Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Semoga Cepat Isi


__ADS_3

Karena malam ini Raya menginap di sini dan anak-anak rupanya juga merindukan tantenya, jadilah mereka melupakan Merry dan ingin tidur dengan Tante Raya.


"Terus aku tidur di mana Mas?" tanya Merry pelan saat Raya dan anak-anak sudah masuk kamar untuk tidur. Sedangkan Merry dan Daris masih berdiri di dekat kamar anak-anak.


"Ya di kamar lah sayang, masa di dapur!" jawab Daris enteng.


"Ya tahu, tapi kan kamarnya cuma dua! Kamar mana lagi coba?" tanya Merry dengan bingung.


" Atau aku tidur di sofa depan tv aja kali ya?" Merry seperti mendapat ide yang cemerlang.


"Heh, ngapain! Udah ayo tidur kamar! Kamar kita!" Daris langsung menggeret tangan Merry dan membawanya masuk ke kamar. Merry langsung melotot mengetahui jika dirinya akan tidur sekamar dengan Daris.


Setelah sampai di dalam kamar, Daris tersenyum-senyum dan membuat Merry jadi


takut.


"Kamu tidur di ranjang dan aku juga tidur di ranjang!" ucap Daris.


Merry langsung menelan salivanya kasar, percayalah ini adalah kali pertama Merry akan tidur berdua dan seranjang dengan Daris.


"Kenapa aku nggak tidur di sofa aja? Oh ya, atau kamu yang tidur di sofa seperti dulu itu?" tanya Merry sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Daris menggeleng, "Tidur di ranjang semua lah!" Daris tersenyum-senyum membuat Merry jadi ngeri.


"Jangan macam-macam kamu Mas!" ucap Merry pada Daris.


Daris menggeleng, "Hanya satu macam saja!"


Dan pada akhirnya, selamat malam dan selamat tidur....


*****


Keesokan harinya, setelah sholat subuh. Daris keluar kamar sambil meregangkan otot-ototnya. Sedangkan Merry masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer di dalam kamar.


Hari ini, suasana hati Daris sangat bahagia dan cerah, secerah suasana pagi hari ini.


Anak-anak masih belum keluar dari kamar. Daris kembali masuk ke kamar dan mendekat kepada istrinya.


"Udah kering Sayang!" ucap Daris sambil terkekeh.


Merry menoleh kepada Daris, "Iya udah!" sambil tersenyum. Setelah beres, Merry berdiri di depan suaminya.


"Mau sarapan apa?" tanya Merry.


"Terserah kamu deh!" jawab Daris.


"Request dong!" pinta Merry sambil cemberut.


Daris terkekeh sambil mengusap rambut Merry yang terurai bebas.


"Apapun yang kamu makan, aku selalu suka sayang!" ucap Daris.


"Bullsyit!" jawab Merry sambil menjulurkan lidahnya.


"Aku masak petai kamu nggak suka, padahal kan enak!!" sambung Merry.


Daris menggaruk tengkuknya, " Kan aku nggak suka sayang!" ucap Daris dengan pelan.


"Gitu tadi bilang, apapun yang aku masak kamu suka, hiih!" ucap Merry sambil menertawakan Daris.


"Ya udah aku mau masak dulu Mas!" pamit Merry.


"Ayo aku temani Sayang!" jawab Daris.


"Iya boleh, sebentar aku mau ngambil kunciran dulu, nggak enak masak tapi rambutnya


awur-awuran gini!" ujar Merry.


*****


Siang harinya, Raya juga sudah pulang ke rumah.


"Ini paket apa Sayang?" tanya Daris sambil membolak-balik paket besar yang baru saja datang.

__ADS_1


"Itu aku belanja online shop, buka aja Mas!" perintah Merry sambil mengupas buah mangga untuk anak-anak.


Daris mulai membuka paket itu, lalu mengeluarkan isinya. Nampak sebuah kardus yang bertuliskan brand suatu produk. "Apa ini Sayang?"


Merry tersenyum, lalu mendekat kepada suaminya.


"Tolong bukain dong Mas! Tangan aku kotor nih, mangganya terlalu mateng!" pinta Merry sambil menunjukkan tangannya yang kotor.


Akhirnya, Daris membuka kardus itu, lalu mengeluarkan isinya. Daris mengerutkan dahi,


"Gamis Sayang? Punya siapa?"


Merry tersenyum, "Punya aku lah Mas, masa punya Kamu!!" jawab Merry asal.


Daris langsung melongo, "Punya Kamu?" Daris juga langsung memeriksa apapun yang ada di situ.


Terdapat dua gamis berwarna abu-abu dan hitam, dan juga dua hijab berwarna abu-abu dan hitam juga. Gamis itu nampak polos dan minimalis.


"Aku mau berhijab Mas!" ucap Merry sambil tersenyum.


Daris langsung tersenyum juga, "Beneran?"


Merry mengangguk. "Sebenarnya aku punya gamis tapi ditinggal di rumah Mommy, di sini aku sama sekali nggak punya gamis! Mau beli keluar tapi malu kalau nggak pakai hijab, jadi aku belinya online aja!!"


"MasyaAllah, Alhamdulillah!" Daris langsung memeluk Merry dan mencium kening Merry berulang kali.


"Apa yang membuat kamu mantap berhijab Sayang?" tanya Daris.


"Sebenarnya aku udah lama pengen berhijab, suka minder gitu kalau lihat orang yang berhijab dan baik akhlaq nya! MasyaAllah kan Mas, aku jadi insecure gitu! Tapi, kadang aku masih ragu, berhijab nggak ya? Tapi, waktu itu aku benar-benar tertampar saat lihat postingan Instagram di akun dakwah yang ada gambar wanita berpakaian pendek sedang bercermin, lah di cermin itu bukannya ada gambarnya yang juga berpakaian pendek, tapi malah gambarnya sedang dibungkus kain kafan! Hatiku bergetar Mas! Mau nunggu apa lagi? Mau nunggu dibungkus kain kafan? Ah, enggak lah Mas, nggak ada alasan lagi untuk ragu! Lagian menutup aurat itu kan wajib hukumnya!!" tutur Merry membuat Daris jadi terharu.


"Semoga Istiqomah ya Sayang! Kita berubah menjadi manusia yang lebih baik bersama-sama ya! Aku juga bukan lelaki yang baik! Aku harap kita bisa berubah lebih baik dan terus lebih baik bersama-sama!" ucap Daris sambil mengelus lembut kepala istrinya.


Merry mengangguk sembari tersenyum, "Kita belajar dan berproses bersama-sama ya Mas!! Nanti bersama-sama juga kita arahkan anak-anak kita ke jalan yang baik, ke jalan yang diridhoi oleh Allah!" ucap Merry.


Daris mengangguk, " Iya Sayang!" jawab Daris sambil mencium kening Merry lama.


"Papa, Emil mau cium juga!!" Eh, tiba-tiba si


anak kicik muncul.


"Cobain bajunya Sayang, pasti kamu tambah cantik!" pinta Daris.


"Ntar aja kita pergi ke mall ya, belanja, sekalian aku pakai gamis!!" jawab Merry.


"Iya deh, aduh nggak sabar deh aku!" ucap Daris sumringah.


"Sayang!" bisik Daris tiba-tiba.


Merry mengerutkan dahi, ngapain sih bisik-bisik. "Apa?" jawab Merry berbisik juga.


Daris menyentuh perut Merry. "Semoga cepet isi juga!"


Merry terkekeh, "Udah isi Mas, isi nasi goreng, kerupuk, dan air putih hehehe!"


Daris pun tertawa.


*****


"Hai Chan!!" sapa Merry melalui sambungan video call.


"Hai Bunda! Bunda kapan ke sini? Chan kangen!!" keluh Chan.


"Secepatnya deh!!!" jawab Merry.


"Yah, kapan Bunda?"


"Nanti Bunda kabarin deh, kalau ke sana nanti Bunda rame-rame, sama Om Daris, sama Kak Liam dan Luham, dan juga Emir!!" Sebenernya, Sabtu depan Merry ingin ke sana, tapi ingin memberi kejutan untuk Chan.


"Chan pengen ke sana, tapi Papi sibuk, Oma juga sibuk!!" Chan mengeluh kepada Merry.


Merry tersenyum, "Chan anak baik, yang sabar ya, nanti kalau Bunda ke sana kita main bareng ya!!"


"Kalau Bunda ke sana, Chan nggak minta yang aneh-aneh kok, Chan cuma mau Bunda gorengin sosis buat Chan, seperti biasanya!!" Perkataan Chan membuat Merry jadi sedih.

__ADS_1


"Iya siap deh, Bunda gorengin sebanyak yang Chan mau!!" jawab Merry.


"Jangan lupa ke sini loh Bunda!!" Chan kembali mengingatkan Merry agar segera ke sana.


"Iya, siap anak baik!! Oh iya, Chan di situ sama siapa?" Merry melihat Chan sedang berada di daerah kolam renang.


" Sama Papi Bunda, ini Papi lagi minum kopi di sebelah Chan!!" jawab Chan.


"Kok nggak muncul Papinya, mana?" tanya Merry.


"Sini Papi, Bunda mau lihat!!" Chan terdengar berbicara pada papinya.


"Hello Sist!!" sapa Amar seperti biasanya.


"Tumben Lu jam segini ngopi Kak?" tanya Merry.


"Gabut Sist!!" jawab Amar singkat sambil menyeruput kopinya.


"Kalau gabut anaknya diajak ke sini dong!!" ucap Merry.


Amar hanya terkekeh tanpa menjawab apapun.


"Chan Sayang, coba handphonenya kasih ke Papi deh, biar Papi yang megang!!" pinta Merry.


Chan mengangguk menurut, lalu menyerahkan hp nya pada papinya. Memang anak penurut.


"Ngapain Mer? Orang Chan lagi kangen sama Lo!!" tanya Amar.


"Chan, papinya ambilin air putih di kulkas ya!!" perintah Merry dan Chan pun menurut pergi untuk mengambil air.


Setelah di tempat itu hanya ada Amar.


"Lo ada masalah ya?" tanya Merry serius.


"Lo cantik pakai hijab!!" Bukannya menjawab pertanyaan Merry, Amar malah memuji Merry yang sedang memakai hijab.


"Dari kapan Lo tobat?" tanya Amar.


"Dari tadi!!" jawab Merry singkat.


"Gue serius nanya sama Lo Kak!! Ada masalah ya? Berat banget pasti ya?" tanya Merry.


Biasanya kalau ngopi di lain waktu pagi, tandanya Amar sedang ada masalah. Merry cukup hafal dengan kebiasaan Amar.


Amar mengedikkan bahu, "Sok tahu Lu!!"


"Ya udah terserah Lu kalau nggak mau ngasih tahu!! Pokoknya masalah Lu nggak boleh sampai mengganggu tumbuh kembang Chan!!" ucap Merry sambil melotot.


"Gue iri!!" jawab Amar pelan.


Merry mengerutkan dahi. "Iri sama siapa?" Lalu Merry tertawaan.


"Lu iri sama siapa? Ada-ada aja Lu!!" lanjut Merry.


"Iri sama Daris!" jawab Daris dan Merry langsung tertawa.


"Ngapain Lu iri sama suami gua? Duit Lu juga lebih banyak daripadanya dia!!" jawab Merry sambil tetap tertawa.


"Dia udah ngambil kebahagiaan gue!! Dan semua duit-duit gue ngga bisa jadi tolak ukur kebahagiaan yang telah diambil oleh Daris!!" jawab Amar.


Merry berhenti tertawa dan sekedar tersenyum.


"Anak Lo masih kecil! Jangan karena cinta nanti Lo jadi sakit terus mati, kan kasihan anak Lo!!" ucap Merry.


"Nggak usah ngomong mati dong!! Kesannya nyumpahin gue mati banget!!" jawab Amar masam.


Merry terkekeh, "Ya iyalah, kalau Lo terus begini! Segala kemungkinan bisa aja terjadi! Lo jadi penyakitan kan!!" jawab Merry.


"Lagian Allah telah menakdirkan kita untuk menjadi Adek Kakak, bukan sepasang suami istri! Lo ngerti kan Kak?" tanya Merry.


Amar mengangguk, " Gue ngerti!" sambil tersenyum.


"Lo harus berdamai dengan keadaan demi anak Lo! Demi Chan!!" ucap Merry.

__ADS_1


"Demi Lo juga!!" jawab Amar.


"Terserah Lo deh demi siapa aja!! Demi orang sekampung juga boleh!!" jawab Merry sambil terkekeh. Amar pun ikut terkekeh.


__ADS_2