
Merry memegang tangan seorang anak yang sedang terbaring lemah. Anak tampan ini setia memejamkan matanya. Bibir kecil yang biasanya tersenyum dan memanggil-manggil nama Auntie Merry hanya bisa tertutup rapat.
Air mata Merry leleh. Sungguh kali ini dia cengeng sekali.
"Luham, bangun sayang! Auntie ada di sini!" ucap Merry pelan.
"Kamu seneng nggak ada Auntie di sini?" ucap Merry lagi.
"Katanya kamu habis mimpi disuapin Auntie ya? Ayo bangun pasti Auntie menyuap kamu!" Merry terus berbicara sendiri. Tak masalah Luham tak menjawab, Merry yakin Luham sebenarnya bisa mendengarnya.
"Luham, Auntie masih nyimpen loh ketupat dari Luham, Auntie simpen dengan baik!"
Merry mengelus pelan tangan Luham.
"Pasti itu sakit ya?" Mery melihat dengan sendu perban yang melingkar di kepala Luham.
Merry menemani Luham selama lima belas menit karena sebentar lagi jam besuk ruang ICU sudah habis.
"Bangun ya sayang! Auntie mau kamu kuat, nanti kita main bareng lagi!" Merry mengecup pelan tangan Luham.
Setelah berucap demikian, Merry berjalan ke luar ruangan. Sebenarnya hatinya tak rela meninggalkan Luham dengan keadaan yang seperti ini. Ingin rasanya Merry selalu menggenggam tangan Luham dan menemani di sampingnya.
Di luar ruangan Merry kembali bertemu dengan Daris.
"Terimakasih ya Mer!" Tiba-tiba aura canggung menyelimuti mereka berdua.
"Sama-sama Pak!" jawab Merry.
Merry menoleh ke pintu ruang ICU, apa iya dirinya harus pulang. Merry ragu.
"Kalau mau pulang nggak papa kok Mer!" ujar Daris. Merry hanya melihat Daris dengan diam.
Sepertinya Merry akan pulang dulu, nanti dia akan ke sini lagi.
"Saya pamit ya Pak, nanti saya ke sini lagi!" pamit Merry.
"Iya, sekali lagi makasih ya! Kamu hati-hati kalau pulang!" jawab Daris.
Merry mengangguk, lalu mulai melangkahkan kakinya. Namun, Merry teringat sesuatu yang membuat dirinya berhenti sejenak. Merry kembali mendekat pada Daris.
"Bapak sudah menghubungi anak-anak di rumah?" tanya Merry.
Daris terkejut, Ya Tuhan Daris sampai sekarang
belum menghubungi, pikirannya kalut.
"Belum Mer, saya hubungi sekarang!" Daris segera mengambil ponselnya.
"Kalau boleh saya ingin menemui anak-anak, itu pun kalau Bapak mengizinkan!" Ingin rasanya Merry menemui anak-anak, tapi tentunya bukan setelah ini. Dia akan menemui nanti saat ingin ke rumah sakit lagi. Saat ini, bajunya masih kotor dari rumah sakit.
Daris tersenyum lebar. Sedari tadi, baru kali ini Merry melihat Daris tersenyum. Sebelumnya, wajahnya hanya terlihat sedih dan penuh beban.
"Nanti kalau saya ke sini lagi kita bisa gantian menjaga Luham, Bapak bisa pulang!" tawar Merry.
Senyum Daris langsung pudar, Daris menggelengkan kepala.
"Tidak Mer, saya ingin tetap menjaga Luham di sini!" tolak Daris.
"Iya Pak saya tahu, tapi kasihan juga anak-anak di rumah, mereka kan pengen dijenguk walaupun hanya sebentar! Sebentar aja!!" pinta Merry dengan memohon.
__ADS_1
Bener juga sih omongan Merry. Terserah nanti lah.
"Ya sudah saya pamit Pak!" Merry pergi meninggalkan Daris.
*****
Merry berjalan menuju kamarnya.
"Mer, bagaimana keadaan Luham?" tanya Mommy Tyas yang muncul dari arah belakang.
Merry memang telah mengabari Mommy Tyas tadi.
"Masih koma Mom!" jawab Merry lesu.
Mommy Tyas mengehela nafasnya.
"Gimana ceritanya kok bisa sampai koma?" Mommy Tyas sangat sedih.
"Luham mau berangkat latihan nyanyi Mom, naik sepeda dia! Terus ada motor yang rem nya blong, terus....," Merry tak mampu melanjutkan ucapannya. Merry tak bisa membayangkan dengan apa yang menimpa Luham.
Mommy Tyas mengusap pelan bahu Merry.
"Terus yang nabrak gimana?" tanya Mommy Tyas.
"Orangnya kakinya patah tulang, sama-sama luka! Damai kok Mom!" jawab Merry yang memang begitu adanya. Tadi Merry berbincang-bincang dengan Daris.
Mommy Tyas manggut-manggut.
"Kamu pulang nih sekarang?" tanya Mommy Tyas.
Merry mengerutkan dahi," Emang Merry nggak boleh pulang Mom?"
"Iya nanti sore, tapi mau ke rumah Pak Daris dulu nemuin anak-anak! Kasihan dilupakan sama Bapaknya!"
"Mommy ikut ya? Mommy pengen lihat keadaan Luham dan pengen nemuin anak-anak juga!"
"Iya boleh kok Mom, sekarang Merry ke atas dulu ya?"
Merry telah sampai di dalam kamar.
Matanya langsung tertuju pada surat dari Luham yang terjatuh di lantai. Merry mengambilnya tapi tak berminat untuk membacanya lagi, takut sesak dadanya.
Tadi dia belum membaca surat itu secara tuntas, tapi sudah mendapat kabar kalau Luham koma di rumah sakit.
Merry meletakkan surat itu di nakas.
Merry segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
*****
Sore hari di kediaman Daris.
Raya membelalakkan matanya saat tahu siapa yang datang.
"Kak Merry!" Raya buru-buru mendekat pada Merry. Raya langsung memeluk erat Merry.
"Kak, Luham Kak!" Raya menangis di pelukan Merry. Ya, Merry sadar betul yang sedih atas peristiwa yang menimpa Luham bukan hanya Daris saja, semua orang bersedih atas peristiwa yang menimpa Luham.
"Aku pengen ke sana Kak, tapi Kak Daris nggak memperbolehkan! Aku disuruh jaga Liam sama Emir di rumah! Itu kan nggak adil! Aku juga mau lihat!" Raya merasa ini tidak adil. Daris memang egois.
__ADS_1
"Udah sabar ya, nanti Kakak tanyakan pada Daris! Kakak tahu kamu pasti ingin melihat Luham, walaupun itu hanya sebentar!"
Perkataan Merry berhasil membuat Raya tenang. Semakin ke sini Merry semakin tahu jika Daris orang yang keras kepala, egois, dan otoriter.
Raya berteriak memanggil anak-anak.
"Liam, Emir ini ada Auntie Merry!" teriak Raya dari luar.
Seketika Raya tersadar jika Merry tak sendiri.
Ada wanita paruh baya yang bersama Merry. Raya yakin itu pasti Nyonya Syah.
"Tante," sapa Raya pada Mommy Tyas.
"Hai cantik!" sapa Mommy Tyas.
"Oh iya lupa, mari masuk!" ajak Raya untuk masuk ke dalam rumah.
"Bunda!" Ada anak kicik berlari ke arah Merry dan memeluk Merry dengan erat.
Merry langsung menggendong Emir. Auto nemplok sama Bundanya tuh anak.
"Emil kangen Bunda!" Emir manja-manja di gendongan Merry.
Liam muncul dan mendekat pada Merry. Liam tiba-tiba menyalami tangan Merry dan Mommy Tyas.
Barakallah! batin Merry saat disalami Liam.
"Emir tadi nggak mau makan loh Bund!" Raya mengadukan hal tersebut pada Merry.
"Sekarang Emir makan ya! Kasihan perutnya kalau nggak makan!" pinta Merry dengan lembut. Tak masalah walaupun bukan jam makan, tadi siang anak ini tidak makan.
Emir mengangguk dengan semangat. Udah ketemu pawangnya sih!
"Apa mau disuapin sama Oma?" tawar Mommy Tyas.
Emir menggeleng. "Mau disuapi Bunda!" ucap Emir dengan manja. Haduh, Merry jadi pengen mencubit Emir deh, hehe bercanda kok, nanti Pak Daris marah!
Mommy Tyas terkekeh melihat Emir yang seperti itu.
Akhirnya, Merry mengambilkan Emir makan lalu menyuapinya. Emir makan dengan lahap seperti orang yang tak pernah makan sambil sesekali berceloteh berbagai hal yang ia lihat pada Merry.
Beda halnya dengan Liam yang hanya duduk, diam, dengan raut yang sedih. Merry sadar betul pasti dia memikirkan Luham.
Bagaimana pun mereka adalah anak kembar, ikatan batinnya kuat. Melihat Luham yang sedang berjuang untuk hidupnya, pasti Liam merasakan kesedihan yang luar biasa.
Jika ditanya siapa yang sebenarnya paling bersedih di sini, jawabannya pasti Liam.
Huhu makasih yang udah baca!!🖤
BTW seru ya main tebak-tebakan siapa yang di rumah sakit🤭 Sekarang tahu kan ya siapa yang di rumah sakit? Ya, Luham orangnya!! Kasihan ya anak ganteng itu!😌
JUJUR YA, sebenarnya cerita ini belum masuk pada inti cerita! Waah belum ya ternyata?🙄
Terus inti ceritanya gimana Thor?? Pastinya lebih seru doong!!! Yok Yok tunggu ya!!
Sekali Author minta maaf kalau ngga bisa update yang teratur!
__ADS_1
Luv Luv untuk kalian🖤