Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Sepuluh Anak


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Keadaan rumah tangga Daris telah membaik. Sudah selayaknya rumah tangga yang ideal. Ada anak-anak yang saling mengasihi, heboh, dan tentu bertengkar juga. Walaupun pertengkarannya sering membuat Bunda dan Papanya pusing, tapi itu masih dibatas wajar.


Merry ingat betul perkataan Daris dulu saat memperkenalkan kembar untuk pertama kalinya. Daris bilang, antara Liam dan Luham, yang paling nakal adalah Liam.


Liam adalah yang paling ceria dan aktif. Walaupun saat benar-benar menjadi bagian dari anggota keluarga mereka, apa yang telah diucapkan Daris tidak terbukti adanya.


Bukan karena Daris berbohong, tapi karena Liam yang belum bisa menerima keberadaannya.


Masalah Liam belum selesai, ditambah dengan perubahan yang terjadi pada Daris. Daris yang sebelumnya nampak cinta pada Merry, tiba-tiba berubah tidak peduli.


Sejujurnya ini sangat berat bagi Merry. Daris, satu-satunya orang yang ia harapkan agar membantunya untuk beradaptasi dengan anak-anak, terutama Liam justru berubah. Berubah menjadi Daris yang tidak dikenali lagi.


Merry harus bersusah payah merangkak untuk beradaptasi dengan anak-anak dan mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Daris.


Sejujurnya, bukan kehidupan seperti itu yang diimpikan oleh Merry.


Merry hanyalah wanita biasa. Luarnya saja terlihat kuat dan tegar. Namun, sebenarnya hatinya juga rapuh. Ingin sekali Merry menangis di pelukan Mommy nya untuk bercerita tentang apa yang terjadi dalam hidupnya. Kehidupan yang 360 derajat telah merubah dirinya.


Namun, Merry bukanlah wanita seperti itu. Dia lebih suka diam dan memendam apapun itu sendirian.


Semua yang ia jalani adalah takdir. Merry yakin itu takdir terbaik dari Tuhan.


Kini semua telah berlalu. Liam kini sudah berubah. Permasalahan pada Daris pun sudah selesai. Mutiara, wanita yang membuat Daris berubah karena ancamannya kini tidak pernah menampakkan dirinya lagi.


Usia pernikahan yang masih terbilang muda ini telah memberikan begitu banyak pelajaran di dalamnya.


Merry tidak menampik bahwa kedepannya pasti ada masalah dalam rumah tangganya. Namun, yang perlu Merry ingat adalah dia pasti bisa melewati semuanya.


Merry yang dingin telah berubah menjadi Merry yang hangat. Merry yang kaku telah berubah menjadi Merry yang keibuan. Merry yang cuek telah berubah menjadi Merry peduli dan penuh kasih sayang.


Merry yang jarang bicara telah berubah dengan Merry yang setiap saat selalu bicara walaupun itu hanya sekedar bertanya bagaimana keseharian suami dan anak-anaknya.


Merry yang sebelumnya hanya memikirkan tentang bagaimana agar dirinya bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini. Kini, hidupnya bukan lagi tentang memprioritaskan diri sendiri. Suami dan anak-anaknya lah prioritasnya.


Sebuah bukti nyata, jika manusia memang bisa berubah.

__ADS_1


Merry ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya.


Merry juga bersyukur Tuhan memberinya kesempatan untuk menjadi seorang istri dan ibu.


***


"Sayang!" panggil Daris sembari memeluk Merry dari belakang. Ia juga menyembunyikan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Peluk-peluk gini nggak takut digebukin sama tiga bodyguard kecilku?" tanya Merry sembari tertawa kecil.


"Aman, kan ini di kamar!" jawab Daris sembari tertawa juga. Istrinya yang seorang mantan bodyguard ini sekarang punya tiga bodyguard. Jangan harap Daris bisa memeluk dan mencium Merry dengan bebas. Bisa-bisa digebukin sama bodyguard nya Merry.


Kawasan paling aman ini ya di kamar. Tapi jangan lupa dikunci. Kalau tidak dikunci ya sama saja.


Terkadang Merry usil menggoda anak-anak dengan cara lebih memilih Daris daripada anak-anak saat mereka berebut bundanya.


Huh, mereka bertiga langsung bersedih dan merasa tersakiti seolah-olah Bundanya telah menyelingkuhi mereka. Papanya dianggap selingkuhan Bundanya.


"Suka nggak sama keadaan rumah kita yang sekarang?" tanya Daris yang semakin mengeratkan pelukannya pada Merry.


"Keadaan yang sempurna Mas. Hanya saja akan lebih sempurna kalau ada Raya!" ucap Merry bersedih.


"Sayang, sekarang kita tinggal menunggu kehadiran anak keempat kita. Semoga cewek ya!" ucap Daris sambil tangannya meraba perut Merry.


Merry langsung melepaskan diri dari Daris dan menghadap suami nya dengan bibir yang cemberut.


"Terus kalau seumpama yang keluar cowok, Mas nggak sayang gitu sama dia?"


"Pengen cewek Sayang. Biar kamu ada saingan cantiknya. Masa aku doang yang punya saingan. Tiga lagi sainganku. Cakep semua lagi!" jawab Daris memelas.


"Jadi kalau aku ngelahirin anak cowok, kamu nggak sayang sama anak aku gitu?" tanya Merry dengan nyolot.


Daris tergelak. Mampus, salah ngomong nih.


"Nggak gitu Sayang. Nggak berani lah aku nggak sayang sama anakku sendiri. Darah daging ku loh itu. Aku yang buat kok. Ya pasti sayang lah" jawab Daris dengan buru-buru supaya istrinya tidak salah paham.


Merry mencubit perut Daris dengan kesal. "Jahat Mas Daris. Kecewa aku sama kamu!" Setelah berkata demikian Merry berjalan dengan cepat menuju pintu ingin keluar kamar.

__ADS_1


"Sayang mau ke mana?" tanya Daris sambil mengejar di belakangnya.


"Mau cari suami baru. Cari suami yang nanti kalau aku ngelahirin anak cowok dia nerima dan sayang juga sama anaknya."


Daris melotot dan langsung menahan tangan Merry. "Enak aja, nggak boleh lah!"


"Ya boleh lah!" jawab Merry cepat.


"Sayang, bercandanya nggak lucu. Kamu nanti mau ngelahirin sepuluh anak cowok pun aku sayang sama mereka. Walaupun mungkin kalau nantinya ada empat belas anak cowok, di mata kamu aku akan jadi urutan kelima belas yang paling tampan." Daris berkata dengan cemberut.


Merry menahan tawanya. Bisa-bisa sepuluh cowok. Lagian siapa yang mau ngelahirin sepuluh anak?


Apalagi, urutan kelima belas yang paling tampan. Hahaha berarti urutan paling terakhir dong?


"Bercanda kamu juga nggak lucu. Seolah-olah ngomong nggak pengen punya anak cowok!"


Daris menepuk jidatnya pelan. "Ya Tuhan, aku kan udah jelasin tadi. Kamu awet banget sih nginget-nginget kesalahan aku Yang?" Daris memelas.


Tiba-tiba Merry memeluk Daris erat. Lalu dia juga tertawa di pelukan suaminya.


Daris mengernyit dahi. Tadi marah-marah, sekarang tertawa. Dahlah, syukurlah kalau tidak marah. Akhirnya Daris juga membalas pelukan istrinya.


"Aku bercanda Sayang. Aku tahu kamu bakalan sayang ke anak-anak. Mau itu cewek atau cowok!" gumam Merry di pelukan Daris.


Daris tersenyum, lali mengecup dahi istrinya.


Merry merenggangkan pelukannya. "Mas, kalau aku nggak bisa punya anak gimana?"


Daris tersenyum dan membelai rambut istrinya. "Punya lah Sayang!"


"Misalnya Mas. Kamu bakalan cari istri lagi nggak?" tanya Merry dengan khawatir.


Daris mengernyit dahi. Pertanyaan macam apa ini.


"Ya enggak lah Sayang. Kalau seandainya Allah tidak memberi, kan kita udah punya tiga. Ya, walaupun mungkin mereka tidak terlahir dari rahim kamu."


"Hust, mereka anak-anak aku. Terlahir atau tidak dari rahimku, mereka adalah anak-anakku."

__ADS_1


"Pokoknya kamu nggak usah mikir apa-apa. Allah akan memberi di waktu yang tepat." ucap Daris.


Merry mengangguk sembari tersenyum. Merry percaya pada Allah.


__ADS_2