Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Papa Kita Gitu Loh!


__ADS_3

Hari yang dinantikan telah tiba.


Hari Minggu, hari dimana Daris akan menepati janjinya untuk anak-anak.


Sebisa mungkin Daris mengosongkan jadwal di hari Minggu.


Bukan hanya Daris, tapi Al juga ikut mengosongkan jadwalnya hari ini.


Nyatanya, jika pandai mengaturnya, ternyata bisa.


Selama beberapa hari ini juga Daris berubah punya waktu untuk anak-anak. Daris menemani mereka bercerita. Mencoba bertanya tentang bagaimana keseharian mereka. Memberi solusi saat mereka ada masalah.


Ternyata bisa. Dan jika diniatkan memang tidak sesulit yang dipikirkan.


Dan ternyata, hal ini berhasil membuat Daris jauh dari stress walaupun pekerjaannya menumpuk.


Anak-anak mampu mendinginkan otaknya. Candaan mereka dan gaya bicara mereka yang polos mampu menghibur hati Daris.


Dulu juga Daris sibuk bekerja, tapi masih ada waktu untuk anak-anak. Namun, sejak ada Merry di kehidupannya, Daris benar-benar menyerahkan anak-anak kepada Merry.


Namun, setidaknya sekarang Daris mau berubah. Dia tidak ingin menyia-nyiakan masa kecil anak-anaknya yang tidak bisa terulang dua kali. Ini akan menjadi momen berharga di sepanjang hidupnya dan sepanjang hidup anak-anak.


Ternyata, bukan hanya Daris, Merry, dan Emir yang akan menonton pertandingan futsal Luham dan Liam. Ada Al dan Raya yang ikut menonton.


Luham dan Liam sangat bahagia. Mereka sangat bersemangat. Mereka akan memberikan yang terbaik yang mereka bisa agar tidak mengecewakan keluarganya yang bersemangat untuk menonton dan mendukungnya.


Luham dan Liam sudah berangkat terlebih dahulu karena harus ada persiapan sebelum bertanding.


Tadi Daris juga yang mengantarkan mereka ke lapangan yang akan digunakan untuk bertanding.


Selama di jalan tadi juga anak-anak terus mengingatkan kalau papanya jangan sampai lupa datang lagi.


Mereka masih takut jika tiba-tiba papanya tidak jadi menonton.

__ADS_1


Luham dan Liam juga menitip pesan jika Om Al dan Tante Raya juga wajib hadir. Tidak boleh jika tidak hadir.


Daris terus tertawa mendengar anak-anaknya yang begitu cerewet. Benar-benar khawatir tidak ada yang mendukung.


"Pa, nanti seumpama kita kalah bagaimana?" celetuk Liam saat berada di dalam mobil perjalanan ingin berangkat ke tempat pertandingan.


"Nggak percaya diri kalau bakalan menang?" jawab Daris dengan ganti bertanya.


"Takut saja!" jawab Liam.


Mereka senang keluarganya datang mendukung. Namun, mereka juga takut mengecewakan keluarganya jika mereka kalah.


Daris tersenyum.


"Dalam sebuah pertandingan, perlombaan, atau apapun itu, kalah menang itu sudah biasa!" ujar Daris.


"Jadi?" tanya Luham.


"Jadi ya udah. Tapi walaupun begitu, ya tidak boleh dijadikan alasan untuk bersantai-santai. Kita berlomba pasti yang dicari selain pengalaman, juga pasti kemenangan. Jadi, kalian harus berusaha memberikan yang terbaik yang kalian bisa. Harus mengusahakan yang terbaik untuk pertandingan kalian. Nanti kalau diakhir ternyata kalah, ya namanya juga pertandingan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Yang paling penting kalian sudah memberikan yang terbaik yang kalian bisa!" jelas Daris.


Daris bisa berbicara seperti ini juga bukan karena dia merasa lebih bijak, lebih baik, dan lebih pandai dari anak-anaknya.


Hanya saja, Daris terlahir lebih dulu di dunia ini daripada mereka. Segala pengalaman yang rasanya manis, pahit, asam, asin sudah ia rasakan lebih dulu dibandingkan anak-anaknya.


"Tapi nanti Papa, Bunda, Om Al, dan Tante Raya kecewa nggak kalau seandainya kita kalah?" tanya Luham.


"Belum bertanding sudah ngomong kalah. Ngomong yang bagus. Ucapan adalah doa!" jawab Daris sembari terkekeh.


Dibalik kekhawatiran mereka jika mereka akan kalah adalah hal positif yang bisa Daris simpulkan. Berarti mereka tidak sombong. Mereka tidak merasa jika mereka lah yang paling jago.


Walaupun sebetulnya, bukan rahasia lagi jika tim futsal Luham dan Liam ini terkenal berprestasi. Sering menang dalam setiap pertandingan.


Mereka menyadari di atas langit masih ada langit. Mereka hebat, tapi pasti ada yang lebih hebat dari mereka.

__ADS_1


Namun, tentu ada hal negatif juga. Dengan mereka terus berpikir akan kekalahan, hal ini takut membuat mental mereka down sebelum bertanding.


Padahal, mental down sangat mempengaruhi pertandingan.


Namun, sekali lagi Daris percaya kepada anak-anaknya dan juga kepada anggota tim futsal yang lainnya. Mereka hebat dan mereka pasti bisa.


"Iya sih!" jawab Liam yang menyadari jika ucapan adalah doa.


"Tapi kecewa nggak Pa?" tanya Liam.


"Ya, kecewa lah, udah jauh-jauh nonton masa yang ditonton kalah!" jawab Daris sambil tersenyum jail.


Luham dan Liam langsung berpandangan.


"Yah, Papa. Terus gimana dong seumpama kita kalah? Kan dalam pertandingan itu pasti ada yang kalah dan ada yang menang!" ujar Luham.


Daris tertawa mendengarnya.


"Udah, jangan ngomong kalah-kalah terus. Usaha dan berdoa. Pasti kalian menang!" ujar Daris.


"Tapi kan kita takut kalau Papa, Bunda, Om Al, dan Tante Raya kecewa!" Masih saja Liam takut keluarganya kecewa.


"Selagi kalian sudah memberikan yang terbaik. Kalian dan tim kalian bisa tampil hebat dan maksimal. Apapun hasilnya ya itu yang terbaik untuk kalian. Enggaklah Papa, Bunda, Om Al, dan Tante Raya nggak mungkin kecewa. Apapun hasilnya itu!" jawab Daris.


"Kalau kalian kalah, berarti kalian harus terus belajar, usaha yang lebih giat, dan setidaknya kalian sudah memberikan yang terbaik yang kalian bisa. Kalaupun menang, ya harus terus belajar. Jangan mudah puas. Ibarat pisau nih dia tajam banget, tapi kalau nggak pernah diasah ya dia bakalan tumpul. Jadi kalaupun menang ya itu hasil kalian, harus terus belajar, dan nggak boleh sombong!" lanjut Daris.


"Hehehe, aman!" jawab Luham sembari tertawa.


Daris mengernyitkan dahi. Aman, maksudnya.


"Aman gimana?" tanya Daris.


"Ya, aman, apapun hasilnya amaan. Papa emang best pokoknya. Iya kan Liam?" ujar Luham.

__ADS_1


"Iya, dong. Papa kita gitu loh, hahaha!" jawab Liam.


Daris terkekeh sembari menggeleng. Anak-anak bujang nya ini emang. Hmm.


__ADS_2