Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Emosi Daris dan Anak-Anak


__ADS_3

"Pa, Papa nggak pengen kenal sama Kak Erga?" tanya Liam.


Iya, hari ini Daris sudah pulang dari luar kota.


Mereka sedang berbincang-bincang di ruang keluarga. Ada Daris, Luham, Liam, Emir, dan Merry.


Daris melirik Merry. Sedangkan yang dilirik santai-santai saja.


"Kakaknya baik banget loh Pa. Ayo dong Pa, ketemu!" Kali ini Luham yang berkata.


Raut wajah Daris berubah masam.


Tentu saja Daris sudah tahu siapa Erga. Merry sudah bercerita kepada dirinya. Tidak ada yang Merry tutupi dari Daris.


Merry tetap santai sambil makan cemilan.


Daris memasang raut wajahnya masam karena Daris cemburu dengan kehadiran Erga.


Daris sudah bisa menebak kalau Erga suka kepada istrinya. Dan yang lebih parahnya lagi dia bisa merebut hati anak-anak. Padahal, Amar saja yang sekarang statusnya sebagai paman dari anak-anak tidak bisa merebut hati anak-anak.


Mereka tetap memasang sikap waspada jika kepada Amar dan Chan. Mereka takut bundanya diambil.


Namun, kenapa kepada Erga. Erga yang jelas-jelas orang asing justru mereka menerima dengan tangan terbuka.


Apa mereka tidak takut kalau bundanya diambil?


"Iya, kapan-kapan kalau Papa ketemu!" jawab Daris sekadarnya.


"Baik tahu Pa, Kakaknya. Ternyata Kak Erga itu temennya coach Sams. Kak Erga ke sana terus pas istirahat main bola juga deh sama kita. Terus diajakin bercanda juga!" tutur Luham.


"Kak Erga juga pinter ya main bolanya. Dulu katanya emang pemain futsal. Tapi sekarang udah jarang. Tapi meskipun sekarang udah jarang, tetep aja mainnya keren!" Liam ikut menimpali.


Seolah-olah mereka sedang membicarakan sosok yang mereka idolakan.


Ya, ternyata sudah sedekat itu mereka. Jadi, saat Luham dan Liam berlatih futsal. Ternyata, coach futsal mereka adalah teman Erga.


Tantu saja Erga yang tahu hal tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia datang spesial untuk bertemu Luham dan Liam.

__ADS_1


Di samping niatnya yang ingin seperti yang dia cari di artikel saat itu, tapi Erga juga merasa nyaman saat bersama Luham dan Liam. Hal itu membuat dirinya ingin sering bersama Luham dan Liam.


Anak-anak yang polos dan baik. Selain itu dengan mudahnya juga mereka menceritakan tentang bundanya. Erga senang mendengar cerita tentang Merry.


Kadangkala mereka juga menceritakan tentang papanya. Erga yang sangat penasaran dengan bagaimana sikap dari suami Merry pasti akan menyimak dengan baik. Bahkan, Erga tidak ragu untuk memancing Luham dan Liam agar menceritakan lebih.


Ya, walaupun sampai saat ini hanya cerita baik dan lucu yang Luham dan Liam ceritakan tentang papanya.


Bukan cerita buruk yang bisa menjadi boomerang agar Erga punya alasan jika Daris bukanlah yang terbaik untuk Merry.


Malahan, terkadang mereka menceritakan tentang keromantisan papa dan bundanya.


Walaupun mereka sudah bercerita sejauh itu. Namun, tentang status Merry yang sebenarnya adalah ibu sambung belum Erga ketahui.


Sampai detik ini Erga hanya menyimpulkan jika dulu Merry menikah diusia yang sangat muda sehingga dia dikaruniai tiga anak diusia yang masih muda juga.


"Oh, iya, Pa. Kak Erga mau ngajakin kita ke kebun binatang. Boleh kan?" tanya Liam mencoba meminta izin kepada papanya.


Daris langsung menoleh kepada Liam. "Nggak boleh. Ngapain?"


"Ya jalan-jalan lah Pa. Iya deh ya. Lagian Papa sekarang udah pulang, tapi sampai sekarang juga belum ngajakin kita jalan-jalan. Katanya dulu janji kalau udah pulang mau ngajakin kita jalan ke mana pun yang kita mau. Tapi tetep aja udah pulang masih sibuk di kantor!" jawab Liam memutar balikkan fakta.


Merry yang mendengar perkataan Liam merasa sedih. Kasihan mereka.


"Papa sih bohong. Kan udah ada Kak Erga yang mau ngajakin kita jalan-jalan. Ya udah diizinin dong. Lagian Papa sibuk kerja terus. Kayak nggak punya Papa kita di rumah!" ucapan Luham begitu menyayat hati Daris.


Bahkan, muncul sedikit emosi dalam diri Daris.


"Iya, udah kita sama Kak Erga aja. Sana Papa kerja aja terus!"


"CUKUP!" Daris membentak Liam yang baru saja berkata.


Luham dan Liam terkejut dibentak oleh papanya.


Bukan hanya Luham dan Liam, tapi Merry juga terkejut.


Emosi Daris sudah terpancing.

__ADS_1


"Kalian pikir Papa juga mau sibuk terus? Papa juga mau jalan-jalan sama kalian. Papa juga mau punya waktu istirahat yang banyak. Papa juga nggak mau menghabiskan seluruh hari Papa di kantor. Tapi ini semua tuntutan pekerjaan Papa. Ini semua juga demi kalian. Demi masa depan kalian!" bentak Daris.


"Mas!" ucap Merry memperingati Daris.


"Tapi Papa tidak punya waktu buat kita. Saat sarapan pun waktunya hanya sedikit. Papa juga buru-buru ke kantor. Saat pulang, Papa langsung istirahat. Kita kan mau cerita banyak ke papa. Cerita gimana di sekolah kita!" Ternyata Liam tidak takut. Dia balik berkata keras kepada papanya. Dia melakukan pembelaan.


"Setiap hari kita hanya bercerita kepada Bunda. Bunda bilang Papa sibuk karena Papa sayang sama kita. Tapi Bunda salah, Papa itu nggak sayang sama kita. Papa lebih sayang sama pekerjaannya!" sahut Luham.


"Luham, Liam, sudah Nak, cukup!" pinta Merry kepada kedua anaknya agar menghentikan perdebatan dengan papanya.


"Mas, udah, cukup. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik!" pinta Merry kepada Daris dengan sangat.


Merry tidak ingin ada permasalahan antara anak dengan bapaknya. Nanti solusinya dicari bersama-sama.


Daris mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya juga menyesal sudah membentak anaknya. Namun, emosinya tiba-tiba tinggi. Apalagi saat mereka menyebut Erga.


Luham dan Liam pergi ke kamar mereka. Mereka marah kepada papanya.


Merry melihat kepergian anaknya dengan prihatin.


"Mas, aku tahu kamu memang sibuk dan itu tuntutan pekerjaan kamu. Tapi anak-anak juga butuh kamu. Mungkin mulai besok kamu harus bisa meluangkan waktu sedikit lebih banyak untuk mereka. Bukannya egois, tapi selain menjadi kepala rumah tangga yang tugasnya mencari nafkah, sebagai atasan di kantor, kamu juga seorang ayah. Kamu harus ingat juga kewajiban kamu sebagai seorang ayah. Tugas kamu bukan hanya mencarikan duit untuk mereka. Bukan hanya selalu memberikan uang saja. Tapi kamu juga harus menjadi teman untuk mereka. Mereka butuh figur seorang ayah!" jelas Merry dengan mengesampingkan segala emosi.


Ucapan Merry ini juga bukan berarti menyudutkan suaminya.


Daris menyederhanakan tubuhnya di sofa.


Kepala Daris menoleh kepada Merry.


"Iya, kamu benar. Tugasku bukan hanya memberikan mereka uang saja. Bukan hanya memenuhi kebutuhan mereka. Tapi aku harus memberikan figur sosok ayah kepada mereka!" ucapnya pelan.


Merry tersenyum sambil mengusap lengan kanan Daris.


Daris menggenggam tangan Merry yang sedang mengusap lengannya.


"Tolong ajari aku ya. Kamu harus selalu mengingatkan aku. Kamu harus selalu menegur aku jika aku salah. Jangan ragu untuk memarahi aku kalau aku salah. Aku selalu butuh kamu di hidup aku!" ucap Daris dengan sungguh-sungguh.


Merry tersenyum.

__ADS_1


"Itu sudah tugasku sebagai seorang istri Mas!"


__ADS_2