Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Bunda Merry


__ADS_3

Setelah Maghrib, Merry menemani Emir untuk mewarnai buku mewarna yang baru saja dibelikan oleh Pak Njan.


Namun, lucunya, Emir tidak telaten untuk mewarnai, jadi Merry harus mengajarinya pelan-pelan.


"Emir nggak suka mewarna ya di rumah?" tanya Merry yang tengah sibuk menuntun tangan Emir untuk mewarnai gambar kelinci dengan krayon warna hitam. Emir menggeleng menandakan bahwa dirinya tidak suka mewarna.


"Ini kelinci. Kelincinya Emir bulunya warna hitam, telinganya panjang, punya gigi yang kuat, pintar, lucu, kuat, dan sukanya makan wortel!" tutur Merry sambil terus menuntun tangan Emir.


"Giginya ko ngga kelihatan?" tanya Emir seraya menyipitkan mata mengamati mana gigi kelinci. Merry terkekeh melihat anak kicik ini kepo mana gigi kelinci.


"Itu kan di gambar bibir kelincinya tertutup, ya nggak kelihatan dong giginya!" jelas Merry dengan sabar.


"Kincinya lucu?"tanya Emir serius pada Merry.


"Iya lucu, bisa lompat-lompat kecil juga!" jawab Merry.


"Emil mau Emil mau! Emil mau punya kinci! Telus Emil kasih woltel, bial kincinya gendhut!" seru Emir dengan semangat.


"Iya boleh, tapi Emir harus jadi anak yang pinter ya!" jawab Merry. Emir pun mengangguk-angguk dengan semangat.


"Terus kenapa kok Emir pilihnya warna hitam?" tanya Merry karena Emir kekeuh untuk mewarnai gambar kelincinya dengan warna hitam.


"Emil mau kinci itam! Kinci yang banyak-banyak!" seru Emir sambil merentangkan tangannya.


"Wah, anak pintar udah selesai mewarnai kelincinya!" seru Merry memberi pujian karena Emir telah selesai mewarnai gambar kelinci.


Emir bertepuk tangan dan juga diikuti oleh Merry.


"Sekarang coba kita lihat buku mewarnai yang satunya!" Merry membuka buku gambar yang satunya. Tadi, Pak Njan membelikan dua buku mewarna, sebuah buku belajar membaca jilid satu yang ada juga untuk belajar huruf dan angka.


Emir meminta buku itu untuk dibuka-buka sendiri. "Pelan-pelan ya kalau buka, biar nggak sobek! Nanti bukunya nangis kalau sobek!" tegur Merry dengan pelan.


"Waah, ada Papa, Mama, dan Emil!" seru Emir bahagia.


"Tapi Kakak Luam dan Liam mana? Tante Laya juga mana?" tanya Emir yang berubah sedih.


Merry jadi penasaran gambar apa sih yang anak itu temukan. Saat mengetahuinya, Merry langsung membelalakkan mata. Rupanya di situ ada gambar bapak, ibu, dan seorang anak kecil laki-laki. Tentu saja tidak ada gambar si kembar dan Raya, orang ini buku gambar, bukan buku request keluarga.


"Emir mau mewarnai ini?" tanya Merry.


"Tapi ngga ada Kakak Luam, Kakak Liam, dan Tante Laya?" tanya Emir dengan polos.


Dalam hati Merry jadi galau, jawab apa ya. Aslinya dia nggak punya banyak ide omongan atau candaan buat ngemong anak kecil gini.


"Emm, itu Kakak Luham, Kakak Liam, dan Tante Raya lagi tidur, jadi nggak ikut deh buat digambar!" jawab Merry yang sebenarnya ragu bener nggak sih jawab gini.


Bener nggak sih jawab gini, apa gue jawab aja itu kan buku mewarnai, udah dari sananya emang gambarnya gitu! Ah, tapi terlalu berat lah, udah deh biarin aja! Lambat laun juga pasti ngerti! batin Merry.


"Emil mau walna Mama!" seru Emir dengan semangat. Merry mengangguk menyetujui. Emir sejenak melihat kaos yang dipakai Merry, lalu kembali fokus pada buku mewarnainya.


"Baju Mama walna bilu, Emil mau pakai clayon bilu!" Ujar Emir semangat sambil mengambil krayon warna biru. Merry tergelak, dia kira tadi Mama yang ngelahirin, ternyata Mama yang disebut itu Mama dirinya. Apa iya nih anak nggak kenal ibunya, masa dari waktu itu kalau Mama langsung condongnya ke Merry.

__ADS_1


Kling


Handphone Merry bunyi.


Pak Daris:


Malam Mer, Emir lagi ngapain?


Merry membaca chat itu, lalu diam-diam memfoto Emir yang sedang mewarnai. Tak lupa pula hasil mewarnai pada gambar kelinci tadi juga difoto oleh Merry. Dan langsung cus kirim ke bapaknya.


Lima menit, bunyi lagi notif chat di handphone Merry.


Pak Daris:


Wah, mau ya suruh mewarna, biasanya nggak mau!


Merry tersenyum membacanya. Merry gitu loh! Eh, astaghfirullah nggak boleh sombong gitu.


Me:


Iya emang nggak suka, tapi dia tetap mewarna, Merry nggak maksa juga Pak!


Pak Daris:


Wah, tumben!


Me:


Pak Daris:


Enggak, besok kan weekend, mereka main PS!


Me:


Oh, gitu ya!


Pak Daris:


Nanti kalau mau tidur suruh minum susu Mer! Suka nggak mau kalau suruh minum susu!


Me:


Oke Pak, laksanakan!


Merry tertawa kecil membaca chat barusan. Seneng sih, membahas seperti ini.


Pak Daris:


Oke deh, makasih Mamanya Emir!😚


Merry terbelalak membacanya, apa sih dasar duda galau main baperin anak orang aja. Tanpa sadar Merry jadi mesem-mesem sendiri. Dan saat sadar langsung melihat sekitar takut ada yang lihat. Ih, kaya orang gila aja mesem-mesem sendiri.

__ADS_1


Merry ragu bales nggak ya, dibalas 'sama-sama' nanti dikira ngarep jadi mamanya, terus nggak dibales nanti dikira sombong.


"Au ah, biarin aja dikira ngarep, aslinya enggak kan!" gerutu Merry sangat pelan.


Me:


Sama-sama


Merry langsung mengelus dada setelah mengirim balasan chat nya barusan.


Pak Daris:


😊


"Masih dibalas ih!" gerutu Merry sambil melihat layar handphonenya. "Udah lah, biarin aja!" lanjut Merry.


Haduh, jadi ser-seran kaya remaja yang lagi puber euw. Merry pun memutuskan untuk tidak membalas chat Daris lagi.


"Wah, cucu Oma pintarnya!" Mommy Tyas ikut bergabung bersama Merry dan Emir.


"Ini Papa, Mama, dan Emil Oma!" Rupanya Emir sudah tidak malu-malu kucing lagi pada Oma.


"Lihat lihat, wah jagonya cucu Oma!" puji Mommy Tyas melihat hasil warna Emir. Nggak begitu bagus sih hasilnya, ya nggak papa namanya juga belajar, semua hal itu tidak ada yang instan. Orang mau makan mie instan aja masih perlu dimasak kaan?


"Mer, kamu kok mau dipanggil Mama?" tanya Mommy Tyas yang membuat Merry bingung.


"Emangnya kenapa? Merry udah ngajarin buat manggil Auntie, tapi nggak mau anaknya! Merry juga kasihan, ya udah lah nggak papa!" jawab Merry dengan ekspresi 'yah, mau bagaimana lagi?'


"Eh, bukan gitu maksud Mommy! Haduh, salah deh kayanya kalau ngomong! Maksud Mommy itu, kamu kan katanya pengen kalau punya anak dipanggil Bunda! Terus kenapa Emir nggak kamu suruh manggil Bunda aja?" tanya Mommy Tyas yang merevisi pertanyaannya.


Merry tergelak, lalu terlihat berfikir. "Ih Mommy, itu kan buat anak Merry panggilan Bundanya!"


"Emir ini anak kamu, tinggal tunggu tanggal mainnya aja!" ujar Mommy Tyas menggoda Merry.


"Mommy ih, apaan sih!" gerutu Merry.


"Emir, coba panggil Mama Merry dengan sebutan Bunda!" pinta Mommy Tyas kepada Emir. Anak kicik itu terlihat bingung.


"Sekarang, kalau panggil Mama Merry jadi Bunda Merry, bagus kan?" Mommy Tyas kembali menjelaskan. Emir mengangguk mantap dan melihat Merry.


"Bunda," Satu kata lolos dari mulut Emir membuat hati Merry menghangat. Hatinya terasa berbunga-bunga mendengar panggilan yang sudah lama ia idamkan. Merry tersenyum lebar kala mendengarnya.


Mommy Tyas langsung menyenggol lengan Merry. "Bagus kan? Kamu seneng kan?" Mommy Tyas juga ikut tersenyum lebar.


Mungkin, bisa dibilang Mommy Tyas ini Mak Comblang dari kubu Merry, sedangkan Raya adalah Mak Comblang dari kubu Daris.


"Emang nggak papa ya Mom manggil gitu?" tanya Merry ragu.


"Ya nggak papa lah, orang bentar lagi dia jadi anak kamu!" ujar Mommy Tyas. Merry langsung mengerucutkan bibirnya, suka banget sih menggoda Merry. Tapi, kalau dipikir-pikir ya nggak papa sih kalau Emir manggil bunda, bahkan anak tetangga mau memanggil Merry bunda juga nggak masalah.


"Coba panggil lagi bundanya Emir!" perintah Mommy Tyas pada Emir.

__ADS_1


"Bunda! Ini bundanya Emil!" ujar Emir sambil menunjuk Merry.


__ADS_2