Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Kisah Hidup Erga


__ADS_3

"Masih sangat muda. Masa depanmu masih panjang!" ujar Daris kepada Erga di sampingnya.


Erga tersenyum. "Anda benar, memang masih muda!" jawabnya.


"Hiduplah dengan baik. Bekerja dengan tekun. Jauhi hal-hal yang tidak baik. Dunia ini keras." ujar Daris.


Erga menghembuskan napasnya berat. Bibirnya kembali tersenyum.


"Di dunia ini, kehidupan keras mana yang belum pernah gue temui." jawab Erga.


Daris menoleh ke arah Erga.


Pembicaraan mereka terdengar ambigu.


Sudut bibir Daris terangkat. Setelahnya Daris kembali melihat depan. Dalam hatinya ada rasa menggelitik karena sempat cemburu kepada Erga.


Lihat saja, saat bertemu secara langsung. Bahkan, tanpa berkata banyak dan cukup dengan melihat bagaimana interaksi antara Erga dengan anak-anaknya. Daris bisa menyimpulkan jika Erga tidaklah jauh berbeda seperti Raya.


"Apa gue boleh bicara sama Merry?" tanya Erga dengan serius.


Daris mengangkat sebelah alisnya.


"Bukannya biasanya kalau kamu ingin berbicara dengan istri saya juga tanpa seizin dari saya?" Daris balik bertanya kepada Erga sambil tersenyum tipis.


Erga terkekeh pelan. Nyatanya, pria tua di sampingnya ini tidak se mengerikan seperti yang ada di otaknya. Hanya cukup dingin saja.


"Benar. Dengan atau tanpa se izin mu aku akan tetap berbicara dengan Merry." jawab Erga tanpa ragu.


*****


"Merry!" ucap Erga pelan saat mendengar derap langkah yang mendekat kepadanya dari arah belakang.


Di sebuah pinggiran danau sore hari. Dengan izin dari Daris. Erga ingin berbicara empat mata dengan Merry.


Erga yang sebelumnya duduk di rumput, berdiri, dan membalik badan bersiap menyambut Merry.


Bibirnya tersenyum saat melihat wanita yang beberapa waktu ini berhasil mengisi hatinya.


Begitu nampak dewasa dan anggun. Selalu begitu pujian Erga dalam hati kepada Merry.


Merry tersenyum kepada Erga. "Trik apa yang kamu gunakan sehingga suamiku mengizinkan istrinya untuk berbicara empat mata dengan pria lain seperti ini?"


Pertanyaan dari Merry membuatnya terkesiap kala ia masih dalam mode mengagumi wanita di depannya ini.


Lalu, Erga terkekeh. "Trik anak muda brandal yang mampu mengelabuhi suami orang. Ini masih sedikit trik. Kalau kadarnya ditambah sedikit saja, mungkin suamimu bisa sampai menyerahkan anak dan istrinya ke gue!" jawab Erga dengan santai.

__ADS_1


Merry ikut terkekeh. Lalu, ia berjalan mendekat kepada Erga.


"Katakan semua apa yang ingin kamu katakan!" ujar Merry.


Erga melihat rerumputan yang sedari tadi ia gunakan sebagai alas untuk duduk.


"Maaf gue nggak bawa kursi atau alas yang lainnya. Hanya ada rumput!" ucap Erga sambil menatap Merry.


"Seperti ini jauh lebih baik!" ucap Merry lalu duduk di rumput.


Erga tersenyum dan ikut duduk di sampingnya.


Erga kembali menoleh kepada Merry. Mengagumi wajah wanita ini dari samping. Ada rasa bahagia, tapi ada rasa yang menyakitkan juga di hatinya.


"Ternyata benar ya kata orang, cinta yang benar-benar tulus itu ada. Dia nyata adanya. Bukan hanya omong kosong."


Merry terkesiap mendengar ucapan Erga. Merry juga langsung menoleh kepada Erga.


Sedangkan Erga langsung tersenyum kepada Merry.


"Dulu gue pasti nge tawain orang yang ngomongin tentang cinta. Menurut gue mereka lebay!" lanjutnya.


Erga kembali melihat danau di depannya. Namun, Merry tetap melihat wajah Erga dari samping.


"Gue nggak percaya tentang cinta, ketulusan, kesetiaan, kasih sayang. Menurut gue itu nggak ada. Orang-orang itu hanya omong kosong."


Raut wajah Erga berubah sedih.


"Orang-orang yang menyedihkan!" ucapnya sambil terkekeh pelan.


Entah mengapa hari Merry merasa teriris mendengarnya.


Erga menarik napas lalu membuangnya.


"Gue merasa hidup gue yang paling bahagia. Tidak ada beban apapun, dan bisa hidup dengan bebas!" lanjutnya sambil sudut bibirnya terangkat.


"Tapi ternyata salah. Bukan mereka yang mengenal cinta yang menyedihkan. Tapi gue lah, orang yang tidak mengenal cinta yang paling menyedihkan!"


Mata Erga memerah. Kesedihannya begitu mendalam.


"Mama gue meninggal saat usia gue dua bulan. Lalu, tidak lama setelahnya, Papa menikah lagi. Dia pulang ke negara asalnya. Gue juga dibawa ke sana. Hidup bersama mama sambung. Tapi sayangnya dia nggak sebaik Lo saat menjadi ibu sambung buat Liam, Luham, dan Emir!"


Ujarnya sambil menatap Merry.


Merry tergelak mendengar kisah hidup Erga.

__ADS_1


Erga juga sudah tahu jika Merry adalah ibu sambung Luham, Liam, dan Emir.


"Mama sambung gue nggak pernah nyiksa gue selayaknya cerita-cerita kejamnya ibu tiri. Tapi bukan berarti juga dia menyayangi gue. Gue diurus sama baby sitter. Gue sayang sama mama gue. Karena sosok ibu yang gue kenal hanya dia. Gue nggak kenal sosok ibu kandung gue sendiri. Mama gue ya mama sambung gue."


"Gue nggak pernah kekurangan secara finansial. Papa dan mama gue selalu mencukupi itu. Gue juga anak satu-satunya. Karena mama sambung gue nggak mau punya anak."


"Orang tua gue selalu sibuk kerja. Sesuatu yang langka bisa bercengkrama bersama. Tadinya gue kira memang normalnya orang hidup seperti itu. Gue bisa menerima itu."


"Sampai akhirnya, diumur gue yang ke delapan tahun. Kebanyakan hidup temen-temen gue nggak kayak gitu. Mereka bisa hidup dengan sangat akrab dengan orang tuanya. Akhirnya gue mulai menyadari kalau hidup gue ini ternyata kesepian."


"Pastinya gue nggak tinggal diam. Gue menuntut supaya orang tua gue nggak cuma sibuk kerja. Gue mau disayang oleh mereka. Mau berbagi cerita sama mereka. Ya, pokoknya sama seperti temen-temen gue lah!"


Erga sejenak menghentikan ceritanya. Ia menoleh kepada Merry.


Erga tersenyum. Dia mengusap pundak kanan Merry.


"Gue nggak pernah bilang hidup gue yang paling menyedihkan dan paling malang. Ada banyak di luaran sana yang hidupnya jauh lebih menderita daripada gue. Ini cuma kisah hidup gue!"


Merry mengangguk perlahan. Wajahnya tidak bisa membohongi perasaannya yang sedih mendengar cerita Erga.


"Lalu apa kamu akhirnya mendapat kasih sayang itu?" tanya Merry.


Erga menggeleng sembari tersenyum. Lalu, dia menunduk


"Sampai akhirnya diumur gue yang ke sembilan, Papa gue meninggal."


Air matanya tiba-tiba jatuh. Namun, dengan segara ia menghapusnya.


"Hanya tersisa gue dan mama gue. Hanya kami berdua."


"Apakah kamu hidup dengan baik?" tanya Merry.


Erga menatap Merry sambil mengangguk dan tersenyum.


"Mama gue bekerja dengan sangat keras. Kami berdua tetap bisa hidup dengan baik. Hidup kamu juga tidak kekurangan apapun. Hanya saja, gue semakin kehilangan sosok mama di hidup gue. Mama gue semakin gila kerja. Nggak punya waktu buat gue. Gue selalu sendirian di rumah. Tidak punya teman. Mama akan berangkat pagi, lalu pulang saat larut malam."


"Sampai akhirnya gue remaja, bisa membantu mencari uang. Tapi mama gue nggak pernah mau menerima uang pemberian dari gue. Dia mau, uang hasil gue kerja ya untuk gue sendiri. Padahal niat gue kerja supaya mama gue nggak begitu gila kerja."


"Gue punya uang sendiri, gue nggak pernah ada waktu sama mama, gue nggak punya temen cerita, akhirnya mulailah gue mencari hiburan di luar. Akhirnya, gue pun jarang pulang ke rumah!"


"Lalu, maka kamu marah?" tanya Merry.


Erga menggeleng. "Justru dia menyuruh aku kembali ke sini. Menyuruhku mencoba hidup di sini. Tadinya gue nolak. Gue nggak mau ninggalin dia. Tapi dia memaksa. Katanya suruh mencari pengalaman."


"Akhirnya gue berangkat ke sini. Hidup di sini sampai sekarang. Semakin jauh dengan mama gue. Gue mencoba mencari kasih sayang dan cinta di sini. Ternyata sulit. Sampai akhirnya menurut gue cinta seperti yang dibicarakan banyak orang itu cuma omong kosong. Gue melepaskan segala cinta yang ada di hati gue. Gue hidup bebas. Tidak ingin terikat dalam aturan apapun. Asalkan gue bahagia dan nggak sedih."

__ADS_1


"Erga, sebenernya orangtuamu itu menyayangimu. Hanya saja caranya berbeda!" ujar Merry pelan.


Erga menatap Merry dengan tulus. Dia mengangguk dan tersenyum. "Iya, gue menyadari itu setelah gue bertemu sama Lo!"


__ADS_2