
Merry yang sebenarnya tidak tertidur mendengar semua percakapan Mommy Tyas dan Amar.
Air mata Merry meleleh. Dia berusaha mengontrol tangisnya agar tidak pecah saat itu juga.
Maaf. Satu kata yang terus muncul di hati Merry.
Maaf untuk anaknya yang sekarang sudah berada di surga.
Maaf ya Nak, Bunda mu ini bodoh. Bunda tidak tahu kalau kamu ada di rahim Bunda. Andaikan Bunda tahu, pasti Bunda akan menjaga kamu dengan sebaik mungkin. Batin Merry.
Perasaan Merry berkecamuk. Sedih, amarah, dan kekecewaan membaur menjadi satu.
Kenapa dia bisa tidak mengerti jika hamil? Kenapa harus ada Ambar? Benar apa yang dikatakan Amar, kenapa Daris tidak tegas dari awal? Daris memang memberikan penolakan, tapi juga masih memberikan celah.
Merry benci keadaan ini.
Merry benci dirinya sendiri. Merry juga benci pada Daris dan Ambar.
Maaf juga kepada Amar. Ternyata sampai detik ini dia masih menyakiti Amar.
Amar memang tulus padanya. Dia baik kepada Merry. Selalu berusaha membuat Merry bahagia. Iya, Merry mengerti tentang hal itu.
Tapi, balasan yang Merry berikan adalah rasa sakit di hatinya.
Bolehkan Merry memeluk Amar? Merry ingin meminta maaf sekaligus mengatakan terima kasih kepadanya.
Semakin lama terdengar suara isakan dari mulut Merry.
Mommy Tyas dan Amar yang tentunya mendengar isakan itu langsung mendekat kepada Merry.
"Sayang, kenapa menangis?" tanya Mommy Tyas sambil menolehkan kepala Merry ke arahnya.
Merry hanya terus menangis sembari menatap Mommy Tyas.
Tangisnya pecah saat itu juga.
"Merry bodoh!" suaranya tidak begitu jelas karena membaur dengan suara isakannya.
Amar langsung membantu Merry untuk duduk.
"Merry bodoh Mom. Maaf, Merry yang sudah membunuh anak Merry!" ucapnya.
__ADS_1
Mommy Tyas yang juga menangis langsung menggeleng. "Tidak. Itu tidak membunuh. Kamu tidak membunuhnya. Kamu tidak tahu kalau ada dia!"
Hati Amar sesak melihat Merry menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan mengatakan jika dia yang sudah membunuh anaknya.
"Merry tidak menjaga dia dengan baik!" Sesak, hatinya begitu sesak. Memori tentang kehilangan orang tersayang di hidupnya juga menyeruak kembali. Kehilangan bapak dan ibunya.
Kenapa harus kehilangan lagi?
Mommy Tyas langsung memeluk Merry.
"Kenapa harus terjadi pada Merry? Kenapa harus Merry?"
Hatinya masih tidak terima hal ini terjadi padanya.
Merry terus menangis di pelukan Mommy nya. Menumpahkan segala rasa sedih, amarah, dan kecewa yang selama ini menyesakkan dadanya.
Sekuat-kuatnya Merry, sehebat apapun dia menjadi ibu bagi tiga anaknya, dia tetap butuh ibu.
Merry lemah. Di hadapan Mommy nya Merry tetaplah seorang anak yang selalu membutuhkan ibunya.
Tiba-tiba rasa takut kehilangan muncul di benak Merry.
"Mommy nggak akan ninggalin Merry kan?" Tanyanya sambil menatap Mommy Tyas penuh harap.
Mommy Tyas menggeleng.
"Mommy akan selalu berusaha ada untuk Merry. Kamu nggak akan kehilangan Mommy, Nak."
"Jangan pernah pergi Mom. Nanti kalau Mommy pergi, Merry gimana?" lirih Merry sambil memeluk Mommy nya dengan posesif.
"Kak Amar!"
Ujar Merry sambil merenggangkan pelukannya kepada Mommy nya.
Merry menatap Amar dengan sedih dan juga tatapan takut kehilangan.
"Boleh peluk?" lirih Merry.
Tanpa berkata apapun Amar langsung memeluk Merry.
Amar sedih, tapi dia juga terharu dan bahagia bisa memeluk adiknya ini.
__ADS_1
Tangis Amar pecah. Ia memeluk Merry dengan erat.
Ia sangat merindukan Merry. Sangat merindukannya.
"Kak, maaf!" kalimat itu terucap dari mulut Merry.
Amar menggeleng.
"Lo nggak salah apa-apa kenapa minta maaf?" jawab Amar.
"Gue jahat sama Lo. Sedangkan Lo baik banget sama gue!"
"Gue itu sayang banget sama Lo!" jawab Amar .
Semua kebaikan yang selama ini Amar lakukan bermunculan di otak Merry.
Dulu, saat Merry menjadi bodyguard, jika tanpa pengawasan Amar juga Merry akan menemui banyak masalah.
Diam-diam Amar meminta orang suruhannya untuk menjaga Merry. Sebenarnya Merry tahu itu. Amar diam-diam selalu menjaga Merry.
"Gue mau Lo bahagia Kak. Apa yang harus gue lakuin biar Lo bahagia?" tanya Merry.
Hati Merry dipenuhi rasa bersalah. Dia sudah menyakiti pria sebaik ini.
Amar melepaskan pelukannya. Dia menatap Merry sembari tersenyum.
"Kalau Lo mau gue bahagia. Lo harus bahagia. Udah cukup. Dengan Lo bahagia, gue pasti bahagia!"
Air mata Merry mengalir semakin deras. Merry tidak bisa berkata apapun. Dia hanya mau memeluk Amar.
Boleh tidak Merry kembali menjadi adik kecil seperti dulu? Menjadi adik kecil nya Amar.
Dia hanya menghabiskan waktunya untuk bermain. Tidak melewati hidup yang begitu melelahkan dan menguras emosi ini.
Hanya ada Amar usil yang selalu menganggu Merry saat bermain.
"Kak, gue capek!" ujar Merry.
"Capek nangis? Ya udah jangan nangis lagi!" jawab Amar dengan mencoba bercanda.
"Boleh gue pulang sama Lo?"
__ADS_1