
"Ini buat Bunda!" Chan dengan bahagia memberikan gelang magnet kepada Merry.
"Nanti ini bisa ditempelin Bunda!" ucap Chan sembari menunjuk magnet yang akan menempelkan antara gelang yang satu dengan gelang yang lainnya.
"Pake Bunda pake!" seru Chan menyuruh Merry memakai gelang tersebut.
Merry tertawa melihat tingkah menggemaskan Chan. Merry pun juga mulai memakai gelang tersebut.
"Punya Chan kebesaran!" ujar Chan dengan sedih sambil menunjukkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya kebesaran.
"Ini bisa dikecilkan, lihat Bunda ya!" ucap Merry sembari terkekeh dan mulai mengecilkan gelang milik Chan.
"Hore hore pas!" seru Chan dengan bahagia. Lalu, dia menempelkan gelang miliknya dengan milik Merry. Mereka pun tertawa bersama.
"Papi juga punya Bunda, katanya biar kita bareng-bareng nempel sama Bunda!" ucap Chan dengan polos dan jujur.
Raut wajah Merry langsung berubah. Chan berlari memanggil papinya.
"Ayo Papi, dipakai gelangnya ayo!!" heboh Chan menyuruh papinya. Amar hanya terdiam sambil melihat Merry.
"Sini Kak, biar Chan seneng!" Sebisa mungkin Merry bersikap tidak ada apa-apa di antara mereka.
Akhirnya, Amar mengangguk dan mendekat pada Merry.
Mereka bahagia dengan aktivitas mereka. Mulai dari menempelkan gelang satu sama lain, hingga berfoto bertiga.
********
"Bunda cantik!" celoteh Emir yang sedang duduk dipangkuan Merry sembari fokus memandangi Merry.
"Iya dong, kan Bundanya Adek memang cantik!" ucap MUA yang sedang merapikan tempat make up setelah usai mendadani Merry.
Hari demi hari terus berlalu, tibalah hari ini adalah hari di mana Merry dan Daris akan saling terikat dalam ikatan cinta sehidup semati.
Beberapa jam lagi, Daris akan melaksanakan akad nikah dan mereka pun akan resmi menjadi sepasang suami istri.
Merry tersenyum sembari melihat dirinya dari pantulan cermin di depannya.
Dirinya nampak anggun berbalut kebaya putih simple dengan gaya rambut hair bun bawah.
Khusus untuk make up Merry hanya ingin yang natural, jadi tidak terlalu medok. Aura
pengantinnya sangat memancar membawa kebahagiaan untuk orang di sekitarnya.
Namun, tidak bagi Amar, hari ini adalah hari terburuknya. Amar sudah berusaha sekuat tenaga untuk merelakan dan bersikap baik-baik saja. Namun, apa boleh buat, hatinya tak bisa diajak berkompromi untuk bersikap baik-baik saja.
Hari-hari Amar dipenuhi dengan rasa perih yang sangat menyiksa batinnya. Apalagi saat melihat dekor outdoor dan indoor di villa mewah milik keluarga Syah. Hatinya bagai tercabik-cabik ribuan duri. Sakit, namun tak berdarah, itulah yang Amar rasakan.
Ingin rasanya ia pergi dari acara yang tak pernah ia harapan hari ini. Namun, bagaimana mungkin itu bisa ia lakukan, sedangkan keluarganya lah yang berstatus punya hajat pada hari ini.
Air matanya jatuh tanpa permisi saat melewati kamar pengantin Merry yang di dalamnya ada Merry, Emir, dan MUA sedang bersenda gurau.
__ADS_1
Amar menatap dengan miris kamar pengantin itu. Hatinya berdenyut sakit, kamar itu akan menjadi saksi malam pernikahan Merry dan Daris nanti. Merry akan menjadi milik orang lain.
Amar menggeleng tak kuat, sudah cukup, Amar tak kuat jika harus membayangkannya.
Amar menghela nafas panjang, lalu berjalan menuju pintu kamar yang terbuka itu. Secara otomatis orang-orang yang ada di dalam menoleh pada Amar.
"Kak Amar!" panggil Merry. Hati Amar semakin perih saat melihat raut bahagia yang terpancar dari wajah Merry.
"Salim sama Om Amar!" perintah Merry pada Emir. Amar beralih menatap Emir yang mulai turun dari pangkuan Merry dan melangkah padanya.
"Harusnya Chan yang menjadi anak Merry, bukan bocah itu!" ucap Amar dalam hati.
Hingga tanpa sadar Emir sudah bersiap untuk mencium tangannya. Lalu, Amar memberikan tangannya untuk disalami oleh Emir sembari tersenyum sedikit.
Setelahnya, pandangan Amar terpaku pada Merry. Cantik, satu kata yang pantas untuk menggambarkan Merry saat ini.
Amar melangkah pelan ke arah Merry. Bibirnya memang tersenyum, tapi hatinya menangis.
"Selamat ya!" ucap Amar menahan sesak di dada.
Merry berdiri dari duduknya, "Makasih ya Kak, semoga Lo selalu bahagia!"
Bagaimana mungkin gue bisa bahagia, kalau kebahagiaan gue telah diambil oleh Daris, Mer? sesak Amar dalam hati.
"Gue boleh peluk Lo kan?" tanya Amar dengan ragu.
Merry mengangguk sembari tersenyum dan mengeluarkan air mata.
Sumpah, Merry menganggap Amar seperti kakaknya sendiri. Seorang adik yang selalu membutuhkan kasih sayang kakaknya. Mereka menangis bersama.
"Bunda, tenapa nangis?" Emir menarik-narik kebaya yang Merry kenakan. Ia menatap ka arah Merry dan Amar dengan polos.
Merry melepas pelukannya, lalu menghadap Emir sembari menghapus air matanya.
"Gapapa sayang, Bunda lagi bahagia, jadi terharu!" jawab Merry asal.
Amar tersenyum masam saat mendengar Merry berkata bahagia.
Lo bahagia, terus gimana dengan hati gue? batin Amar meronta dalam hatinya.
Mommy Tyas datang ke kamar.
"MasyaAllah, cantiknya anak gadis Mommy ini!" puji Mommy Tyas sambil tersenyum.
Lalu fokus mendekat ke wajah Merry. "Kok nangis sayang, kenapa?"
"Amar, kamu apakan Merry?" tanya Mommy Tyas sambil nyolot kepada Amar.
"Mau Amar ajak kabur, biar nggak jadi nikah!" jawab Amar asal.
Mommy Tyas langsung melotot pada Amar.
__ADS_1
"
Ampun Mommy sayang, masa iya Amar ngajak kabur calon istri orang!!" ucap Amar sambil merayu Mommy nya.
Padahal, jujur dalam hati Amar sangat ingin mengajak Merry kabur, andai Merry mau. Tapi, hal tersebut tidak mungkin karena beda cerita.
Mommy Tyas langsung terkekeh dan diikuti Merry yang juga terkekeh. Jujur, jika seperti ini keadaannya sudah seperti semula.
*****
"Ceilah manten, ganteng banget sih?" goda Raya pada Daris yang sedang bengong.
Pernikahan mereka dilaksanakan di villa milik keluarga Syah. Sebenarnya Merry dan Daris berada pada satu tempat, tapi tetap terpisah.
Emir yang seharusnya sekarang masih berada bersama Papanya lebih memilih bersama Bundanya. Emir memang anak Bunda banget.
"Mau nikah kok kayak nggak bahagia gitu sih?" selidik Raya pada Daris yang sedari tadi hanya merenung.
"Sok tahu!" jawab Daris singkat.
"Iih enak aja ngomong aku sok tahu, aku tuh udah ngamati Kakak dari beberapa Minggu lalu, jadi banyak diam!" ujar Raya sewot.
"Udah sana-sana, mending ngurusin kembar aja!" usir Daris yang tidak ingin diganggu oleh Raya.
"Ish, ya udah terserah Kak Daris aja, tapi awas kalau sampai Kakak nyakitin Kak Merry,, Kakak habis di tangan Raya!!" ancam Raya sambil memberikan ekspresi menakutkan.
Daris hanya memutar bola matanya malas, dia sedang tak ingin bercanda.
Setelah kepergian Raya, Al yang sudah berpakaian rapi datang dengan gaya sok nya.
"Pagi Bos!" sapa Al. Daris hanya melirik ke arah Al.
Al tersenyum miring, dia tahu apa yang sedang Daris pikirkan.
"Saran saya lebih baik Anda fokus pada pernikahan, fokus pada masa depan!" celetuk Al yang berhasil membuat Daris kembali melirik ke arahnya.
"Jangan pikirkan hal lain yang seharusnya tidak untuk dipikirkan!" lanjut Al.
"Wanita masa depan Anda bukan wanita sembarangan! Sekali Anda lengah, jutaan pria siap menggantikan posisi Anda!" ucap Al sembari tersenyum miring.
Daris terkesiap, dia langsung menatap Al dengan tajam.
"Saya permisi Bos!" pamit Al sambil tetap tersenyum.
Daris membuang nafasnya kasar. Al semakin membuat mood nya hari ini berantakan.
------------------------------
Hai hai, setelah Author mengalami pendramaan yang panjang, akhirnya Author bisa fokus untuk menulis lagi😁
Oh ya, BUNDA MERRY HANYA MILIK KAMI akan update setiap hari Senin sampai Jumat. Untuk hari Sabtu dan Minggu, libur dulu yaa, Author mau ngedem otak hehe.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yaa❤️❤️