
"Mer, Lu ke mana?" tanya Amar melalui sambungan telepon.
"Cempreng banget suara Lu Kak?" Merry malah balik menjawab dengan godaan sembari tertawa.
Saat ini Amar sedang menelfon Merry.
"Gue udah nyampe rumah nih, pulang dong sambut gue!" ujar Amar sambil ngegas di seberang sana.
"Iya ntar dulu dong, gue masih di luar!" protes Merry.
"Ya makanya buruan pulang, mana Daris?" tanya Amar.
"Noh, lagi berdiri di pinggir danau!" jawab Merry.
"Mau ngapain dia? Mau bunuh diri?" tanya Amar sembari tertawa.
"Sembarangan!" sahut Merry.
Nggak jadi nikah dong gue kalau Daris bunuh diri!batin Merry.
"Woy Daris woy, buruan anterin Merry pulang!" Teriak Amar melalui sambungan telepon. Merry langsung menjauhkan handphone nya dari telinga.
"Jangan teriak woy, kasihan kuping gue!" Merry balik berteriak, biar kapok tuh orang.
"Lagian juga Mas Daris nggak bakalan denger!" ujar Merry.
"Apa apa barusan, Mas Daris? Gue nggak salah denger?" seru Amar seraya tertawa kencang. Lebih tepatnya mengejek.
"Terserah gue dong, calon suami gue!" jawab Merry dengan santai.
"Ya udah iye yang sekarang bucin, udah buruan pulang dicariin Chan Lu!" ucap Amar.
"Iya iya!" jawab Merry.
Setelah mereka mengakhiri panggilan telepon.
"Orang lagi kencan malah disuruh buruan pulang, apakah itu yang namanya kakak yang baik?" gerutu Merry pelan.
"Mas!" panggil Merry pada Daris.
Walaupun lidahnya masih belum terbiasa memanggil Daris Mas, tapi Merry sudah mulai membiasakannya.
Merry mendekat pada Daris.
"Mas, nggak pulang?" tanya Merry. Tapi Daris hanya diam saja sambil fokus melihat danau.
Merry terdiam, sejak tadi Daris berubah diam, apa semua karena orang tadi.
Flashback on
Dari dalam mobil Merry melihat Daris didekati oleh seorang wanita cantik yang berhijab. Merry menganggap mungkin orang itu temannya Daris yang kebetulan mereka bertemu di sini.
Setelah selesai merapikan rambutnya, Merry bergegas keluar dari mobil.
"Daris ini aku, jangan bilang kamu lupa!" Merry dapat mendengar wanita itu berkata demikian pada Daris. Namun, Daris hanya diam saja.
Merry pun mendekat dan berdiri di samping Daris. Wanita itu sontak langsung melihat ke arah Merry.
Merry tersenyum padanya saat wanita itu memandang dirinya.
__ADS_1
"Temannya Daris?" tanya wanita itu pada Merry sambil menunjuk Daris.
Merry mengangguk, tapi seharusnya dia berkata calon istrinya Daris.
"Calon istri!" Entah mendapat keberanian dari mana Merry memperkenalkan dirinya seperti ini.
Wanita itu terkejut, "Calon istri?"
"Pak!" Merry menyenggol lengan Daris pelan karena sedari tadi Daris hanya diam.
"I-iya ca-calon istri!" jawab Daris tergagap.
"Wah, Alhamdulillah, syukurlah Daris kamu sudah punya calon istri!" ucap wanita tersebut seraya tersenyum.
"Semoga kamu dapat membimbing istri kamu ke jalan yang benar ya!" lanjut wanita tersebut.
"Semoga juga kamu dapat menuntun istrimu untuk bisa menutup auratnya secara sempurna!" Jleb, hati Merry bagai ditusuk ribuan duri.
Merry tahu dirinya memang belum menutup auratnya secara sempurna, Merry tidak berhijab, tapi apakah seperti ini cara yang benar dalam menasehati orang lain? Namun, Merry tidak menyalahkan wanita itu, memang benar Merry belum bisa menutup auratnya.
"Saya ikut bahagia walaupun saya juga terkejut, bukannya kamu dulu ingin punya istri yang berhijab, bahkan kamu sangat pemilih! Tapi, ternyata sekarang kamu mendapat yang belum berhijab!" ujar wanita itu dengan catas tanpa memikirkan bagaimana perasaan Merry.
Secara fisik dia memang cantik, secara penampilan memang dia seorang wanita muslimah, tapi kenapa secara lisan dia masih buruk? Kenapa dia tidak bisa mengubah gaya bicaranya menjadi lebih sopan dan bagus sedikit? Hati Merry semakin mencelos, suasana hatinya sudah berubah.
Merry memang bukan wanita sholehah yang pandai tentang ilmu agama, dia hanyalah seorang wanita biasa yang terus belajar bagaimana menjadi wanita yang baik. Namun, setidaknya Merry masih bisa menjaga lisannya saat menasehati orang lain.
Merry sangat menyayangkan hal itu, kalau saja lisan wanita tersebut bisa terjaga dan berkata dengan sopan. Pastilah wanita itu akan terlihat semakin indah dalam bingkai hijabnya.
"Oh ya, maaf kita belum berkenalan, saya Mutiara teman lama Daris!" Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Merry.
Merry menerima uluran tangan itu sembari berkata, "Saya Merry!"
"Assalamualaikum," salam wanita tersebut.
"Waalaikumussalam," jawab Merry.
Setelah kepergian wanita itu, Daris lebih banyak diam. Dia terlihat berubah tak seperti Daris yang tadi.
"Mas!" Merry memanggil Daris. Merry mencoba sekuat hati untuk memanggil Daris Mas. Jujur, hati Merry rasanya tidak enak setelah mendengar penuturan wanita tadi, ingin rasanya Merry berubah menjadi wanita yang berhijab. Namun, bukan Merry namanya jika tak pandai menyembunyikan keadaan yang sedang dialaminya.
"Iya," jawab Daris singkat.
Flashback off
Setelah kejadian itu, Daris hanya berbicara saat Merry bertanya. Merry yakin semua ada hubungannya dengan wanita itu, ingin rasanya Merry tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, Daris malah menjawab tidak ada apa-apa, mereka hanya berteman.
Tapi Merry bukan wanita yang bodoh, dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudah bukan jamannya lagi wanita dengan mudah dibohongi oleh laki-laki. Merry tidak menyukai dengan yang namanya kebohongan, apalagi kalau sampai menyangkut rumah tangganya nanti.
"Mas, ayo pulang! Kak Amar udah ada di rumah!" ajak Merry.
Daris langsung menatap Merry dengan tatapan yang tidak enak.
"Jadi kamu lebih mementingkan dia daripada aku?" bentak Daris dengan suara yang tinggi.
Merry terkejut bukan main. "Apa maksud kamu?"
"Kamu lebih mementingkan dia daripada aku calon suami kamu?" tanya Daris lagi dengan suara yang masih tinggi dan kasar.
__ADS_1
"Kalian sama-sama penting, dia Kakakku dan kamu calon suamiku!" jawab Merry dengan tegas. Merry merasa heran dengan perubahan sikap Daris.
Tiba-tiba Daris menggandeng tangan Merry dengan kasar, lalu berjalan dengan cepat.
"Kita pulang!" ujar Daris singkat, sambil mendudukkan Merry di mobil.
Daris memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di sini Merry semakin bingung dengan sikap Daris yang tiba-tiba berubah jadi tempramen.
"Mas kamu kenapa? Aku nanya serius sama kamu!" tanya Merry.
"Kamu diam, aku nggak papa!" jawab Daris dengan tegas dan tak ingin diganggu.
"Mas kamu berubah, kamu bukan Daris yang aku kenal selama ini, apa ini kamu yang asli?" Merry masih kekeuh menyampaikan isi hatinya.
Daris hanya diam sambil fokus mengendara dengan kecepatan yang tinggi.
"Mas jawab aku, kalau kamu kaya gini aku nggak mau nikah sama kamu! Kita batalin pernikahan ini!" ujar Merry dengan tegas. Pada dasarnya, Merry memang wanita yang kuat, berani, dan tegas.
Daris langsung mengerem mobilnya mendadak. Untungnya jalanan ini memang sepi, jadi aksi buruknya tidak mencelakakan pengendara lain.
Jantung Merry hampir copot, untungnya dia memakai sabuk pengaman, jika tidak entahlah apa yang terjadi pada kepalanya.
"Apa-apaan sih kamu?" tanya Merry yang emosinya mulai terpancing oleh Daris.
Daris mendekatkan wajahnya ke wajah Merry.
"Tidak ada kata batal, kita akan tetap menikah!!!" Daris menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Merry dapat merasakan deru nafas Daris karena jarak mereka sangat dekat.
Dengan cepat Merry mendorong Daris agar tak sedekat ini dengan dirinya. Daris pun terkejut dengan apa yang telah ia lakukan barusan.
Merry yakin memang ada yang tidak beres dengan Daris. Merry mencoba tenang dan membuang jauh-jauh emosinya.
"Iya Mas, tapi kamu harus jujur kamu kenapa?" tanya Merry berusaha tenang.
Jika saat ini Daris berperan sebagai api, Merry akan berperan sebagai air.
Daris langsung kembali memposisikan dirinya seperti semula.
"Aku nggak papa!" Daris masih enggan untuk jujur pada Merry.
"Oke Mas, kalau kamu nggak bisa cerita sekarang nggak papa! Tapi aku mau kamu harus jujur secepatnya! Kita itu harus saling terbuka!" ujar Merrry dengan bijaksana.
Daris menoleh pada Merry dengan pandangan sendu. Dia mengangguk dengan ragu.
"Iya Mer!"
Merry membuang nafasnya panjang, entah drama apa hari ini Merry tak habis pikir. Semoga tidak ada apa-apa dengan Daris, apalagi saat mengingat wanita tadi yang bernama Mutiara, semoga tidak ada hubungan yang menyebabkan masalah dengan wanita tadi.
Ada yang bisa menebak kira-kira bagaimana kelanjutan part ini? Komen yuk di bawah👇
Author minta maaf kalau belum bisa balas komen kalian satu-satu yaa😌
Tapi Author pasti balas kok karena kalian adalah segalanya dalam keberhasilan karya Author ❤️
Tanpa kalian Author bukanlah siapa-siapa ❤️❤️
__ADS_1
Love you All❤️❤️