
Merry dan Al berbincang-bincang tentang keadaan Luham. Hal tersebut sukses membuat Al semakin bersedih.
Al juga salut pada Pak Daris, pada bosnya itu, orang yang benar-benar memberikan seluruh waktunya kepada anak yang sangat
membutuhkan kehadirannya. Namun, minusnya Al harus bekerja keras sendiri karena Daris tidak ada di kantor.
Al mulai mengenal Merry jika Merry adalah wanita yang baik dan penyayang. Merry yang terlihat dingin dan cuek itu hanya cover nya saja menurut Al.
"Kenapa Lo nggak melanjutkan pernikahan Lo dengan Pak Daris?" tanya Al.
Merry tersenyum, "Bukan jodohnya!"
"Semoga saja berjodoh, gue rasa kehadiran Lo di hidup Pak Daris sangat bermakna!" tutur Daris.
Al memang playboy, tapi melihat Merry yang Al rasa sangat dibutuhkan bagi keluarga Daris membuat dia mengurungkan niat untuk menjadikan Merry sebagai salah satu korbannya. Bahkan, Al akan men support mereka agar bisa menikah.
Dalam waktu yang singkat ini, Daris dan Merry bisa langsung akrab, bahkan mereka sudah menggunakan gaya panggilan Lo Gue. Merry merasa Al ini orang yang baik, orangnya seperti Amar, tapi bedanya kalau Amar itu tidak playboy.
"Gue minta maaf kalau dulu gue udah nuduh Lo penculik!" Al tertawa kecil mengingat kejadian dulu. Kalau tahu akan akrab seperti ini sekarang, mana mungkin dulu Al menuduh Merry sebagai penculik.
"Masih aja diinget, padahal Gue udah lupa loh Kak!" Merry memanggil Al dengan panggilan Kak. Usianya dengan Al terpaut tujuh tahun.
"Hehehe jadi nggak enak aja!" ucap Al.
"Lo sebenarnya baik ya, tapi kenapa waktu itu gue lihat Lo orangnya dingin banget?" tanya Al yang penasaran.
Merry terkekeh, "Kalau Lo nganggep gue dingin atau apalah itu, berarti tandanya Lo belum kenal sama gue!" jawab Merry yang membuat Al percaya diri karena kini dirinya sudah mengenal Merry.
Al nggak nyangka juga sih bisa berteman dengan adik dari Pak Amar Syah. Tenang, Al bukan penjilat, dia mau berteman dengan siapa pun itu, mendapat bonus bisa berteman dengan adik Pak Amar Syah membuat dirinya merasa uwaw.
Tak terasa, Al telah menemani Merry di sini selama dua jam setengah. Banyak percakapan yang mereka lakukan. Mulai dari percakapan sedih tentang Luham, sampai percakapan tentang kehidupan masing-masing.
Ternyata, ada satu hal kesamaan dari mereka berdua yaitu suka pergi ke museum.
Merry sebenarnya heran sih, orang model Al seperti ini adalah tipe orang ekstrovert dan suka kencan sana sini sama cewek, tapi ternyata suka juga pergi ke tempat seperti museum.
Kalau Merry sih nggak heran, Merry memang suka keheningan dan suka mempelajari sejarah. Maka tak heran jika Merry lebih suka ke museum daripada ke tempat ramai.
"Boleh nih lain kali bareng ke museum!" ajak Al dengan semangat. Ini waw sekali bisa menemukan teman yang satu circle. Daris mana suka diajak seperti itu, dia lebih suka bekerja, bekerja, dan bekerja. Kalau tidak bekerja ya main ke tempat ramai dengan anak-anak kalau tidak ya tidur di rumah. Maklum, namanya juga sudah punya anak, sedangkan Al kan masih bujangan.
"Boleh juga, seru pastinya!" Merry menyetujui ide Al.
Tap tap tap
Munculah Daris di depan mereka. Daris jadi khawatir apakah Merry sudah terkena percikan pelet playboy di depannya ini?
"Al!" panggil Daris.
"Iya Pak!" jawab Al.
"Sudah dari tadi?" Hanya khawatir dan waspada yang ada di hati Daris. Khawatir pada keadaan Luham dan keadaan Merry yang bisa jadi sudah kena sawan dari Al. Sedangkan waspada, awas saja kalau Merry diembat juga!
Al melihat jam tangannya menghitung berapa lama ia di sini. "Kurang lebih dua jam setengah Pak!" jawab Al.
Wah, jelas ini, Al pasti sudah lancar dan sukses mengeluarkan jurus playboy andalannya. Merry juga pasti sudah kenyang dengan goadaan Al. Kalau ibarat ibu hamil ini pasti Merry sudah hamil sembilan bulan dan siap melahirkan.
__ADS_1
Padahal, faktanya Al tak mau menggoda Merry. Al merasa Merry seperti adiknya sendiri. Al juga ingin agar Daris dan Merry bersatu.
"Ya udah sana Lo pulang aja! Gue udah di sini!" Tanpa rasa belas kasih, Daris mengusir Al begitu saja.
Jujur hal tersebut berhasil membuat Al ingin tertawa.
Ngomong aja kalau cemburu! batin Al.
Al berdiri dari duduknya. "Iya Pak, saya pamit dulu! Saya sudah lama sekali di sini, dua jam setengah!" Al sengaja menekan kalimat dua jam setengah saat berbicara pada Daris sebagai upaya pamer, "Ini loh gue udah dua jam setengah bareng Merry! Lama kan? Mau apa Lo?" hihihi.
"Banyak sekali yang gue bicarakan dengan Merry Pak, kami jadi saling mengenal!" Al sengaja menjelaskan apa yang terjadi selama dua jam setengah bersama Merry. Kali aja tuh duda jadi panas.
"Merry, Kakak pulang dulu ya!" pamit Al pada Merry. Daris melongo, apa-apaan Al membahasakan dirinya Kakak pada Merry.
Daris semakin melongo sampai-sampai sebuah gajah bisa masuk ke mata dan mulutnya saat melihat Merry yang merespon perkataan Al dengan anggukan dan senyuman.
"Saya pamit Pak, semoga Luham lekas siuman dan lekas sembuh!" pamit Al sembari menepuk pelan pundak Daris, lalu beranjak pergi.
Saat Al sudah menghilang dari hadapan mereka. "Kamu nggak papa Mer?"
Merry mengerutkan dahinya, apaan sih tanya Merry kenapa? Emang Merry kenapa?
"Maksudnya Al nggak ngapa-ngapain kamu kan?" Daris langsung meralat pertanyaannya.
Merry tertawa kecil, "Ya nggak lah! Emang Kak Al ngapain?"
"Aneh-aneh aja Bapak ya!" lanjut Merry.
*****
Syukur Alhamdulillah, keadaan Luham semakin ke sini semakin membaik walaupun masih dalam pantauan dokter ketat.
Setiap jam, menit, dan detik hanya terisi doa dan harapan agar Luham segera siuman.
Saat Merry fokus melihat tangan Luham, tanpa sengaja Merry melihat tangan Luham bergerak sangat pelan. Merry mencoba memfokuskan matanya, takut yang ia lihat hanya halu karena sering berharap agar tangan Luham bergerak, lalu Luham sadar.
"Mer, kenapa?" tanya Daris bingung saat melihat Merry yang fokus dan mendekat ke tangan Luham.
"Gerak Pak!" jawab Merry.
"Apanya yang gerak?" tanya Daris dengan bingung. Daris pun ikut-ikut fokus dan mendekatkan wajahnya ke tangan Luham.
Sesat kemudian mereka langsung berpandangan. "Luham sadar!" ujar mereka serentak dengan sumringah. Mereka langsung berpelukan erat sembari menitikkan air mata bahagia.
"Auntie!" terdengar suara Luham lirih dan lemah. Daris dan Merry langsung tersadar dan saling melepas pelukannya.
Mereka masih berpandangan sembari menangis bahagia, lalu serentak melihat wajah Luham dan semakin mendekat pada Luham.
"Sayang, kamu udah bangun!" ujar Merry yang masih setia mengeluarkan air mata bahagianya.
Bayangkan saja, setiap detik hembusan nafasnya hanya penuh dengan doa dan harapan untuk kesembuhan Luham. Setiap detik hanya ada penantian agar Luham mau membuka mata lalu kembali bersama bahagia bersama mereka.
"Sayang, ini Papa sayang!" ujar Daris dengan bahagia.
Kebahagiaan Daris saat Luham mau membuka mata mengalahkan kebahagiaan saat dirinya berhasil menang tender.
__ADS_1
"Haus!" ucap Luham yang sangat lemah.
*****
Setelah melewati beberapa pemeriksaan dari dokter, akhirnya Luham sudah diperbolehkan pindah ke ruang rawat inap. Daris dan Merry sangat bahagia karena keadaan Luham sudah normal.
Merry dan Daris masih setia berada di sisi Luham. Kabar demi kabar bahagia tentu tak lupa tersiar kepada orang di rumah dan sanak saudara yang juga berdoa agar Luham segera sembuh.
Luham keadaannya sudah tak selemas tadi. Bahkan, bibirnya mampu tersenyum. Ini adalah hal terindah bagi Luham, saat membuka mata ada Papa dan Auntie Merry bersamanya.
"Luham mana yang sakit?" tanya Merry dengan lembut.
"Luham nggak sakit kok Auntie, Luham udah sembuh!" jawab Luham. Sungguh anak yang tanggung. Bahkan, Luham juga punya semangat untuk sembuh saat koma, terbukti ia bisa membuka mata dan kembali merasakan hangatnya keluarga.
"Luham memang anak yang hebat!" puji Merry.
"Pa!" Luham memanggil papanya.
"Iya sayang, Luham mau apa?" jawab Daris.
"Papa harus janji sama Luham buat nggak mengijinkan Auntie Merry pergi lagi!!" pinta Luham yang membuat Daris tergelak. Punya kuasa apa Daris tidak mengijinkan Merry untuk pergi dari kehidupan mereka.
"Iya, tapi Luham harus janji selalu semangat untuk sembuh!" Mau tidak mau Daris menyetujui agar Luham semangat untuk sembuh. Walaupun aslinya Daris bingung harus bagaimana.
Daris juga heran kenapa Merry hanya tersenyum dan tak protes apa-apa.
"Luham tenang aja, Auntie selalu berada di sisi Luham! Kalau Luham butuh Auntie, pasti Auntie berusaha ada untuk Luham!" tutur Merry.
Daris jadi serba salah, lamar lagi atau nggak ya? Apa iya Merry mau?
"Luham nggak jadi lomba ya Pa?" tanya Luham yang membuat Daris dan Merry langsung bersedih. Pasti Luham sedih nggak jadi lomba.
"Maaf ya sayang, Papa yakin ada rejeki luar biasa yang menanti kamu di luar sana!" Dengan terpaksa Daris memberi tahu ini. Merry juga mengangguk menyetujui perkataan Daris.
"Kamu anak yang hebat, pasti Luham bisa prestasi lain lagi!" tambah Merry.
Namun, bukannya bersedih, Luham justru tersenyum
"Tidak papa Papa, Auntie! Luham nggak papa nggak jadi lomba asal ada Bunda Merry di sini!" jelas Luham. Merry tersentak saat di kalimat terakhir Luham memanggilnya Bunda.
"Iya sayang, ada Bunda di sini!" Merry memang telah menyetujui Luham agar memanggil dirinya bunda saat Luham koma.
"Boleh Luham memanggil Auntie dengan sebutan Bunda?" tanya Luham dengan bahagia.
"Tentu saja boleh!" jawab Merry dengan senyum termanisnya.
Daris yang melihatnya ikut tersenyum.
Ya Allah, jika Merry adalah wanita terbaik yang memang engkau kirim bagi hamba dan anak-anak, tolong permudah jalan kami untuk mencapai kata halal aamiin! doa Daris dalam hati.
----------------------
Ada yang mau sama Mas Al nggak? hihihi.
Luv Luv kaliaan❤️❤️
__ADS_1
Stay safe, stay healthy!!