Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Kekecewaan (3)


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa Mas?" tanya Merry secara langsung.


Daris meraih kedua tangan Merry. "Aku minta maaf sebelumnya."


Daris menjeda ucapannya.


"Aku tidak ingin menjelaskan terlalu banyak. Sekarang ikut aku ke kamar, kita lihat rekaman CCTV!"


Beruntungnya di teras depan terdapat CCTV.


Merry mengerutkan dahinya. Nampaknya memang sedang terjadi apa-apa.


**


Setelah mereka melihat semua kejadian yang terjadi. Merry membuang napasnya berat. Ia saling berhadapan dengan suaminya.


Merry mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya. Semakin dekat hingga akhirnya.


Cup. Merry mengecup Daris. Tentu saja Daris tidak tinggal diam. Dia sangat menerimanya, bahkan menuntut lebih dari sekedar kecupan.


Setelah semuanya berakhir.


"Sebenarnya ini tidak cukup membersihkan sisa bibir Mbak Ambar di sini!" ucap Merry sambil mengusap perlahan bibir Daris.


"Aku cemburu Mas. Tapi bagaimana lagi. Suamiku tadi juga menikmatinya!" lanjut Merry dengan wajah yang sedih.


Daris melotot. "Kamu bisa lihat sendiri tadi. Aku menolak dan semuanya terjadi dengan singkat. Bagaimana mungkin aku menikmati?"

__ADS_1


Merry tersenyum. "Iya iya. Jangan melotot dong. Seharusnya yang marah itu aku, ini malah kamu!"


"Aku nggak marah sayang. Kamu sih ngomong gitu!" jawab Daris.


"Aku minta maaf ya!" lirih Daris sambil menempelkan dahinya ke dahi Merry.


"Tidak dimaafkan!" jawab Merry singkat.


"Terus gimana caranya biar bisa dimaafkan?" tanya Daris.


"Caranya, izinkan aku untuk berciuman dengan pria lain!" jawab Merry sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Daris.


"Mer," sahut Daris dengan cepat. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan dengan permintaan Merry.


"Nggak boleh dong sayang. Enak saja!" lanjutnya dengan tegas.


Daris mendekap Merry. "Kan kamu udah lihat sendiri sayang, jangan gitu dong!" Daris menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Merry.


"Mana ciumannya di depan anak. Mas Mas, biasanya orang kalau selingkuh, terus ciuman itu di depan istri. Ini malah di depan anak!" jawab Merry asal.


"Kok selingkuh sih? Aku nggak selingkuh sayang. Kan nggak ada unsur-unsur perselingkuhan!" Daris memandang Merry dengan tidak terima.


"Maafin ya!" pinta Daris.


"Nggak!" jawab Merry tegas.


"Kasih syarat deh gapapa. Pokoknya maafin!" ucap Daris.

__ADS_1


Merry melihat sekilas. Lalu, "Oke syaratnya tidur di luar. Di sofa depan ruang tv!"


"Oke, sama kamu kan?" tanya Daris.


Merry tertawa, "Enak aja, sendiri lah. Aku tidur di kamar!"


Daris kembali mendekap Merry. "Nggak mau lah sayang. Nggak bisa tidur kalau nggak sama kamu!" tolak Daris dengan manja.


Merry menjulurkan lidahnya. "Heleh, biasanya kalau aku masih nemenin anak-anak tidur di kamarnya, juga kamu di kamar udah tidur duluan. Tanpa aku bisa tidur kan?"


"Ya bisa soalnya aku mikirnya nanti istri aku pasti ke sini. Tidur di sebelah aku, terus peluk-peluk aku!" jawab Daris.


"Heh, suami kayak gini dapet dari mana sih. Iya deh iya dimaafin. Untung istrimu ini baik. Tapi tetep cemburu loh ini!" jawab Merry dengan cemberut.


Daris tersenyum, lalu menciumi seluruh wajah istrinya.


"Makasih sayang" ucap Daris.


"Mas, stop deh stop. Sebenarnya masalah kamu ini bukan sama aku. Aku paham kok kejadian yang sebenarnya gimana. Masalah kamu itu sama anak-anak. Kamu udah dicap mengkhianati aku oleh anak-anak!" ucap Merry dan berhasil menghentikan aksi Daris.


Daris menatap Merry dengan memelas. "Iya, kamu bener."


"Anak-anak pasti kecewa banget sama kamu. Secara kamu dijadikan idola dan role model buat mereka. Mereka selalu membanggakan kamu. Terus, lihat kamu yang tadi seperti mengkhianati aku, pasti mereka marah dan kecewa." Ujar Merry.


"Bantu aku ya sayang. Bantu aku menjelaskan semuanya pada anak-anak."


Merry tersenyum kepada suaminya. "Iya, nanti kita jelaskan pelan-pelan kepada anak-anak ya Mas!"

__ADS_1


__ADS_2