
Di kediaman Daris.
"Lama banget sih Kak Daris, pasti seneng banget bisa lama-lama sama Kak Merry!" gerutu Raya mondar-mandir dari dalam ke luar.
"Pokoknya aku harus usaha biar mereka jadi suami istri!" lanjut Raya dengan semangat empat lima.
Tak lama kemudian, munculah mobil Daris yang membuat Raya sangat bahagia untuk menjalankan aksinya setelah ini. Raya yang posisi berdiri di dekat pintu buru-buru masuk dan duduk di ruang tamu.
"Ayo semangat Raya!" seru Raya menyemangati dirinya sendiri.
"Hai Kak!" sapa Raya sok ramah saat melihat Daris masuk ke rumah. Daris mengerutkan dahinya bingung, tumben tuh anak kaya gitu. Daris hanya menjawab dengan mengangkat kedua alisnya sambil tetap berjalan menuju kamarnya.
"Eh Kak Kak, duduk dulu sini, Raya mau ngomong!" Raya segera berlari ke arah kakaknya dan menariknya untuk duduk di sofa.
"Apa sih, mau mandi Kakak!" protes Daris.
"Udah mau adzan Maghrib nih!" lanjut Daris sambil melihat jam tangannya.
"Bentar doang ih!" Raya merengut kesal. "Ntar aja lah, habis mandi! Nggak akan sebentar kamu mah! Pasti lama!" ujar Daris yang hafal bagaimana kebiasaan adiknya.
"Bentar doang Kakak, udah diam ya dengerin Raya mau ngomong!" Raya kekeuh tidak mau dibantah, pokoknya mah hari ini harus ngomong sama Kakaknya.
"Iya udah, buruan!" Akhirnya Daris pun mengalah. Raya langsung tersenyum lebar.
Yook, cemungut buat jadi mak comblang Raya, batin Raya.
"Kak, aku tuh suka kasihan lihat Luham, Liam, sama Emir nggak ada yang ngurusin!" ucap Raya dengan sendu. Di luar apa yang akan ia katakan sudah disetting. Tapi, semua omongannya itu memang fakta yang selama ini ia lihat dan rasakan.
__ADS_1
"Kata siapa, ada aku, kamu, sama Bibi kan yang ngurusin!" sahut Daris tidak terima.
"Udah lah, mau mandi Kakak!" Daris beranjak dari duduknya, tidak ingin berlama-lama membahas ini, dia tau pasti ujung-ujungnya Raya ngomong apa.
"Ih bentar dong! Dengerin Raya! Raya itu udah engap, udah capek buat mendem semua ini! Kasihan anak-anak Kak!" Raya mencekal tangan Daris lalu menyeretnya duduk kembali.
Raya tetap memegang tangan Daris sembari memijitnya. Daris melirik tangannya yang dipijit, lalu terbitlah senyum miring di bibirnya.
Mayan lah, badan pegel-pegel ada yang mijitin. Tinggal nebalin telinga aja, yang penting mah dipijit! batin Daris licik.
Akhirnya Daris menyandarkan punggungnya mengambil posisi terwenak. Sedangkan Raya terus saja memijit tangan kakaknya.
"Raya tahu kalau mereka emang ada yang ngurusin, tapi nggak ekstra Kak! Nggak kaya kalau mereka punya ibu! Coba aja Kakak inget, Kakak suka sibuk di kantor kadang malah ke luar kota, terus Raya kadang suka nggak pulang karena ada kegiatan sekolah apalagi nanti Raya kuliah harus kos nggak tinggal di rumah lagi! Satu-satunya harapan hanya Bibi Sami kan? Tapi Bibi Sami itu asisten rumah tangga, kerjaannya udah banyak banget, nggak bisa ekstra njaganya, kasihan juga! Mana Kakak juga pelit nggak mau bayar baby sitter!" ucap Raya secara terus menerus tanpa henti.
"Enak aja Kakak pelit nggak mau bayar baby sitter! Kakak cuma nggak percaya sama baby sitter!" Daris memprotes karena tidak mau dibilang pelit sama adiknya.
"Lagian mantan istri Kakak udah bisa tuh nikah lagi! Kenapa Kakak nggak bisa?" lanjut Raya dengan kesal.
Daris mengehela nafasnya dalam, nggak semudah itu dia menikah. Daris hanya takut kalau istrinya nanti nggak tulus sayang dengan anak-anaknya. Daris sadar betul perceraiannya dengan mantan istrinya dulu telah memberi luka yang dalam bagi anak-anak. Jadi, ia tidak mau kalau seumpama nantinya menikah dengan perempuan yang tidak sayang pada anak-anaknya, akan menambah luka bagi mereka.
"Itu sulit buat Kakak! Kakak hanya takut kalau Kakak menikahi wanita yang tidak tepat!" jawab Daris pelan.
"Raya paham dengan kegelisahan Kakak, tapi bukannya kalau kita bisa detail dalam melihat kasih sayang wanita itu pada anak-anak, yang namanya ibu sambung jahat atau hanya sayang pada bapaknya itu tidak akan terjadi?" ujar Raya pelan-pelan. Daris sejenak melirik Raya.
"Raya tahu siapa orang itu Kak!" ucap Raya yang membuat Daris full melihat Raya seraya mengerutkan dahi. Raya pun langsung tersenyum.
"Kak Merry!"lanjut Raya seraya tetap tersenyum. Deris terkesiap mendengar ucapan adiknya.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Daris yang tiba-tiba merasa otaknya berhenti bekerja.
"Menikahlah dengan Kak Merry Kak! Raya memang baru beberapa jam bersama dengan Kak Merry. Tapi, Raya merasa kalau Kak Merry itu orang yang tepat untuk Kakak! Raya bisa melihat kalau perhatian yang diberikan Kak Merry pada anak-anak itu perhatikan asli, murni gitu, nggak dibuat-buat!! Bukan perhatian kaya perhatiannya para penjilat yang cuma baik dan sayang karena ada Kakak! Raya bisa lihat kasih sayangnya itu, ya udah emang gitu cara Kak Merry sayang! Asli murni deh pokoknya!" tutur Raya sembari mengingat hasil pengamatannya tadi, saat melihat cara bersikap Merry pada anak-anak.
"Pandangan hidup Kak Merry juga bagus, orangnya sederhana juga, apa adanya lah! Kakak inget juga kan pas membahas tentang pendidikan tadi, bagus responnya! Nah, hal itu juga menunjukkan kalau pandangan hidup Kak Merry bagus! Orangnya berpendidikan!" lanjut Raya.
"Raya juga udah tahu Kak Merry dari Raya SMP! Raya juga selalu mengamati Kak Merry! Orangnya itu tahu bagaimana cara beretika yang baik, orangnya elegan nggak alay! Oh ya, Kak Merry tuh orangnya dulu coll dan cuek loh, tapi ke anak-anak perhatian dan hangat kan? Itu keren sih menurut aku!" Raya terus berbicara kepada Daris.
Sedangkan Daris juga mendengar ucapan Raya dengan serius, sembari membayangkan wajah dan sikap-sikap Merry yang sejauh ini ia ketahui.
Bener sih kata Raya, yang paling menonjol sih orangnya apa adanya, nggak ada yang dibuat-buat! Aku begini memang keadaanku begini, tidak ada pura-pura baik supaya terkesan baik di mata orang yang baru ia kenal! Intinya sih apa adanya emang anaknya, batin Daris.
"Oh ya, ada lagi Kak! Dilihat dari style penampilan Kak Merry yang selama ini aku lihat, dia tuh orangnya simple dan sederhana, nggak ribet! Make up juga tipis simple gitu! Orangnya emang kelihatannya nggak ribet!" lanjut Merry lagi. Dalam hatinya memang Merry itu keren menurutnya.
"Toh, Kakak bisa lihat sendiri juga Emir sayang sama Kak Merry! Manggilnya Mama gitu! Anak kecil biasanya ngerti mana yang baik dan buruk!" lanjut Merry.
Daris tidak menganggap remeh omongan adiknya. Lucu ya, adik yang dulu Daris gendong-gendong sekarang jadi perempuan yang udah bisa menasehati Kakaknya. Daris kembali mengingat tentang semua kepribadian Merry. Unik juga sih tuh anaknya, memang beda dari wanita lain.
"Ya udah, Kakak mau mandi dulu!" pamit Daris yang membuat Raya kesal.
"Kakaak, jawab dulu kalau Kakak mau nikah sama Kak Merry!" ujar Raya kesal.
"Raya juga butuh Kak Merry Kak, bukan cuma anak-anak dan Kakak yang butuh! Raya nyaman sama Kak Merry, Raya merasa punya ibu saat bersama Kak Merry! Raya pengen punya orang yang bisa mengerti Raya Kak, Raya juga pengen berbagi cerita dengan orang terdekat Raya! Raya pengeen!" ujar Raya dengan suara bergetar karena menangis.
"Raya suka iri lihat temen-temen punya Ibu, punya Kakak cewek, atau punya orang terdekat yang bisa mengerti mereka! Raya emang ikhlas dengan keadaan Raya yang seperti ini! Tapi, kalau memungkinkan buat Raya bisa punya salah satu dari mereka, Raya juga mau Kak! Raya mau Kak Merry hooowaaa!" Raya menangis seperti anak kecil yang meminta sesuatu, tidak peduli lagi meskipun dia sudah belia.
"Jangan nangis Raya!" Daris memeluk Raya karena Raya sudah lama tidak pernah menangis seperti itu. Raya itu anak yang kuat.
__ADS_1
"Akan Kakak pikirkan semuanya!" ucap Daris yang membuat Raya reda dari tangisnya.