Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Pengakuan Amar


__ADS_3

"Aku minta maaf Mer!" ucap Daris menyesali perbuatannya tadi.


Mereka telah sampai di rumah Merry, tapi masih berada di dalam mobil.


"Nggak papa Mas, aku harap nggak ada kebohongan di antara kita!" jawab Merry dengan tegas. Daris mengangguk.


"Aku keluar dulu!" pamit Merry untuk keluar dari dalam mobil.


Merry berjalan sendiri ke dalam, sedangkan Daris mengikutinya dari belakang.


"Welcome Merry Syah!" seru Amar dengan nyaring dan langsung memeluk Merry.


Daris hanya diam saja melihat adegan itu dari belakang Merry.


"Aduh Kak, engap, Lu jangan peluk-peluk gini!" keluh Merry karena Amar memeluknya dengan erat.


"Ayo, masuk, gue punya oleh-oleh buat Lu!" Amar menggenggam tangan Merry dan mengajaknya untuk ke ruang keluarga.


"Ada Mas Daris di sini!" ucap Merry sambil tetap menahan dirinya di tempat.


Amar langsung menoleh pada Daris.


"Oh, maaf Pak Daris, saya tidak melihat Anda!" Amar langsung menyapa Daris dengan ramah.


Gaya Lu nggak lihat, orang Daris segede itu masa nggak lihat! gerutu Merry dalam hati.


Merry menilai Amar memang kadang isengnya kelewat batas.


"Silahkan duduk Pak Daris!" Amar langsung mempersilahkan Daris untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Chan di mana Kak?"tanya Merry pada Amar.


"Keluar sebentar sama Mommy! Dari tadi nungguin Bunda Merry, tapi nggak pulang-pulang!" jawab Amar.


Entah mengapa kini Daris kurang menyukai interaksi di antara mereka berdua.


"Ya udah sih, bentar lagi juga ketemu!" jawab Merry dengan santai.


"Oh ya, mau minum apa Mas?" tanya Merry pada Daris.


"Nggak usah Mer, aku mau langsung pulang aja!" jawab Daris.


"Oh gitu ya!"


"Iya, anak-anak udah nunggu pasti di rumah, aku pamit dulu ya!" pamit Daris sembari berdiri dari duduknya.


"Iya udah hati-hati!" ujar Merry sambil ikut berdiri dan siap mengantarkan Daris.


"Titip salam buat Mommy Tyas ya!" ucap Daris lagi.


Merry menjawab "iya" dengan simbol jempol tangan kanannya.


"Saya pamit dulu Pak Amar!" pamit Daris pada Amar.


Jujur Daris kurang pas hatinya dengan Amar karena bagaimanapun mereka bukanlah saudara kandung.


"Oke oke, hati-hati ya Pak!" jawab Amar.


Lalu, setelah itu Merry mengantarkan Daris sampai ke depan pintu. Setelah mobil Daris melaju meninggalkan kediaman keluarga Syah, Merry masuk ke dalam rumah kembali.


"Anget banget ya sama Daris!" celetuk Amar yang ternyata masih duduk di sofa ruang tamu.


"Namanya juga calon suami, kalau kita sama-sama kaku, gimana nanti kita membina rumah tangga?" jawab Merry sambil duduk sejenak di sofa.


"Lo udah yakin sama dia?" tanya Amar sambil setia memandangi Merry. Sedangkan Merry menyandarkan punggungnya sambil terpejam.

__ADS_1


"Kalau nggak yakin juga nggak bakalan ada akad nikah tiga minggu lagi!" jawab Merry.


Nyes, entah kenapa saat Merry menyebut tiga minggu lagi akan akad nikah, hati Amar bagai tercabik-cabik beribu pedang. Rasanya, sisa hidupnya tinggal tiga Minggu lagi, malaikat maut seolah-olah siap menjemputnya tiga minggu lagi.


Amar hanya bisa diam seribu bahasa.


"Gue ke kamar dulu ya, mau mandi!" pamit Merry sambil berdiri dan bersiap melangkah.


"Tunggu!" teriak Amar.


GREP, Amar memeluk erat Merry dari belakang.


Merry terkesiap, tumben nih orang seperti ini.


"Gue nggak rela kehilangan Elo Mer!" ucap Amar dengan tetap setia memeluk Merry.


Merry hanya bisa tersenyum walau hatinya juga ngilu. Merry yakin pasti apa yang dirasakan Amar saat ini sama dengan apa yang dirasakan Mommy Tyas. Bagaimanapun mereka telah bersama sejak kecil, Amar sudah seperti kakaknya sendiri, pasti Amar merasa kehilangan dengan adanya pernikahan antara Merry dan Daris.


"Makasih ya selama ini Kak Amar udah baik sama Merry!" Akhirnya, Merry tak bisa menahan air matanya, bagaimana pun Amar telah melimpahkan kasih sayang dan melindunginya selama ini. Walaupun dulu saat masa kecilnya Amar juga sering membully Merry, tapi saat Amar sudah beranjak besar dia sangat menjaga Merry seolah-olah Merry adalah berliannya.


"Gue sayang sama Elo Mer!" ucap Amar dengan pelan.


"Merry juga sayang sama Kak Amar!" jawab Merry karena dia juga sayang pada Amar.


Bukankah adik kakak harus saling menyayangi?


Merry masih membiarkan Amar memeluk dirinya dari belakang. Rasanya, Amar pun enggan untuk melepaskan pelukan ini.


Setelah cukup lama Merry membiarkan Amar memeluk dirinya, Merry melepaskan pelukan itu. Kini mereka berhadapan.


"Kak Amar makasih ya udah jadi Kakak yang baik! Walaupun kadang Lo nyebelin, nggak kadang sih emang Lo selalu nyebelin, tapi gue tetep sayang sama Lo!" ucap Merry seraya tertawa kecil dan mengusap bekas air matanya.


Amar hanya diam sambil memandang Merry dengan tatapan kehilangan dan tak rela.


Dengan pelan Amar menggenggam kedua tangan Merry. Amar menggenggamnya dengan erat. Tatapan mata sedihnya menatap Merry dengan lekat.


"Gue juga cinta sama Lu Kak, tapi kayanya kalau Kakak Adik lebih pas pakai kata sayang deh hehe!" jawab Merry seraya tertawa.


Amar menggeleng, bukan seperti itu yang dia maksud.


"Gue cinta sama Lo sejak dulu, cinta seorang pria pada wanita, bukan cinta kakak kepada adik!" jelas Amar yang membuat Merry tergelak.


Apa maksud Amar? Merry hanya bisa bertanya-tanya. Namun, dalam hatinya masih bimbang pasti Amar hanya bercanda. Tuh orang kan memang suka bercanda begitu.


"Gue tahu Lu pasti kehilangan gue kan karena gue menikah kan? Ya udah sih, tapi nggak usah lebay gitu!" canda Merry pada Amar.


Amar kembali meraih tangan Merry untuk digenggam olehnya.


Amar memandang Merry dengan lekat dan sendu. Dari pandangannya saja mengatakan bahwa Amar sedang tidak bercanda.


"Kalau Lo tanya siapa orang yang lebih dulu mencintai Lo dibanding Daris? Jawabannya adalah gue!" terang Amar.


Amar membawa Merry menuju taman tempatnya, Merry, dan Chan biasanya juga menghabiskan waktu bersama. Merry hanya menurut sembari bertanya-tanya apakah yang diucapkan Amar benar? Jika iya, Merry sungguh tak menyangka.


Amar membawa Merry untuk duduk di sebelahnya di bangku taman. Mereka duduk mengamati hamparan bunga warna-warni yang ada di taman pribadi rumah ini.


"Lo mau nge prank gue ya?" tanya Merry seraya terkekeh.


Sedangkan Amar masih saja diam dengan perasaan yang tak bisa ter definisikan.


"Gue itu pengecut Mer!" ucap Amar dengan sesal.


Merry menoleh ke arah Amar dengan tatapan penuh tanya.


"Gue udah cinta sama Lo sejak perpisahan gue dengan Maminya Chan waktu itu!"

__ADS_1


Hati Merry terhenyak seketika, itu artinya Amar telah mencinta dirinya sedari dulu. Jadi selama ini Amar mencintainya?


"Dengan percaya dirinya gue yakin kalau Lo pasti jadi milik gue, tapi ternyata gue salah! Gue bodoh, seharusnya gue jujur dari dulu, pasti saat ini Lo udah jadi milik gue!" jelas Amar, matanya merah menandakan bahwa ia ingin menangis.


"Gue nyesel Mer, gue cinta sama Lo!" ucap Amar dengan frustasi. Amar begitu menyesal tak mengungkapkan cintanya sedari dulu.


Merry hanya diam, dia tak tahu harus bagaimana. Semua yang dikatakan Amar di luar harapannya. Dada Merry berdetak kencang.


Ada apa dengan dunia ini?


Merry tak ingin memandang Amar, dirinya masih dalam mode shock.


"Apa Lo mau batalin pernikahan Lo sama Daris dan menikah dengan gue?" tanya Amar dengan pelan sembari menghadap ke arah Merry.


Merry tergelak, dia langsung memandang Amar dengan tatapan terkejut.


"Lo gila Kak?" tanya Merry yang tak menyangka jika perkataan demikian akan keluar dari mulut Amar.


Amar menggenggam tangan Merry. "Chan juga butuh Bunda!" ucap Amar dengan sendu.


"Gue cinta sama Lo Mer! Bahkan sebelum kehadiran Daris gue udah cinta sama Lo!" ucap Amar lagi.


"Gue nggak nyangka hal demikian terjadi pada Lo Kak! Cinta memang datang tanpa permisi dan tak memandang siapa yang akan dicintai! Tapi kita adik kakak, nggak pantes Lo ngomong gitu ke gue!" jelas Merry yang sebenarnya dalam hatinya masih tidak percaya.


"Kita bukan saudara kandung Mer, kita bisa menikah! Lo Adek angkat gue!" ujar Amar dengan tegas.


Deg, Amar mengingatkan Merry dengan posisinya di rumah ini. Dada Merry rasanya sesak. Merry mengangguk memang benar jika dirinya hanya anak angkat di rumah ini.


"Gue memang anak angkat!" ucap Merry seraya menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Maafin gue, maksud gue bukan gitu!" Amar langsung merasa tak enak. Dari dulu Mommy Tyas melarang Amar untuk membahas tentang anak angkat supaya Merry tidak tersinggung.


Merry menggeleng tidak masalah, Merry tidak tersinggung, memang benar itu adanya.


"Lo mau kan batalin pernikahan ini? Kita menikah dan hidup bahagia! Kita pergi dari negeri ini untuk memulai hidup kita yang baru, bersama Chan dan Mommy juga kita ajak!" tawar Amar dengan serius dan dalam.


"Chan juga sayang sama kamu! Chan butuh ibu dan kamu orang yang tepat! Gue serius Mer! Gue cinta sama Lo!" ucap Amar memohon pada Merry.


Amar memang telah mencintai Merry sedari dulu, bahkan ia tak segan untuk memohon pada Merry.


Merry menggeleng karena bagaimanapun dia telah memiliki calon suami dan juga ada anak-anak yang juga membutuhkan dia.


Namun, di sisi lain saat mendengar nama Chan Merry tak tega dan bersedih. Chan adalah anak kecil yang sejak bayi sudah bersama Merry. Merry takut menyakiti hati anak kecil tak berdosa itu.


"Merry minta maaf Kak, Merry nggak bisa! Merry udah punya komitmen dengan pria lain!" tolak Merry.


Dalam otak Merry ada nama Chan yang terus-terusan terngiang.


Hati Amar bagai tertusuk ribuan pedang. Kalau boleh mengulang waktu, Amar tak akan menyia-nyiakan waktu dan sudah dipastikan ia akan egois untuk memiliki Merry.


Jika ditanya seberapa besar cinta Amar ke Merry? Jawabannya adalah tak terhingga, Amar sangat mencintai dan mengharapkan Merry. Hanya saja, dirinya terlalu percaya diri untuk tak segera berkata pada Merry, hingga akhirnya penyesalan itu datang. Penyesalan memang selalu datang di akhir.


Merry kini akan dimiliki oleh pria lain. Lalu bagaimana dengan hati Amar? Apakah Amar mampu melihat pria lain bersanding dengan Merry?


Rasanya, Amar tak berdaya. Ia kehilangan semangat hidupnya. Merry yang selama ini ia jaga dan cintai akan menjadi milik orang lain. Semua karena kesalahannya yang terlalu percaya diri bahwa Merry akan jadi miliknya.


Air mata Amar mengalir tanpa permisi. Entah mengapa rasanya lebih sakit dari perpisahannya dulu dengan mantan istrinya. Separuh raga Amar terasa hilang. Daris lah orang yang telah mencuri separuh raganya.


----------------------------------------


Amar sama Author aja yaaa😌😌


Atau ada yang mau sama Amar???


Maafkan Author kalo ceritanya ngawur dan nggak masuk akal yaa😬😂

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen oke😚


Stay safe, stay healthy ❤️❤️


__ADS_2