
"Pulang sekarang kan?" tanya Daris.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Papanya membuat Luham dan Liam celingukan. Mereka mengedarkan pandangan seperti sedang mencari seseorang.
"Masih ada kepentingan lain? Nggak papa, Papa dan Bunda pasti nungguin!" ujar Merry.
"Em, mana ya?" gumam Luham yang terus mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang.
"Kak Erga!" teriak Liam.
Mendengar Liam berteriak seperti itu tentu Luham Daris, Merry, Al, Raya menoleh ke arah seseorang yang diteriaki Kak Erga oleh Liam.
"Kak, hai Kak!" teriak Liam lagi sambil melambaikan tangan.
Merry berganti melihat Luham dan Liam. Wajah mereka tampak sumringah.
"Akhirnya?" ujar Luham.
Sepertinya mereka sudah mencari keberadaan Erga sejak tadi.
Mereka sangat menantikan kehadiran Erga.
Liam berlari ke arah Erga. Tentu saja Luham juga mengikuti.
Daris hanya terdiam saat melihat anak-anaknya berlari menemui Erga.
Dan untuk pertama kalinya Daris melihat seperti apa Erga itu.
Seorang pemuda tampan. Berkulit bersih. Berambut gondrong dan sedikit keriting. Hidung mancung. Bibirnya tipis. Sepertinya dia blasteran.
Dia menggunakan kaos polos putih dan dipadukan dengan celana training abu-abu. Rambut gondrong dikuncir kuda.
Bibirnya tersenyum siap menyambut kedatangan Luham dan Liam.
__ADS_1
"Siapa sih dia Kak?" tanya Raya kepada Merry.
"Erga!" jawab Merry, tapi pandangannya tetap ke arah Luham dan Liam yang sekarang sudah berdiri tepat di depan Erga.
Al mengamatinya dengan jeli. Jadi ini yang beberapa hari yang lalu diceritakan oleh Daris.
Seorang pemuda yang berhasil mengambil hati anak-anak.
Al tersenyum miring. Sepertinya dia pemuda yang bisa dibilang bandel. Hidupnya bebas dan tidak suka aturan.
Namun, bagaimana caranya dia bisa mendapatkan hati Luham dan Liam?
Apalagi dia juga berhasil membuat Daris cemburu.
Sejenak Al melirik Merry.
Ya, mungkin Bu Bosnya ini tipe wanita idaman Erga. Apalagi Merry juga masih muda.
Lalu...
Al langsung melihat Raya dengan panik.
Setelah itu ia berganti melihat Erga, lalu berganti lagi melihat Raya.
Mereka sama-sama mudanya.
Tidak tidak. Jangan sampai tiba-tiba Erga melirik Raya.
Sejauh ini belum ada saingan saja cukup sulit menaklukkan hati Raya, apalagi kalau ada saingan. Hm, makin sulit.
Al kembali melihat Erga sembari menyipitkan mata.
Awas aja kalau Lo sampai berani deketin Raya. Lo pasti berhadapan sama gue! batin Al.
__ADS_1
Sedangkan Luham dan Liam yang sudah berdiri di depan Erga langsung diajak tos oleh Erga.
"Selamat ya untuk kalian. Hebat, jadi nomor satu!" puji Erga kepada Luham dan Liam.
"Kakak dari tadi nonton di sini?" tanya Luham.
Erga mengangguk. Posisi Erga berada sedikit jauh dari posisi Merry dan yang lainnya. Tempatnya pun sedikit ke belakang.
Jadi, Merry juga tidak tahu jika ada Erga yang juga menonton dari awal pertandingan tadi.
"Dari tadi di sini. Udah janji nonton kan. Kata kalian kalau janji harus ditepati. Ya udah, Kakak nonton deh dari sini!" jawab Erga.
"Kenapa nggak nonton bareng Papa dan Bunda di sana?" tanya Liam sembari menunjuk kedua orangtuanya.
Merry masih tetap melihat mereka. Sedangkan Daris memilih duduk dan melihat ke lapangan.
Sampai di detik ini Daris membiarkan anak-anaknya berkawan baik dengan Erga. Biarkan saja. Asalkan Erga tidak memberi dampak negatif dan tidak mengusik kebahagiaan dan keutuhan keluarganya.
Erga mengikuti arah ke mana Liam menunjuk.
Erga tersenyum saat melihat Merry tengah melihat ke arahnya juga.
Namun, tak lama kemudian matanya tertuju kepada pria dewasa yang hanya terlihat dari samping.
Pria yang sudah matang dan kebapakan.
Oh, jadi itu ya suaminya Merry. Batin Erga.
Rasa penasarannya selama ini akhirnya terjawab juga.
Tampan, gagah, dewasa, kebapakan, dan maskulin.
Erga tersenyum tipis sembari kembali fokus kepada Luham dan Liam.
__ADS_1