
"Kak Kak, hei Kak! Kak Merry" teriak seorang pemuda.
Merry menoleh. Dia memicingkan mata. Pemuda itu tersenyum lebar sambil menampilkan deretan giginya.
"Itu orang yang dulu kan?" gumam Merry sembari mencoba mengingat apakah benar itu pria yang ia temua beberapa hari yang lalu.
Dia adalah Erga. Dia berlari ke arah Merry sambil mendorong troli belanja miliknya.
"Hallo Kak, ketemu lagi kita. Masih ingat kan? Erga!" ucap dia dengan gaya slengekan. Lalu tangannya merapikan rambut yang berantakan karena berlari barusan.
Merry mengangguk. "Iya, masih!"
Pemuda berkulit putih, rambut gondrong, wajahnya juga agak kebulean. Celana jins bagian lutut robek. Menggunakan kaos hitam dan ditambahkan dengan kemeja kotak-kotak monokrom yang tidak dikancingkan.
Erga juga merapikan kemejanya. Ingin terlihat sempurna di hadapan Merry.
"Kok bisa kebetulan ketemu lagi sih?" tanya Erga sambil cengar-cengir.
"Apa ini pertanda jodoh kali ya!" lanjutnya tapi pelan. Namun, Merry masih bisa mendengarnya.
Merry yang mendengarnya menggelengkan kepala. Dasar bocah. Jodoh dari mamanya coba. Emang mau berjodoh sama emak-emak beranak tiga?
__ADS_1
"Sendirian aja nih Kak?" tanya Erga sambil mengedarkan pandangan di sekitar Merry.
Mereka berada dalam satu tempat perbelanjaan yang sama. Entah angin apa yang membawa mereka dalam satu tempat perbelanjaan yang sama.
Merry ke sini untuk membeli bahan makanan. Dia sedang memilih saos, kecap, dan yang lainnya.
"Kebetulan iya sendiri. Lah, kamu?" jawab Merry yang ganti bertanya.
Sekali lagi Erga ini mengingatkan Merry kepada Raya. Sekarang Raya jadi anak kost.
"Iya nih sendirian. Eh, kenapa sendirian Kak, belum ada pasangan ya?" tanya Erga penuh harap semoga jawabannya iya. Merry tidak punya pasangan.
Erga terkekeh. Bisa aja kakak cantik di depannya ini bohong kalau udah punya suami. Mana mungkin masih muda dan cantik seperti ini sudah ada suami. Biasa lah mungkin alasan biar nggak digoda sama laki-laki lain. Bisa banget sih bohongnya. Ya jelas nggak percaya dong Erga.
"Klasik banget sih bohongnya!" ujar Erga sambil terkekeh.
Merry mengerutkan dahi. Gak beres nih bocah. Lagian siapa yang bohong? Aneh.
Akhirnya Merry melanjutkan untuk memilih apa yang ingin dia beli.
"Kak, makasih ya udah dibelikan obat waktu itu!" ucap Erga.
__ADS_1
"Sama-sama!" jawab Merry sambil menoleh dan tersenyum kepada Erga.
"Kalo Lo sendirian, mending kita bareng aja belanjanya!" tawar Erga.
Merry menghentikan aktivitasnya dalam memilih apa yang ingin dia beli.
"Udah biasa belanja sendiri kok. Udah kamu lanjutin belanja kamu aja!" tolak Merry secara halus.
Erga menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Tenang Erga, ini namanya perjuangan. Menaklukkan hati wanita memang tidak mudah. Harus penuh perjuangan dan disertai bumbu-bumbu yang tidak sedikit.
"Nggak maksa sih. Tapi boleh kan nanti gue aja yang bayarin, anggep sebagai pengganti udah ngebeliin gue obat waktu itu!" ucap Erga lagi. Dia masih tidak menyerah.
"Eh, nggak papa. Lagian obatnya dulu murah. Lah ini belanjaanku banyak. Nggak sebanding dong. Gapapa nggak usah. Lagian udah dikasih uang juga sama suamiku!" tolak Merry.
"Ya elah Kak, masih aja bohong tentang suami. Tenang aja gue nih bukan cowok jahat. Nggak usah lah bohong tentang suami karena takut gue jahatin. Cowok sejati nih gue!" ujar Erga membanggakan dirinya sendiri.
Merry menghembuskan napasnya. "Aku tidak berbohong. Aku memang punya suami. Bahkan, sudah punya tiga anak!" jawab Merry.
Erga mendelik. Apa??? Tiga anak??
Hahaha bisa saja bohongnya. Tentu saja Erga tidak percaya. Mana mungkin wanita di depannya ini ibu dari tiga anak?
__ADS_1