
Di kediaman Daris
"Uhuy, yang mau kencan sama doi!" goda Raya yang tengah berdiri di belakang Daris yang sedang bercermin sembari merapikan lengan kemeja yang ia tekuk sampai siku. Daris tidak mempedulikan Raya, lalu ia melanjutkan merapikan rambutnya dengan tangan.
"Pakai sisir Pak, katanya CEO masa nggak punya sisir?" ejek Raya sembari mengambilkan sisir Daris yang ada di meja, lalu memberikannya pada Daris. Akhirnya, Daris juga mengambil sisir pemberian Raya.
"Anak-anak udah siap?" tanya Daris sambil berbalik menghadap Raya. Sepertinya dia sudah merasa tampan, jadi adegan mempersiapkan diri telah usai.
"Kalau udah merasa tampan gini baru inget anak-anaknya Pak?" ejek Raya lagi sembari berlalu dari hadapan Daris.
Daris pun santai saja, pasti anak-anak udah beres. Kan ada Tante Raya yang best. Daris melangkahkan kakinya menuju ke luar kamar, tak lupa ia mengambil dompet, handphone, dan kunci mobil.
"Pa, Luham udah siap!" Luham langsung menabrak papanya dengan senyum secerah suasana pagi ini. Hari yang sangat membahagiakan bagi Luham, diajak jalan-jalan plus sama Auntie Merry.
Dari arah belakang Liam juga muncul sambil menggandeng tangan Emir. Untuk berjalan-jalan hari ini memang tidak ada paksaan bagi Liam agar ikut, tapi tetap saja ekspresi Liam tak menunjukkan ekspresi bahagia seperti Luham.
Ekspresinya menggambarkan "Ya udah sih mau jalan ya ayo jalan, tapi jangan ngarep gue bisa haha huhu bahagia, gue cuma ngikut aja!"
Sedangkan si kecil Emir pokonya seneng aja bisa diajak jalan-jalan. Apalagi ke kebun binatang, Emir sangat ingin melihat kelinci yang seperti Merry ceritakan saat itu. Maklum lah, bapaknya belum membelikan kelinci untuk Emir.
Daris bergantian melihat penampilan anak-anaknya. Memang tidak diragukan lagi kalau anak-anaknya itu tampan, tapi sebentar-sebentar, kenapa warna dress code anak-anaknya mirip dengan warna kemeja yang ia pakai? Warna abu-abu.
Sebenarnya bukan suatu hal yang asing kalau ketiga anaknya memakai baju dengan warna dengan model yang senada, tapi kali ini kompak juga warna bajunya dengan bapaknya.
Wah, Daris tersenyum seraya mengangguk-angguk, ada secercah harapan dalam hati semoga Merry juga menggunakan pakaian warna abu-abu. Biar kompak wak, mirip keluarga bahagia gitu!!
"Wah ganteng-ganteng deh anak-anak Papa!" puji Daris sambil memberikan dua jempol tangannya. Mau memberi empat jempol juga nggak bisa, masa mau melepas sepatu terlebih dahulu, kan repot!
"Papa, ayo ke lumah Bunda!!" Emir langsung menarik-narik tangan papanya mengajak ke rumah bundanya. Nggak sabaran banget sih anak Bunda Merry ini. Sabar dong dek, papanya aja bisa sabar! Wkwk.
"Iya ayo!" Daris langsung mengajak anak-anaknya berangkat menyusul Bunda Merry.
Mereka duduk berjejer rapi di dalam mobil.
__ADS_1
Daris sendirian duduk di depan, anak-anaknya duduk di belakang karena memang setiap harinya begitu kalau keluar dengan anak-anak tanpa supir. Oh iya, nanti juga rencananya yang menemani Daris duduk di depan biar Merry saja. Begitulah kira-kira rencana Daris dalam hati.
"Emil mau liat Kinci nanti!" Emir berceloteh ria di dalam mobil. Semangat empat lima berkobar dalam hati anak kecil itu.
"Iya, nanti Kakak juga mau lihat kuda, jerapah, dan masih banyak lagi!" Luham ikut menimpali.
Daris masih belum melajukan mobilnya, ia masih fokus dengan handphone nya.
"Pa, kok belum jalan?" tanya Liam dengan datar saat melihat papanya yang malah fokus pada handphone, bukannya malah melajukan mobil.
Daris sejenak melihat kebelakang, "Iya, masih ngabarin Bunda kalau kita mau berangkat jemput, biar siap-siap!" tutur Daris. Heh, apa barusan? Daris membahasakan Merry dengan Bunda pada Liam? Semoga istiqomah membahasakan bunda ya Daris.
"Ooh," Liam hanya ber-oh ria.
*****
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Mommy Tyas. Merry yang memang memegang prinsip simple, gerak cepat, dan tepat tentu sudah siap. Tinggal menunggu Pak Daris dan anak-anak saja.
Me:
Merry membalas pesan dari Pak Daris yang isinya pemberitahuan jika dirinya dan anak-anak mau berangkat menuju rumahnya.
Merry yang sebelumnya duduk di sofa kamar langsung berdiri untuk menunggu mereka di ruang tamu saja. Tapi, sebelum itu, Merry mampir sejenak ke meja rias untuk bercermin apakah ada yang berantakan dari penampilannya dan perlu diperbaiki?
Setelahnya, ia berlalu ke luar kamar. Baru saja menutup pintu kamar, Merry langsung dihadang oleh Mommy Tyas. Mommy nya itu langsung mengabsen dengan teliti penampilan Merry mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Mommy Tyas langsung mengehela nafasnya kasar, emang nih anak sukanya gaya gitu-gitu doang. Merry memakai kaos lengan pendek putih yang dipadukan dengan celana panjang warna abu bermotif tartan. Tak lupa Merry melengkapi penampilan dengan sneakers putih. Tas hitam kecil juga mengalung di pundak kiri Merry. Rambut keriting hitam panjangnya dikuncir kuda agar memudahkan kegiatannya nanti. Sebuah tampilan monokrom yang simple tapi tetap stylish.
"Hati-hati nanti ya!" nasehat dari Mommy Tyas.
"Oke siap!" jawab Merry. Tadinya, Merry mengira akan dikomentari ini itu tentang style nya hari ini, ternyata tidak. Mungkin Mommy biasa saja karena sudah sadar jika memang style kecintaan Merry yang no ribet-ribet.
"Jam berapa Daris ke sini?" tanya Mommy Tyas karena melihat jam yang menunjukkan pukul 08.00 WIB. Mereka masih berdiri di depan pintu kamar Merry.
__ADS_1
"Habis ini Mom, tadi katanya udah mau berangkat!" jawab Merry.
"Yuk, ke ruang tamu aja Mom!" lanjut Merry mengajak Mommy Tyas untuk ke ruang tamu saja.
Harusnya hari ini Amar juga ke sini, tapi tidak jadi, sibuk katanya.
Tapi ada untungnya juga sih Amar nggak jadi ke sini, jadi nggak bakal ada yang kepo terus tentang Merry yang hari ini akan keluar bersama Daris.
*****
Kembali bersama Daris and the gang.
"Pa, masih jauh ya?" tanya Luham yang baru pertama kali ke rumah Merry.
"Enggak, kurang lebih tujuh menit lagi sampai!" jawab Daris sambil melirik anak-anaknya dari kaca spion.
"Ooh gitu!"
"Emil pelnah ke lumah Bunda! Kak Liam dan Kak Luam belum pelnah!" ejek Emir dengan gaya sok nya. Wah, anak kecil ini pandai mengejek kakaknya ternyata.
"Biarin yee, habis ini aku juga ke sana!" Luham malah meladeni ejekan adiknya.
"Tapi Emil duluan!" Emir tetep kekeuh melanjutkan aksinya.
"Biarin yee!" Luham juga tetap melanjutkan karena tak terima.
"Udah, udah, nanti jadinya bertengkar terus ada yang nangis!" Daris mengehentikan aksi mereka. Biasa nih mereka, kalau saling mengejek dan belum ada yang menangis salah satunya pasti belum berhenti.
Sedangkan Liam fokus menatap pemandangan luar melalui jendela mobil.
Waktu terus berlalu. Tibalah mereka di depan pintu gerbang megah rumah Mommy Tyas.
Satpam rumah yang sudah paham dengan Daris langsung membukakan pintu gerbang. Daris mengangguk sopan seraya tersenyum saat melewati pos satpam di rumah itu, sontak Pak Satpam yang jumlahnya ada tiga juga ikut tersenyum.
__ADS_1
Emir sudah tidar sabar untuk bertemu bundanya. Sedangkan Luham dan Liam terperangah kagum dengan kemegahan rumah di depannya ini. Rumahnya memang tidak sebesar dan semewah rumah ini.