
Bibi datang dari belakang membawakan air dan camilan untuk Ambar.
"Silahkan dimakan dan diminum Mbak!" ucap Merry.
Mereka juga sedikit berbincang tentang kapan Ambar datang dan bagaimana perjalanannya. Ternyata, Ambar datang sejak dua hari yang lalu dan anaknya yang bernama Grace sekarang sedang berada di rumah bersama neneknya.
Merry sedikit bingung, sedari tadi yang ditanyakan hanya Liam dan Luham, kenapa Ambar tidak membahas Emir sedikitpun?
"Mbak, Emir ada di rumah. Dia sedang bermain di belakang!" ucap Merry perlahan.
Ambar terkesiap mendengar ucapan Merry. Ambar juga menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu. Cukup kentara raut wajahnya sedang tidak baik-baik saja.
"Saya panggilkan Emir ya?" tanya Merry. Merry merasa ada yang aneh.
Ambar langsung memandang Merry dengan gugup, ia juga mengangguk dengan ragu.
Merry tersenyum pada Ambar.
"Bi, boleh minta tolong panggilkan Emir?" pinta Merry pada Bibi yang setelah mengantar minuman dan makanan tadi tetap berada di sisi Merry.
Bibi tetap berada di sisi Merry atas permintaan Daris. Saat Bibi ke belakang untuk menyiapkan makanan, Bibi menelpon Daris untuk mengabari jika Ambar datang. Daris memintanya agar terus menemani Merry.
Merry jadi penasaran kenapa Ambar seolah melupakan Emir. Apa dia lupa kalau punya anak Emir? Ah, tentu tidak mungkin.
Memangnya dia sedang amnesia? Mana mungkin amnesia hanya melupakan Emir. Sedangkan pada Daris, Luham, Liam, Raya, dan Bibi tetap ingat.
Hah, pasti bukan amnesia atau apapun itu. Dia hanya pura-pura lupa saja pada Emir. Pura-pura lupa dan menganggap Emir tidak ada.
Kalau memang pura-pura lupa, apa salah Emir sehingga dia dilupakan? Anak sekecil itu membuat kesalahan apa sehingga tidak dianggap oleh ibunya sendiri? Anak sekecil itu tahu apa tentang permasalahan rumah tangganya sehingga mendapat perlakuan seperti ini oleh ibunya sendiri?
"Bunda Bunda!" Terdengar teriakan Emir yang sedang berlari kepada Bundanya. Anak itu selalu ceria setiap harinya. Bibi juga mengikutinya dari belakang.
Setelah berada di dekat Bundanya.
"Bunda, tadi keyincinya mau makan lagi kok. Keyincinya masih lapal kok, belum kenyang!" Celotehnya menggemaskan sambil menggoyang-goyangkan tangan Bundanya.
__ADS_1
"Wortelnya habis?" tanya Merry sembari mengelap keringat yang ada di dahi Emir dengan tangannya.
Emir mengangguk menggemaskan. "Habis Bunda, keyincinya suka makan, kaya Papa hihihi!" jawab Emir berbisik pada Bundanya sambil cekikikan. Walaupun berbisik, tapi suaranya tetap bisa di dengar oleh Bibi dan Ambar.
Merry menahan tawa. Ketiga anaknya terkadang memang julit pada Bapaknya.
"Hust, nanti dimarahi Papa loh kalau Papa denger!" ucap Merry bisik-bisik juga dan seolah melupakan keberadaan Ambar di situ.
"Huusstt!" Emir meletakkan jari telunjuknya di bibir sembari cekikikan.
"Ayo, ke belakang lagi Bunda. Emil mau makan mangga, tapi di belakang. Tapi makannya disuapin Bunda ya!" ujar Emir. Maksudnya dia ingin Bundanya menyuapinya mangga, tapi mereka makannya di taman.
Seketika Merry teringat pada Ambar. Merry juga langsung mengalihkan pandangannya pada Ambar.
"Mbak, ini Emir!" ucap Merry. Sedangkan Emir menatap Ambar dengan asing.
Ambar terpaku menatap Emir. Entah apa yang ada di pikiran Ambar saat itu, Merry tidak mengerti.
"Nanti saja makan mangga nya ya. Sekarang Emir salim ke Mama Ambar Nak!" pinta Merry pada Emir.
Emir menatap Merry dengan bingung. Merry tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Salim Sayang!"
Emir berjalan mendekati Ambar, lalu mengulurkan tangan untuk salim.
Ambar menerima uluran tangan Emir dengan bergetar. Saat Emir mencium tangannya, mata Ambar memerah dan bibirnya bergetar menahan tangis.
"Boleh Mama memeluk kamu Nak?" tanya Ambar lirih sambil tetap memegang tangan kecil Emir.
Sontak Emir langsung mundur dan melepaskan tangannya.
Emir menggeleng. "Emil tidak mau dipeluk pelempuan. Pelempuan yang boleh meluk Emil, Kakak Luham, Kakak Liam cuma Bunda!" jawab Emir, lalu setelahnya dia berlari kepada Bundanya lagi.
"Iya kan Bunda?" tanya Emir pada Merry.
Ambar menunduk menahan tangis melihat anaknya tidak mengenalnya.
__ADS_1
Andai di sini ada Luham dan Liam, mungkin mereka akan langsung memeluk mamanya dan menumpahkan segala kerinduan kepada mamanya. Namun, si kecil Emir ini tidak mengenal mamanya.
Sejak bayi sudah ditinggal oleh ibunya. Sebelumnya memang pernah bertemu saat terakhir kali Ambar menemui Luham dan Liam. Namun, Ambar memang tidak sedekat itu pada Emir karena Emir tidak mau kepadanya. Dan sekarang, sepertinya Emir sudah melupakan Ambar.
Walaupun Luham dan Liam sering menunjukkan foto Ambar pada Emir, tapi Emir tidak peduli dan tidak tertarik.
Sebelum mengenal Merry, wanita yang paling berarti di hidup Emir adalah Bibi dan Tante Raya. Sedangkan sekarang ditambah Merry, cukup baginya ketiga wanita itu yang paling penting dan berarti di hidupnya.
"Itu Mamanya Emir dan Emir tentu boleh meluk Mama!" ucap Merry perlahan.
Emir memandang Merry dengan cemberut.
"Tante, Bunda. Bukan Mama!" Emir tidak suka diminta memanggil mama pada orang asing seperti ini.
Merry menatap Ambar dengan iba. Se-asing inikah Ambar di mata Emir?
Merry tidak tahu bagaimana Ambar bisa se-asing ini di mata Emir. Merry juga belum lama menjadi bagian dari anggota keluarga Daris. Merry tidak tahu bagaimana cerita masa lalu yang menyebabkan Ambar dan Emir seperti orang asing. Merry menyesali kebodohannya karena tidak bertanya pada Daris atau Raya tentang hal ini.
Merry mengerti jika Ambar meninggalkan Emir sejak bayi, tapi tidak mengerti dan menyangka jika ternyata se-asing ini.
"Nggak papa, itu salah saya!" ucap Ambar.
Merry mengangguk. "Maaf ya Mbak. Dia masih kecil. Semua butuh proses!"
Walaupun ada sedikit rasa cemburu, tapi Merry tidak pernah punya niatan untuk memisahkan seorang ibu dan anak.
Merry ingin anak-anak bisa punya hubungan yang baik dengan ibu kandungnya. Karena bagaimanapun, ibu kandung mereka telah mempertaruhkan nyawa saat mengandung dan melahirkan mereka.
"Mamanya Emil cuma satu. Ini mamanya Emil!" Emir berkata demikian pada Ambar sembari menunjuk Merry.
"Iya kan Bunda, mamanya Emil cuma satu kan?" tanyanya dengan polos pada Merry.
Merry jadi bingung, ingin mengangguk tapi itu tidak benar. Ingin menggeleng tapi Emir terlalu kecil untuk mengerti tentang hal rumit ini. Sehingga, Merry hanya tersenyum sembari mengelus kepala Emir.
"Sekarang Emir temani Bunda di sini ya?" tanya Merry.
__ADS_1
Tanpa ragu Emir langsung mengangguk. Emir mau kok menemani bundanya di sini. Menjaga Bundanya. Nanti kalau Tante yang ada di depannya ini nakal pada Bundanya, Emir akan memukul atau menggigit tante itu.
"Sini duduk di samping Bunda!" pinta Merry.