
"Semoga suatu saat bisa lihat bagaimana saat saya jadi bodyguard!" seru Merry.
"Aamiin," ujar Daris.
"Nanti di rumah banyak anak-anak yatim Mer!" ucap Daris.
"Kita ngadainnya ngundang anak-anak yatim dari panti asuhan pas kita pertama ketemu dulu!" sambung Daris sambil sesekali melirik ke arah Merry di sampingnya.
"Bagus dong Pak, biar keberadaan kita menjadi suatu kebermanfaatan untuk mereka yang membutuhkan!" Merry si cewek cuek tapi sekedar covernya saja itu juga memiliki jiwa sosial yang tinggi dalam dirinya.
"Iya, bener Mer!"
"Oh ya, saya ingat betul dulu pertama kali ketemu kamu pakai baju hitam-hitam, itu baju dinas kamu ya?" Daris bertanya sambil tertawa.
"Hahaha iya baju dinas itu Pak, baju kebanggaan!" jawab Merry.
"Keren dah, top banget!" puji Daris yang berulangkali kagum sama wanita di sampingnya ini.
Merry hanya menjawabnya dengan tawa kecil.
Mereka terus saja ngobrol di dalam mobil. Sampai tak terasa sudah memasuki kompleks perumahan Daris. Merry yang lagi-lagi dibuat nyaman dengan suasana kompleks di sini tak ragu untuk memujinya di depan Daris.
"Enak banget di sini ya Pak, nyaman!"
"Iya, makanya saya pindah ke sini, baru dua tahun juga saya di sini!" jawab Daris yang juga menyetujui perkataan Merry.
"Wah, masih baru juga ternyata!" ujar Merry.
"Iya Mer!"
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Daris. Gerbang yang memang tidak ditutup membuat Daris langsung masuk tanpa menglakson terlebih dahulu dulu seperti waktu itu.
Merry bisa melihat si kembar yang bermain bersama anak-anak panti di teras. Tanpa disadari, senyum manis terbit di bibir Merry. Dia juga mengedarkan pandangannya mencari mana Emir. Tidak ada, mungkin ada di dalam.
Saat Daris dan Merry sudah turun dari mobil, ternyata Emir langsung ke luar rumah dan berlari ke arah Merry. "Mamaa, yee Mama!" seru Emir sambil memeluk Merry. Dan Merry pun juga langsung menggendong Emir.
Anak-anak panti pun berebut bergantian salim pada Merry dan Daris. Baru datang rupanya anak-anak karena acara memang akan dimulai setengah jam lagi.
Saat ini Merry sedang menuju dapur, barangkali ada yang bisa dibantu. Merry melihat di dapur ada seorang gadis, asisten rumah tangga yang kemarin, dan ibu panti yang memang Merry kenal.
__ADS_1
"Merry kamu bisa bantu mereka kalau mau!" ujar Daris yang membuat gadis yang di dapur menoleh pada Daris dan Merry. Gadis itu langsung membelalakkan matanya saat melihat Merry.
"Kak Merry??" seru gadis itu. Dan tiba-tiba langsung berlari ke arah Merry dan memeluk.
"Ini Kak Merry kan?" serunya lagi heboh. Merry mengangguk, "Iya saya Merry!"
"Kak Dariss, waah gilaakk, ini gilaakk, kereeen ooyy, Kak Daris bawa Kak Merry ke sini?" Gadis itu terus-terusan heboh melihat Merry.
Sedangkan Merry jadi bingung kenapa nih anak di depannya. Berbeda dengan Daris, ia tersenyum heran melihat adiknya yang super duper heboh melihat keberadaan Merry.
"Iya, ini Merry!" ujar Daris.
"Merry Batari? Atlet basket kan?" tanyanya heboh pada Merry. Dan Merry pun jadi tersenyum sambil mengangguk.
"Ya Tuhaaan, Arayaa semalam kamu mimpi apa!" ujarnya sangat bahagia sambil memukul-mukul pipinya pelan, ini mimpi atau tidak.
"Aku Araya Kak, aku fans berat Kakak!! Aku Merrynity!" ujar gadis yang ternyata namanya Araya sambil memegang tangan kanan Merry karena tangan kiri Merry menggendong Emir.
"Merrynity?" Merry mengerutkan dahinya, apa itu Merrynity? Begitu pula dengan Daris yang ingin tertawa melihat adiknya yang heboh banget.
"Itu nama fans clubnya Kak Merry, aku fans intinya Kak, fans fanatik!" ujar Araya. Merry tertawa ada-ada saja Merrynity, kenapa dia baru tahu.
tahu aku bisa ketemu Kak Merry gini!" ujar Araya yang tak henti-hentinya terkagum-kagum.
"Kakak keren banget, uuu sumpah, mainnya keren, udah tinggi semampai, apalagi kakak COLL banget orangnya!! Aww, asli kewreen!" cerocos Araya terus-menerus.
"Kak ayo foto, mau aku pamerin ke temen-temen! Asli keren banget ini mah!" Araya menarik-narik tangan Merry. "Ih Emir, turun dulu dong, ngapain sih minta gendong Kak Merry!" lanjut Araya.
Sedangkan Emir yang dipaksa turun oleh Araya langsung marah, "Ini Mama aku tante!"
Seketika Araya langsung melolot lagi, dia bergantian menatap Merry dan Daris.
"Serius? Serius haa? Gilaaaakk, Araya Lo mimpi apa bisa punya kakak ipar Merry Batari?" Araya semakin heboh.
"Wooowww!" teriak Araya heboh.
"Udah Raya, jangan teriak-teriak terus!" tegur Daris.
Ternyata Araya gadis belia berusia delapan belas tahun ini biasa dipanggil Raya. Dia adalah adik Daris yang hari ini kelulusannya dari SMA akan diadakan syukuran kecil-kecil an.
__ADS_1
"Makasih ya Raya, makasih juga untuk teman-teman Raya yang udah dukung Kakak selama ini!" ucap Merry seraya tersenyum lebar.
"Iya Kak, iihh keren banget ini sih!"
"Dilanjut lagi ayo!" Merry mengajak Raya untuk melanjutkan persiapan di dapur.
"Merry di sini juga?" sapa ibu panti yang juga ada di situ. "Iya Bu, Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, bagaimana kabar Ibu Tyas?"
"Alhamdulillah baik Bu!" jawab Merry.
Mereka terus melakukan persiapan untuk syukuran.
*****
Tepat pukul 14.30 WIB semua acara usai. Tinggal Merry, Daris, Raya, si kembar, dan Emir di sini. Mereka terus ngobrol khususnya Raya yang terus-menerus mengajak Merry berbicara. Emir seperti biasanya, menempel pada Merry. Sedangkan Luham dan Liam hanya diam di situ.
"Ih Emir enak banget, nanti Raya ikut nginap juga ya Kak?" Raya merengek ingin ikut Emir yang rencananya nanti ikut Merry pulang dan menginap di sana.
"Boleh kok, dengan senang hati!" jawab Merry.
"Luham, Liam ikut kan?" tanya Merry pada si kembar.
Luham tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Liam hanya diam. Rupanya si kembar ini masih menjadi misteri.
"Raya di rumah aja!" ujar Daris.
"Ih, nggak seru deh Kak Daris, ya udah deh, Raya di rumah aja berdoa supaya Kak Merry bisa beneran jadi kakak iparnya Raya!" Tadinya Raya kira dua orang ini udah beneran mau nikah, ternyata nggak atau lebih tepatnya belum. Heeehh zonk.
"Udah sana Luham, Liam ikut!" perintah Raya. Luham rupanya diam-diam sebenarnya ingin ikut, tapi entah apa yang membuatnya akhirnya tidak ingin ikut.
"Luham di rumah aja sama Liam!" jawab Luham. Anak ini bicaranya adem dan lembut. Kurang tahu kalau yang Liam. Merry tersenyum mendengar Luham berbicara.
"Luham kelas berapa?" tanya Merry. "Kelas empat Auntie! Habis ini naik kelas lima!" jawab Luham. Ah, baiknya anak tampan ini.
"Liam sekolahnya di mana?" Sekarang Merry ganti bertanya pada Liam. Tapi, Liam hanya diam yang membuat Daris jadi geram, "Liaam!" panggil Daris.
Liam menoleh pada papanya, lalu berkata, "Liam sekolah bareng Luham!!" ucapnya dengan keras. Liam menjawab pertanyaan Merry, tapi melihat Daris seolah-olah berbicara pada Daris.
__ADS_1
Merry hanya bisa menghela nafas, memang berbeda ya Luham dan Liam ini. Merry jadi semakin penasaran tentang Liam, tentu Luham juga.