Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Kekecewaan (2)


__ADS_3

Semua terjadi secara berurutan, tiba-tiba Merry dan Liam datang dari arah belakang. Tadi Merry juga berpapasan dengan Ambar di depan. Ya, tapi Ambar tidak menyapa dirinya. Berbeda dengan Ambar yang saat itu bercengkrama dengan Merry.


"Assalamualaikum Papa!" ucap Merry dengan senyuman hangat seperti setiap harinya sembari menenteng paper bag besar.


"Assalamualaikum Papa!" Diikuti oleh Emir dengan gaya menggemaskan yang juga sedang menenteng paper bag kecil. Katanya, dia ingin membantu bundanya.


Dengan jarak yang sedikit jauh, mata Merry terkejut melihat pinggiran bibir Daris yang ada warna merahnya.


Dengan cepat Merry mendekati Daris. "Mas ini luka? Kok bisa? Kenapa?" Merry juga langsung menyentuh dan mengusapnya dengan khawatir.


Namun, saat melihat tangannya yang baru saja mengusap pinggiran bibir Daris, kekhawatiran itu langsung menguap.


"Ini bekas lipstik?" Kekhawatiran itu berganti dengan kebingungan.


Merry kembali mengusap pinggiran bibir Daris. Lalu, ia menatap Daris.


"Habis mainan lipstik aku ya sama anak-anak?" tanya Merry.


Merry memang punya lipstik baru warna merah. Daris iseng membelikannya karena Merry tidak pernah menggunakan lipstik berwarna merah.


Tapi jika diamati sedikit berbeda dengan lipstik warna merah miliknya. Tapi yang ada di otak Merry ya mereka sedang bermain dengan lipstik milik bundanya. Tidak ada pikiran lain.


Merry terkekeh kecil. " Ya udah gapapa, pokoknya nanti kalau habis belikan lagi yang baru!" ujar Merry bercanda.

__ADS_1


Daris yang sedang tegang memaksa ikut tersenyum. Daris takut Merry akan salah paham seperti anak-anaknya.


"Kak Liam. Bunda kangen banget." Merry langsung memeluk Liam setelah mendekat kepada Liam.


"Tadi Bunda papasan sama Mama di depan !" lanjut Merry.


"Barusan ikutan papa mainan lipstiknya Bunda ya?" tanya Merry pada Liam.


Otak Merry langsung berpikir hal lain. Barusan ada Ambar, terus kenapa mereka mainan lipstik miliknya?


Oh, mungkin mereka baru saja bermain lipstik setelah Ambar baru saja pulang. Merry akan selalu berusaha berpikir positif.


Namun, tanpa diduga, tiba-tiba Liam memeluk Merry dan menangis sesenggukan.


Gue harus menjelaskan ini pada Merry. Gue paham Merry pasti bisa mengerti semuanya! batin Daris.


Merry mengira Liam sangat merindukan dirinya atau jangan-jangan Liam masih belum rela pulang dan masih ingin bersama mamanya?


"Kenapa nangis Kak?" tanya Merry.


Si kecil Emir mendekat dan menepuk-nepuk bahu kakaknya. Dia ingin berusaha menenangkan kakaknya.


"Cup cup, jangan nangis lagi Kak Liam!" ucapnya dengan menggemaskan.

__ADS_1


"Emil janji, nanti kalau Emil dan Bunda pelgi, Kak Liam pasti diajak kok!" Emir mengira kakaknya menangis karena tidak diajak pergi oleh dia dan bundanya.


"Jangan nangis lagi ya. Emil punya buku membaca balu, buku mewalna balu, clayon balu, pensil balu, banyak kok yang balu. Nanti pasti Emil pinjami kok!" lanjutnya berusaha membujuk kakaknya. Biasanya saat dirinya sedang merajuk atau menangis, kakak-kakaknya akan membujuknya seperti itu.


Merry tersenyum pada Emir. Si kecil ini sangat menyayangi kakaknya. Walaupun setiap harinya bertengkar, sebenarnya mereka saling menyayangi.


"Kakak kenapa? Ngomong dong sama Bunda!" ucap Merry kepada Liam.


"Liam sayang Bunda. Liam nggak mau ada yang menyakiti Bunda. Liam akan selalu melindungi Bunda!" ujar Liam dengan sesenggukan sambil mengeratkan pelukannya.


Merry tersenyum, tapi juga bingung kenapa anaknya berkata demikian.


"Iya, Bunda percaya kok. Tapi kenapa tiba-tiba Kakak ngomong gini?" tanya Merry.


"Liam, Papa mau ngomong dulu ke Bunda!" sahut Daris.


Liam langsung menoleh kepada Daris dengan tatapan kecewa.


Merry melihat sepertinya mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Liam akan selalu melindungi Bunda, Liam janji. Kalau ada yang jahat sama Bunda, orang itu akan berhadapan dulu sama Liam. Pokoknya nggak boleh ada yang buat Bunda sedih!" ujar Liam sambil menatap Bundanya.


Hati Merry terenyuh. Ibu mana yang tidak bahagia mendengar ucapan seperti ini dari anaknya.

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Liam berlalu pergi menyusul Luham di kamar. Emir juga ikut pergi bersama Liam.


__ADS_2