Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Erga


__ADS_3

Bruk.


"Aw," teriak Merry.


Merry terjatuh dengan posisi duduk tertimpa seorang pemuda yang baru saja dipukul oleh pria yang nampak seperti preman.


Pemuda itu segera berdiri, lalu menolong Merry.


"Sorry sorry Kak, Lo nggak papa kan?" Pemuda itu memeriksa keadaan Merry.


Merry membersihkan bajunya dan celana kulotnya yang kotor. Sakitnya sih tidak seberapa. Tapi kagetnya itu yang lumayan seberapa.


Tidak tahu muncul dari mana, tiba-tiba dia muncul dengan keadaan dipukul orang lain sampai menabrak lalu menimpa Merry.


Tentu saja Merry yang sedang fokus memilih sayur terkejut. Lagi pula ini di pasar, tempat umum. Kenapa mereka bertengkar?


"He, Lo harus bayar hutang-hutang Lo!" Teriak preman itu.


Tentu saja orang-orang yang ada di sana tidak tinggal diam. Mereka menghalangi agar preman itu tidak memukul pemuda itu lagi.


Sedangkan pemuda itu tidak melawan. Wajahnya sudah babak belur.


"Itu bukan hutang gue. Kalau Lo mau nagih, ya udah sana tagih sana sama yang punya hutang, kenapa sama gue?" jawab pemuda itu dengan berteriak juga.


"Tolong jangan buat keributan di sini!" kata salah seorang penjual di pasar itu.


"Gue nggak mau tahu pokoknya Lo harus bayar. Kalau enggak, kena Lo!" Setelah berkata demikian dengan penuh emosi, preman itu pergi. Mau diteruskan juga di sini banyak orang.


"Huu, pergi Lo sana, pengecut huu, yang ngutang siapa nagihnya ke siapa!" Pemuda itu meneriaki preman itu.


Merry yang masih berada di situ, tapi sedikit menjauh menggeleng kepala. Masih punya keberanian kuat rupanya walaupun wajahnya sudah babak belur.


Setelah tersadar, pemuda itu menoleh ke belakang, rupanya Merry sudah tidak ada. Tentu saja tidak ada. Merry sudah sedikit menjauh.


Pemuda itu mengedarkan pandangan mencoba mencari Merry.


"Kak, iya Kakak, Kakak yang tadi!" teriak


pemuda itu saat berhasil menemukan Merry.


Pemuda itu berlari ke arah Merry.


Rupanya yang luka hanya wajahnya. Itu kakinya masih bisa berlari dengan kokoh.


"Sorry ya Kak, nggak ada yang luka kan?" ucap pemuda itu sambil cengengesan, lalu memeriksa keadaan Merry sekali lagi.


"Nggak papa kok, nggak ada yang luka juga!" jawab Merry sembari tersenyum.


Memang tidak ada yang luka. Hanya saja, mungkin setelah pulang dari pasar, saat diperiksa ada sedikit memar.


Terlepas dari masalah pemuda ini yang tadi membahas hutang, Merry tidak peduli. Merry akan terus berusaha baik dengan semua orang.

__ADS_1


Hutang tadi kan urusan pemuda ini dengan preman tadi. Sedangkan dengan Merry tidak ada urusan apa-apa. Jadi, cukup bagi Merry untuk bersikap baik.


"Segera diobati luka di wajahnya, nanti takut infeksi!" ujar Merry.


Bukan bermaksud apa-apa, saat melihat pemuda ini, Merry teringat kepada Raya. Mungkin pemuda ini seumuran dengan Raya atau mungkin lebih dewasa sedikit.


Pemuda itu tertegun. Dia terpaku menatap Merry.


Merry tersenyum kepadanya. "Ya sudah saya pamit dulu. Mau lanjut belanja!" pamit Merry.


Urusannya sudah cukup sampai di sini dengan pemuda ini.


"Tapi nggak ada obat, Kak!" ujarnya cepat saat Merry ingin melangkah pergi.


Merry berhenti, lalu berkata, "Ayo ikut saya ke apotek depan!" Kebetulan di samping pasar terdapat apotek.


Pemuda itu tersenyum sumringah. Dia mengikuti Merry dari belakang.


Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkan seperti obat merah dan salep.


"Ini diobati pake ini ya. Jangan bertengkar lagi!" ucap Merry sambil menyerahkan obat itu kepada pemuda itu.


Lagi-lagi, pemuda itu tertegun melihat Merry memberikan obat kepadanya. Bibirnya terus tersenyum.


Setelah menerima obat dari Merry.


"Makasih ya, kenalin nama gue Erga!" pemuda yang ternyata bernama Erga itu mengulurkan tangan mengajak Merry berkenalan.


"Saya Merry!" Merry menjabat tangannya.


"Iya, gue Erga. Makasih banyak ya buat obatnya!" ucap Erga.


"Iya sama-sama!" jawab Merry, lalu kembali masuk ke dalam pasar untuk berbelanja.


Setelah Merry pergi. Erga masih diam di tempat. Dia mengamati obat itu.


"Merry!" gumam Erga disertai senyuman yang sumringah.


**


"Sayang!" panggil Daris saat melihat Merry sedang mencuci buah anggur merah yang tadi ia beli di pasar di wastafel.


"Iya Mas, ada apa?" jawab Merry.


Sejak tadi pagi, sampai sekarang siang hari, jika dihitung kurang lebih sudah lima puluh kali Daris memanggilnya sayang.


Biasanya jika ada anak-anak, Daris juga ikut memanggil bunda. Untuk sehari saja, panggilan bunda bisa terucap ribuan kali dari mulut Daris dan anak-anak.


Buun, Bunda. Kata itu selalu terngiang-ngiang di pikiran Merry. Sedikit-sedikit Bun, ada apa-apa Bunda, ada ini itu Bunda.


Ya sudah, Merry bersyukur. Beruntung bisa merasakan rasanya menjadi istri dan ibu.

__ADS_1


"Manggil doang, Sayang!" jawab Daris.


Merry membuang napasnya pasrah.


Ya, memang seperti ini suaminya, suka iseng. Tiba-tiba memanggil, saat dijawab ada apa, ternyata hanya memanggil saja.


"Sayang?" panggil Daris lagi.


Merry enggan menjawab. Dia tetap asyik melanjutkan mencuci buah. Tadi selain anggur merah, Merry juga membeli mangga dan pisang.


"Sayang, dipanggil kok nggak jawab sih?" Protes Daris sambil mendekat kepada Merry.


"Iya ada apa?" jawab Merry.


Sudah sudah, mengalah saja. Tidak perlu komplain dengan alasan siapa suruh kamu suka iseng memanggil aku tanpa tujuan.


Sudah cukup sampai di sini, nanti urusannya jadi panjang.


Sejenak Merry melihat wajah Daris. Merry tertawa. Wajahnya cukup menghibur saat sedang cemberut seperti ini.


Lihat saja, seolah-olah dia sedang terdzolimi dan menjadi korban. Padahal, Daris lah yang sering menjadikan Merry sebagai korban.


"Jalan, yuk! Mumpung anak-anak lagi nginep di rumah Om Tantenya!" ajak Daris.


Kebetulan Luham, Liam, dan Emir sedang menginap di rumah sepupu Daris. Raya juga sudah kembali ke luar kota.


"Hilih hilih, nyuri kesempatan mumpung anak-anaknya lagi nggak ada di rumah!" jawab Merry sembari mencebikkan bibir.


Daris terkekeh. "Harus dong!"


Lalu dia memeluk Merry dari belakang.


"Jangan gini Mas, lagi di dapur, malu kalau dilihat Bi Sami!" ujar Merry.


"Sejak kapan kamu malu sama Bi Sami?" tanya Daris yang tetap kekeuh memeluk istrinya.


"Sejak saat ini deh kayaknya!" jawab Merry sambil tertawa.


Daris ikut tertawa sambil mendusel-ndusel ke rambut Merry. Lalu, meletakkan dagunya di pundak Merry. Kedua tangannya juga melingkar di perut Merry.


"Makasih ya, Sayang!" ucap Daris lirih.


"Makasih untuk?" tanya Merry. Tangan Merry juga ikut memeluk tangan Daris.


"Makasih udah mau nerima aku. Makasih udah mau nerima anak-anak. Kadang sampai sekarang aku masih nggak percaya, kagum, dan terheran-heran melihat kamu bisa sesayang dan menerima seperti itu ke anak-anak. Kamu benar-benar mendedikasikan hidup kamu untuk anak-anak. Kamu belajar dari nol. Belajar dengan susah payah. Banyak banget rintangannya. Tapi kamu nggak pernah nyerah. Aku kagum banget sama kamu. Makasih banyak ya, Sayang!" tutur Daris.


Merry tersenyum sembari tangan kanannya mengusap-usap pipi kanan Daris.


"Sama-sama. Makasih juga loh buat suami aku yang super keren ini. Apalagi kamu juga jadi papa yang super baik, super idola buat anak-anaknya, dan jadi papa idaman deh pokoknya. Apa namanya Mas, em, jadi hot daddy, aw, hehehe!" ucap Merry diakhiri dengan tawa.


"Hot daddy and hot husband mungkin ya!" ujar Daris sembari tertawa.

__ADS_1


Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Merry.


Merry menciumi wajah Daris dari samping. Suami suami. Dasar Pak Suami.


__ADS_2