
Malam semakin larut, tapi mata Merry masih enggan terpejam.
Tik tik tik, bunyi detik jam terus terdengar di telinga Merry.
Hatinya bimbang apakah menikah dengan Daris adalah pilihan yang terbaik. Merry masih terus berusaha menanyakan dan meyakinkan dirinya tentang keputusan ini.
Ini adalah pernikahan, bukan sekedar pacaran. Ini adalah janji suci sehidup semati.
Merry selalu berdoa meminta petunjuk kepada Tuhan tentang permasalahan ini. Namun, Tuhan selalu menjawab doa Merry dengan menunjukkan bahwa Daris adalah pria yang baik.
Merry yang belum pernah punya anak saat menikah nanti langsung dihadapkan pada tiga anak, pastilah Merry merasa merangkak susah payah dari garis start untuk menuju garis finish dan mencapai kemenangan.
Kemenangan menjadi seorang ibu yang baik dan ideal bagi ketiga anaknya.
Merry sering kali ketakutan akan perjalanan yang akan ia hadapi nantinya. Ingin rasanya ia menyerah dan memilih zona nyaman dengan cara menikah dengan pria single yang belum punya anak, lalu Merry belajar dari nol saat memiliki anak pertama nantinya. Bukan mendadak punya tiga anak seperti ini.
Percayalah, ini bukanlah perihal yang mudah.
Namun, pemikiran positif kembali berkuasa di otak Merry.
Pemikiran yang menjelaskan bahwasanya pernikahan itu bukanlah akhir. Pernikahan adalah awal dari cerita hidup Merry yang baru.
Berbicara tentang awal, tentu tak jauh dari kata berjuang. Semua orang pasti berjuang dalam suatu pernikahan.
Merry akan berjuang mulai dari merangkak dan berjalan tertatih-tatih untuk mencapai kemenangan. Kemenangan yang menurut versi Merry adalah ketika ia mampu menahan ego, mau diatur oleh suaminya, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahma, mulai terbiasa menghadapi anak-anak, bahkan anak-anak telah nyaman dengan dirinya.
Kali ini, Merry akan menolak kata finish dalam perjuangan yang akan ia lewati. Merry akan terus berusaha dan berjuang menjadi istri dan ibu yang baik.
Iya, Merry harus siap dengan pernikahan ini.
Liam, Luham, dan Emir membutuhkan ibu. Setidaknya kalau Merry tidak bisa menjadi ibu yang baik, Merry akan selalu menyayangi dan berusaha untuk tidak menyakiti mereka.
Merry akan memberikan seluruh hidupnya kepada keluarganya nanti, khususnya kepada anak-anaknya nanti.
Liam, Luham, dan Emir adalah anak-anak yang baik. Mendadak Merry jadi khawatir kalau Daris menikah dengan wanita lain, lalu wanita itu hanya sayang pada Daris, bagaimana nasib anak-anak?
Tak mengapa bagi Merry, ia akan merelakan seluruh hidupnya untuk mereka. Merry yang akan mengisi hidup mereka dengan mengajarkan kebaikan kepada mereka, walaupun Merry tahu jika dirinya juga bukan manusia yang baik, tapi akan selalu berusaha untuk menjadi baik.
Merry akan menemani langkah mereka untuk menggapai bintang yang mereka inginkan.
Merry akan memberikan seluruh waktunya untuk membantu mereka merangkai kendaraan yang akan mereka tumpangi saat menggapai bintang nanti.
Merry tersenyum berdamai dengan hatinya sendiri. Baginya, tak ada yang lebih indah saat berhasil melihat anak-anaknya nanti tersenyum bahagia karena berhasil meraih impian yang mereka inginkan.
Merry mengalah, Merry ingin melihat Liam, Luham, dan Emir tumbuh dengan kasih sayang yang penuh.
"Bantu Bunda belajar agar bisa menjadi ibu yang baik bagi kalian!" gumam Merry pelan.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah mempermudah niat baikku dengan Pak Daris, aamiin!" doa Merry sebelum akhirnya membaca doa tidur, lalu memejamkan matanya.
*****
Merry berjalan menuju ruangan Luham dengan perasaan yang campur aduk. Jujur rasanya Merry malu bertemu Daris. Merry sangat gugup. Entahlah Merry tak mengerti kenapa dirinya seperti kembali pada masa remaja.
Malu-malu tapi mau.
__ADS_1
Saat pintu kamar Luham sudah terlihat, Merry langsung menghentikan langkahnya. Merry mengela nafasnya dalam. Enam langkah lagi ia akan sampai di ruangan Luham dan ini membuatnya semakin senam jantung.
"Udah lah, gue biasa aja, pura-pura lupa aja deh!" ucap Merry sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk.
Merry akan berpura-pura melupakan tentang pesan Daris semalam. Merry akan berusaha enjoy saja, seperti saat sebelum pesan itu dikirim oleh Daris.
"Assalamualaikum!" salam Merry pada mereka. Di situ hanya ada Daris dan Luham yang sepertinya sudah bersiap untuk pulang.
"Waalaikumussalam!" jawab Daris sembari tersenyum manis pada Merry.
"Bunda, Luham jadi pulang!" seru Luham dengan semangat.
Merry mendekat pada Luham dengan senyum yang tak kalah semangat dari Luham.
"Alhamdulillah, bisa pulang yee!" seru Merry juga.
"Alhamdulillah, hasil pemeriksaan baik dan Luham boleh pulang sekarang!" Daris ikut menimpali.
"Ayo pulang sekarang Papa!" ajak Luham dengan semangat.
Luham di sini tidak betah karena sering disuntik. Hehe tentu saja namanya juga opname di rumah sakit. Belum lagi kata Luham obatnya pahit, jadi ia ingin segera pulih agar tidak meminum obat lagi.
Tadi saat ke sini Merry diantar oleh supir karena rencananya setelah ini ia akan ikut ke rumah Daris dan semobil dengan Daris. Kalau tadi Merry membawa mobil sendiri kan jadi ribet.
*****
Sampailah mereka di kediaman Daris.
"Luham!!" teriak Liam menyambut kembarannya yang baru pulang dari rumah sakit. Mereka langsung berpelukan melupakan kerinduan satu sama lain.
Akhirnya mereka pun masuk dan diikuti Daris yang juga masuk dengan menyeret koper yang berisi pakaian dan keperluan Luham saat di rumah sakit.
Raya buru-buru mengandeng Merry karena
senang sebentar lagi jadi adik ipar Merry.
Tibalah saat di mana Daris dan Merry hanya duduk berdua di taman kecil yang ada di rumah ini.
Anak-anak bersama dengan Raya sedang berada di depan televisi. Jadi, pak duda menyelinap mengajak Merry untuk berduaan.
Merry dan Daris duduk berdampingan. Ingin rasanya Merry lari dari sini, gugup sekali dia.
"Mer!" panggil Daris.
"Iya Pak!" jawab Merry.
"Kapan kita bisa nikah?" tanya Daris langsung to the point.
"Lamar dulu saya Pak dihadapan Mommy! Masa ngajak anak orang nikah tapi nggak menyampaikan niat baiknya pada orang tua wanita itu!" Merry jadi kesal, enak aja tiba-tiba nanya kapan bisa nikah. Merry jadi curiga kalau pernikahannya yang pertama dulu Daris kawin lari.
"Iya saya tahu, jangan emosi gitu dong ngomongnya!" Daris jadi ikutan nyolot.
"Jangan nyolot dong Pak!" sahut Merry kesal.
Daris membuang nafasnya pelan.
__ADS_1
Sabar Daris sabar, Lo nggak sabar nanti nggak jadi nikah!! Sabar!! batin Daris.
"Iya Mer, kira-kira kapan saya boleh ke rumah kamu?" tanya Daris sebaik mungkin.
"Secepatnya!" tantang Merry.
"Nanti malam?" tanya Daris cepat.
Merry langsung melongo, nanti malam? Emang bener sih Merry menantang Daris untuk berani melamar dirinya secepatnya, tapi ya nggak nanti malam juga dong!
"Na-nanti malam?" tanya Merry tergagap.
"Iya, lebih cepat lebih baik kan?" tanya Daris dengan tersenyum. Daris kok ditantang, nggak ngerti apa ya Merry kalau Daris itu nyalinya besar, suka yang pasti, dan ngebet nikah.
Merry membuang wajahnya ke arah lain.
"Emang kamu ngga pengen cepet-cepet jadi istri aku?" goda Daris pada Merry.
Merry yang membuang wajahnya ke arah lain langsung memejamkan mata.
Dalam hatinya berteriak, "Mommy tolong Merry Mom, Merry digoda Om Om yang ngebet nikah!!"
"Mer, kalau seneng dan tersipu-sipu gitu nggak usah mengalihkan pandangannya! Sini lihat ke aku aja, aku pengen tahu gimana wajah kamu saat tersipu-sipu!" Oh tidak, bahkan Daris sudah semakin berani menggoda Merry.
Merry langsung menghadapkan ke arah Daris dengan wajah yang judes, "Kala nanti malam mau melamar saya, silahkan saja!" tantang Merry balik dengan wajah yang judes.
Merry kok ditantang, nyalinya juga besar. Daris justru terkekeh melihat wajah Merry yang judes, menurut Daris wajah judes Merry itu sangat menggemaskan.
"Apa ketawa-ketawa gitu?" tanya Merry dengan dengan judes.
"Kamu cantik!" jawab Daris sambil tersenyum manis.
Merry langsung memutar bola matanya malas, walaupun jujur dalam hatinya ia ingin guling-guling ke kasur, terus lompat-lompat, dan guling-guling lagi.
"Khem!" Raya berdehem keras membuat Merry dan Daris terkejut bersamaan.
"Jadi gini ya, cus cus cus menyelinap, eh ternyata berduaan mesra-mesra an di sini!" Raya seolah-olah sedang menangkap basah mereka yang sedang berduaan.
"Apa sih Ray, Kakak cuma cari angin segar aja ke sini!" elak Merry.
"Iya, betul kata Merry!" Daris membela perkataan Merry.
"Oh, gitu!!" ujar Raya sambil mendramatisir keadaan.
Melihat Raya yang seperti itu, Daris tak kuat menahan tawanya. Rasanya, dia seperti anak sekolah yang ketahuan pacaran oleh gurunya. Hahaha.
--------------------------
Hihihi, mereka emang ya🤭
Makasih ya buat kalian yang udah baca sampai di bab ini🤗
Jangan lupa like, komen, vote, dan jadikan favorit untuk kalian yang belum pencet tombol favorit ya!
Stay safe, stay healthy kawan-kawan!!
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️