
"Boleh lah Mer, nanti kalau Lo udah pulang Lo bisa main ke rumah sepuas Lo. Itu kan rumah Lo, ya masa nggak boleh sih Lo datang!" jawab Amar.
Merry tersenyum sekilas. Dia beralih menatap Mommy nya. Sudah tidak ada tatapan ketegasan, keberanian, dan semangat di matanya. Hanya ada tatapan sedih dan lelah.
"Merry capek!" ucapnya kepada Mommy Tyas.
Mommy Tyas mengusap kepala Merry dengan lembut.
"Merry mau nyerah!" lanjutnya.
"Menyerah untuk apa, Sayang?" tanya Mommy Tyas.
Sejenak Mommy Tyas dan Amar saling berpandangan. Cukup takut jika dugaan mereka benar.
Merry menunduk. Merry tidak mengerti kenapa dirinya merasa sangat lelah dan ingin menyerah dari semua ini.
Dia sama sekali tidak bersemangat.
"Menyerah apa? Merry yang gue kenal nggak gampang nyerah!" sahut Amar mencoba mengingatkan Merry.
Perasaan kehilangan, kecewa, dan marah yang membaur menjadi satu membuat Merry sendiri pun tidak bisa mengenali dirinya saat ini.
Entah mengapa dirinya merasa lemah, lelah, dan ingin menyerah.
"Merry ingin tinggal bersama Mommy lagi. Boleh kan kayak dulu lagi?" tanya Merry.
Mommy Tyas dan Amar tergelak.
Sebenarnya ini kabar bahagia bagi Mommy Tyas dan Amar. Tentu saja Mommy Tyas memperbolehkan. Dia sangat senang bisa berkumpul setiap hari dengan anaknya. Apalagi jika ada Merry pasti ada ada anak-anaknya Merry yang ikut serta. Pasti suasana rumah berubah meriah setiap harinya.
Namun, apa Daris mengizinkan jika mereka pindah ke rumah Mommy Tyas?
Sebentar, ini juga bukan Merry yang Mommy Tyas kenal. Merry yang Mommy Tyas kenal, dia sangat ingin hidup mandiri setelah menikah. Tidak peduli walaupun hidupnya tidak semewah saat tinggal bersama Mommy nya, tapi dia tetap ingin tinggal mandiri bersama suami dan anak-anaknya.
Namun, tidak mungkin Mommy Tyas menolak permintaan Merry. Pasti dengan senang hati akan menyetujui walaupun ini tidak seperti yang biasanya.
"Boleh, Mommy sangat senang. Nanti kan banyak temennya di rumah. Ada kamu, menantu, dan cucu mommy. Pasti Mommy sangat bahagia!" jawab Mommy Tyas dengan disertai senyuman di bibirnya.
Tidak ada senyum di bibir Merry.
Merry menggeleng perlahan.
__ADS_1
"Hanya sendiri. Tidak ada mereka!"
Jawaban Merry sontak membuat Mommy Tyas dan Amar terkejut.
Apa maksudnya? Kenapa begini?
"Merry lelah!" lirih Merry.
"Lo mau ke rumah boleh, tinggal sepuas Lo, bawa anak dan suami Lo gapapa!" sahut Amar.
Walaupun Amar mencintai Merry. Sakit hati dengan pernikahan Merry bersama Daris. Mengancam Daris ingin merebut Merry darinya. Namun, jika Merry memang mencintai Daris, tidak ada niatan betul dalam hatinya untuk memisahkan Daris dengan Merry.
Jika Merry mencintai Daris, lalu Amar memisahkan, bukankah hal itu membuat Merry sedih?
Amar hanya mau Merry bahagia.
"Iya, Nak, silahkan, bebas!" Mommy Tyas ikut menimpali.
"Nanti Mommy bantu bicara pada Daris ya. Pasti Daris juga menyetujuinya!" Mommy Tyas yakin Daris sangat mencintai Merry.
Melihat keadaan Merry yang seperti ini, pasti Daris mengijinkan jika mereka tinggal di rumah Mommy Tyas.
Merry menggeleng. "Merry ingin, tapi tanpa mereka!"
Ternyata, sedari tadi dia mendengar semua percakapan diantara mereka bertiga.
Mommy Tyas tergelak melihat wajah Daris yang lebam.
Mommy Tyas langsung menoleh kepada Amar. Pasti ini pelakunya Amar. Sudah bisa dipastikan jika pelakunya adalah Amar.
"Sayang, gapapa. Kamu mau apa sekarang gapapa, aku akan melakukan apapun asal kamu nggak sedih lagi. Kamu bisa seperti dulu lagi!" lanjut Daris sambil meraih tangan Merry untuk digenggam.
Dengan perlahan Merry menarik tangannya yang digenggam oleh Daris. Entah mengapa rasanya Merry enggan untuk berbicara dan berdekatan dengan Daris.
Rasa kecewa itu muncul. Dia kecewa karena Daris tidak tegas dan masih memberi celah untuk Ambar. Merry enggan untuk didekati Daris lagi.
"Kalau bukan gara-gara dia yang ingin kembali pada kamu lagi, anakku tidak akan pergi!" Bagai anak panah yang melesat menembus hati Daris.
Merry berkata dengan dingin. Menyalahkan Daris. Setiap kata yang keluar dari mulutnya berhasil mencabik hati Daris.
Mommy Tyas dan Amar sangat terkejut mendengar semuanya. Kenapa jadi seperti ini?
__ADS_1
Perih. Daris merasa perih mendengarnya. Iya, Daris memang patuh disalahkan. Mungkin mulutnya bisa memaki dan mengusir Ambar. Dari luar dia nampak kejam kepada Ambar. Namun, hatinya tidak bisa dibohongi. Daris memang tidak betul-betul kejam kepada Ambar.
Bagaimanapun Ambar adalah ibu dari anak-anaknya. Daris juga lama berumah tangga dengan Ambar.
Iya, Daris memang memberi celah kepada Ambar. Maksud dari memberi celah adalah tidak ingin benar-benar menyakiti Ambar.
Namun, sekarang, karena kurang tegasnya dia dalam menghadapi Ambar, Daris kehilangan calon anaknya. Bahkan, sekarang, dia kehilangan Merry yang dulu.
"Kamu masih mencintai dia. Silahkan jika ingin kembali pada dia. Aku akan pergi!"
Dada Daris berdegup kencang. Bukan kalimat seperti ini yang Daris harapkan. Bahkan, kalimat seperti ini tidak pernah muncul diangan-angan Daris.
"Tidak Mer. Semuanya sudah berlalu. Aku tidak tegas karena dia ibunya anak-anak. Bukan ada maksud lain. Jangan pernah berbicara seperti itu lagi ya!" Daris sangat takut jika Merry meninggalkannya.
"Mommy dan Kakakmu keluar dulu ya. Selesaikan permasalahan kalian berdua terlebih dahulu!" Mommy Tyas pamit. Ini harus diselesaikan berdua.
Setelah di dalam ruangan hanya tersisa Merry dan Daris.
"Nggak gitu Mer. Kamu tahu sendiri kan semuanya udah selesai. Aku ngga pernah berharap juga mau balik sama dia!" Daris menggenggam tangan Merry.
Merry menghempaskannya dengan kasar.
"Tapi gara-gara itu aku harus kehilangan anak aku Daris. Gara-gara kamu dan mantan istri kamu!" bentak Merry.
Daris berusaha memeluk Merry, tapi Merry mendorongnya.
Mata Merry berkaca-kaca. Yang sesungguhnya terjadi adalah rasa menyalahkan diri sendiri yang teramat besar dalam hati Merry.
Namun, ia melampiaskannya dengan menyalahkan orang lain. Itu semua karena Merry belum ikhlas.
"Aku akan pulang ke rumah Mommy!" ucap Merry.
Daris menggeleng. Dia menangis. Daris memohon kepada Merry.
"Enggak Mer, jangan tinggalkan aku dan anak-anak. Ada anak-anak Mer. Aku minta maaf kalau aku salah. Tolong jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan kami!"
"Apa peduliku pada anak-anak? Apa peduliku pada kamu?" teriak Merry. Tangisnya pecah.
Daris sangat terkejut mendengarnya. Daris terus berusaha memeluk Merry. Apa yang barusan dia dengar memang sangat menyakitkan. Tapi Daris tahu, hal itu tidak benar-benar murni dari hari Merry.
Ini hanya emosi sesaat karena kekecewaan Merry. Karena Merry belum bisa menerima kenyataan ini.
__ADS_1
Merry terus menolak pelukan dari Daris. Walaupun akhirnya ia merasa lelah di pelukan Daris. Merry terus memukul Daris dengan lemah. Dia juga menangis di pelukan Daris.
Tidak selamanya orang yang terlihat kuat akan selalu kuat. Akan ada saat dimana orang tersebut lemah dan begitu lemah.