Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Kencan Yuk Mer!


__ADS_3

"Wah sosis, punya siapa nih? Punya kamu Mer?" tanya Amar yang mampir ke meja makan saat melihat Merry yang juga ada di meja makan.


"Punya Chan!"


Akhirnya Amar yang perutnya elastis, seperti tidak pernah kenyang menghabiskan sisa sosis milik Chan. "Kencan yuk Mer!" ajak Amar.


"Ke mana?" tanya Merry yang ikut duduk di kursi.


"Terserah!" jawab Amar sambil mengunyah sosis.


"Tanya Chan aja, pengen ke mana!" Demi keluarga yang sangat berarti di hidup Merry, ia pasti mau diajak ke luar oleh Amar.


"Nasib pak duda, pengen kencan aja harus ngajak anak!" gerutu Amar pelan tapi masih bisa didengar oleh Merry. Sedangkan Merry hanya menyebikkan bibir, harus ingat keadaan kalau emang udah punya anak.


"Chan!" panggil Amar sedikit berteriak. Si Chan langsung berlari ke arah papinya.


"Chan pengen main ke mana? Besok kita jalan-jalan sama Auntie Merry juga!" ucap Amar.


"Yeeeee, Chan mau ke fun world Papi, ayo ayo sekarang!" Chan melompat-lompat sangat antusias karena sudah lama sekali tidak pernah jalan-jalan di Indonesia.


"Besok saja, papi capek mau istirahat dulu sekarang!"


Chan langsung lesu, tapi ya sudah tidak papa yang penting jalan-jalan. Dan Chan langsung pergi ke kamar Omanya karena ingin bermain bersama Oma Tyas.


"Pijitin dong Mer, capek banget nih!" ujar Amar.


"Ogah!" singkat Merry sambil berlalu dari Amar.


*****


Keesokan harinya.


"Jalan oh jalan, kenapa rame banget!" keluh Amar yang sedang menyetir.


Merry duduk di sampingnya, sedangkan Chan di belakang. Amar memang suka menyetir sendiri, kecuali saat bekerja atau sedang dalam perjalanan bisnis.


"Buat jalan sendiri biar nggak rame!" sahut Merry. "Ide yang bagus!" ujar Amar sambil tertawa.


"Papi, Chan mau yang luamaa kalau main ya!" ujar Chan penuh semangat. "Iya, sepuasnya Chan!" jawab Amar.


"Nanti ditemenin Auntie Merry ya!" sambung Amar. Wah, alamat harus punya stok sabar yang banyak nih Merry. Chan terus saja mengamati keadaan luar melalui jendela mobil.


"Auntie, kenapa Sheryl suka dimarahi Mamanya?" tanya Chan pada Merry, kenapa nih anak mau ngajak ghibahin tetangga sih.

__ADS_1


"Karena Sheryl salah, itu nggak dimarahin, tapi dikasih tahu kalau salah!" jawab Merry sambil tetap fokus melihat jalanan di depannya.


"Tapi Sheryl kan masih kecil!" ujar Chan yang punya argumen sendiri.


"Justru karena masih kecil, kalau salah yang harus segera diingatkan! Dari kecil dimanja terus, nanti kalau udah besar malah sulit bentukannya, harus dari kecil didikannya!Dengan kata lain dibiasakan!" tutur Merry yang sebenarnya untuk nabrak Amar, kalau Chan ngga mungkin paham sedalam itu.


Amar terlalu memanjakan Chan, ya terserah sih tapi tentu ada efek nggak baiknya juga. Lihat saja sekarang Chan jadi anak yang maunya menang sendiri.


Tentu Amar yang merasa tertabrak hanya menghela nafas, betul juga apa yang dikata Merry. Walaupun semua semata-mata ia lakukan karena kasihan Chan yang tidak punya ibu.


Nasibnya sama seperti Emir, orangtuanya bercerai saat Chan umur dua tahun. Sekarang Maminya Chan tinggal di Australia bersama keluarga kecilnya yang baru. Maminya udah nikah sama bule asli Australia.


"Tapi Sheryl memang nakal sih, suka pinjam mainannya Chan!" ujar Chan.


"Ya dipijami nggak papa, kita kan nggak boleh pelit!" jawab Merry.


"Tapi Sheryl suka lama kalau pinjam!" protes Chan. Sebenarnya bukan Sheryl yang lama meminjamnya, tapi memang Chan yang pelit pada teman-temannya.


Tiba-tiba Merry teringat pada Si Kembar Luham dan Liam, sama-sama anak broken home seperti Chan. Mungkin penyebab mereka seperti itu pada Merry kemarin saat bertemu Merry karena mereka memang anak broken home.


Kalau Emir mungkin tidak atau belum merasakan efeknya karena jadi anak broken home pas masih bayi, tapi kalau si kembar tentu sudah bisa merasakan. Merry jadi kasihan. Hatinya berdenyut nyeri.


"Sheryl kan nggak punya mainan kaya punya Chan, jadi kasihan dipinjami saja! Memangnya barangnya dirusakkan sama Sheryl?" tanya Merry. Chan menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Lah enggak kan, makanya nggak papa! Lain kali nggak boleh pelit ya!" Menurut Merry anak ini harus diajari pelan-pelan supaya lebih baik buat kedepannya.


*****


Setelah semua keinginan Chan terpenuhi di mall hari ini, mereka berjalan menuju restoran yang masih di dalam mall karena Chan lapar.


Chan menggandeng tangan Merry dan Papinya karena happy. Walaupun sedari tadi Merry dibuat harus ekstra sabar menghadapi Chan.


Merry terkesiap saat di depannya ada orang baru ia kenal juga ada di sini. Orang itu adalah Bapaknya Emir, bersama dengan pria menyebalka Al. Merry juga bisa melihat ekspresi wajah Daris yang tak kalah terkejutnya.


Dan pada akhirnya mereka pun berpapasan.


"Selamat siang Pak Amar!" sapa Daris dengan sopan. Mereka menghentikan langkahnya, begitupun juga dengan Merry dan Amar.


"Siang Pak Daris, wah kebetulan bisa berpapasan!" sapa Daris juga dengan ramah.


"Siang Pak Amar!" kali ini ganti Al yang menyapa. Kalau Daris terkejut, tentu Al jauh tak kalah terkejutnya dari Daris. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Merry tersenyum sejenak pada Daris, lalu kembali mengeluarkan ekspresi datar.


"Mer!" sapa Daris pada Merry dan dijawab anggukan sembari tersenyum oleh Merry.

__ADS_1


"Kalian saling mengenal?" tanya Amar yang sekarang terlihat lebih berwibawa, tapi tetaplah ramah dan hangat.


"Baru kenal Kak!" jawab Merry. Al langsung terbelalak mendengar Merry memanggil Amar Kak, apakah Merry adiknya atau pasangannya, astaga dulu ia telah menuduh Merry penculik, kalau ternyata dia keluarga Amar Syah waah bisa berabeh nih urusannya.


"Oh ya, ini Al sekretaris pribadi saya!" Daris ganti mengenalkan Al pada Merry dan Merry pun tersenyum sebentar pada Al. Tidak ada faedahnya menyimpan dendam. Al akhirnya juga langsung tersenyum pada Merry.


"Oh ya, ini Merry adik saya!" Daris dan Al sama-sama terkejut mendengarnya, adiknya Amar Syah?? Whatt??


Amar Syah adalah pengusaha properti ternama yang tentu jauh di banding perusahaan milik Daris. Ternyata eh ternyata.


"Wah, senang bisa kenal dengan keluarga Pak Amar!" ucap Daris.


"Pak maaf kalau saya lancang, tapi apa saya boleh berbicara sebentar dengan Merry!" ujar Daris to the point.


"Silahkan, tapi di sini saja ya!" perintah Amar yang terdengar protektif.


"Terimakasih Pak!"


"Mer, Emir udah sembuh dan dia terus nagih janji buat ketemu kamu lagi!" Jedarr, jantung Merry langsung melompat-lompat, jedag-jedug kaya diskoan.


Amar terlihat cengoh, penasaran akut sejauh apa sih sebenarnya mereka kenal.


"Anterin aja Pak ke rumah, ke rumah Bapak Amar Syah!" jawab Merry sambil sejenak menoleh ke Amar. "Oh ya boleh boleh, dengan senang hati kalau mau berkunjung ke rumah!" sahut Amar.


"Sekalian si kakak kembar diajak!" pinta Merry.


Chan yang penasaran kenapa ada kembar-kembar segala mendongak menatap Merry.


"Apa boleh tukeran nomer Mer?" pinta Daris yang membuat Merry dan Amar terkejut.


Mungkin Daris terbilang berani langsung to the point begini di depan Amar. Yang notabenenya Amar adalah kakak Merry, di samping ia juga pengusaha yang disegani.


"Boleh!" jawab Merry yang membuat Amar semakin terkejut. Kenapa si Merry dengan begitu mudahnya memberi akses yang terbilang privat. Sebenarnya sudah sedekat apa sih mereka.


Daris memberikan handphone nya lalu Merry mencatat nomer miliknya. "Sudah!" ucap Merry lalu kembali menyerahkan hp kepada pemiliknya.


"Ayo Papi, Chan sangat lapar!" keluh Chan sambil menarik-narik ujung kaos papinya.


Daris yang melihatnya jadi merasa tidak enak menganggu acara keluarga mereka.


"Makasih Mer!" ucapnya pada Merry dan Merry pun mengangguk.


"Maaf juga jadi mengganggu waktu Bapak kalau begitu saya pamit!" lanjut Daris berpamitan pada Amar.

__ADS_1


"Tidak masalah Pak Daris, santai saja!' jawab Amar sembari terkekeh kecil. Lalu mereka pun berpisah.


Saat jarak mereka lumayan jauh. "Kamu pacaran sama dia?" tanya Amar to the point sembari mereka melanjutkan langkahnya menuju restoran.


__ADS_2