Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Topi Winner


__ADS_3

"Kakak kenapa nggak nonton sama Papa dan Bunda di sana? Kan enak lebih dekat nontonnya!" ujar Liam.


Erga tersenyum kepada mereka.


Lalu, dia teringat sesuatu.


"Oh iya, Kakak punya sesuatu buat kalian!" ucap Erga sambil mengambil sesuatu dari tas punggungnya.


Luham dan Liam mengamati Erga yang sedang mengambil sesuatu.


Erga mengeluarkan dua topi berwarna putih bertuliskan winner.


Luham dan Liam melongo, lalu menunjukkan wajah bahagia.


Satu topi berada di tangan kanan dan satu topi berada di tangan kiri.


Sejenak Erga memandang topi itu, lalu beralih memandang Luham dan Liam sembari tersenyum, lalu memasangkan topi tersebut secara bersamaan.


Topinya pas dan terlihat cocok untuk mereka.


"Wah, Kak, buat kita ya?" tanya Luham sambil melepas topi yang berada di kepalanya.


Liam pun juga demikian.


Mereka mengamati desain topi putih bertuliskan winner.


Erga tersenyum sembari mengangguk.


"Spesial buat kalian. Kalian kan Sang juara!" jawab Erga.


Luham dan Liam saling berpandangan. Senang sekali rasanya mendapat hadiah dari Kak Erga.


"Makasih ya, Kak!" ucap Luham.


"Iya, makasih. Keren topinya!" Liam juga ikut menimpali.

__ADS_1


"Iya, sama-sama. Disimpan baik-baik ya, topinya!" ujar Erga.


Wajahnya sangat cerah menandakan bahwa ia sangat bahagia.


Begitu juga dengan Luham dan Liam.


Luham dan Liam juga kembali menggunakan topi putih bertuliskan winner dari Erga.


Entah mengapa Erga merasa dekat Luham dan Liam. Mereka bisa membuat Erga bahagia.


"Kak, ayo ke Bunda dan Papa!" ajak Luham.


Erga gelagapan sambil melihat Merry dan Daris.


"Iya, itu di sana ada Tante kita. Ada Om Al juga. Kakak harus kenalan!" Liam juga ikut menimpali.


Luham dan Liam sangat bersemangat ingin mengenalkan Erga kepada papa, tante, dan omnya.


Sejujurnya Erga ingin menjumpai mereka. Namun, ada rasa ragu yang menghinggapi hatinya.


Dengan mencoba menghilangkan segala rasa ragu, Erga akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Luham dan Liam.


Erga juga ingin berkenalan dengan suaminya Merry. Ingin tahu sebaik apa sih dia kenapa bisa Merry sesayang itu kepada suaminya.


Dan ada satu hal yang membuat ia mau. Di sana ada Emir kecil yang terlihat menggemaskan.


"Oke, ayo!" jawab Erga dengan tegas.


Tanpa berlama-lama. Akhirnya mereka bertiga berjalan mendekat kepada Daris, Merry, Raya, Al, dan Emir.


"Pa, Bun, ada Kak Erga!" ujar Liam setelah mereka sudah saling berdekatan.


Merry tersenyum kepada Erga. Sedangkan Daris juga langsung berdiri dan menoleh kepada Erga.


"Oh, ini ya yang namanya Erga. Perkenalkan saya Daris, suaminya Merry dan Papanya anak-anak!" Tanpa aba-aba Daris langsung memperkenalkan diri. Menjelaskan jika dia adalah suami Merry dan Papanya anak-anak.

__ADS_1


Erga tersenyum santai.


Tanpa dijelaskan gue juga udah tahu! batin Erga.


"Erga. Aku Erga!" Erga juga balik memperkenalkan diri.


Daris tersenyum tipis.


"Oh, iya, silakan duduk!" pinta Daris sembari Daris juga duduk kembali.


Tanpa ragu Erga juga langsung duduk di samping Daris.


Mereka sejenak saling tak mengucap kata apapun. Hingga akhirnya...


"Hai, ganteng. Emir kan?" sapa Erga kepada Emir.


Emir mengamati Erga dengan teliti. Lalu, dia mengangguk.


"Kak Elga!" gumam Emir.


"Bunda, ini Kak Elga ya?" Bukannya menanyakan kepada orang langsung, tapi Emir justru menanyakannya kepada Bundanya.


Merry tersenyum sembari menjawab, "Iya, itu Kak Erga yang waktu itu kita ketemu!"


Emir tersenyum lebar sembari mengangguk-angguk. Dia langsung mendekat kepada Erga.


"Kak Elga waktu itu bantuin Kakak jatuh. Makasyih ya, Kak." Sosok Erga di otak Emir adalah seseorang yang telah membantu kakaknya saat sedang jatuh.


Erga terkekeh. Tangan kanannya refleks mengusap kepala Emir dengan penuh kasih sayang.


Lucu sekali sih! batin Erga.


"Kak Elga kalau naik sepeda halus hati-hati. Tidak boleh ngebut-ngebut, nanti jatuh kayak Kakak. Kata Papa gitu. Halus hati-hati ya, bial tidak jatuh!" celoteh Emir kepada Erga.


Daris yang sedari tadi tidak nyaman dengan kehadiran Erga, sejenak rasa itu menguap dan terkekeh mendengar perkataan Emir.

__ADS_1


Ternyata anaknya mengingat nasihat Daris kepada Luham dan Liam.


__ADS_2