
"Sama-sama Pak!" jawab Merry.
Hening menyelimuti mereka berdua.
"Luham sama Liam gimana kabarnya Pak?" Merry memutuskan untuk bertanya bagaimana keadaan si kembar.
"Baik Mer, Alhamdulillah! Malahan Luham suka nanya kapan kamu ke sana lagi?" jawab Daris yang pasti bersemangat jika membahas anak-anaknya. Mereka mencoba sesantai mungkin setelah adanya pembicaraan tentang pernikahan tadi. Sudah dewasa, yang santai aja lah!
"Si kembar antusias kalau membahas tentang kamu! Kadang suka membicarakan tentang kamu sama Raya!" lanjut Daris.
Merry berpikir, oh ya si kembar? Bukan hanya Luham saja? Kalau Raya sih Merry percaya banget, mereka aja sering chatting an.
Merry tersenyum ragu, "Kembar?" tanya Merry dengan ragu.
"Iya kembar, Luham sama Liam!" jawab Daris dengan yakin.
Merry membalasnya dengan manggut-manggut seraya tersenyum.
"Kenapa, kamu ragu ya? Ragu sama Liam?" Pas, tidak meleset sama sekali. Tebakan Pak Duda ini sangat benar, Merry memang meragukan apakah Liam benar-benar antusias seperti Luham.
Merry hanya mengangguk mantap seraya tersenyum.
"Menurut pengamatan saya selama ini, Liam memang begitu kalau ada wanita yang menurut dia dekat dengan saya! Dia seperti mengibarkan bendera perang pada wanita itu! Bahkan, bukan hanya Liam saja, Luham pun sama! Ya baru kali ini sih sama kamu Luham terlihat baik, tidak seperti biasanya!" jelas Daris yang menjadi alasan kuat untuk memilih Merry menjadi ibu dari mereka.
"Liam memang tidak banyak bertanya seperti Luham tentang kamu, tapi dia suka menyimak jika Luham dan Raya membicarakan kamu!" lanjut Daris.
Ooh, jadi gitu! batin Merry.
"Syukurlah deh Pak, jadi saya tidak terkesan jahat di mata mereka!" Merry bercanda demikian seraya tertawa.
"Makanya saya milih kamu jadi ibu dari mereka!" jawab Daris yang membuat Merry terdiam.
Nggak seru deh Pak Daris ini, ngapain sih bahas itu lagi! Begitulah kira-kira isi otak Merry.
"Allahuakbar Allahuakbar..." Suara adzan Maghrib berkumandang. Merry sangat lega, akhirnya setelah ini dia tidak akan terjebak lagi berdua bersama Daris di sini. Setelah Daris akan pulang, huft legaa. Eits, tapi itu artinya Emir ikut pulang dong, yah, jadi sedih deh!
"Udah adzan Pak!" Merry berkata demikian walaupun sebenarnya Daris juga dengar kok suara adzan.
"Iya, sholat ya Mer!"
__ADS_1
Ya iyalah Dudaa, anak kecil aja ngerti kalau adzan gini udah waktunya sholat! batin Merry sedikit mengolok-olok Daris. Astaghfirullah.
"Di mana tempat sholatnya?" tanya Daris.
"Di sana Pak!" balas Merry sembari menunjuk arah menuju tempat sholat. Hanya arahnya saja karena tempat sholat masih masuk, terus belok kiri, masuk lagi, dan sampai deh!
"Kita jamaah Mer?" tawar Daris sembari tersenyum manis.
Gleekk, Merry menelan salivanya susah payah. Dimohon otak ini harus waras, maksudnya jamaah itu ya bareng Emir dan Mommy Tyas juga. Bukan jamaah berdua seperti pasangan suami istri.
Merry tersenyum elegan, "Iya Pak, pasti Mommy dan Emir sudah menunggu untuk ikut berjamaah! Mari Pak!" ajak Merry dengan elegan dan santai.
***
Setelah perkataan Daris yang ingin melamar Merry tadi, Daris terlihat berbeda saat bersikap pada Merry. Dia bersikap lebih hangat dan banyak senyum pada Merry, membuat Merry jadi merinding sendiri.
Bahkan, Mommy Tyas juga bisa merasakan perbedaan itu. Tapi, bagi Mommy Tyas itu hal lumrah, mungkin karena mereka semakin mengenal jadi semakin santuy. Maklum lah, namanya juga Mommy Tyas belum tahu apa-apa.
Namun, berbeda dengan Merry, ia sangat paham perubahan Daris sekarang karena memang mereka berdua ada perjanjian untuk saling mengenal lebih dalam. Nggak ngerti lagi deh, Merry jadi bingung.
Merry kira setelah sholat Maghrib, Daris langsung pulang ke kandangnya. Ternyata, masih bertahan di sini. Aduduh, pengen ngusir tapi nggak sopan. Mana lagi-lagi Mommy Tyas dan Emir memilih pergi ke ruang keluarga di lantai dua. Rasanya pengen ikut sama Emir aja ke atas, daripada harus terjebak lagi bersama duda keren beranak tiga ini. Takut kalau diajak bahas pernikahan lagi. Heh, Merry jadi parno sendiri.
Dag dig dug ser hati Merry, please Daris jangan bahas nikah lagi! Masih bingung, belum klik dan belum minta petunjuk sama Allah! Tolong, jangan!! Gerutu Merry dalam hati sembari ketar-ketir.
"Jalan yuk Mer kapan-kapan sama anak-anak!" ajak Daris. Boleh lah ya, semacam sarana untuk pdkt. Nah, biar lebih menteub pdkt nya ngajak anak-anak. Ya, sembari memantapkan hati kalau Merry memang wanita yang dikirim Allah untuk menjadi pelangi dalam kehidupannya dan anak-anaknya.
Merry langsung membuang nafas lega.
Alhamdulillah gue kira mau bahas nikah lagi, ternyata enggak! batin Merry.
Sesaat kemudian rasanya Merry ingin menertawakan dirinya sendiri.
"Geer Lu Mer, diajak jalan noh bukan diajak ke KUA! batin Merry.
"Weekend aja gimana?" tanya Daris lagi. "Saya seminggu ke depan full banget soalnya!" lanjut Daris.
Kalau Daris orang sibuk, begitu juga dengan Merry. Mohon maaf sama-sama sibuk!
"Sama sih Pak, saya juga sibuk! Emang mau jalan ke mana?" Sebenarnya Merry ingin menolak ajakan Daris, rasanya nggak pengen deh jalan gini. Tapi kalau ingat anak-anak kok ya jadi kasihan kalau nolak, apalagi ini pasti unik bisa jalan sama pasukan lengkap bocilnya Pak Daris.
__ADS_1
"Nanti buat list nya dulu!" balas Daris sambil terkekeh.
Merry jadi tertawa, gayanya Pak Daris. Kirain ngajak jalan udah punya tujuan mau ke mana, eh nggak tahunya masih mau buat list. Jangan bilang nanti isi list nya mau ke Kantor Urusan Agama. Heh, ngapain juga ke sana, dasar nih otak mulai miring.
"Nanti kabarin aja deh gimana lanjutannya Pak!" pinta Merry.
"Atau tanya anak-anak aja pengen kemana, ngikut maunya anak-anak aja!" lanjut Merry.
Wah, Daris jadi baper. Daris harus memastikan kalau rencana mereka untuk keluar benar-benar terwujud, pasti akan menjadi kencan yang seru.
"Pasti, nanti aku tanyakan!" jawab Daris yang super excited.
Merry jadi bingung, mau bahas apa lagi nih. Kenapa juga Daris nggak cepetan pulang. Daris aja, tapi Emir nya jangan! Heh, mau mu sendiri Mer!
"Kamu ada rencana buat lanjut S2 nggak?" Daris mencoba mencari topik. Sengaja ia mengusung topik itu mengingat dulu Merry antusias saat membahas pendidikan.
"Untuk saat ini tidak, nggak tahu sih tidak atau belum! Tapi bisa aja tiba-tiba pengen lanjut!" Jujur, Merry belum ada niat sih, tapi tidak menutup kemungkinan untuk lanjut juga.
"Lanjut bagus Mer, asal nantinya kamu bisa membagi waktu antara kuliah dan keluarga! Bisa bagi waktu untuk anak-anak dan suami kamu!" tutur Daris tanpa ragu.
Maksudnya suami itu Anda ya Pak Daris? Terus anak-anak itu juga anak-anak Anda? batin Merry sembari menahan tawa.
"Suami dan anak-anak saya gituu ya?" Merry mencoba bercanda sambil terkekeh. Sedikit demi sedikit Merry mulai bercanda pada Daris. Bukan direncakan, tapi lebih ke refleks saja.
Daris ikut terkekeh.
Bisa jadi anak-anak kita Mer! batin Daris.
"Yang penting sekarang ilmu yang saya punya bermanfaat untuk sekitar Pak! Masalah lanjut pendidikan mungkin next bisa saja!" tutur Merry dengan santai.
Menurut Merry, setiap orang punya pilihan hidupnya masing-masing. Untuk saat ini, pilihan Merry masih seperti itu.
------------------------------------------
Makasih udah bacađź–¤
Jangan lupa like, komen, jadiin favorit, dan vote ya!! Biar Author makin semangat nulisnya..
Kalian luar biasaađź–¤
__ADS_1