Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Perselingkuhan dan Karma


__ADS_3

Erga mencoba memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Kalau gitu, gue permisi dulu ya!" pamit Erga secara tiba-tiba. Dia memang senang berada di situ. Namun, ada hal yang membuatnya sedih.


Merry mengangguk. "Iya, sekali lagi terima kasih ya!"


Erga mengangguk sambil tersenyum.


"Hai, Kakak pamit dulu ya. Kapan -kapan kita ketemu lagi. Nanti kita main bareng!" pamit Erga kepada anak-anak.


"Siap, Kak. Kapan-kapan kita main bareng ya!" jawab Luham dengan bersemangat.


Kesan pertama saat bertemu dengan Erga adalah kesan yang baik. Jadi, Luham dan Liam suka bertemu dengan Erga.


Erga senang mereka bisa baik kepadanya.


Ajakan agar semoga lain waktu bisa bertemu kembali bukanlah sekedar basa-basi. Namun, Erga memang ingin berjumpa dengan mereka lagi.


Setelahnya, Erga pergi meninggalkan mereka semua.


"Bun, Kakak yang tadi baik ya!" ujar Luham kepada Merry.


Merry tersenyum sembari mengangguk.


"Iya, baik. Kalian suka sama Kak Erga?" tanya Merry.


Luham mengangguk.


"Bunda sudah kenal ya dengan Kakak Erga?" tanya Liam.


"Iya, Bunda kenal. Tapi sekedar kenal saja. Tidak akrab!" jawab Merry.


Liam manggut-manggut.


"Rumahnya di mana Bun?" tanya Liam yang sudah terlanjur penasaran.


"Nggak tau Bunda. Kenapa barusan kalian nggak nanya langsung ke Kakaknya?" Merry balik bertanya.


"Nggak kepikiran tadi mau nanya rumah. Pas Kakaknya udah pergi, eh, baru kepikiran!" jawab Liam.


Merry tersenyum. Hm, ada-ada saja.


"Emangnya kenapa tanya rumah?" tanya Merry lagi.


"Mau main ke sana kita Bun. Kapan-kapan!" Kali ini Luham yang menjawab.


Merry tersenyum, tapi dia juga mengernyitkan dahi.


Rupanya dengan pertemuan singkat barusan, Erga berhasil mengambil hati anak-anak.


"Mau main sama Kak Erga beneran?" tanya Merry yang tidak percaya.


Luham dan Liam selama ini juga banyak bertemu dengan orang baik. Namun, kenapa sekarang sangat antusias. Heran.


"Pengen punya Kakak, Bun!" jawab Liam.


Merry tercengang mendengar jawaban dari anak-anaknya.


Rupanya ingin punya kakak ya. Hm, mungkin hal yang normal sih.


Dulu, saat dia sekolah ataupun kuliah. Teman-temannya yang menjadi anak pertama juga berkata ingin tahu bagaimana rasanya punya kakak. Mereka ingin sekali bisa punya kakak.


Lalu, temannya yang lain yang menjadi anak terakhir juga berkata ingin sekali tahu rasanya punya adik.

__ADS_1


Mereka ingin adik, tapi apalah daya merekalah yang menjadi adik. Mereka yang menjadi anak pertama.


"Pengen punya Kakak cowok atau cewek?" tanya Merry.


Sebagai manusia yang terlahir lebih dulu dibandingkan mereka. Sudah banyak pengalaman yang Merry dapatkan dibandingkan anak-anaknya, Merry sudah tidak heran dengan hal tersebut.


Merry santai saja. Hal wajar.


"Em, cewek sih. Tapi jangan yang kayak Tante Raya. Nanti cerewet!" jawab Luham.


Merry tertawa. Sungguh, Raya dicap sebagai Tante yang cerewet oleh keponakannya.


"Kalau aku pengen cowok. Cewek udah ada Tante Raya!" jawab Liam yang memiliki perbedaan pendapat.


Merry tersenyum sembari mengangguk-angguk.


"Kalian pengen Kakak. Ada yang pengen cowok dan cewek. Ya, mungkin sosoknya secara fisik tidak ada yang menjadi Kakak. Tapi secara sikap atau kasih sayang juga sebenarnya peran kakak cewek dan cowok sudah kalian dapatkan!" jawab Merry.


"Cewek pasti Tante Raya kan?"sahut Liam.


"Iya, betul!"


"Terus kalau cowok siapa Bun?" tanya Luham.


Merry terkekeh. "Om, Al, hehee. Kalian sadar nggak sih. Om Al itu juga bisa jadi sosok Kakak buat kalian. Tante Raya juga. Ya, mungkin secara umum memang dikenal sebagai Om dan Tante. Tapi mereka juga jadi kakak buat kalian kan?" tanya Merry.


Luham dan Liam berpikir.


"Coba, kalian kalau ada apa-apa pasti minta bantuan Om Al juga kan?" tanya Merry.


"Iya, juga sih Bun!" jawab Liam.


"Iya, gitu!"


Sedangkan di lain tempat.


Al yang sedang duduk di kursi kemudi mobilnya sedang sibuk dengan handphone nya untuk mencari suatu informasi.


Informasi yang ia cari bukanlah tentang siapa Merry. Siapa suami Merry. Kapan Merry dan suaminya menikah. Kapan anak-anak Merry lahir. Dulu Merry umur berapa saat pertama kali punya anak.


Namun, Erga sedang membaca suatu artikel yang judulnya.


"Bolehkan merebut istri dan anak orang?"


Erga membacanya dengan cermat.


Hallo sobat pencari jodoh. Sobat yang sedang bingung dengan masalah percintaan. Hehe, masalah percintaan memanglah rumit. Namun, hal tersebut akan berubah tidak rumit setelah Anda membaca artikel ini.


Erga semakin bersemangat untuk melanjutkan membaca artikel ini.


Cinta adalah fitrah daripada manusia. Cinta adalah hal yang dimiliki oleh setiap manusia.


Saat ini Anda dengan sedang jatuh cinta? Tentu hal yang baik. Hal yang baik jika jatuh cinta kepada seseorang yang memang patuh untuk dicintai.


Hehe, maksudnya? Tentu saja seseorang yang masih single. Bukan kekasih atau pasangan orang lain.


Merebut istri atau pasangan tentu saja tidak diperbolehkan. Hal tersebut adalah hal yang salah. Mengambil sesuatu yang bukan hak kita adalah suatu tanda bahwa seseorang tersebut rakus.


Jika Anda memiliki hasrat untuk menjadi pelakor atau pebinor, segeralah untuk sadar dan bercermin dengan cermin yang ada di rumah Anda, hehe.


Erga membelalakkan mata. Dia tidak melanjutkan membaca dan keluar dari halaman artikel tersebut. Kenapa artikel ini seolah-olah sedang menasehati dirinya? Apalagi mengatakan jika Erga rakus. Enak saja.


Disuruh bercermin lagi. Lagipula saat bercermin betulan pun juga wajah Erga tampan.

__ADS_1


Ya, walaupun Erga sebenarnya sadar apa makna bercermin yang dimuat dalam artikel tersebut.


Mungkin, sepemahaman Erga. Anda harus bercermin apakah Anda lebih baik dari suaminya? Jika tidak, jangan mimpi Shay!!


"Bukan jawaban ini yang gue mau!" gumam Erga.


Dia kembali mengetikkan sesuatu.


"Cara menjadi ayah tiri yang baik"


Dia membaca beberapa tips dan trik yang berada di dalamnya. Erga tersenyum membacanya. Sepertinya seru menjadi seorang ayah.


Wajah Luham, Liam, dan Emir terlintas di otaknya.


Namun, seketika Erga terpikirkan hal lain.


Dia kembali mengetikkan sesuatu.


"Cara merebut istri orang"


Ia kembali mengetikkan hal tersebut.


Siap menjadi pebinor? Siap merebut istri orang lain? Bagus, berarti Anda siap menerima karma yang cepat atau lambat pasti datang.


Erga langsung membelalakkan matanya saat membaca kata "karma"


"Ogah lah gue kena karma!" ucap Erga bergidik ngeri.


"Emang nggak bisa ya ngambil istri orang tanpa kena karma?" gumam Erga bermonolog.


Erga berusaha mencari hal lain lagi.


"Bolehkah merebut istri orang, tapi dengan cara yang baik-baik"


Setelah menemukan artikel yang ia rasa pas untuk dibaca.


Saat dia mulai membaca.


TIDAK ADA CARA


Erga langsung malas melanjutkan membaca artikel tersebut.


Sedari tadi tidak ada artikel yang bisa mengerti tentang perasaannya.


Erga mendengus sebal. Apa hanya dirinya saja yang sekarang terjebak dengan cinta kepada istri orang lain?


Hah, Erga rasa tidak. Pasti di luar sana banyak. Bahkan, yang terang-terangan berselingkuh juga banyak.


Namun, seketika Erga mendapat suatu pikiran yang membuatnya semakin berpikir keras.


Selingkuh. Perselingkuhan terjadi karena persetujuan antara dua pihak. Ya, dua orang yang menjalani hubungan gelap tersebut.


Berarti, caranya Erga dan Merry harus bersepakat untuk menjalani hubungan di belakang suaminya Merry.


Nah, barulah terjadi suatu perselingkuhan.


Namun, seperti ini tidak mungkin. Merry terlihat sangat menyayangi suaminya.


Erga membuang napasnya kasar. Itu tidak mungkin terjadi.


Lagipula, sekali lagi Erga teringat kata "karma"


Ngeri lah, kalau kena karma.

__ADS_1


__ADS_2