Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Ikhlas dan Lapang Dada


__ADS_3

Beberapa minggu setelahnya, saat Merry, Daris, Luham, Liam, dan Emir sedang makan di sebuah restoran.


"Permisi!"


Merry menoleh ke arah sumber suara tersebut.


Merry terkesiap saat mengetahui keberadaan Ambar di sini.


Tentu saja Daris tidak tinggal diam. Dia khawatir Ambar melakukan hal yang tidak diinginkan lagi.


"Maaf mengganggu makan kalian. Saya di sini ingin meminta maaf kepada kalian. Terutama kepada Merry." Dengan segera Ambar berkata demikian sebelum Daris mengusirnya.


Merry yang sudah berusaha ikhlas atas segala cobaan yang menimpa keluarganya mencoba berbesar hati dengan menerima keberadaan Ambar di sini.


"Semuanya sudah selesai Ambar--,"


"Mas, biarkan Mbak Ambar berbicara!" potong Merry saat Daris tetap berusaha mengusir Ambar.


Ambar tersenyum penuh harap kepada Merry.


"Terima kasih Mer!" ucapnya.


Setelah Ambar duduk di kursi yang masih tersisa.


"Saya ingin meminta maaf kepada kamu Mer, kepada semuanya. Maaf karena aku sudah menganggu hidup kalian. Apalagi gara-gara aku, kalian sampai--,"


"Sudah Mbak, tidak papa, saya sudah ikhlas. Tidak perlu membahas itu lagi. Saya sudah memaafkan Mbak. Sekarang Mbak bisa hidup dengan tenang dan baik bersama keluarga Mbak sendiri!" potong Merry.


Sesungguhnya Merry masih tidak sanggup jika Ambar membahas tentang kepergian anaknya. Pembahasan itu sedikit menyakitkan jika keluar dari mulut Ambar.


Ambar menunduk merasa bersalah. Mata Ambar juga berkaca-kaca. Rasanya berat untuk mengatakan hal lain lagi. Namun, kedatangannya kali ini ingin bertekad baik.


"Mer, kedatangan saya ke sini ingin berterima kasih karena kamu sudah mencabut laporannya. Terima kasih kamu sudah membebaskan saya!" ucap Ambar sembari melihat Merry dengan tulus. Air matanya luruh begitu saja.


Merry tersenyum tipis. Hal itu sangat cukup menjadi bukti bahwa Merry sudah memaafkan Ambar.


Merry ingat jika Ambar punya anak kecil. Seorang anak yang pastinya membutuhkan ibunya. Merry juga merasa semua yang telah Ambar dapatkan sudah cukup membuat dia jera.

__ADS_1


"Semuanya sudah selesai Mbak. Mari hidup dengan baik bersama keluarga kita masing-masing!" ucap Merry.


Bagaimana pun juga Ambar adalah ibu dari anak-anak.


Merry tetap bersikukuh marah kepada Ambar pun percuma, anaknya sudah tiada. Dendam pun juga percuma. Tidak ada manfaatnya. Yang ada hanya menambah penyakit hati.


Lagipula, anak yang sudah tiada juga tidak akan bisa kembali ke perut Merry walaupun Merry lagi. Hal yang paling benar untuk dilakukan adalah ikhlas dan memaafkan.


Merry juga sadar emosinya saat itu juga suatu kesalahan. Apalagi sampai ada niatan meninggalkan Daris dan anak-anak. Itu bukanlah hal yang benar.


Merry menyadari, suaminya ini juga orang biasa. Merry rasa cukup juga bagi Daris untuk mengerti semuanya. Cukup untuk memperbaiki kesalahannya.


Begitu juga dengan dirinya sendiri. Cukup bagi Merry untuk menjadi sebuah pelajaran agar lebih baik, lebih hati-hati, dan memperbaiki kesalahannya juga.


Saat ini, ada Luham, Liam, Emir, dan Raya yang harus ia jaga, bimbing, dan sayangi. Mereka yang sudah jelas memang membutuhkan Merry.


Jangan hanya karena satu masalah, anak-anak yang lain ikut menjadi korban.


Saat ini, cukup bagi Merry untuk menjaga dan menyayangi mereka.


Merry percaya, nantinya Tuhan akan memberikan lagi seorang anak. Anak yang tentunya harus ia jaga dan sayangi seperti yang lainnya. Anak yang nantinya akan menambah kehangatan di keluarganya.


Merry juga merasa beruntung ada Amar di hidupnya. Walaupun takdir membawa mereka untuk menjadi adik dan kakak, bukan menjadi pasangan hidup. Kasih sayang yang Amar berikan kepada Merry sangat membuat Merry merasa menjadi orang yang paling beruntung di muka bumi ini.


Merry akan tegar, ia tidak ingin mengeluarkan air matanya lagi. Sudah cukup baginya mengeluarkan air mata kemarin. Dia akan menjalani hidupnya dengan bahagia bersama keluarganya.


Ambar begitu menyesali perbuatannya. Dia begitu tersentuh dengan wanita yang ada di sampingnya ini. Terbuat dari apa hati Merry bisa sebaik ini. Bisa semudah ini memaafkan kesalahan Ambar.


Ambar saja belum tentu bisa setabah Merry jika ditimpa masalah seperti ini.


Rasanya Ambar begitu malu. Terlebih kepada anak-anaknya.


Ambar menatap Luham dan Liam. Sayangnya, mereka enggan untuk menatap Ambar. Ambar tahu pasti anak-anak sangat marah kepadanya.


"Luham, Liam, Mama minta maaf ya!" ucap Ambar lirih.


Luham dan Liam mengacuhkan permintaan maaf dari Ambar.

__ADS_1


Merry mengamati respon anak-anak kepada Mamanya. Sedangkan Daris ikut masa bodoh seperti anak-anak.


"Maafkan Mama yang sudah menyakiti kalian!" lanjut Ambar.


Anak-anak juga masih mengabaikan dia.


Hati Ambar terasa nyeri diabaikan oleh anak-anaknya. Mungkin kasih sayang kepada dirinya sudah hilang dalam diri anak-anak. Ini sangat menyakitkan bagi Ambar. Namun, sekali lagi Ambar sadar bahwa ini adalah balasan atas perilakunya.


Walaupun Merry tahu Ambar salah, tapi melihat Ambar diabaikan oleh anak-anak juga membuat Merry tidak enak hati.


Anak-anak dan suaminya ini masih marah kepada Ambar.


"Mungkin anak-anak butuh waktu Mbak. Tapi Mbak tenang saja anak-anak itu tetap sayang kepada Mbak!" sahut Merry.


Merry juga tidak bisa langsung memaksa anak-anak untuk berbicara kepada mamanya. Merry takut hal itu membuat anak-anak sakit hati dan semakin membenci mamanya.


Biarkan semua membaik secara perlahan. Semua butuh waktu. Yang pastinya, Merry akan selalu memberikan pemikiran positif kepada mereka. Merry mau mereka tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan pemaaf.


Merry tahu dia memang sangat tersakiti oleh perilaku Ambar, tapi separah apa dia tersakiti, mungkin anak-anak lah yang lebih tersakiti.


Mama yang sudah mengandung, melahirkan, membesarkan, dan membimbing mereka. Mama yang pastinya juga mereka banggakan dan jadikan idola, melakukan kejahatan kepada orang yang disayanginya di depan mata kepalanya sendiri.


Pasti mereka syok, kecewa, dan patah hati.


Mereka juga tidak ingin keadaannya seperti ini. Pasti mereka ingin semuanya hidup baik-baik saja.


Kasihan mereka, masih kecil sudah mengalami permasalahan seperti ini.


Kasihan juga mereka, masih kecil sudah dihadapkan pada perasaan benci dan kecewa kepada ibunya sendiri.


Bagi Merry semuanya sudah selesai. Biarkan semua kembali seperti dulu walaupun tentu saja itu tidak bisa.


Tapi setidaknya biarkan keluarganya hidup tanpa dendam kepada siapapun. Dan biarkan anak-anaknya tetap menyayangi ibunya.


Merry hanya ingin keluarganya hidup dengan damai.


Ambar menatap dengan sendu wanita berhati malaikat di depannya ini. Sungguh, Ambar sangat malu menyakiti wanita sebaik ini.

__ADS_1


Dialah wanita yang pantas untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Bukan wanita seperti dirinya yang egois dan mau menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya.


Ambar memang ibu kandung dari Luham, Liam, dan Emir. Namun, Ambar merasa Merry yang lebih pantas menjadi ibu bagi mereka.


__ADS_2