udah sore, habis ini Emir juga dijemput sama Papanya!"


"Ya udah yuk pulang!" ajak Mommy Tyas.


Eits, Merry tidak memakai baju dinasnya hari ini. Ia memakai kulot selutut warna putih dan atas blouse casual warna hitam.


"Bunda, Emil syuka kesini sama Papa!" Emir berceloteh ria sembari berjalan digandeng Merry.


"Sama kakak kembar juga?"


"Iya, sama Tante Laya juga!" jawab Emil. Anak pintar ini maunya menenteng mainannya sendiri.


"Syuka beli es klim juga!" Emir memang banyak bicara kalau pada orang yang sudah akrab dengan dirinya. Apalagi dengan Merry, orang yang notabenenya Emir anggap ibunya sendiri.


"Di tempat yang tadi juga?" tanya Merry. Enak Merry ngobrolnya dengan Emir, nyambung diajak ngomong. Anaknya pintar.


Emir menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


*****


Saat berada di mobil, Emir terus saja berceloteh


dengan Pak Njan. Jadi, ceritanya Emir udah kenal sama Pak Njan. Supel kok anaknya, cuma suka malu-malu aja kalau pas awal-awal ketemu.

__ADS_1


"Den Emir cita-citanya mau jadi apa?" tanya Pak Njan.


"Emil mau jadi kaya Papa!" jawab Emir dengan mantab. Anak ini memang sangat menjadikan Papanya sebagai idola.


"Kalau mau jadi kaya Papa, Emir harus rajin ibadah, jadi anak yang baik, rajin belajar, baik pada semua orang!" sahut Merry. Harus begitu kan mengajari anak kecil, ya walaupun sebenarnya Merry juga nggak tahu apakah Daris sebenarnya seperti yang ia bicarakan barusan pada Emir.


"Bunda, ini lobotnya namanya siapa?" tanya Emir sambil memegang robot barunya. Sudah tidak sabar jika harus membuka mainan barunya dari rumah. Jadi, dari dalam mobil sudah nggak ada yang namanya robot baru masih stay di dalam kotaknya.


"Terserah Emir deh!" jawab Merry.


"Mau kasyih nama Emil, lobotnya namanya Emil!" seru Emir bahagia.


"Eh, jangan! Kalau namanya Emir sama dong kaya kamu Dek! Yang lain, jangan Emir!" Merry menolak, masa namanya sama-sama Emir. Kan jadi kembaran dong namanya sama robot mainan.


"Gimana kalau dikasih nama Lory aja?" Mommy Tyas memberi usul.


"Loli?" Emir mencoba bertanya dengan serius.


"Iya deh Loli aja, Lo itu awalan dari Lobot, terus kalau Li kan namanya Bunda Melly!" Mommy Tyas mengikuti gaya Emir yang cadel.


"Kamu namanya Loli! Yee Loli!!" Emir berbicara pada mainan barunya itu.


Merry terkekeh, ada-ada saja Mommy nya ini. Masa nama robot nya Emir ada unsur-unsur namanya.


"Habis ini Emir mandi ya, nanti kalau dijemput Papa biar wangi!" ujar Merry sambil mencium ceruk leher Emir.


"Bau acem ih!" lanjut Merry sambil menutup hidungnya. Bohong sih, padahal baunya kecut-kecut syedap gitu, Merry sebenarnya suka sama baunya.


Kling


Handphone Merry bunyi notifikasi chat.


Pak Daris:


Setengah jam lagi Emir saya jemput Mer!


Merry sih santai saja, ini juga udah masuk perumahan. Sebentar lagi dari rumah mandiin Emir, terus mandi sendiri, pas lah Daris sampai sana.


Me:


Pak Daris:


Gimana, Emir nggak nakal?


Eh, ternyata Pak Daris malah ngajak chatting an.


Me:


Enggak kok Pak, anaknya pinter banget!


Pak Daris:


Alhamdulillah deh


Merry pun hanya membacanya tanpa membalas, Merry rasa sudah tidak ada pembahasan yang penting lagi.


Pak Daris:


Mau minum susu kan Emir?


Semenit kemudian Daris mengirim pesan kembali. Merry kira pembicaraan di antara mereka sudah berakhir.


Me:


Mau kok Pak, dia itu bukan pecinta susu, tapi bukan anak yang nggak suka susu juga, netral aja!


Merry membalasnya lumayan panjang.


Pak Daris:


Iya Mer, tapi kadang sulit suruh minum susu!


Tidak ada pembahasan yang spesial di antara mereka, hanya membahas Emir saja.

__ADS_1


Me:


Gapapa Pak, diusahakan aja terus!


Pak Daris:


Iya betul Mer!


Ternyata mobil sudah sampai di depan rumah. Akhirnya Merry memasukkan handphone nya di saku celana tanpa membalas chat Daris lagi.


*****


Setengah jam kemudian.


"Papaa!" teriak Emir saat melihat kedatangan papanya.


"Jagoan Papa!" seru Daris juga. Merry yang melihatnya tertawa kecil, lucunya nggak ketemu sebentar udah kangen-kangenan gitu.


"Emil punya lobot balu Pa!" Emir langsung memamerkan robotnya pada papanya.


"Beli mainan?" tanya Daris sembari melihat Merry.


Merry mengangguk sejenak, lalu berkata, "Nggak papa Pak, buat kenang-kenangan!"


"Nak Daris ayo duduk!" Mommy Tyas ikut bergabung.


"Silahkan Pak!" Merry juga ikut menimpali.


"Mommy tinggal ya, ada meeting online sama klien! Maaf ya Nak Daris Tante nggak bisa nemuin kamu lama!" Mommy Tyas hanya datang untuk menyapa, lalu pamit kembali karena ada kepentingan katanya.


"Nggak papa Tante!" jawab Daris sopan.


"Emir ikut Oma sebentar yuk, bentar lagi kan mau pulang!" Mommy Tyas mengajak Emir untuk ke kamarnya. Katanya tadi mau meeting online sama klien, eh tapi malah ngajak Emir.


Apa nih maksud sebenarnya?


"Pulang sekalian nanti habis maghrib aja gimana Nak?" tanya Mommy Tyas.


"Wah, jadi lama dong di sini Tante!" Daris merasa tidak enak.


"Nggak papa lah, santai aja! Lagian Emir juga betah banget di sini!"


"Iya Tante, sekalian nanti aja habis maghrib aja pulangnya!" Daris mengiyakan permintaan Mommy Tyas.


"Ya udah, Tante pamit dulu!" Akhirnya, Mommy Tyas pergi mengajak Emir bersama dirinya.


Tinggallah Merry dan Daris berdua di ruang tamu.


Daris jadi bingung mau ngapain, begitu pula dengan Merry, tapi Merry terlihat santai sih.


"Makasih udah jagain Emir! Maaf juga udah ngerepotin!" ucap Daris.


"Santai aja kali Pak, saya juga suka ada Emir di sini!" jawab Merry.


Mau jawab gimana coba, faktanya Merry juga seneng kok ada Emir.


Daris menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskan nya perlahan.


"Mer, ada yang mau saya omongin penting ke kamu!" ucap Daris serius.


Merry mengerutkan dahinya, mau ngomong serius apa sih?


"Silahkan Pak!"


Daris kembali menarik nafasnya, lalu mengeluarkannya. Semua tingkah Daris kali ini juga dilihat oleh Merry.


Daris melihat Merry yang sedang duduk di depannya dengan dalam. Lalu, dengan mantab Daris berkata, "Apa kamu bersedia menjadi ibu dari anak-anakku?"


Jreng


Jreng


Jreng

__ADS_1


__ADS_2