Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Perintah Bunda


__ADS_3

Author POV


"Luham sebelah Bunda!" seru Luham sambil bersiap rebahan di sebelah Merry.


"Ga boyeh, ini tempat Emil!" protes Emir sambil menarik-narik baju Luham agar Luham pergi.


"Ih Adek, nggak mau!" Luham tetep kekeuh tidur di sebelah Merry.


"Nggak boyeh, nggak boyeh!!" Emir semakin kencang menarik baju Luham sambil hidungnya kembang kempis bersiap hujan badai.


"Aduh aduh, sebentar sebentar jangan bertengkar!" Merry mencoba memisah pertengkaran anak-anaknya.


"Gini gini, ayo berdiri dulu semua!" perintah Merry pada anak-anaknya. Begitupun Liam juga menurut untuk berdiri.


Mereka berdiri di atas ranjang.


Merry menepuk jidatnya pelan, harusnya kan berdiri di lantai, bukan di atas ranjang.


Tapi ya udahlah gapapa, salah Merry juga barusan memberi perintah nggak lengkap kalau berdirinya harus turun dulu dari ranjang, terus berdiri deh di lantai.


Setelah anak-anak berdiri dan berjejer rapi.


"Dengerin Bunda ya!" jeda Merry.


"Pertama, sebelum tidur anak-anak Bunda yang ganteng ini wajib gosok gigi, nggak boleh males!" sambung Merry.


"Sekarang Bunda tanya, siapa di sini yang biasanya males buat gosok gigi sebelum tidur?" tanya Merry dengan gaya sok mengintimidasi sambil berdiri di lantai di depan anak-anaknya.


Luham dan Liam saling pandang, lalu saling menunjuk satu sama lain.


"Liam Bunda!" seru Luham.


"Bohong, Luham yang suka males nggosok gigi!" protes Liam sambil kekeuh menuduh Luham juga.


Merry cekikikan melihat anak kembarnya berdebat. Ini pertama kalinya dia melihat si kembar debat.


"Ya udah stop, pokoknya mulai malam ini dan seterusnya harus rajin!" ujar Merry dengan tegas namun santai.


"Kalau Adek Emir gimana?" tanya Merry sambil melihat Emir.


"Emil syuka gosyok gigi sama Papa!" ujar Emir dengan polos.


"Tapi kadang Adek suka males Bunda, suka nangis kalau diajak gosok gigi!" sahut Luham.


Bukannya mengelak seperti Liam dan Luham


yang saling menuduh tadi, Emir malah nyengir menunjukkan bahwa itu memang benar adanya.


"Ya udah, Adek mulai sekarang harus rajin ya!" ujar Merry dengan sabar.


Anak manis dan tampan itu mengangguk patuh. Pokoknya, apa yang diucap oleh Bundanya, Emir selalu menurut saja. Ucapan Bunda adalah sihir bagi Emir.


"Dan yang kedua, sebelum tidur Bunda minta kiss dulu dari anak-anak Bunda yang super ganteng-ganteng ini!! Hukumnya wajib!" pinta Merry sambil menahan tawanya.


Luham langsung mengangguk bahagia dan diikuti Emir yang ngikut aja sama Kakaknya.


Merry langsung melihat ke arah Liam, " Gimana Kak Liam?" tanya Merry sambil tersenyum menggoda pada Liam. Merry akan berusaha sekuat tenaga agar bisa akrab pada Liam.


Liam hanya diam saja.


"Mau kan kiss Bunda setiap mau tidur?" tanya Merry.


Akhirnya, Liam mengangguk dengan ragu dan pelan. Merry tertawa di dalam hati, biarin aja jadi Bunda yang egois buat Liam, yang penting dia bisa akrab sama Liam.


"Yang ketiga--,"

__ADS_1


"Masih ada lagi Bunda?" sahut Luham memotong pembicaraan Merry. Padahal, Luham ingin segera tidur mepet-mepet sama Bundanya.


"Ada, sampai sepuluh loh!" jawab Merry berniat menggoda anaknya.


Luham langsung mengerucutkan bibirnya,


"Banyak banget Bunda!" keluh Luham.


"Hihihi, Bunda bercanda, udah ih sekarang waktunya bobo!!" seru Merry sambil tertawa.


"Yee, ayo bobo Bunda ayo!!" teriak Luham dan Emir.


"Ayo kiss Bunda dulu!" ujar Merry sambil mengerucutkan bibirnya.


Tanpa ba bi bu, Emir langsung mencium bibir Bundanya yang mengerucut, tidak hanya bibir, tapi juga ada tambahan pipi dan dahi.


Selanjutnya Luham juga langsung mencium Bundanya.


Saat waktunya Liam, ia ragu-ragu untuk mencium, walaupun akhirnya ia juga mencium Merry, lalu setelah itu Liam tersenyum.


Setelah drama Liam mencium Merry, Luham dan Emir berebut untuk mencium Merry lagi. Mereka tertawa saat berebut, begitu juga dengan Merry.


Setelah mengalami pendramaan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya mereka mendapat posisi tidur Emir dan Luham mengapit Merry, sedangkan Liam tidur disebelah Emir. Ranjang yang ukurannya lumayan besar pun full diisi oleh mereka berempat.


"Doa dulu sayang!" perintah Merry.


*****


Detik jam terus berdetak, anak-anak sudah larut dalam tidurnya, kecuali Merry. Dia menerawang bagaimana dia harus bersikap kedepannya.


Sungguh tidak menyangka jika mulai hari ini tanggung jawabnya jauh lebih besar ketimbang menjadi bodyguard. Tanggung jawab untuk menjaga dan mendidik amanah luar biasa dari Tuhan ini.


Jam menunjukkan pukul dua belas malam, tapi Daris belum masuk ke kamar untuk tidur. Merry mengira-ngira sedang apa Daris di bawah.


Merry mencoba beranjak dari tempat tidur dengan perlahan. Wih, sepertinya mulai hari ini Merry akan terbiasa dengan skill bergerak secara senyap. Iya, bergerak secara senyap supaya anak-anak nggak bangun dari tidurnya.


"Luar biasa!!" ucap Merry pelan sambil tertawa tanpa suara.


Merry membuka pintu kamarnya dan memunculkan kepalanya ke luar menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari Daris. Hanya terlihat beberapa pelayan sedang beres-beres.


Lalu Merry melangkahkan kakinya ke luar untuk menyapa para pelayan tersebut.


"Belum tidur Mbak?" tanya Merry. Para pelayan itu adalah pelayan yang dibawa dari rumah Mommy Tyas dan pelayan asli yang dipekerjakan di villa mewah milik keluarga Syah.


"Eh, Non Merry, belum Non ini sedikit lagi selesai!" jawab salah satu pelayan, tapi pelayan lain juga ikut berhenti mendekat pada Merry.


"Udah malem loh, kalian pasti udah capek banget!" ujar Merry sambil celingukan melihat kurang seberapa sih sisa pekerjaan mereka.


"Iya Non, kurang sedikit kok!" jawab salah satu pelayan wanita.


Merry mengangguk, "Merry bantu ya?" tawar Merry.


"Jangan Non, jangan!" tolak para pelayan dengan cepat. Mana mungkin mereka membiarkan majikan mereka membantu membereskan sisa pesta, apalagi ini udah malam, dan ini juga malam pertama pernikahan majikannya.


"Ih santai aja kali, gapapa biar cepet selesai, jadi kalian cepet istirahat!" uajr Merry sambil langsung ikut membereskan sisa-sisa pesta.


"Non, jangan Non!" para pelayan terus saja menghadang Merry agar tak membantu mereka.


"Udah ih, sekarang buruan kalian bantuin gue beres-beres ini!" ujar Merry sambil terus membereskan.


Setelah memakan waktu dua puluh menit untuk membereskan, akhirnya selesai juga. Semua sudah beres. Merry berjalan dari arah dapur untuk kembali ke kamarnya.


Ternyata, sedari tadi Daris sudah memperhatikan Merry dari depan pintu kamar mereka. Tadi Daris udah mau masuk kamar, tapi saat tahu Merry membantu para pelayan beres-beres, Daris menahan dirinya untuk berdiri di depan pintu untuk melihat Merry.


Merry cukup terkejut dengan keberadaan Daris.

__ADS_1


"Mas!" sapa Merry dengan terkejut.


"Belum tidur kamu?" tanya Daris.


Merry tersenyum, "Belum dong, kalau udah tidur mana mungkin berdiri di sini!"


"Silahkan masuk!" ujar Daris mempersilahkan


Merry untuk masuk ke kamar.


Merry mengangguk, lalu masuk dan disusul Daris di belakangnya sambil mengunci pintu kamar.


"What??" Daris terkejut melihat pemandangan ranjang pengantin yang penuh dengan anak-anak yang posisi tidurnya sudah tak beraturan.


Daris memandang Merry dengan tatapan


penuh tanya.


Merry terkekeh, lalu berjalan mendekat pada anak-anak. Merry membetulkan posisi tidur anak-anak agar sedikit lebih rapi. Setelah sedikit rapi, terdapat peluang tempat untuk satu orang di antara Luham dan Emir, sama persis seperti posisi tidur Merry tadi.


"Hanya sisa satu tempat?" tanya Daris.


Merry mengangguk. "Silahkan kalau Mas mau tidur di situ!" ujar Merry.


Daris mengerutkan dahi, jadi malam ini mereka tidurnya terpisah?


"Terus kamu di mana?" tanya Daris.


"Tuh!" Merry menunjuk sofa yang cukup luas dan muat untuk tidur dua orang jika tidurnya saling berdempetan.


Daris segera berjalan menuju sofa itu dan mulai merebahkan diri. Merry langsung mendekat juga, bukan untuk tidur bersama, tapi ingin protes.


"Kan aku nyuruhnya kamu tidur di ranjang bareng anak-anak, kok malah di sini? Yang tidur di sini biar aku aja Mas!" protes Merry.


Daris langsung bangun dari tidurnya.


"Aku tahu istriku mantan bodyguard kuat, tapi anak-anak lebih butuh kamu daripada aku! Jadi, kamu aja yang tidur sama anak-anak!" jelas Daris.


"Beneran Mas Daris tidur di sofa?" tanya Merry.


"Iya, toh ini sofanya juga enak banget, nyaman banget! Kayanya pulang dari sini aku harus beli yang kaya gini juga deh!" ucap Daris sambil mengambil posisi paling enak.


Merry pun berjalan menuju almari dan mengambil selimut.


"Ini Mas, dipakai selimutnya, dingin soalnya!" ujar Merry sambil menyerahkan selimut yang ia ambil dari almari kepada Daris.


"Makasih!" ucap Daris.


Setelahnya, Merry menuju tempat tidur untuk bersiap tidur juga.


Ternyata udah jam satu dini hari, udah ganti hari nih.


Merry sejenak memandangi wajah lelap anak-anaknya yang amat tampan itu.


Setelahnya, ia berganti memandangi suaminya yang sudah terpejam di sofa.


Merry tersenyum tipis, kalau biasanya pengantin baru di malam pertama akan canggung atau bagaimana pun itu, hal tersebut berbeda dengan dirinya dan suami.


Canggung itu pasti, tapi mereka mencoba santai, toh ada anak-anak di sini. Jadilah malam pertama mereka seperti malam-malam biasa para pasutri yang usia pernikahannya di atas sepuluh tahun. Nggak tidur seranjang lagi karena harus mengalah dengan anak.


Merry menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, ia akan selalu bersyukur terhadap apa yang telah Tuhan berikan padanya.


Klik.


Merry mematikan lampu kamar dan mengganti depan lampu tidur yang remang-remang.

__ADS_1


-------------------------


Stay safe stay healthy kawan-kawan ❤️❤️


__ADS_2