Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Masih Mengikuti Merry


__ADS_3

"Mer Mer, gue nggak ngerti kenapa sejak pertama ketemu Lo hati gue merasa nyaman!" ucap Erga sambil terus mengikuti Merry.


Sedangkan di dalam mobil Merry. Merry paham jika ada yang mengikutinya. Ya, walaupun Merry tidak tahu siapa yang mengikutinya. Merry sadar mobil itu mengikutinya dari tempat parkir tadi.


Merry sengaja ingin mengetes orang tersebut untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar mengikuti Merry.


Merry melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Benar, orang tersebut mengikutinya dengan kecepatan penuh.


Lalu sengaja Merry melambatkan mobilnya. Ternyata benar juga, orang tersebut juga ikut melambatkan mobilnya.


Sudah bisa dipastikan kalau dia mengikuti Merry.


"Mau main-main sama gue rupanya!" ucap Merry sambil tersenyum devil.


Merry melajukan mobilnya dengan cepat. Malas sekali meladeni orang seperti itu. Ya, semoga saja dia bukan orang jahat.


Sudah cukup lama Merry pensiun dalam hal seperti ini. Terakhir bermain kucing-kucingan seperti ini saat jadi bodyguard Mommy Tyas.


Percaya atau tidak, nyatanya hidup menjadi orang berpengaruh seperti Mommy Tyas tidaklah setenang yang dibayangkan. Banyak orang lain yang mencoba untuk mencelakainya.

__ADS_1


Dulu saat Merry menjadi bodyguard, banyak sekali tantangan yang harus ia hadapi.


Ya, walaupun tantangan hidupnya saat ini sudah berbeda dengan dulu. Sekarang tantangan hidupnya bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik.


Rumahnya sudah tidak jauh lagi. Merry tetap mencoba santai. Waspada tapi tetap rileks.


Sejujurnya, Merry tidak ada pikiran yang mengarah kepada Erga. Sama sekali tidak ada.


Baginya Erga hanyalah angin berlalu. Ya untuk apa memikirkan Erga. Dia kan berkeluarga. Sudah punya anak dan suami. Tidak baik memikirkan pria lain.


Apalagi keadaan keluarganya baru saja membaik. Merry tidak ingin ada masalah yang membuat keluarganya jatuh kepada masalah lagi.


Masalah pasti ada. Setidaknya masalah itu yang tidak terduga datangnya. Bukan masalah yang sengaja didatangkan.


Merry juga yakin sebentar lagi Erga sudah lupa kepada dirinya. Em, lupa mungkin tidak karena tidak akan semudah itu juga melupakan. Setidaknya ya bersikap biasa saja. Tidak seperti cacing kepanasan saat bertemu Merry.


Sungguh, Erga ini lebih pantas menjadi adiknya. Dia juga mungkin sepantaran dengan Raya.


Sebenarnya lebih pantas dengan Raya. Eh, tapi melihat sikap Erga seperti itu apa iya Erga bisa menjadi pasangan yang baik baik Raya?

__ADS_1


Ah, Merry tidak rela. Takut Raya disakiti.


Tapi, bukankah manusia bisa berubah? Bukankah kita juga harus memberi kesempatan untuk orang lain agar mereka bisa berubah baik?


Tapi berbicara tentang Erga dan Raya, bukankah saat itu Daris berkata padanya jika Al mencintai Raya.


Al bertekad untuk serius kepada Raya. Apa benar dalam hati Al seperti itu?


Al baik sih. Tidak masalah juga jika Raya bersama Al. Pasti Al bisa membimbing Raya. Bisa menjadi teman hidup yang baik.


Lebih tepatnya Al akan terus berusaha menjadi teman hidup yang baik bagi Raya.


Merry menggelengkan kepala. Heh, dasar nih otak mikirnya sampai kemana-mana. Tadi kena membahas tentang Erga. Lalu, Erga dan Raya. Nah, kenapa sekarang berganti kepada Raya dan Al.


Merry mentertawakan dirinya sendiri. Mer Mer. Manusiawi tidak sih kalau suka mikir kemana-mana seperti ini.


Merry kembali melihat mobil sport kuning yang mengikutinya di belakang.


Masih punya niat untuk mengikuti ternyata. Oke, siapa takut. Sebentar lagi Merry juga sudah sampai rumah, hehe.

__ADS_1


__ADS_2