Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Musibah


__ADS_3

Daris berjalan gontai menuju ranjang rumah sakit tempat Merry berbaring.


Detik jarum jam terus berjalan mengiri langkah kaki Daris yang semakin mendekat kepada istrinya.


Setelah badannya berada persis di samping kanan ranjang itu, dia menggenggam tangan kanan Merry.


Sedangkan Merry yang sedari tadi memalingkan wajahnya ke kiri, tidak melakukan pergerakan apapun walaupun mengetahui jika suaminya berada di dekatnya.


Air matanya terus meleleh. Pandangan terus mengarah ke langit yang nampak dari jendela kaca besar yang berada di sebelah kirinya.


Wajah dan bibirnya pucat pasi. Tubuhnya lemah. Bibirnya terkatup rapat. Pikirannya melayang, entah apa yang dipikirkan hanya Merry dan Tuhan yang tahu.


Daris mengusap lembut kepala Merry. Lalu merapikan anak rambut Merry yang berantakan.


Mata Daris sembab. Hatinya sakit menerima kenyataan ini. Hatinya juga menolak kenyataan yang baru saja ia terima. Ia merasa bersalah tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.


Tidak bisa melindungi istri dan calon anaknya yang masih berusia enam minggu di perut Merry.


Daris merasa menjadi suami yang bodoh. Bukankah dia sudah berpengalaman selama tiga kali saat mantan istinya dulu mengandung anak-anak. Namun, sekarang dia tidak tahu jika istrinya hamil.


"Maaf ya, Sayang!" Kata maaf terus keluar dari mulut Daris. Mungkin sudah beribu kali kata itu keluar dari mulutnya.


Merry tidak merespon apapun. Air matanya terus meleleh. Dia juga terus memalingkan wajah dari siapapun yang sejak tadi menemui dirinya.


Air mata Daris ikut menetes. Tentu sedih. Ayah mana yang tidak sedih kehilangan anaknya.


Daris bergegas menghapus air matanya.

__ADS_1


Sekarang dia sudah bisa mengontrol tangisnya. Berbeda dengan tadi


"Dia sudah bahagia di sana, Sayang!" ujar Daris yang baru saja selesai memakamkan anaknya.


Daris baru saja pulang dari tempat pemakaman dan kembali ke rumah sakit.


Saat ditinggal oleh Daris, Merry bersama kerabat dekat Daris dan kerabat dekat Mommy Tyas.


Sedangkan Mommy Tyas sendiri masih dalam perjalanan menuju ke sini. Mommy Tyas bersama Amar selama beberapa minggu ini berada di luar negeri karena ada urusan pekerjaan.


Mendengar suatu musibah sedang menimpa anaknya, tentu saja Mommy Tyas langsung pulang.


Sedangkan Raya berada di rumah Daris. Daris meminta agar Raya membantu Bi Sami menjaga anak-anak.


Anak-anak yang tadi menyaksikan saat bundanya berdarah dibawa ke dalam mobil sangat syok.


Setelah sampai di rumah sakit. Daris meminta tolong kepada Al datang untuk membawa anak-anak pulang.


Beberapa saat yang lalu Daris juga berkomunikasi dengan Raya. Dia mengatakan jika anak-anaknya terus bersedih dan takut kehilangan Bundanya.


Apalagi mereka juga tahu jika ternyata mereka kehilangan adik. Kehilangan sosok yang akan menjadi anak keempat di keluarga mereka.


Daris menghembuskan napasnya berharap rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Ya, walaupun itu tidak membuahkan hasil.


Daris mengecup dahi Merry. Daris tahu, Merry sangat merasa kehilangan.


"Sabar ya, Sayang. Semuanya ini sudah takdir!" Daris memeluk Merry. Sambil terus membisikkan perkataan positif kepada Merry.

__ADS_1


Merry semakin menangis. Bahkan tangisnya menimbulkan suara.


Daris terus mengecup kening Merry.


"Aku tahu ini berat untuk kamu. Berat juga untuk aku. Belajar ikhlas ya, Sayang. Kita belajar bersama-sama untuk ikhlas!" bisik Daris yang mati-matian berusaha menahan tangisnya.


Istrinya sedang lemah dan butuh penyemangat. Daris tidak boleh lemah. Dia harus menyemangati istrinya.


Merry semakin tidak bisa membendung tangisnya. Matanya sangat sembab karena sedari tadi dia terus menangis.


"Istighfar, Sayang. Ini memang nggak mudah. Ini berat. Tapi ini sudah takdir. Belajar ikhlas ya!" ucap Daris lagi.


"Anakku!" Gumam Merry lirih di tengah tangisnya.


Daris mengecup dahi Merry bertubi-tubi. Dia juga memeluk Merry. Mata Daris juga merah dan berair.


"Ini salahku!" gumam Merry lagi.


Sedari tadi Merry terus menyalahkan dirinya. Dokter berkata penyebab keguguran ini bukan hanya karena terjatuh, tapi sebelum itu bayi di dalam perutnya mungkin sudah bermasalah. Faktor penyebabnya karena stress.


Begitu banyak masalah yang datang akhir-akhir ini. Terutama permasalahan tentang Ambar.


Merry terus menyalahkan dirinya andai saja dia tidak stress. Andai dia tidak memikirkan tentang ini. Mungkin anaknya akan baik-baik saja.


Merry juga merasa dirinya bodoh. Hanya karena dia tidak mendapat tanda-tanda kehamilan seperti orang di sekitarnya, walaupun dia sudah telat saat datang bulan, dia mengabaikan hal itu.


Kenapa? Kenapa dirinya begitu bodoh? Hal itu yang terus berputar di otak Merry.

__ADS_1


Ini salahnya. Ini karena kebodohannya. Merry sangat menyesal dan ingin semuanya diulang dari awal. Izinkan Merry mempertahankan bayinya.


__ADS_2