
"Saya tahu kekhawatiran Pak Amar. Saya akan berusaha menjaga istri saya. Bagaimanapun sekarang Merry adalah tanggung jawab saya!" Daris menekankan kata istri saat berbicara.
Jika ditanya siapa laki-laki yang berhasil membuat Daris cemburu sampai detik ini, jawabannya adalah Amar.
Daris mengerti jika Amar ini masih mencintai istrinya. Cinta yang disembunyikan dalam bingkai persaudaraan. Ya, walaupun sekarang cinta itu sudah tidak tersembunyi lagi. Siapa sih yang tidak mengerti jika Amar mencintai Merry?
Semua orang sudah mengerti.
Ingin rasanya Daris menjauhkan Merry dari Amar. Namun, mereka terikat dengan hubungan kekeluargaan.
Dan bagaimanapun Amar juga memiliki jasa yang besar dalam hidup Merry.
Daris hanya bisa menahan rasa cemburunya dan selalu berharap semoga Amar segera menemukan pendamping hidup agar secepatnya melupakan cintanya kepada Merry.
Daris merasa beruntung bisa dipilih oleh Merry. Menjadi laki-laki yang dicintai oleh Merry. Bagaimana mungkin dia tidak bersyukur, rivalnya ini begitu kuat dan tidak kalah keren darinya.
Rivalnya ini memiliki kuasa yang begitu besar. Powernya begitu kuat. Dalam sekali hentikan jari, mungkin Daris akan kalah dibuatnya. Hanya saja selama ini dia tidak pernah menunjukkan powernya di depan Daris.
Namun, sekuat apapun power yang dimiliki oleh Amar, jika Merry lebih memilih dirinya, Amar bisa apa?
Merry lebih menyayangi Amar sebagai seorang kakak
Pernah suatu hari Daris berkata kepada Merry.
"Cinta itu bisa tumbuh secara perlahan Mer. Asalkan kamu bisa menerima Pak Amar, pasti lambat laun kamu bisa mencintainya!"
Itu hanyalah pernyataan bodoh yang sengaja Daris katakan untuk mengetahui seperti apa sebenarnya Amar di hati istrinya.
Saat itu Merry tersenyum, lalu menjawab.
__ADS_1
"Aku dari kecil sudah hidup bersama Kak Amar. Aku dan dia tumbuh bersama. Aku sangat menyayangi dia, tapi ya sayang sebagai adik. Sebagai adik yang ingin selalu dilindungi olehnya. Tapi, kalau membayangkan untuk menjadi istrinya, tentu saja aku tidak bisa membayangkan. Sangat sulit buat aku. Geli sih Mas akunya. Masa iya tadinya Kakak, habis itu romantis-romantis an jadi suami istri!"
Lalu Merry terkekeh setelah berkata demikian.
Daris juga ikut terkekeh. Ternyata kalau sudah jodoh nggak akan kemana.
Ya, semua ini kembali kepada takdir. Takdir Merry jodohnya adalah Daris. Takdir Daris jodohnya adalah Merry.
Walaupun sejak kecil bersama Amar. Selalu mendapat cinta dari Amar. Namun, takdir malah menyatukan Merry dengan Daris. Daris yang merupakan orang baru di hidup Merry.
Walaupun benar apa yang dikatakan Amar. Merry tidak selalu bahagia hidup bersamanya. Masalah selalu datang secara bertubi-tubi. Mereka datang silih berganti.
Namun, hikmahnya adalah membuat cinta diantara mereka berdua semakin kuat. Menjadikan tali yang terikat diantara mereka berdua semakin erat dan sulit dilepaskan.
Apalagi ada tiga tali lain yang ikut mengeratkan tali diantara mereka berdua. Ketiga tali yang tidak akan membiarkan tali diantara Merry dan Daris terlepas begitu saja.
"Lihatlah kami, Papa dan Bunda. Luham, Liam, dan Emir ingin kalian selalu bersama. Selalu bersama kami juga. Kami ingin di dalam kehangatan rumah ini, selalu ada Bunda dan Papa yang semakin menghangatkan hati kami."
"Iya, memang harus begitu. Jika tidak pasti Merry akan saya ambil kembali!" jawab Amar.
"Sayangnya tidak semudah itu Pak Amar. Seharusnya Anda tahu posisi Anda!" jawab Daris dengan sengit walaupun bibirnya tetap tersenyum.
"Mudah bagi saya untuk mengambil Merry. Tentu saja jika hidup Merry selalu dalam masalah, dia tidak bisa hidup dengan bahagia, dengan mudahnya saya akan mengambil Merry. Saya akan membawa dia pergi jauh sampai Anda tidak bisa menemukan Merry lagi. Saya yang akan membahagiakan Merry. Saya yang akan selalu berusaha untuk memberikan semua yang terbaik dalam hidup saya untuk dia. Anda tahu Pak Daris, Merry begitu berarti di hidup saya."
Seolah-olah Amar sudah kehabisan kesabarannya. Dia berbicara dengan yakin dan cepat.
"Ini peringatan terakhir untuk Anda!" sambung Amar dengan tegas.
Rahang Daris mengeras. Dia tidak terima dengan semua perkataan Amar. Daris adalah suami Merry. Bisa apa Amar jika dibandingkan Daris.
__ADS_1
"Sayangnya hal itu tidak akan pernah terjadi. Selamanya Merry akan bersama saya. Hanya maut yang dapat memisahkan kami berdua. Bukan Pak Amar!"
Ucap Daris sembari tersenyum miring. Dia berdiri dan ingin melangkah pergi.
Namun, bugh.
Satu bogeman dari Amar membuat Daris tersungkur.
Amar menarik kerah baju Daris.
"Satu pukulan karena Anda telah merebut orang yang sangat berarti di hidup saya."
Bugh.
"Dua pukulan karena Anda telah membawa Merry dalam masalah masa lalu Anda. Saya tidak terima Merry sakit hati."
Bugh.
"Tiga pukulan karena Anda tidak bisa melindungi Merry. Anda membiarkan Merry terluka. Lihat dia sekarang lemah, hanya terbaring tidak berdaya di atas ranjang!"
Amar seperti orang kesetanan.
"Cukup, cukup, jangan bertengkar di sini, ini rumah sakit!" Satpam datang untung memisahkan mereka bertiga.
Daris tidak membalas apapun. Dia menyentuh ujung bibirnya yang berdarah.
Daris menahan sakit hasil bogeman Amar.
Entah, Daris tidak ingin melawan Amar. Bagaimanapun dia menyadari jika memang salah. Daris teringat Merry yang sedang lemah saat ingin membalas Amar.
__ADS_1