Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Hukuman


__ADS_3

"Tiga ya Bang, dibungkus!" ucap Ambar kepada abang penjual bubur yang selalu berjualan setiap pagi di komplek rumahnya.


Di rumahnya hanya hanya ada dia, ibunya, dan anaknya. Ambar berencana untuk sarapan bubur pagi ini.


Saat Ambar sedang menunggu buburnya sedang disiapkan, ada dua tetangganya yang datang untuk membeli bubur juga.


Ambar tersenyum kepada tetangganya itu. Tetangganya juga membalas senyumannya.


"Sarapan bubur juga nih Mbak Ambar?" tanya salah seorang ibu-ibu.


"Iya Bu, lagi pengen sarapan bubur!" jawab Ambar.


Setelah menjawab pertanyaan, Ambar fokus kepada handphonenya karena terdapat notifikasi pesan. Ambar terlalu fokus kepada membalas pesan itu. Tidak jarang juga ia tersenyum sembari mengetik balasan.


Kedua ibu-ibu itu saling bertatapan, lalu menyebikkan bibir.


"Palingan juga suami orang lagi!" bisik salah seorang ibu kepada ibu lain. Ambar masih bisa mendengarnya.


Perasaan Ambar berubah tidak enak. Ia menatap kedua ibu-ibu itu dengan ragu. Lalu, ia mencoba mengabaikan dan kembali fokus pada handphone nya.


"Luham dan Liam gimana kabarnya, Mbak?" tanya salah seorang ibu-ibu.


"Baik, mereka baik" Ambar tergagap sambil meremas handphone nya.


"Jelas baik sih, kan sekarang udah punya ibu yang baik banget. Pasti full dong kasih sayangnya!" sahut ibu yang lain.


Ambar mencoba tersenyum. Dia mengangguk. Iya benar, sekarang mereka punya ibu yang baik.


"Udah lama banget nggak lihat mereka. Terus ada yang kecil juga kan ya Mbak, siapa itu namanya?"


"Namanya Emir!" jawab Ambar.


"Mbak Ambar yang santai dong. Orang kita cuma ngobrol. Biasa ibu-ibu ngobrol aja tentang anaknya. Jangan khawatir kita nanya yang aneh-aneh, nggak bakalan nanya kita. Soalnya udah tahu juga yang sebenarnya gimana!" ucap salah seorang ibu yang bisa membaca gelagat Ambar yang seperti tidak nyaman.


"Saya ini percaya pasti mental Mbak Ambar bagus. Soalnya kalau mentalnya nggak bagus, nggak mungkin berani dong mau ngambil suami orang. Apalagi sampai, astaga, mau menyakiti hati wanita lain. Apalagi yang disakiti bukan hanya batin, tapi juga mau menyakiti secara fisik." celetuk ibu yang lain.


Ambar hanya tertunduk malu. Mau sakit hati dibicarakan seperti itu, tapi memang faktanya seperti ini.


Sejujurnya, semenjak keluar dari penjara, ini bukan kali pertama ia diperlakukan seperti ini. Bahkan ada yang lebih parah dari ini dengan mengatakan bahwa dia pembunuh.


Namun, faktanya, walaupun sering diperlakukan seperti ini, tetap tidak membuat mental Ambar kuat. Dia tetap malu dan tidak enak hati saat mendapat ejekan atau kecaman dari orang lain.


"Lagi pula sudah bagus dulu jadi istrinya Pak Daris, eh malah disia-siakan, sekarang nyesel dan mau balik lagi!"


Ambar sudah tidak kuat lagi berada di sini. Kenapa abang tukang buburnya lama sekali menyiapkan pesanannya.

__ADS_1


"Hati-hati saja Mbak. Mbak Ambar punya anak cewek loh. Ih ngeri kalau sampai nanti anaknya dijahatin gitu sama perempuan lain. Takut kena karma lah Mbak!" ujar ibu-ibu itu.


Ambar tergelak. Sejahat-jahatnya Ambar, tapi sebagai seorang ibu tentu dia tidak rela jika anaknya nantinya disakiti oleh orang lain.


"Sudah Mbak!" ujar tukang buburnya.


Ambar yang sudah tidak kuat bergegas mengambil bubur itu, membayarnya, dan segera meninggalkan tempat ini.


"Saya duluan ibu-ibu." Pamit Ambar, lalu bergegas kembali ke rumahnya.


Saat ini, hanya rumahnya lah tempat paling nyaman dan aman untuknya. Di luar, Ambar sering mendapat cemoohan dari orang lain.


Nyatanya, Ambar hanya berani menjadi pelakor, tapi tidak berani menghadapi resiko yang ia dapatkan. Hukuman dari masyarakat ini membuatnya malu dan harus menguatkan mental saat ingin keluar rumah.


Dan yang lebih parah lagi, bukan hanya dia


yang dicemooh oleh masyarakat sekitar. Termasuk ibunya Ambar juga menjadi sasaran cemoohan masyarakat. Hal itu sangat menyakitkan bagi Ambar.


**


"Pisang goreng pisang goreng!" seru Raya sambil membawa sepiring pisang goreng yang masih panas.


"Mau mau!" Teriak Luham dan Liam. Emir juga tidak kalah antusias. Dia ikut berteriak dan berlari mendekat ke arah tantenya yang berjalan dari arah dapur.


"Iya, sebentar, ini panas. Emir tunggu di sofa ya!" Sudah biasa bagi Raya untuk mengatasi keponakannya yang banyak itu.


Di sofa, ada Daris dan Al yang sedang berbincang-bincang.


"Kakakmu mana?" tanya Daris kepada Raya.


"Masih di dapur, ngelanjutin sisa pisang goreng yang belum digoreng!" jawab Raya sembari mengambil satu pisang goreng.


"Aw aw, panas!" keluh Raya sambil bergegas mengambil tisu untuk menjadi alas bagi pisang gorengnya yang masih panas. Agar panasnya pisang goreng tidak langsung mengenai tangannya.


Padahal tadi Raya sendiri yang memberi tahu Emir jika pisang gorengnya masih panas. Tapi, dia sendiri sudah tidak sabar untuk mencoba.


"Nunggu anget Ray!" ujar Al.


"Hm, keburu pengen, udah ngiler nih dari tadi!" jawab Raya sambil menggigit sedikit demi sedikit pisang gorengnya.


"Udah, cobain aja Om, enak loh!" ujar Raya kepada Al.


"Om Om, Om Al buruan cobain Om!" Daris mengulangi panggilan Raya kepada dengan keras. Niatnya untuk mengejek Al yang dipanggil Om oleh Raya.


"Gapapa sekarang Om, besok juga Ayang manggilnya. Iya kan Ray?" Goda Al kepada Raya sambil menaikkan turunkan alis kirinya.

__ADS_1


Raya bergidik ngerti digoda oleh Om Om di


depannya ini.


Mana Om Om nya nggak punya rasa takut lagi, berani menggoda Raya di depan kakaknya.


"Bye, Raya mau bantu Kak Merry lagi, daripada digoda sama Om Om di sini!" jawab Raya cepat, lalu berlari kembali ke dapur.


Daris tidak mampu menahan tawanya lagi.


"Yang semangat ya, Om Al!" ucap Daris sambil memukul-mukul pundak Al.


Al tidak marah. Dia juga ikut tertawa sambil menggeleng. Demi apa dia bisa suka sama Raya.


Sepertinya perjuangan Al akan sulit dan


penuh tantangan.


Atau mungkin Al harus mengganti strateginya selama ini?


Jika biasanya dia akan bersikap kocak kepada Raya. Apakah perlu dia langsung berubah jadi pria yang romantis kepada Raya.


Tidak tidak, melihat dari pribadi Raya yang seperti itu, bisa-bisa dia langsung takut kepada Al. Bisa-bisa dia langsung bertanya, "Lagi kesambet apa Om?"


Tenang, Al, perlahan saja. Raya kan juga masih kuliah. Sepertinya dia juga belum mau jika diajak serius, kecuali sama laki-laki yang dia cintai.


Jangan sampai laki-laki yang Raya cintai tiba-tiba mengajak Raya serius, wah, bisa kalah telak Al.


"Bengong aja Lu!" sentak Daris membuat Al kembali tersadar.


"Udah, kalau suka ya perjuangkan!" lanjut Daris.


Al tersenyum. Haha, dia malu ternyata Daris mengerti jika dia sedang memikirkan Raya.


"Ya udah, gue mau ke dapur dulu ya. Mau lihat istri gue. Lu jagain anak-anak aja di sini!" pamit Daris.


"Mentang-mentang yang punya istri!" ejek Al.


"Iya dong, makanya buruan nikah!" jawab Daris, lalu berlalu ke dapur.


Al menyadarkan tubuhnya di sofa. Lalu tanpa sengaja matanya melirik ke arah pisang goreng. Al menelan ludahnya dengan susah payah. Pisang goreng yang sangat menggoda.


Al mengambil pisang goreng itu, lalu mulai menyantapnya. Masih panas, tapi sudah tidak sepanas tadi.


"Enak juga pisang goreng buatan calon kakak ipar dan calon istri!" Al memuji pisang goreng buatan Merry dan Raya.

__ADS_1


Ternyata, satu pisang goreng saja tidak cukup. Al kembali menyantap pisang goreng kedua, ketiga, dan seterusnya.


__ADS_2