
"Mau ada acara apa sih Nak Daris?" tanya Mommy Tyas berbasa-basi.
"Syukuran kecil-kecilan untuk adik saya Tante, lulus SMA!" jawab Daris dengan sopan.
"Wah, punya adik ya?"
"Punya perempuan Tan, saya anak pertama!" Daris selalu menjawab pertanyaan Mommy Tyas dengan lugas, sambil sesekali melihat ke arah Merry.
"Kuliah dong habis ini adiknya?"
"Alhamdulillah iya Tan!"
"Gimana gimana kabar anak-anaknya?" Mommy Tyas langsung menanyakan kabar anak-anak Daris.
"Alhamdulillah baik Tan!" Ada rasa tak percaya bagi dirinya bisa ngobrol langsung seperti ini dengan Nyonya Syah. Dijamu dengan baik sebagai tamu di rumah mewahnya.
"Permisi, ayo silahkan diminum ini Pak!" Mbok Nah datang dengan membawa dua gelas jus jeruk dan kue kering. "Wah Nyonya mau minum juga?" tanya Mbok Nah kepada Mommy Tyas.
"Nggak usah Mbok!"
"Ayo silahkan diminum Nak Daris, jangan sungkan, nggak buru-buru kan?" tanya Mommy Tyas.
"Tidak kok Tan!" jawab Daris. Mereka pun ngobrol cukup banyak tentang pekerjaan ataupun keluarga. Hal tersebut cukup membuat Merry dan Mommy Tyas tahu tentang Daris lebih dalam. Daris yang merasa keluarga Syah menyambutnya dengan hangat juga tak sungkan untuk bercerita ataupun bersanda gurau, walaupun itu masih dalam ranah yang wajar.
Tiga puluh menit mereka menghabiskan waktu untuk bercengkrama. Sampai akhirnya, "Saya pamit sekarang ya Tan!" Rupanya Daris sudah bersiap untuk mengajak keluar anak perempuan Mommy Tyas.
"Buru-buru banget!" protes Mommy Tyas.
"Mom, kan keburu ada acara di rumahnya!" sahut Merry.
"Iya udah, hati-hati ya! Titip anaknya Tante!" seru Mommy Tyas.
"Iya Tante, terimakasih banyak sebelumnya!" ucap Daris. "Iya sama-sama, jangan sungkan main ke sini lagi!"
__ADS_1
Daris menyalami Mommy Tyas dan juga diikuti oleh Merry.
*****
Hening, kata yang pantas untuk menggambarkan keadaan di dalam mobil Daris saat ini. Hanya ada Daris yang menyetir dan Merry yang duduk di sebelahnya dengan segala pemikirannya masing-masing.
Merry ingat betul tadi pagi sebelum Amar pulang ia berkata pada Merry, perubahan dalam diri Merry terbilang sangat cepat. Amar yang sudah bersama dengan Merry sejak kecil merasa bahwasanya Merry itu jatuh cinta pada Daris. Walaupun menurut Merry itu tidaklah benar.
Tidak ada cinta untuk Daris, semua ia lakukan semata-mata hanya karena ingin mengenal anak-anaknya.
Merry juga heran kenapa kebanyakan orang dengan mudahnya mengklaim cinta pada suatu hal yang jika dipikir ulang belum tentu itu cinta. Misal, Merry baru mengenal Daris itu artinya Merry cinta pada Daris, kenapa harus berpikir tentang cinta? Kenapa tidak berpikir terlebih dahulu jika semua hanya normal saja, hanya sekedar hubungan sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya.
Berbicara soal cinta, tentu Merry pernah merasakan yang namanya cinta. Walau itu hanya sekedar cinta monyet. Merry kan manusia biasa.
Tapi saat ini, Merry menilai bahwa cinta itu rumit. Ia tak ingin masuk dalam kebisingan cinta yang mungkin saja bisa memporak-porandakan hatinya.
Hatinya yang terdalam selalu memberi alarm peringatan setiap kali mulai dekat dengan yang namanya cinta. Sebenarnya tidak ada pengalaman kelam yang membuat trauma akan yang namanya cinta.
Trauma itu juga bukanlah hal yang baik. Karena jika sebenarnya kita mampu menghendle semua ketakutan yang kita rasakan, kenapa kita lebih memilih untuk menjadi hal tersebut sebagai boomerang untuk menakuti diri kita sendiri?
Selama 24 tahun hadir di bumi ini membuat Merry banyak belajar tentang apa arti kehidupan yang sebenarnya. Mery banyak belajar dari kesalahan sebelumnya, kesalahan orang lain, atau bahkan kemungkinan kesalahan-kesalahan yang siap menunggunya di kemudian hari.
Beban hidup yang menghimpitnya tanpa ampun membuat dia sadar bahwa diri ini sebenarnya hanyalah kerdil, apalagi di hadapan Rabb nya.
Apalagi mengingat ketiadaan orang tua yang membuat dirinya menjadi manusia sebatang kara di dunia ini, membuatnya merasa semakin kerdil.
Itulah mengapa selama ini Mery ingin memaknai hidup ini dengan mudah. Ia tidak ingin merumitkan kehidupan yang sebenarnya sudah rumit. Tidak ingin menciptakan kerusuhan jika hal tersebut bisa untuk tidak diciptakan.
Mengingat diri yang hanya sebatang kara, itu luar biasa, sangat luar biasa bisa tetap tegar di tengah hiruk pikuk kehidupan duniawi yang sifat hanya sementara ini.
Di tengah keheningan Merry menyelami dirinya sendiri, Daris mulai membuka percakapan untuk mereka berdua.
"Kamu dulu pernah bilang kalau kamu bodyguard?" tanya Daris yang membuat Merry langsung paham apa yang sebenarnya dibingungkan oleh Daris. Ini bukan kali pertama orang yang mengenalnya bingung dengan kehidupan yang ia jalani saat ini.
__ADS_1
"Keluarga Syah itu keluarga angkatku! Mereka sudah merawatku dari kecil! Aku anak yatim piatu, tidak punya Bapak dan Ibu!" jawab Merry yang membuat Daris terkesiap.
"Dari remaja aku bertekad akan menjaga keluarga Syah semampu yang aku bisa, ya mungkin jalannya dengan menjadi bodyguard Nyonya Syah, orang yang aku panggil Mommy!" lanjut Merry.
Daris manggut-manggut mengerti perkataan Merry. Ternyata jalan hidupnya terjal juga.
Jikalau ada yang berkata "Tapi kan enak meskipun tidak punya orangtua tapi tetap hidup mewah bersama keluarga kaya raya!" Ya, tentu siapa yang tidak bahagia bisa hidup dengan keluarga yang kaya raya.
Tapi, di lubuk hati yang paling dalam, jikalau boleh memilih ia ingin merasakan bagaimana rasanya hidup dengan orang tua kandung. Bagaimana rasanya disayang-sayang oleh mereka, bagaimana rasanya merasakan lebaran bersama mereka, tertawa bersama mereka, bahkan sekedar merasakan rasanya bagaimana dimarahi mereka pun Merry tidak diberi kesempatan sama sekali! Tidak sama sekali!
Dan mungkin mereka ada yang berkata lagi, "Halaah sama aja lah Mer rasanya, malahan enakan kamu!" Huffft, kalimat biasa saja itu saja Merry belum pernah tahu bagaimana rasanya.
Tapi sekali lagi, syukur, hidupnya harus selalu dilandasi dengan rasa syukur. Alhamdulillah hidupnya tidak menderita.
Daris tidak ingin lagi membahas tentang itu, takut kalau hati Merry sebenarnya sensitif membahas tentang hal demikian. Ya, walaupun sebenarnya Merry tidak pernah mempermasalahkan.
"Kamu gimana kalau jadi bodyguard?" tanya Daris yang dari kemarin-kemarin tertarik bertanya bagaimana Merry ini jadi bodyguard, secara selama ini Daris mengenal kalau Merry baik dan lembut pada anak-anaknya.
Merry tertawa kecil mendengarnya, rupanya Pak Daris tidak tahu kalau Merry yang ia kenal selama ini adalah Merry dalam versi terbaik, versi ibu peri.
Tidak kok, Merry tidak jahat, kalian salah menilai kalau bodyguard itu jahat. Ooww, atau mungkin yang kalian nilai jahat itu karena sering melihat mereka memukuli orang? BIG NO guys, itu tergantung bos mereka, kalau bosnya jahat bisa saja keberadaan mereka disalah gunakan. Tapi kalau bosnya sebaik Mommy Tyas, keberadaannya akan menjadi suatu hal yang baik, bahkan bisa bermanfaat juga untuk sekitar.
Dan itu sebagai pengingat juga bagi kita, sebagai manusia harus pintar dalam memilih pekerjaan, jangan hanya karena yang penting dapet uang.
Harus memikirkan halal atau tidaknya uang itu, supaya berkah bagi diri sendiri dan keluarga.
Apalagi bagi mereka yang udah berkeluarga, masa iya setiap hari keluarga diberi asupan yang haram-haram.
Jadi, kita jangan pernah menilai suatu pekerjaan dari satu sudut pandang. "Kemarin aku lihat orang itu yang profesinya sebagai itu arogan loh, dia sok jago!" Hmm salah guys, tidak semua orang seperti itu.
Mungkin dia seperti itu karena memang bawaan sifatnya yang buruk, so jadi jangan pernah menyamaratakan sesuatu.
"Ya melindungi Mommy saya, emang Pak Daris nggak punya bodyguard?" jawab Merry yang ganti bertanya.
__ADS_1
"Punya, hanya saja saya penasaran bagaimana saat kamu jadi bodyguard!" ujar Daris sambil tertawa.
"Semoga suatu saat bisa lihat bagaimana saat saya jadi bodyguard!" seru Merry.