
"Sekarang Liam pilih apa?" tanya Daris.
"Kalau tadi Liam milih truth, sekarang Liam milih dare Pa!" jawab Liam dengan mantap.
"Wish, mantap betul anak Papa!" ujar Daris sambil memberikan dua jempolnya.
"Apa ya enaknya?" Daris nampak berpikir.
"AHHA, sekarang Liam cium pipi kanan kiri dan dahi Bunda sambil mengucap aku sayang Bunda!" Ide Daris berhasil membuat Merry memelototinya. Apa-apaan sih suaminya ini, nanti Liam sedih karena dipaksa dengan hal yang tak ia sukai.
Luham dan Daris saling memandang sambil tersenyum, sedangkan Merry merasa cemas.
Liam berganti menatap Papa, Bunda, dan saudara kembarnya. Lalu, dengan ragu-ragu Liam mengangguk dan berkata, "Iya Pa!"
Liam langsung mendekat kepada Merry dan memberikan senyum termanisnya. "Liam sayang Bunda," lalu mencium pipi kanan, kiri, dan dahi Bundanya.
Merry terdiam membeku, pertanda apa ini? Apakah ini tandanya Liam telah menerima dirinya? Ah, tapi Merry tak mau berpikir sejauh itu dulu. Dia akan terus berusaha agar Liam bisa menerimanya kehadirannya seratus persen.
"Luham mau cium Bunda juga!" Luham bergegas mendekat kepada Bundanya dan langsung berebut cium dengan Liam. Emir, si anak kicik juga tak mau kalah. Dia langsung menyerobot kedua kakaknya agar dapat mencium Bunda dengan leluasa.
"Papa juga mauu!!" seru Daris ikut bergabung dengan anak dan istrinya.
Merry tertawa suami dan anak-anaknya berebut untuk menciumnya.
Ya Allah, hamba bahagia! batin Merry dalam hati.
*
"Barusan Mutiara meminta agar aku dan dia besok bertemu di cafe biasanya!" ucap Daris sambil memberikan hp nya kepada Merry. Barusan Mutiara menelponnya.
Merry menerima hp itu dan melihat bekas panggilan yang berdurasi lima menit.
"Apakah dia akan mengancam suamiku untuk yang kesekian kalinya?" tanya Merry sambil mendekat kepada Daris. Ia juga langsung merangkul tangan kiri suaminya yang sedang duduk di pinggiran ranjang.
Daris tersenyum, " Sepertinya iya, menggunakan lagu lama kalau aku tidak menuruti untuk berpura-pura selingkuh, maka dia akan membuka rahasia lama antara aku dan dia kepadamu. Dan atas terbongkarnya kejadian itu, maka istriku akan marah, kecewa, lalu meninggalkan aku dan mencari suami yang baru!"
"Tentu saja mencari suami yang baru. Mana mungkin aku tetap bucin dengan mantan suami. Life must go on Mas, hidup terus berjalan!" jawab Merry dengan semakin mengeratkan pelukannya. Lalu Daris mengecup kening istrinya lama.
"Aku cemburu Sayang!" ucap Daris sambil bibir yang maju beberapa senti.
"Lalu maumu bagaimana Mas? Kau sudah pasti punya istri baru, sedangkan aku kamu suruh nangis-nangis, bucin, gagal move on?" tanya Merry.
"Sayangnya itu tidak akan aku biarkan terjadi. Selamanya kamu milikku, bukan milik yang lain!" ucap Daris posesif.
__ADS_1
"Sayangnya kamu juga milikku selamanya, bukan milik yang lain!" jawab Merry sambil tersenyum menatap suaminya.
Daris langsung memeluk istrinya yang sangat manis ini.
"Anak-anak sudah tidur?" tanya Daris sembari tetap memeluk Merry.
"Kalau mereka belum tidur, tidak mungkin aku berada di pelukanmu sekarang!" jawab Merry.
"Iya, mereka itu sangat membantuku agar kamu tidak diambil orang lain! Pria lain yang ingin mengambilmu atau mengusikmu harus melewati kami dulu!" ucap Daris dengan serius.
"Beruntungnya aku punya empat lelaki hebat seperti kalian!" jawab Merry sambil tersenyum.
"Kalau nanti punya anak cowok lagi, akan ada
lima lelaki yang melindungi kamu!" ucap Daris.
"Aku sangat beruntung. Tapi nanti kalau anaknya cewek, kalian berempat harus melindungi kami berdua!" ujar Merry.
"Tentu saja!" jawab Daris dengan mantap.
*
"Daris, aku sudah menunggumu sangat lama!" ujar Mutiara karena Daris datang terlambat setengah jam.
Hanya saja, Daris sangat malas harus berurusan dengan Mutiara. Jadi ia sengaja memperlambat semuanya.
"To the point saja, ada apa?" tanya Daris sambil duduk berhadapan dengan Mutiara.
Mutiara tersenyum sambil menatap lekat Daris,
"Kau semakin tampan Daris, semakin berkharisma!"
Tentu saja, setiap hari istriku memberiku cinta secara full sampai tumpah-ruah. Memberi kehangatan setiap malam dan kebahagiaan yang setiap hari semakin bertambah! batin Daris sampai tak sadar ia tersenyum tipis saat memikirkannya.
"Daris!" panggil Mutiara karena Daris asik dengan pikirannya sendiri.
"To the point Mutiara, ada apa?" tanya Daris dengan serius.
"Aku ingin kamu menemani aku ke villa puncak lusa, orangtuaku akan datang Daris. Kamu harus bertemu dengan mereka!" ucap Mutiara sambil tersenyum.
"Aku akan datang bersama istriku!" jawab Daris dengan enteng.
Mutiara langsung merubah raut wajahnya serius. "Bersama istrimu?"
__ADS_1
Daris mengangguk, "Tentu saja, suami harus datang bersama istri!"
"Kita datang sebagai pasangan Daris!" ujar Mutiara yang tak terima dengan perkataan Daris barusan.
"Kamu sudah melewati batas Mutiara. Apa kamu tidak takut kalau kedua orangtuamu tahu tentang masa lalu kita dan tahu kalau aku sudah beristri?"
"Bukankah itu lebih baik? Bisa jadi mereka langsung menikahkan kita?" jawab Mutiara.
"Tentu saja itu memalukan. Mereka tidak akan menyangka kalau sekarang anaknya menjadi perebut suami orang!" jawab Daris membuat Mutiara emosi.
"Bukankah kamu akan lebih takut kalau istrimu tahu tentang masa lalu kita?" tanya Mutiara sambil tersenyum licik.
Daris juga ikut tersenyum licik, " Tentu saja takut!"
Mutiara langsung merubah raut wajahnya bahagia, itu artinya Daris akan menuruti permintaan.
"Jangan lupa lusa Daris, kau bisa ke apartemenku terlebih dahulu!" ucap Mutiara sambil tersenyum.
"Aku takut, tapi itu dulu!" ujar Daris membuat Mutiara bingung apa maksudnya.
"Sekarang sudah tidak lagi!" lanjutnya.
"Tidak lagi? Apa artinya kamu sudah tidak takut kehilangan Merry?" tanya Mutiara memastikan apa yang ada dalam pikirannya sambil tersenyum licik. Apakah perjuangannya selama ini akan terwujud?
"Aku tidak akan pernah kehilangan istriku!" jawab Daris sambil tersenyum.
"Apa maksudmu Daris?" Ternyata jawaban Daris tak sesuai keinginannya dan membingungkan.
"Istriku sudah tahu. Dia tidak marah dan kami akan bersama selamanya!" ucap Daris pelan sambil tersenyum miring.
Bruak, Mutiara menggebrak meja. "Apa-apaan ini Daris? Apa maksudmu?"
"Maksudnya adalah kami hanya akan bersama selamanya, sampai maut memisahkan!" Ola datang dari arah belakang Mutiara.
Mutiara langsung berbalik badan ke arah Merry.
"Ka-kamu?" Mutiara melihat penampilan Merry dari ujung kaki sampai ujung rambut. Saat pandangannya sampai pada wajah Merry, Merry tersenyum kepadanya. Wanita yang ia hina karena tidak berhijab kini telah menutup auratnya. Tentu saja bukan karena takut dihina oleh Mutiara lagi, tapi karena Allah sudah memberikan hidayah kepadanya.
"Masih ingat siapa saya kan Mbak? Saya Merry!" Secara usia Merry terbilang jauh dengan Mutiara, maka dia harus sopan dengan memanggil Mbak.
Sekaligus mengingatkan bahwasanya Merry lebih muda daripada dia. Kalau istrinya saja masih muda seperti ini, untuk apa Daris lebih memilih yang lebih tua? Biarkan saja caranya sedikit menyentil hati, karena spesies pelakor ini memang perlu disentil hatinya agar sadar.
"Saya istrinya Mas Daris!" Merry sengaja menekan kata istrinya Mas Daris.
__ADS_1