
Merry POV
Yuhu emak baru nih, yang dari tadi dikintilin anaknya terus. Sumpah deh, belum apa-apa gue udah capek, masa iya mau ke kamar mandi aja masih dikintilin.
Malam ini gue masih nginep di villa keluarga Syah, rame-rame gitu sama keluarga besar.
Tadi pesta pernikahan gue berakhir di siang hari. Sisanya, kita menghabiskan waktu buat makan dan ngobrol sama keluarga besar.
Ini gue bisa bebas sebentar karena habis mandi, tenang aja malam ini nggak bakal ada adegan iya-iya, kita tidurnya mau bareng-bareng kok, jadi gue santai deh, aman. Tapi tetep aja nervous karena harus sekamar sama Daris.
Jujur perasaan gue nano nano banget pas akad nikah tadi. Apalagi pas drama suruh cium tangan sama cium bibir, eh salah, maksud gue cium dahi.
Gue gemes banget sama Emir, asli deh kayanya gue mengandung lem sampai-sampai anak itu lengket banget sama gue.
Kak Luham juga, dia manja banget sama gue, seneng banget deh gue karena gue merasa diterima dengan baik oleh mereka. Hanya saja, Kak Liam masih menciptakan jarak sama gue. Anak itu masih misterius.
Besok rencananya setelah pulang dari villa ini gue langsung pindah ke rumah Daris. Siap nggak siap gue harus siap untuk berlakon sebagai istri dan ibu.
Takut juga sih sebenarnya, takut nggak bisa memberi yang terbaik buat mereka. Tapi, kalau gue takut terus gitu, bisa-bisa ketakutan gue jadi boomerang buat diri gue sendiri untuk nggak bisa memberi yang terbaik buat mereka. Jadi, lebih baik mengalir aja dan terus berusaha memberi yang terbaik.
Suami gue minta agar gue fokus ngurus anak-anak, maksudnya tuh dia nggak ngijinin kalau gue kerja di kantor gitu. Ya nggak masalah sih, sebelumnya emang gue nggak kerja di kantor.
Tapi, untuk masalah bisnis-bisnis yang gue punya, dia sangat mendukung agar asal gue semakin berkembang, dengan syarat gue nggak boleh lengah sama tugas sebagai istri dan ibu.
"Bunda Bunda!" teriak anak-anak sambil berlarian masuk ke kamar gue. Ralat, maksud gue kamar sementara saat di villa.
"Iya, jangan lari-lari gitu!" ucap gue, wish, gue dah persis emak-emak kan?
"Bunda ayo bobo!" pinta Emir sambil ndusel-ndusel ke gue. Kayanya anak ini udah ngantuk.
"Ayo Bunda, bobo!" Luham iku menimpali. Anak-anak gue ini emang best ya.
Tapi nggak lengkap nih pasukannya, kurang si Bapak sama Kakak Liam. Kemana ya mereka?
"Papa sama Kak Liam di mana?" tanya Gue. Eits jangan salah paham, gue nyari suami gue bukan karena kebelet pengen bobo bareng, tapi penasaran aja ada di mana tuh orang.
Apa Liam juga bareng sama Papanya?
"Papa masih ngobrol sama Om Papinya Chan!" jawab Luham.
Astaga gue pengen ngakak, manggilnya lengkap banget Om Papinya Chan, tinggal Om Amar gitu kan udah beres.
"Ooo sama Om Amar!" ujar Gue.
"Iya Bunda, tadi Papa bilang katanya suruh nunggu di kamar aja!" jelas anak gue yang ganteng ini. Ganteng semua anak gue, asli cakep.
__ADS_1
"Terus Kak Liam gimana?" tanya Gue, namanya juga emak-emak, kalau anaknya belum ngumpul lengkap pasti belum pas hatinya.
"Liam tadi sama Luham, tapi pas Luham mau ke kamar katanya dia mau lihat bintang dulu di luar!" jelas Luham. Wah, ada yang nggak beres sama Liam nih.
"Ya udah, sekarang Kakak tunggu sini dulu sama Adek ya? Bunda mau nyusul Kak Liam dulu, biar seru rame-rame di sini!" Mohon dimaklumi, emak-emak beranak tiga gue.
"Kakak berani kan berdua sama Adik di kamar? Cuma sebentar kok!" sambung gue karena baru nyadar apakah anak gue ini takut apa enggak ditinggal di kamar ini berdua.
Si Emir lagi mainin Tayo nya, fokus sama mainannya.
"Luham berani kok Bunda, Luham kan pemberani!" jawab Luham dengan bangga.
"Good Boy!" puji gue sambil menjiwit kedua pipinya dengan gemas. Si Luham pun tertawa-tawa, rupanya dia suka dimanja-manja gini.
"Ya udah Bunda keluar sebentar ya!" pamit gue.
"Jangan lama-lama Bunda!" seru Luham.
"Oke siap!" jawab gue sambil memberi jempol kanan gue. Luham tertawa bahagia dengan interaksi kita barusan. Duh senengnya lihat Luham ketawa bahagia.
Emang gini ya jadi ibu, lihat anaknya bahagia aja udah ikut bahagia banget nget nget. Hati gue jadi bahagia, mood gue jadi bagus.
*****
Gue keluar villa mencoba mencari anak gue.
Nah itu, gue lihat Liam duduk sendirian di teras. Emang bener sendirian aja sambil lihat bintang.
Oh ya, kira-kira Daris di mana ya? Apa mungkin ngobrol di dekat kolam renang kali ya?
Hadeuh, percayalah, hari pertama pernikahan gue ya gini deh, sibuk sama anak. Nggak ada so sweet so sweet an atau yang gimana gitu.
Ya nggak papa sih, gue nyadar karena nikahnya emang sama duda beranak tiga. Beli satu gratis tiga hihi. Enak kan dapet banyak hehe?
"Hai Kakak!" sapa Gue pada Liam.
Liam menoleh ke arah gue.
"Lagi lihat apa Kak?" tanya gue.
"Lihat bintang!" jawab Liam singkat, padat, dan jelas.
"Lumayan mendung ya Kak langitnya, jadi bintangnya cuma sedikit yang kelihatan!" ujar Gue.
Emang dari tadi pagi cuacanya mendung, tapi syukur nggak hujan, apalagi mengingat acara akad nikah gue tadi dilaksanakan secara outdoor.
__ADS_1
Jadinya tadi cuma mendung aja gitu, enak sih jadinya nggak panas. Eh, tapi kan ini di pegunungan, mau cuacanya panas tetep aja hawanya dingin.
"Itu bintangnya ada lima!" ucap Liam sambil menunjuk bintang di langit yang jumlahnya emang ada lima.
"Itu bintangnya ada lima, jadi bintang yang satu Papa, sebelahnya Luham, sebelahnya lagi Emir, sebelahnya lagi Liam, terus sebelah Liam Mama deh!" Jedyar, nyesek hati gue.
Tadinya gue udah bangga pasti gue dapet jatah bintang juga, ternyata enggak. Ya udah gapapa, tenang aja, bagus loh kalau Liam sayang sama Mamanya, emang harus sayang.
Liam terus saja memandang bintang-bintang itu.
"Kangen sama Mama ya?" tanya Gue.
Liam mengangguk, " Liam kangen sama Mama! Dulu Liam dan Luham suka diajak liburan ke tempat yang kaya gini sama Papa dan Mama!" ujar Liam.
"Ya udah, nanti kan pasti ketemu sama Mama! Liam udah telfon Mama?" tanya gue.
"Udah, tapi nggak diangkat!" jawab Liam dengan sedih.
Oh jadi anak ini sedih karena berusaha menghubungi mamanya tapi belum ada respon.
"Kakak yang sabar ya, pasti Mama lagi sibuk, kalau nggak sibuk pasti langsung ngehubungi Kakak!" Gue berusaha menenangkan anak gue ini, walaupun gue sendiri ragu dengan omongan gue.
"Masuk yu Kak!" ajak gue.
Liam menggeleng menolak ajakan gue.
"Udah malem banget loh, dingin juga!" jelas gue.
"Duluan aja kalau kedinginan!" ujar Liam sedikit khawatir sama gue saat gue ngomong dingin.
Ih, diam-diam so sweet juga anak gue ini, hehe Bundanya jadi baper.
"Kalau Kakak nggak mau masuk, Bunda temenin di sini! Biarin Bunda jadi bodyguard nya Kakak!" candaku pada Liam.
Ya gimana, gue berusaha pdkt sama nih anak. Mencoba akrab dengan anak gue yang ini.
Mendengar perkataan bodyguard, Liam langsung melihat gue. Anak itu tersenyum tipis.
"Liam mau jadi bodyguard!" ujarnya secara tiba-tiba. Heh, gue tergelak, bisa-bisanya nih anak?
"Kalau mau jadi bodyguard itu harus bisa menjaga dirinya sendiri, yuk sekarang masuk, menjaga diri agar tetap sehat!" rayu gue .
"Ayo, Liam mau masuk!" ajak Liam. Akhirnya, nih anak mau masuk masuk.
-------------------------
__ADS_1
Sabtu dan Minggu libur dulu ya up nya 😁
Sampai jumpa hari Senin, InsyaAllah 😚😚