Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Berita Kedatangan Mamanya Anak-Anak


__ADS_3

Setibanya mereka di apartemen, Luham dan Liam langsung berlari menuju kamar.


Sedangkan Merry menuntun Emir untuk duduk di ruang keluarga.


"Emir tunggu sini dulu ya, duduk yang manis! Bunda mau ke kamar Kakak Kakak dulu, sebentar aja!" ucap Merry.


"Iya Bunda, tapi ga boleh lama-lama!" ujar Emir dengan posesif.


"Siap!" jawab Merry sambil mencubit gemas pipi Emir.


Setibanya di depan kamar anak-anak.


"Kak Luham, Kak Liam, ayo makan dulu, kayanya tadi lapar?" ucap Merry dari depan pintu kamar yang tertutup.


Merry tidak mendapat jawaban apapun.


"Kak, ayo makan dulu!" ucap Merry lagi sedikit berteriak, barangkali barusan anak-anaknya tidak mendengar.


Namun, tetap saja tak ada sahutan dari mereka. Akhirnya, Merry berinisiatif untuk membuka pintu kamar.


Ceklek


Merry melihat anak-anak sedang duduk di atas ranjang sambil melihat layar handphone milik Liam.


"Kak, ayo makan!" ujar Merry yang berdiri di tengah pintu.


Luham melihat ke arah Merry sambil tersenyum.


"Nanti dulu Bunda sekalian makan malam, nggak jadi lapar!" jawab Luham. Sedangkan Liam hanya sekilas melihat ke arah Merry lalu kembali fokus pada handphonenya.


"Sibuk banget ya? Bunda anterin makanannya ke kamar ya?" tawar Merry yang tidak mengerti apa yang sedang anak-anaknya lakukan.


"Eh, nggak usah Bunda! Kita lagi video call an sama Mama! Nanti aja sekalian makan malam!" tolak Luham, sedangkan Liam di sampingnya mengangguk menyetujui perkataan saudara kembarnya itu.


Kini Merry tahu ternyata anaknya sedang sibuk video call an dengan Mamanya.


Merry mengangguk sambil tersenyum, " Ya udah kalau gitu, nanti kalau udah jangan lupa mandi ya!" ujar Merry.


Seharusnya sepulang dari latihan futsal mereka langsung membersihkan diri dan katanya juga mau makan. Tapi karena sedang melepas rindu bersama Mamanya, Merry tidak mempermasalahkan itu, apalagi saat melihat anak-anaknya yang sangat bahagia, Merry tidak ingin merusak kebahagiaan itu.


"Iya Bunda!" jawab Luham singkat.


"Bunda keluar dulu ya!" pamit Merry lalu keluar dari kamar.


Belum sempat menutup pintu kamar dengan sempurna, Merry mendengar suara Luham berkata, "Iya Ma, itu Bunda!"


Merry yang mendengarnya tersenyum, pasti Mamanya anak-anak sedang menanyakan tentang dirinya pada Luham.


"Mama tenang aja, kita cuma sayang sama Mama kok, nggak ada yang bisa menggantikan Mama di hati kami!!" Kali ini ganti Liam yang bersuara.


Merry langsung memejamkan matanya mendengar hal yang menurutnya sangat menyakitkan. Merry memegang dadanya yang berdenyut nyeri.


Namun, ia buru-buru menepis rasa sakitnya dan langsung tersenyum.

__ADS_1


Tak mengapa, kehadiran Merry di sini memang tak ada niatan untuk menggantikan apalagi menyingkirkan posisi Ambar di hati anak-anak. Anggap saja Merry membantu Ambar untuk menjaga anak-anaknya.


Merry langsung menemui Emir di ruang keluarga, si kecil posesif yang dunianya hanya tentang Bunda. Merry menemani Emir bermain di ruang keluarga.


Saat menemani Emir, raganya memang berada di ruang keluarga, tapi pikiran fokus pada Daris yang sudah berubah.


Sejak awal pernikahan, sama sekali Merry belum merasa bahagia layaknya pengantin baru. Rumah tangganya langsung diterpa masalah yang cukup menguras tenaga untuk mencari jalan keluarnya.


Kini, Merry mulai tahu bagaimana Daris yang sesungguhnya. Bahkan, sampai saat ini pun Daris belum pernah menyentuhnya. Merry tahu, pasti ini ada hubungannya dengan


permasalahan yang sedang Daris hadapi.


Yang selalu Merry ingat adalah ia akan berusaha menjadi istri yang kuat dan tegar.


Merry yakin semua pasti berlalu dan mereka akan hidup sebagaimana normalnya suami istri atau menjadi keluarga yang bahagia.


"Hallo!" ucap Merry melalui sambungan teleponnya.


"Bagaimana?" tanya Merry.


Merry cukup lama mendengarkan penjelasan dari seseorang di seberang sana.


"Oke, terus cari tahu lebih dalam!" ucap Merry di akhir teleponnya.


Merry tersenyum miring setelah mendengar penjelasan dari seseorang melalui sambungan telepon.


"Sayangnya gue bukan wanita bodoh dalam hal seperti ini!" ucap Merry pelan sambil tetap tersenyum jahat.


Kling


08××××××××××


Hai Merry, suamimu memang luar biasaahh!! Aku selalu dibuat tak berdaya oleh dia!!


Merry membaca pesan itu dengan ekspresi yang meremehkan.


"Rupanya Lo mulai berani menampakkan diri ke Gue!" ucap Merry pelan dengan ekspresi yang berubah jahat.


"Gue ikuti permainan Lo!" lanjut Merry.


*****


Saat waktunya makan malam, Merry bersama suami dan anak-anaknya bersiap untuk makan malam bersama.


Merry mengambilkan makanan untuk Daris


seolah-olah tidak ada masalah apapun antara dirinya dan Daris. Merry juga tidak membahas perihal pesan dari nomor yang tidak dikenal tadi.


Bukan tanpa alasan, mereka seperti itu karena ingin terlihat baik-baik saja di depan anak-anak.


Merry juga mengambilkan makanan untuk Emir, sedangkan Luham dan Liam mengambil sendiri.


Emir makan sendiri tapi seringkali Merry juga membantu Emir saat Emir kesusahan memotong ayam kecap ataupun mengelap bibir Emir yang sangat cemong saat makan. Semua yang dilakukan Merry tak luput dari pandangan Daris.

__ADS_1


Di tengah kegiatan makan mereka, Liam berkata, "Pa, lusa Mama akan ke sini!"


Uhuk uhuk, Daris tersedak mendengarnya dan Merry pun langsung bergegas mengambilkan minum untuk suaminya.


"Nanti kita jalan-jalan berenam ya Pa! Grace pasti juga ikut!" lanjut Liam.


Daris beralih menatap Merry dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Merry juga balik menatap Daris.


"Bagus dong, nanti Bunda juga mau kenalan sama Mama!" sahut Merry sambil tetap melihat Daris dan tersenyum.


"Iya Bunda, nanti kenalan sama Mama ya!" jawab Luham.


"Nanti Papa mau kan jalan-jalan bareng sama Mama?" tanya Liam.


Daris langsung berganti menatap Liam.


"Iya, nanti Bunda juga ikut!" jawab Daris.


"Yah, kan Liam maunya pergi berenam!!" ujar Liam dengan kecewa.


"Nggak papa Liam, bertujuh pasti lebih seru!" sahut Luham yang tidak mempermasalahkan jika Merry ikut.


"Iya kan Pa? Lebih seru kan Pa?" tanya Luham pada papanya.


"Iya, kita jalan-jalan rame-rame!" jawab Daris.


Setelah menjawab demikian, Daris menatap Merry yang sedang membantu Emir.


Di sini, hanya Emir yang tidak paham dengan permasalahan Mamanya yang akan datang.


"Nggak papa, Bunda di rumah aja! Kalian pergi berenam!" Merry ikut menimpali sambil bergantian menatap suami dan anak kembarnya sembari tersenyum.


"Pergi dengan Emir tapi tanpa kamu! Apa kamu yakin kita bisa pergi dengan sukses?" tanya Daris yang sebenarnya enggan untuk bertemu dengan mantan istrinya, tapi mau bagaimana lagi ini demi anak-anak.


"Ya bisalah, kan ada Mamanya, ada kamu juga Papanya, bahkan ada Kakak-kakaknya juga!!" jawab Merry sambil terkekeh.


"Emir kan nggak bisa jauh-jauh sama kamu! Bahkan, dia lebih sayang ke kamu daripada ke aku!!" sanggah Daris.


Merry tersenyum pada suaminya. "Bisa kok, tenang aja!!"


"Mau kan Pa?? Please please!!" Liam memohon pada papanya.


Daris melihat ke arah Merry mencoba meminta bantuan, jujur rasanya Daris enggan untuk berhubungan lagi dengan mantan istrinya.


Merry mengangguk sambil tersenyum manis.


"I- iya Papa mau!!" jawab Daris dengan terpaksa demi anak-anaknya.


"Yee Yee!!" Luham dan Liam bersorak bersama.


Merry tersenyum melihat anak-anaknya bahagia.


Dari sini, Daris semakin takut dan cemas apakah benar Merry tidak cinta pada dirinya?

__ADS_1


Apakah Merry tidak sakit hati atau sejenis cemburu saat melihat Daris keluar bersama mantan istrinya? Daris jadi cemas!!


__ADS_2