Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Om Hantu dan Tante Hantu


__ADS_3

Di rumah sakit


"Bunda, Luham mau minum!" pinta Luham.


Merry memberikan air minum pada Luham.


"Besok Luham jadi pulang kan Bun?" tanya Luham.


"Besok kita lihat hasil pemeriksaan terakhir dari dokter, yang penting sekarang Luham istirahat dulu!"jawab Merry.


Kriing kriing kriing


Handphone Merry berdering.


"Hallo Kak?" Merry mengangkat panggilannya sedikit menjauh dari Luham.


"Mer, Lo mau minta oleh-oleh apa?" Ternyata orang yang menelfon adalah Amar.


"Astaghfirullah, padahal Lo lagi jenguk orang sakit, tapi bisa-bisanya tanya gue pengen oleh-oleh apa?Sebenarnya kalian itu jenguk orang sakit atau liburan sih?" tanya Merry sembari menggelengkan kepala.


"Menjenguknya udah, Alhamdulillah baik-baik aja kok! Sekarang sekalian aja aku sama Chan liburan! Hihihi" cekikikan Amar dari seberang sana.


Merry pun terkekeh pelan.


"Buruan, minta oleh-oleh apa? Nggak usah malu! Nggak usah jual mahal!" lanjut Amar sambil sedikit ngegas ngomongnya.


"Nggak usah ngegas dong ngomongnya, terserah Lo aja deh Kak, mau Lo beliin apa aja juga gue terima!" jawab Merry santai.


"Mantep bener bini gua ini!" celetuk Amar.


"Sembarangan!" sahut Merry cepat.


Nggak tahu aja sih Amar kalau Merry calon bininya Daris, semoga!!


"Hahahaha!" Hanya terdengar suara tawa Amar dari handphone Merry.


"Lo seneng kan dapet oleh-oleh? tanya Amar menggoda Merry.


"Ya sorry, gue sih nggak munafik! Seneng lah dapet oleh-oleh, yang bagus yang mahal ya oleh-olehnya!! Malu lah Pak CEO tajir ngasih oleh-olehnya yang murah!" Merry asik bertelepon dengan Amar.


Memang begitu mereka kedua, suka menghujat tapi sebenarnya hanya bercanda.


"Wah, jangan khawatir Bunda! Saya banyak uang!" jawab Amar dengan sombong.


"Mantep dah, ditunggu oleh-oleh mahalnya!!" ujar Merry.


Merry asik cekikikan sendiri saat ber telfonan dengan Amar.


"Bunda!" panggil Luham.


Merry langsung menoleh pada Luham sembari tersenyum.


"Bentar ya!" ucap Merry pelan pada Luham.


"Chan mana Kak?" Merry kembali fokus pada Amar. Merry mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan Luham.

__ADS_1


"Ini habis ini ke sini! Gue ganti video call ya?" tawar Amar.


"Boleh boleh!" Merry menyetujui.


Jadilah percakapan mereka berpindah ke video call.


"Hallo Bunda!" teriak Chan dengan semangat sembari melambaikan tangannya ke Merry.


"Hallo Chan!" jawab Merry.


"Wah, di mana itu kok view nya bagus banget?" tanya Merry penasaran saat melihat Chan yang duduk di taman. Bunga warna-warni nampak indah di sana!


"Di taman villa Mer! Bagus kan? Lo pengen nggak ke sini?" tanya Amar.


"Mau lah, ya kali gue gila nggak mau ke sana! Bagus banget gitu, bisa nih sama Mommy juga ke sana! Buat penyegaran otak!" Merry duduk sedikit menjauh dari bed Luham. Merry juga tidak berbicara terlalu keras agar tidak menganggu Luham.


"Eh, bentar-bentar, tempatnya rame nggak?" lanjut Merry.


"Lo kira pasar, rame!! Nggak lah, di sini hening, tenang, pokoknya Lo pasti seneng di sini!" Amar merasa sedang promosi saja!


"Pokoknya Lo harus ke sini!" lanjut Amar.


"Ya ya ya ya, tapi Lo dong Kak yang bayarin!" jawab Merry.


"Tenang aja, gue kan tajir!" jawab Amar dengan sombong.


Amar hanya berlagak sombong di depan Merry. Amar adalah orang yang tak suka pamer harta dan dermawan.


*****


Daris keluar dari kamar Liam sembari senyum-senyum sendiri.


"Ray!!" sapa Daris saat dia melewati Raya.


Raya hanya bengong saja menampilkan ekspresi "Aneh banget sih Elu Kak!"


Raya juga langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar, hii jadi merinding.


"Bener nih kata Bi Sami kalau di sini hantunya! Kakak gue udah kesenggol hantunya nih pasti fiks! Horor banget tiba-tiba nyapa gue sambil senyum-senyum! Biasanya juga nggak gitu, takut!!" Raya berbicara sendiri sambil siap-siapa ingin berlari.


"Bi Sami takut ada hantu!!!!" Teriak Raya sambil lari ke dapur mencari Bi Sami.


*****


Daris berjalan menuju taman belakang menemui Bi Sami yang sedang menemani Emir bermain.


Dengan bahagia Daris menyapa Bi Sami, "Bi!"


Bi Sami mengangguk sembari tersenyum, "Iya Pak!"


Daris berjalan terus menemui Emir yang sedang berlari-lari mengejar kelinci.


Sebentar-sebentar, ini taman apa kandang kelinci sih kok ada kelincinya? Hehehe, jadi Kelincinya dibiarkan bermain di taman, biar Kelincinya nggak spaneng di kandang terus.


"Emir sini sayang!" panggil Daris pada Emir. Anak tampang itu pun berlari ke arah papanya.

__ADS_1


Saat Emir sampai di hadapannya, Daris langsung mengangkat Emir dan menciumi pipi gembul anaknya itu.


Emir tertawa geli diciumi oleh papanya.


"Semoga segera diberi pelengkap kebahagiaan ya Pak, aamiin!" doa Bi Sami pelan yang hanya bisa didengar oleh Bi Sami sendiri.


*****


Raya yang sudah sampai dapur bingung saat tak melihat Bi Sami ada di situ.


"Kemana ya Bibi?" ucap Raya bingung.


"Bi, Bi Sami!" panggil Raya.


"Bi, Bibi kemana sih?" panggil Raya lagi, tapi tak ada yang menyahuti.


Raya semakin merinding, bulu kuduknya berdiri.


"Ampun deh ampun Om hantu Tante hantu, iya deh iya Raya janji nggak nonton film hantu lagi!! Nggak usah ke sini!! Raya udah janji loh!! Nggak usah ngajak Raya temenan deh, temen Raya udah banyak!!" ujar Raya keras berusaha berkomunikasi dengan para hantu di sekitarnya. Seolah-olah hantu itu pada antri minta kenalan dia berteman dengan Raya,


GeEr!


"Nana, asem Lu!! Gue nggak mau lagi nonton rekomendasi film dari Lu!" gerutu Raya sendiri.


Ini efek Raya habis nonton film horor bertema anak indigo, Raya jadi berhalusinasi jika ada hantu-hantu yang ingin berteman dengannya.


Takut!! Padahal belum tentu hantu-hantunya mau berteman dengan Raya! Hantu juga pilih-pilih teman kale!!


Raya berlari menuju kamar Liam, mencoba mencari teman! Supaya nanti kalau ada hantu yang datang Raya punya gang untuk melawannya. Fiks ini sih nanti malam Raya nggak berani tidur sendiri!


Ceklek


Raya membuka pintu kamar Liam. Sebenarnya hatinya gatal ingin berlari dan langsung masuk, tapi Raya berusaha santai agar terlihat berwibawa di depan Liam.


"Hallo Liam!" sapa Raya. Hufh plong, hatinya lega udah ada teman.


"Tante, ada apa?" tanya Liam.


"Nggak ada apa-apa, pengen ke sini aja!" jawab Raya sambil merebahkan diri di ranjang Emir.


"Besok nambah satu personel nih kalau Luham pulang!" ucap Raya.


"Nambah satu personel lagi kalau Papa udah nikah sama Auntie Merry!" jawab Liam.


Anak itu sedang duduk di meja belajar sembari menggambar. Jika Luham pandai menyanyi, sedangkan Liam pandai menggambar. Lalu kalau Emir pandai apa? Emir panda ber manja-manja pada Bundanya, hihihi.


"Emang mau menikah?" tanya Raya, jujur Raya belum tahu.


Liam mengangguk.


"Serius??" Raya langsung mendekat pada Liam.


"Iya, kan Liam udah ngebolehin Papa buat nikah!" jawab Liam apa adanya.


Raya terkejut, terharu dan bahagia, ini bagai mimpi. Seseorang yang dia idolakan sejak dulu sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya, akan menjadi bagian dari keluarganya.

__ADS_1


Raya langsung memeluk Liam erat. "Makasih Liam, makasih, kamu baik banget!!" Raya terus memeluk Liam erat, kebahagiaan tak bisa didefinisikan dan diukur lagi.


Liam hanya tersenyum simpul.


__ADS_2