
Pagi harinya, pukul tujuh.
"Bunda!!" teriak Chan sambil berlari ke arah Merry yang baru saja keluar kamar.
"Hai Chan!" sapa Merry.
"Ayo Bunda sarapan!" seru Chan sambil menarik Merry membawanya ke ruang makan.
Ternyata, di sana sudah ada Mommy Tyas, Amar, Raya, dan beberapa kerabat dekat mereka.
"Pengantin baru!" goda Mommy Tyas. Merry menanggapinya dengan senyuman.
"Selamat pagi Mom!" Merry mendekat ke arah Mommy Tyas, lalu mencium pipi Mommy nya.
"Sini duduk sebelah Mommy!" perintah Mommy Tyas, tapi Merry masih berdiri.
"Suami dan anak-anak kamu belum turun?" tanya Mommy Tyas.
"Masih di kamar mereka, barusan aku ke luar sebenarnya buat ambil handuk di kamar sebelah, eh sama Chan diajak ke sini!" tutur Merry sambil mencubit gemas pipi Chan.
"Anak-anak masih mau mandi dan handuknya di dalam kamar kurang. Sulit banget diajakin mandi dari tadi, mereka asik main!" jelas Merry.
"Seneng banget deh kayanya mereka punya Bunda!" sahut Raya.
"Kamu kualahan ya? Maaf ya, tadi Mommy pengen bantu tapi takut ganggu kamu sama Daris!" ujar Mommy Tyas merasa kasihan pada putrinya.
"Enggak kok Mom, seru, Merry seneng!" jawab Merry sambil tersenyum.
"Ya udah Merry mau ambil handuk terus masuk kamar lagi ya! Kalian sarapan aja duluan!" pamit Merry.
Namun sebelum pergi, Merry mengangkat tubuh Chan lalu mendudukkannya di kursi sebelah Mommy Tyas dan Merry berjongkok di depan Chan.
"Chan duduk sini ya, sarapan sama Oma, sama Papi, Bunda mau masuk dulu!" Merry memberi pengertian pada Chan.
Chan menggeleng kuat, "Nggak boleh, Bunda di sini saja sama Chan!"
"Ya udah gini deh, Chan ikut Bunda aja yuk!" Tak habis akal, lebih baik Merry mengajak Chan.
Chan masih terlihat berpikir.
"Ayo, gapapa ikut aja!" ajak Merry lagi.
"Nggak papa Mer? Nggak ganggu?" tanya Mommy Tyas.
"Ih Mommy, ya enggak lah!!" jawab Merry dengan cepat.
"Ayo sayang!" ajak Merry lagi pada Chan.
Chan pun mengangguk dan ikut bersama Merry.
Amar yang berada di situ merasa bersalah pada putranya saat melihat interaksi Chan yang sepertinya sangat sayang pada Merry. Ia merasa bersalah tak bisa memberikan Chan sosok Bunda Merry.
Maafkan Papi Chan! Maafkan Papi yang belum bisa membahagiakan kamu! batin Amar dengan sedih.
*****
"Chan, kapan-kapan kamu harus main ke rumahku kalau ingin bertemu Bundaku!" ucap Luham yang secara usia lebih dewasa dari Chan.
__ADS_1
Mereka bertiga sedah meeeting di sofa kamar, sedangkan Daris sedang menghirup udara segar pagi hari di balkon.
"Bunda Merry juga Bundaku!" protes Chan yang tidak terima jika Merry hanya diklaim sebagai Bunda mereka.
"Tapi Bunda Merry itu ibuku, ibunya Liam, dan ibunya Emir!!" jelas Luham yang mencoba menjelaskan bahwa Merry adalah ibu mereka.
"Kamu kan cuma manggil Bunda aja, kalau kita emang anaknya Bunda Merry!" lanjut Luham.
Chan hanya diam saja mencoba mencerna ucapan Luham. Lalu tiba-tiba dia berlari ke arah
Merry yang sedang memasangkan handuk pada Emir karena barusan selesai mandi di kamar mandi.
"Bunda, aku anaknya Bunda kan?" teriak Chan yang membuat Merry terkejut.
Merry sedikit bingung kenapa kok Chan bertanya seperti itu.
"Chan anaknya Bunda kan?" tanya Chan lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Merry mendekat pada Chan, lalu mengusap kepalanya pelan.
"Chan kenapa?" tanya Merry dengan pelan.
"Chan anaknya Bunda kan?" tanya Chan dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
Saat melihat Luham dan Liam yang ikut berdiri di belakang Chan, Merry mengerti apa permasalahan yang sedang terjadi.
"Ayo-ayo sini, ikut Bunda semua!" Merry mengajak anak-anaknya untuk duduk di sofa, termasuk Emir yang masih berbalut handuk.
"Kalian semua itu anak Bunda, anak kesayangan Bunda! Jadi, kalian nggak boleh bertengkar ya, kalian harus rukun!" jelas Merry dengan pelan.
"Luham dan Liam nggak boleh memprofokasi keadaan!" tegur Daris dengan tegas saat baru masuk dari balkon. Ia juga tahu apa yang sedang terjadi.
"Iya dong, Chan juga anak Bunda! Udah ih nggak boleh nangis, nanti kalau nangis hilang deh gantengnya!" ucap Merry sambil menghapus air mata Chan yang ada di pipi.
Chan mengangguk patuh, lalu ikut menghapus air matanya sendiri.
"Senyum dong anak Bunda yang ganteng ini!" ucap Merry sambil mencubit pelan pipi Chan.
Chan pun tersenyum, lalu mengecup pipi Merry dengan cepat.
"Sini Emir pakai baju sama Papa!" ajak Daris.
Emir pun menurut, akhirnya memakai baju dibantu oleh papanya.
"Ayo Chan ikut Om ke balkon sama Emir juga!" ajak Daris.
Chan yang sedang bahagia karena ternyata dirinya juga anak Merry pun berlarian ikut Daris ke balkon dan diikuti oleh Liam.
Setelah di dalam ruangan tersisa Merry dan
Luham.
"Bunda lebih sayang sama Chan ya daripada sama Luham?" tanya Luham dengan cemberut.
Merry langsung terkekeh mendengar perkataan putranya.
"Bunda itu sayang sama kalian semua, kenapa Kakak nanya gitu?" tanya Merry.
__ADS_1
"Luham nggak suka Bunda sayang sama selain Luham, Liam, dan Emir!" ujar Luham dengan tegas.
"Oh, rupanya cembokur anak gue ini!" ucap Merry dalam hati sambil terkekeh.
"Kalau sayang Papa nggak boleh juga?" tanya Merry sambil menggoda.
"Ih Bunda, maksud Luham sama Papa juga! Kalau Papa boleh!" jawab Luham dengan kesal.
"Bunda kira nggak boleh!" ucap Merry sambil tertawa.
"Duh Kakak, anak ABG Bunda ini cemburu ya?" tanya Merry dengan tetap tertawa.
"Udah tenang aja, Bunda sayang sama kalian semua! Sayangnya Bunda nggak bisa diukur, ngga bisa dihitung!" jelas Merry.
"Seluas lautan Bunda?" tanya Luham dengan penasaran.
"Lebih luas dari lautan!" jelas Merry sambil tersenyum manis.
Luham langsung mencium pipi dan dahi Merry, lalu dia juga tersenyum.
Padahal luas lautan aja gue nggak tahu seberapa luasnya, wkwk! batin Merry dalam hati sambil menertawakan dirinya sendiri.
Merry merasa lucu pada dirinya sendiri. Pertemuannya dengan Emir dulu telah mengubah jalan hidupnya sampai sejauh ini.
Rasanya konyol mengingat dirinya yang dulu kaku terhadap anak-anak, kini justru menjadi orang yang paling dekat dengan anak.
Untuk berusaha tidak kaku, selain faktor dari kenyamanan bersama anak-anak Daris, juga faktor dari Merry yang terus belajar dan mencari tips dan trik agar menjadi ibu yang baik hahaha.
*****
"Mer, aku mau ngomong penting sama kamu!" ucap Daris saat mereka hanya berdua dalam kamar.
Merry sedang beres-beres karena sebentar lagi mereka langsung pindah ke rumah Daris. Jadi, dari villa langsung ke rumah Daris.
"Apa Mas?" tanya Merry. Ih, Merry jadi takut kalau ada sesuatu.
"Kita duduk di sofa aja supaya lebih enak ngobrolnya!" ucap Daris.
Jujur, Merry canggung hanya berdua di dalam kamar seperti ini.
Setelah mereka duduk bersandingan.
"Sebelumnya makasih kamu udah mau jadi ibu dari anak-anakku!" ucap Daris.
Merry terkekeh pelan.
"Cuma mau ngomong makasih? Haduh, kaya apa aja!" jawab Merry.
Daris juga terkekeh.
"Bukan cuma itu Mer, ada lagi!" ujar Daris.
Merry memandang Daris.
"Apa?" tanya Merry.
----------------------------------
__ADS_1
Kapan sih Thor adegan uwuu antara Daris dan Merry? Hihi, sabar deh, semoga mereka bisa uwu yaa😂
Makasih udah baca yaa❤️❤️