
Senyum di bibir Daris terus merekah saat berjalan melewati lorong rumah sakit. Daris teringat tadi saat di rumah tiba-tiba Raya memeluknya dan mengucap terimakasih tanpa henti.
Daris sempat bingung kenapa Raya tiba-tiba seperti itu, perasaan Daris tidak membeli sesuatu pada Raya. Biasanya, Raya bersikap seperti itu setelah dibelikan suatu barang yang Raya suka dan mau.
Kalau sudah keturutan apa yang diinginkan pasti langsung meluk, ngomong terimakasih, bahkan tak segan untuk mengecup pipi Daris, padahal biasanya Raya yang gengsi untuk mencium Kakaknya.
Beda halnya saat sedang meminta tapi belum dituruti. Bisa-bisa hari-hari Daris dipenuhi teror dari Raya. "Kak, jangan lupa belikan Raya ini! Kak jangan lupa belikan Raya itu!" Dan itu terjadi setiap jam, menit, dan detik. Daripada tuh kuping lama-lama panas dan terbakar, ya lebih baik langsung dibelikan saja. Semoga saja Daris selalu diberikan rejeki yang melimpah.
Ternyata eh ternyata, Raya seperti itu karena tahu kalau kakaknya akan menikah.
"Kakak, Raya seneng banget!"
"Kak, makasih ya!"
"Udah buruan seminggu lagi nikah!"
"Ayo Kak, buruan aja nikahnya!"
Begitulah kira-kira ocehan Raya tadi. Usul dari Raya sih suruh nikah seminggu lagi, enak aja tuh anak!
Boleh aja sih seminggu lagi, asal Merry mau diajak nikah yang sederhana, asal tetap khidmat dan sakral. Namun, Daris kan belum tahu Merry kalau menikah ingin pernikahan yang seperti apa, apalagi ini pernikahan yang pertama untuk Merry.
Seumpama Merry nikahannya minta yang mewah kan butuh waktu untuk mempersiapkan. Tapi ya semoga saja Merry mau dan ingin yang sederhana saja, supaya bisa cepet-cepet nikah.
Daris tidak sabar ingin memberikan kejutan ini pada Merry. Kejutan yang membuat Merry akan selamanya hidup di sisi Daris. Kejutan yang akan membuat Merry terikat pada tali pernikahan.
Daris merasa heran, kenapa lorong ini terasa jauh? Sedangkan saat melewati lorong ini bersama Merry terasa dekat. Hm, mungkin efek Daris ingin berlama-lama bersama Merry, tapi udah keburu sampai ruangan rawat inap Luham, hihi.
Daris menggelengkan kepalanya pelan, jangan terlalu keras nanti dikira orang gila geleng-geleng kepala sendirian. Ini rumah sakit umum, bukan rumah sakit jiwa.
Gue berasa balik remaja lagi! batin Daris sembari menertawakan dirinya sendiri.
Ketawanya ditahan saja, kalau nggak ditahan nanti dikira kesurupan! Mana ini di rumah sakit juga, tahu kan kalau rumah sakit juga terkenal horor!
*****
Saat Daris membuka pintu ruangan, tampak Merry yang mendekat padanya sembari membawa tasnya seperti bersiap ingin pulang.
"Syukurlah Bapak sudah datang, saya pamit dulu ya Pak, barusan Mommy telfon ada saudara yang rumahnya jauh ke rumah! Jadi saya pamit ya Pak, nggak enak kalau saya nggak ikut menemui mereka, udah jauh-jauh loh mereka!" pamit Merry dengan terburu-buru.
"Saya udah pamit ke Luham juga kok!" lanjut Merry.
"Mer sebentar, ada yang mau saya omongin!" tahan Daris.
"Aduh, nanti aja deh Pak! Oh iya kayanya saya ke sini lagi besok pagi atau kalau nggak siang, atau kalau nggak saat Luham mau pulang deh! Bapak kalau mau ngomong besok aja kalau gitu!" ujar Merry sembari bersiap membuka pintu untuk keluar.
Besok? Lama banget! batin Daris.
"Mer, bentar doang! Janji deh cuma sebentar!" Daris mengejar Merry dan berusaha untuk menahannya.
"Saya buru-buru Pak!" Merry terus saja berjalan dengan cepat.
Sebenarnya bisa saja Daris mengejar, tapi dia ingat pada Luham di dalam. Kan kasihan kalau ditinggal sendiri.
Akhirnya, Daris kembali masuk ke dalam ruangan dengan lesu dan perasaan yang kecewa.
__ADS_1
Daris langsung mendudukkan dirinya di sofa dan bersandar dengan lesu.
Dasar si Merry, nggak tahu apa kalau Daris mulai dari rumah tadi sudah mempersiapkan kata yang bagus untuk memberi kabar ini.
Sedari tadi hari Daris sudah menggebu-gebu untuk memberikan kabar ini. Bahkan, sejak Liam bilang ngebolehin kalau Daris nikah sama Merry, rasanya hati Daris sudah gatal ingin memberi tahu lewat via telfon.
Namun, Daris berusaha menahannya supaya berita ini dapat tersampaikan dengan istimewa, dengan cara langsung.
Eh, giliran udah waktunya, malah ditinggal pulang.
Bagaimana ini, hati Daris rasanya sudah tak bisa menunggu nanti apalagi besok untuk memberi tahu kabar ini.
Kalau seperti ini, rasanya Daris ingin segera menyeret Merry dan langsung membawa ke KUA untuk mendaftarkan diri untuk menikah. Sabar, daftar dulu baru bisa nikah.
"Mer Mer, ngggak menghargai usaha gue banget Lu! Usaha buat mancing Liam biar mengijnkan dan usah gue buat menahan diri untuk mengabari Lu secara langsung!" gerutu Daris.
"Ini hati kenapa gatel banget sih pengen cepet-cepet ngomong sama Merry! Kenapa sih Lu hati? Yang pengertian dong sama gue!" gerutu Daris mengomeli hatinya sendiri.
"Pa!" panggil Luham.
"Iya Luham?" jawab Daris.
"Papa sini dong!" ujar Liam.
"Iya, Papa ke situ!" jawab Daris sembari mendekat pada bed Luham.
*****
Malam harinya di kediaman Merry.
"Kira-kira apa ya yang mau dibicarakan Pak Daris tadi?" ucap Merry.
"Jangan bilang mau ngomongin tentang Liam yang ngebolehin apa enggak!"
"Duh, gue kok jadi dag dig dug ya!" Merry berhenti sembari memegang dadanya.
"Kalau beneran iya, apa ya kira-kira jawaban Liam?"
"Atau jangan-jangan belum ngomong ya? Semoga aja belum, gue masih belum siap nih nerima keputusannya! Kalau seumpama diijinkan sama Liam, wah gila nikah dong gue?" ujar Merry panik.
Saudara yang rumahnya jauh tadi baru saja pulang. Mereka adalah keluarga Mommy Tyas. Mereka berada di rumah Mommy Tyas sedari pukul tiga sore dan pulang pukul sembilan malam. Sebenarnya tadi sudah disuruh menginap di sini, tapi tidak mau. Katanya mau menginap di hotel saja. Jadi, kesan liburannya akan lebih terasa. Ya sudah tidak papa, toh banyak uangnya kan?
Besok pagi juga Merry ada pertemuan sama orang yang Merry percaya untuk mengelola tempat kost milik Merry. Em, bisa dibilang karyawan Merry.
Eh, tapi jangan deh, partner, ya partner kerja saja! Teman kerja begitulah!
Jadi, Merry akan kembali ke rumah sakit besok siang karena kemungkinan Luham pulang siang hari.
*****
Di ruang rawat inap Luham.
"Gue nggak bisa nih kalau nunggu besok!" ucap Daris gusar.
"Hati gue udah gatel, pengen buru-buru memberi kabar bahagia ini pada Merry! Kalau gue nggak segera mengabari Merry, gue takut entar malem nggak bisa tidur nyenyak!" Daris bergelut dengan hari dan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Bodo amat lah, gue kabari sekarang aja lewat telfon!" Daris mulai mencari kontak yang bernama Merry.
Cukup lama menunggu Merry mengangkat telfonnya.
"Kok nggak diangkat sih?"
"Apa sibuk banget ya di sana?"
Daris mencoba menelfon Merry lagi selama tiga kali, tapi tetap saja tidak diangkat.
"Ya Allah, kenapa gini banget sih mau ngabarin Merry!"
Daris mencoba menelfon lagi sekali, tapi masih sama seperti sebelumnya, tak diangkat.
"Ya udah lah gue ngabarin lewat WA aja, nggak peduli gue meskipun nggak so sweet atau apalah itu, yang penting hati gue udah plong udah memberi kabar ini dan Merry pun juga segera tahu.
Daris terlihat mengetikkan sesuatu sembari senyum-senyum sendiri. Harus pelan-pelan mengetiknya supaya tidak salah tulis. Nanti kalau salah tulis takutnya nggak tambah romantis, tapi malah bikin Merry tertawa.
"Beres!" seru Daris saat pesan itu sudah terkirim. Tinggal menunggu jawaban dari Merry, sayangnya Daris tidak bisa melihat langsung bagaimana ekspresi Merry saat membaca ini. Tak bisa dipungkiri, hati Daris juga dag dig dug.
*****
Kembali ke kamar Merry.
Merry lupa mensilent nada dering handphone nya. Tak heran jika Merry tak mendengar telfon dari Daris.
Merry berjalan menuju meja rias dan mulai memakai scincare malamnya. Setelah menyelesaikan aktivitasnya, Merry bersiap untuk untuk tidur.
"Eh, handphone gue!" Merry mengambil handphonenya yang tergeletak di ranjang. Saat Merry membuka handphone, Merry dibuat terkejut melihat panggilan tak terjawab dari Daris sejumlah lima kali.
"Ada apa ya?" Pikiran Merry justru tertuju pada Luham, takut terjadi apa-apa pada anak itu.
Karena ternyata ada pesan dari Daris juga, akhirnya Merry membuka pesan itu.
"What??" Merry terkejut. Merry kembali membaca satu persatu kata dari pesan itu.
"Ini serius?? Berarti gue jadi....??" Merry sangat syok.
Isi pesan tersebut adalah.
Assalamualaikum Merry. Maaf ya saya ganggu kamu malam-malam gini. Sebenarnya saya tadi ngomong ke kamu kalau Liam sudah mengijinkan kita untuk menikah, tapi kamu udah keburu pergi!
Saya sudah tidak tidak sabar untuk membicarakan ini besok, jadi saya kirimkan pesan ini ke kamu sekarang! Maaf ya Mer, jadi kaya anak abg gini! Semoga kamu bahagia dengan kabar ini ya!
Selamat malam calon istri.
Apakah Merry hanya sekedar terkejut saat membaca pesan ini? Tentu saja tidak, setelah sadar dari terkejutnya Merry langsung senyum-senyum nggak percaya, apakah ini benar? Awas saja kalau Daris nge prank!
-----------------------
Aku cuma mau bilang, "Selamat datang di tantangan kehidupan Merry yang selanjutnya!!" 😆
Tetap stay menemani Merry menjalani alur kehidupannya yaa!!
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1