
"Sayang, makan dulu, ya!" pinta Daris.
Ini pagi hari waktunya Merry sarapan.
"Makan ya, dikit aja!" Sedari tadi Daris mencoba meminta agar Merry mau makan. Namun, tidak membuahkan hasil apapun.
Jika kemarin Merry terus menangis, berbeda dengan hari ini. Dia hanya diam, tidak mau berbicara apapun, hidupnya seperti tidak ada semangat lagi. Sangat berbeda dengan Merry yang sebelumnya.
Sejak kemarin, dia terus memandangi langit yang terlihat jelas dadi jendela besar ruang rawat inapnya di rumah sakit.
Merry yang semula membuka mata memejamkan mata pura-pura ingin tidur. Daris paham itu artinya Merry enggan untuk diajak berbicara.
Daris meletakkan sarapan yang sama sekali belum tersentuh itu ke meja.
"Mau aku bantu nyisir rambut nggak? Setelah ini Mommy datang loh. Udah perjalanan ke rumah sakit!"
Tawar Daris mencoba terus mengajak Merry berbicara.
Kebetulan rambut Merry cukup berantakan. Siapa tahu dia mau.
"Apa nunggu Mommy aja? Nanti biar Mommy aja ya yang nyisirin?" lanjut Daris.
Biasanya saat di rumah, saat ia ingin dimanja oleh Daris. Merry akan meminta Daris untuk mensisirkan rambutnya.
Namun, Merry tetap memejamkan mata. Belum ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya sejak pagi ini.
__ADS_1
Segala bentuk pertanyaan, pernyataan, atau usaha Daris untuk bercanda agar mencairkan suasana tidak mendapat respon apapun dari Merry.
Daris rindu dengan suara Merry. Rindu dengan perhatian Merry. Apalagi dengan kebiasaan cerewetnya.
Daris menggenggam tangan kanan Merry. Dia mengecupnya dengan lama.
Istrinya ini adalah wanita yang kuat dan tangguh. Bahkan, Daris mengakui jika Merry lebih kuat daripadanya dirinya.
Sejauh mereka berumah tangga, belum ada masalah yang membuat Merry terpuruk hingga seperti saat ini.
Sekarang Daris menyadari, sekuat apapun seorang manusia, pasti ada sisi lemahnya juga.
Akan ada saat dimana ia terpuruk dan kehilangan kekuatan yang selama ini ada pada dirinya.
Namun, hal ini membuat Daris takut. Ia lebih takut Merry yang sekarang berubah diam dan tidak mau merespon siapapun.
"Sayang, kata Raya tadi, Emir nyariin kamu. Bangun tidur dia nangis nyariin Bundanya. Dia lupa kalau kamu lagi sakit. Eh, terus pas diingetin kalau Bundanya lagi sakit, dianya langsung diem. Katanya, ya udah Emil nggak nangis lagi, Emil nggak mau kalau Emil nangis nanti Bunda tambah sakit!" ujar Daris mencoba menghibur Merry.
Mendengar nama Emir, Merry sedikit menggerakkan tubuhnya, walaupun tetap enggan merespon Daris.
"Emang anak Bunda banget Emir itu ya!" lanjut Daris sembari tersenyum.
Ya, bibirnya memang tersenyum. Tapi hatinya teriris mencoba menerima musibah yang tengah menimpa keluarganya. Mencoba ikhlas walaupun hal itu butuh perjuangan yang besar. Belum lagi melihat istrinya yang sedang terpuruk.
Untungnya, orang-orang di sekitarnya terus memberikan semangat dan doa yang baik. Mereka sangat baik dan selalu mencoba ada untuk Daris dan Merry.
__ADS_1
Selama beberapa hari ini, Daris akan fokus menjaga istirnya di rumah sakit. Masalah anak-anak, ada Raya, Bi Sami, dan juga kerabat dekat Daris yang membantu menjaga.
Untuk masalah pekerjaan, ada Al yang akan menghendle.
Ini juga kali pertama untuknya kehilangan anak. Anak yang bahkan belum ia ketahui jika ternyata dia hadir di tengah kehangatan keluarganya.
Daris melihat handphone nya berdering. Dia menjauh dari Merry untuk mengangkat panggilan itu.
"Serahkan dia kepada pihak yang berwajib!" jawab Daris dengan tegas.
Inilah alasan mengapa dia menjauh dari Merry saat mengangkat telepon. Hal ini menyangkut Ambar.
Daris takut saat membahas Ambar, akan membuat Merry marah atau mengganggu pikirannya. Karena bagaimanapun hal ini ada kaitannya dengan Ambar.
Merry terjatuh karena didorong oleh Ambar. Bahkan, penyebab Merry stress akhir-akhir ini juga karena permasalahan tentang Ambar.
Tentu saja Daris melaporkan Ambar kepada pihak yang berwajib. Dia menganggu ketenangan keluarganya. Dia melukai Merry.
Bahkan, dia membuat keluarganya kehilangan anak yang tentu saja sudah dinanti kehadirannya.
Tidak cukup sampai disini. Sekarang istrinya terpuruk dan terlihat menyedihkan.
Sejujurnya Merry lebih menyedihkan diam seperti ini daripada menangis meraung-raung seperti kemarin.
Daris tidak menyangka hal ini terjadi pada keluarganya. Lebih tidak menyangka lagi hal ini berkaitan dengan Ambar. Mama dari anak-anaknya.
__ADS_1