
Author POV
"Maaf Pak saya nggak bisa?" ujar Merry dengan mantab.
"Kenapa??" Daris terkejut dengan penolakan Merry.
Merry diam tak menjawab. Berat juga sebenarnya menyampaikan ini. Itu artinya sebentar lagi dia kehilangan orang-orang tersayang yang baru ia kenal. Lidahnya kelu untuk menyampaikan ini. Namun, semua ini harus Merry lakukan.
"Mer, kenapa?" tanya Daris ulang.
"Kamu nggak nyaman sama aku? Kamu nggak nyaman sama keluargaku? Apa aku ada salah?" Daris memberondong pertanyaan Merry.
"Kenapa?" tanya Daris lagi dengan nada yang lebih rendah.
Bukan karena nggak nyaman Pak, jujur gue sebenernya nyaman! Tapi mungkin takdir kita memang begini! batin Merry.
Merry tersenyum pada Daris. "Begini Pak!" Merry sejenak menghentikan ucapannya.
"Saya to the point saja kalau Liam tidak menginginkan saya menjadi ibunya!" Daris yang mendengar ini langsung membuang nafasnya kasar.
"Ini bukan salah siapapun Pak! Apa yang terjadi pada kita adalah skenario kehidupan yang terbaik!" Merry buru-buru berkata demikian saat melihat raut emosi muncul di wajah Daris.
Merry cemas kalau nantinya Daris marah pada Liam gara-gara dia tidak menginginkan Merry menjadi ibunya, walaupun sepertinya nggak mungkin sih, mengingat Daris yang sangat menyayangi anak-anaknya! Mungkin Daris hanya terkejut dan kecewa karena tidak jadi menikah.
"Liam hanya belum tahu kalau kamu wanita yang baik untuk menjadi Ibunya Mer!" ujar Daris yang berusaha memberikan pengertian pada Merry. Tapi tidak dapat dipungkiri, hati Daris juga kecewa.
Memantapkan, meyakinkan, dan menyamankan hati pada orang lain itu tidak mudah. Sulit juga diusahakan kalau dari pertama tidak ada rasa klik di hati.
Merry terkekeh mendengar perkataan Daris barusan. "Memangnya Bapak sudah yakin pada saya?" Santai saja lah, supaya tidak terkesan seperti anak muda yang sedang putus cinta.
Daris menatap Merry dengan sendu. "Aku tahu kamu adalah wanita yang baik, wanita yang nggak akan menyakiti anak-anakku!"
"Kalau kamu pergi dari hidup kami, bagaimana dengan Emir?" tanya Daris. Jujur hati Daris masih menolak dengan apa yang barusan ia dengar.
Mencari wanita baik dan tulus itu sulit! Walaupun jujur Daris juga tidak mengerti apakah ia mencintai Merry atau tidak.
Merry tetap setia memberikan senyumnya pada Daris. Bagi Merry, senyuman untuk kali ini adalah obat terbaik agar Daris tidak kecewa.
__ADS_1
Setidaknya, Daris sedikit merasa tenang karena melihat Merry yang tetap tersenyum. Bukan melihat Merry yang sedang menangis, kecewa, ataupun marah.
Bahkan saat hatinya sendiri juga kecewa, Merry masih memikirkan hati Daris agar tak merasa kecewa.
"Maaf jika kehadiran saya hanya bertahan sementara Pak! Maaf jika kehadiran saya meninggalkan luka di hati Bapak, Emir, dan Luham! Tapi saya nggak bisa Pak! Saya juga merasa tidak mampu dan tidak percaya diri bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak Bapak!" Itu di luar kesadaran Merry mulutnya berbicara demikian, ini sangat dramatis dan terkesan lebay bagi Merry.
"Tolong jangan marahi Liam karena hal ini! Liam adalah anak yang baik dan anak yang sangat berbakti pada orang tuanya, dia sangat menyayangi Mamanya, saya jadi iri pengen punya anak yang sebaik Liam!" Merry berkata demikian sembari terkekeh. Berpikir positif saja agar tidak menyakiti diri sendiri dan menyakiti orang lain.
"Anak itu belum menerima keadaan yang sebenarnya Mer!" jawab Daris dengan sendu. Ya beginilah nasib anak broken home, jadi korban.
"Iya Pak, maka dari itu saya doakan agar Bapak bisa bertemu dengan wanita yang baik yang bisa mengambil hati Liam! Bukan mengambil hatinya agar melupakan ibu kandungnya! Tapi, mengambil hatinya untuk menyadarkan bahwa hidup terus berjalan dan harus menerima kehadiran orang-orang baru di kehidupan kita! Dengan catatan dia tetap menyangi Mbak Ambar sebagai ibu kandungnya! Ibu yang telah mempertaruhkan nyawa untuk mengandung dan melahirkan mereka!" tutur Merry panjang lebar.
"Tidak bisakah wanita itu kamu Mer?" tanya Daris seraya menatap Merry dengan dalam.
Merry menunduk karena tak punya keberanian yang tinggi untuk menatap balik Daris. Cara menatap Daris yang dalam, sendu, dan serius membuat Merry jadi campur aduk hatinya.
"Tidak bisa Pak!" Merry ingin semua segera berakhir. Lalu, dengan berani Merry mengangkat kepalanya turut menatap Daris.
Daris menggenggam kedua tangan Merry di atas meja. Namun, Merry berusaha untuk melepaskannya.
Apaan sih Pak Daris, nggak malu apa dilihatin orang! gerutu Merry dalam hati sembari
"Tolong Mer, sebentar saja!" pinta Daris dengan sendu, tapi genggamannya tetap erat. Ternyata, bodyguard cantik kalah tenaga dengan Daris. Entah karena memang kalah atau karena memang mengalah, entahlah.
Akhirnya Merry mengalah membiarkan Daris menggenggam tangannya, menebalkan rasa malunya karena dilihat banyak orang. Walaupun sebenarnya tidak ada yang melihat, itu hanya perasaan Merry karena malu merasa seperti orang yang sedang bermesraan di tempat umum.
"Apa kamu tidak mau berjuang untuk mendapatkan hati Liam?" tanya Daris yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Daris yang biasanya ceria dan hangat kini berubah sendu.
Mendapatkan hati Liam? Hatimu saja sepertinya aku belum mendapatkannya! batin Merry.
Daris saja tidak pernah mengungkapkan aku cinta kamu Mer!
Merry sudah memantapkan hatinya untuk tidak melanjutkan ini semua, hanya Merry yang tahu saat Liam sangat memohon agar Merry tidak menikah dengan papanya! Merry sangat menghargai keputusan semua orang, bahkan anak kecil sekalipun! Apalagi mengingat penolakan Liam yang sudah ditunjukkan sedari awal mereka bertemu!
"Saya akan melanjutkan hidup saya bersama orang-orang yang sangat menyayangi dan menghargai saya Pak! Mohon maaf yang sebesar-besarnya!" Daris sangat kecewa karena Merry tetap kekeuh menolak.
Tidak ingatkah jika sebelumnya Merry adalah wanita yang cuek dan suka hidup dengan tenang tanpa usikan apapun? Ya, wanita cuek yang mendadak berubah menjadi ibu peri dan melupakan segala kecuekannya saat bersama keluarga Daris. Kini, wanita itu ingin kembali pada zona nyaman tanpa ada yang mengusiknya lagi.
__ADS_1
Sayang? Merry sangat menyayangi anak-anak Daris! Maka dari itu Merry tidak ingin menyakiti hati Liam, yang pasti akan menular pada Luham dan Emir!
Cukup sampai di sini saja!
"Tolong bantu saya untuk pelan-pelan menjauh dari anak-anak Pak! Saya yakin lambat laun mereka akan melupakan saya! Jangan pernah temui saya kecuali saat kita bertemu tanpa sengaja, itu tidak masalah!" Daris tak menyangka Merry benar-benar ingin menjauh dari keluarganya.
Baru saja keluarganya menemukan suatu hal baru yang bisa memberi warna, kali ini harus kehilangan hal tersebut.
Merry sudah tak ingin berurusan dengan mereka. Sebenarnya hatinya juga menolak, tapi jika mereka tetap bersama hati Liam akan tetap sakit, lalu Luham dan Emir akan tetap menyangi Merry bahkan bisa jadi rasa sayangnya lebih besar. Itu akan lebih menyakiti mereka.
"Semoga Bapak dan keluarga selalu bahagia dan dalam perlindungan Allah!" Merry melepas genggaman tangan Daris, sedangkan Daris hanya bisa diam terpaku.
"Saya pamit Pak, Assalamualaikum!" Merry beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Daris.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin berjuang Mer? Berjuang bersama saya?" Seru Daris yang membuat Merry berhenti dari langkahnya.
Merry menoleh ke belakang menatap Daris yang masih duduk di kursi.
"Maaf Pak saya tidak bisa, terimakasih!" jawab Merry lalu kembali melangkah sembari memakai kacamata hitamnya.
"Waalaikumussalam," Daris menjawab salam Merry pelan saat Merry sudah tak terlihat lagi.
Daris menghembuskan nafasnya berat, seberat inikah bebannya saat ini? Daris harus memberikan ibu untuk anak-anaknya, tapi ada saja anaknya yang tidak memberi restu. Harusnya memang berjuang, tapi kenapa Merry tidak mau berjuang bersama dirinya? Sesakit itukah hari Merry? Seberapa kuatnya Liam menolak sehingga Merry tidak mau berjuang? Apa yang telah diucapkan Liam?
Seperti ajakan Merry pada Daris kemarin untuk bertemu di cafe, mereka barusan bertemu untuk membicarakan perihal penolakan ajakan Daris untuk menikah.
Sedangkan Merry yang sudah duduk di kursi kemudi mobil melepas kacamatanya lalu mengambil ponselnya. Ia membuka galeri foto di handphone untuk melihat foto Emir, Luham, dan Liam. Merry mengusap-usap lembut foto mereka bertiga yang Merry ambil saat di kebun binatang kemarin.
Merry menatap dengan dalam wajah polos mereka. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri.
"Emir, maafin Bunda ya!! Luham, Liam, maafin Auntie juga!!" ucap Merry dengan sendu.
"Huuffhh," Merry membuat nafasnya panjang, meletakkan handphone nya ke dalam tas, lalu melajukan mobil untuk kembali ke rumah.
Ternyata, semua harus berakhir sampai di sini.
------------------------
__ADS_1
Nah loh, gimana tuh terus Merry sama Daris?ðŸ˜