
Merry seringkali memejamkan mata mendengar cerita Daris. Cerita ini sangat menyakitkan bagi Merry.
Siapa yang mengerti jika Daris yang sebelumnya terlihat sempurna, ternyata menyimpan masa lalu yang seperti ini?
"Mer, aku tahu ini pasti menyakitkan untuk kamu!" ucap Daris pelan sambil menggenggam erat kedua tangan Merry.
"Terus kenapa dia bisa punya foto itu Mas?" tanya Merry. Menurutnya, sangat tidak mungkin dalam keadaan dipaksa Mutiara masih sempat mengabadikan peristiwa itu.
Daris membuang nafasnya pelan.
"Dulu kami berteman baik, sangat baik! Aku, Al, dan Mutiara tak ragu untuk saling mengejek satu sama lain!" ucap Daris.
"Sebenarnya Mutiara anak yang baik, ia berkata dulu saat membantu aku, dia sengaja menghidupkan kamera handphonenya untuk memvideokan apa yang sedang dia lakukan! Katanya, keesokan harinya saat aku sadar, ia ingin menunjukkan video itu bahwasanya dia hanya sekedar membantu, tidak ada hal-hal lain! Dia itu juga anak yang sangat menjaga dirinya! Aku juga merasa bersalah telah merusak dia dulu!!" tutur Daris yang juga merasa menyesal.
"Ternyata, sampai saat ini Mutiara masih tetap menyimpan video itu, bahkan ada juga yang dijadikan foto!! Dan foto itu yang sekarang menjadi boomerang untuk aku!" Daris berkata hal itu dengan berat.
Merry diam dan menyimak.
"Mer, terus kamu dapat foto itu dari mana?" Daris yang baru menyadari akan hal itu langsung bertanya pada Merry. Apakah jangan-jangan Mutiara yang mengirimkannya?
Merry langsung tersenyum mendengarnya.
"Yang jelas bukan dari wanita itu!" jawab Merry.
"Lalu?" Daris bertambah bingung.
"Orang suruhan ku!" jawab Merry lugas.
Daris membelalakkan matanya. Orang suruhan?
Pikiran Daris langsung sampai pada keluarga Syah, jika Merry saja mampu memecahkan permasalahan ini, tidak mungkin rasanya jika keluarga Syah tidak menyelidiki dan mengetahui tentang dirinya.
"Lalu, keluargamu?" tanya Daris dengan ragu dan cemas.
Merry langsung terkekeh pelan.
"Mas, mungkin kamu menganggap aku hebat bisa tahu tentang masalah ini, tapi sejujurnya keluargaku jauh jauh lebih hebat daripada aku! Sebenarnya mereka tahu tentang latar belakangmu tanpa kamu bercerita pada mereka!! Bahkan, bisa jadi sebenarnya mereka sudah tahu tentang masalah ini!" jawab Merry.
Daris tergelak, ia semakin mendekat kepada Merry.
"Apakah setelah ini mereka akan membawamu pergi dari sini?" tanya Daris dengan khawatir.
"Mungkin saja dan bisa jadi!" jawab Merry dengan pelan. Jawaban itu membuat Daris semakin takut.
Daris segera berdiri dan berjalan.
"Mau kemana Mas?" tanya Merry mengikuti Daris.
"Aku harus ke rumah Mommy sekarang, aku harus meminta maaf dan menjelaskan ini semua! Aku akan meminta kesempatan sekali saja agar mereka tidak mengambil mu Mer!" ujar Daris.
"Aku harus menyelesaikan semua ini!" lanjut Daris.
Merry mendadak tertawa mendengar perkataan Daris.
"Mas, nggak usah!" ucap Merry.
__ADS_1
Merry membawa Daris kehadapannya. Mereka berdiri berhadapan dan saling memandang.
Merry merapikan rambut Daris yang berantakan. Ia juga mengusap pelan kepala suaminya.
"Mereka sudah tahu dan mereka juga memberimu kesempatan! Itu masalalumu dan sekarang kamu sudah berubah, mereka bisa menerima itu!" ucap Merry pelan sambil tetap mengusap pelan kepala suaminya.
"Apa itu benar?" tanya Daris karena baginya ini mustahil.
Merry mengangguk mengiyakan.
"Tapi aku harus tetap berbicara dan minta maaf pada Mommy, Mer!" ucap Daris yang sangat merasa bersalah dan sejujurnya ia malu.
"Iya Mas, itu terserah kamu!" jawab Merry.
"Pasti kamu takut kehilangan aku karena anak-anak juga kan?" tanya Merry.
"Salah satunya Mer, tapi aku juga sangat menyayangi dan mencintai kamu!" jawab Daris.
Merry mengangguk.
"Sejak mengenal kamu, aku tahu jika kelemahan kamu itu tentang anak-anak! Suamiku ini akan lemah jika ada hubungannya dengan anak-anak! Bahkan, dia akan bertindak bodoh asal anaknya aman dan bahagia! Dia juga akan melakukan apapun untuk anaknya!" tutur Merry.
Selain Daris yang sangat menyayangi dan mencintai Merry, Daris juga tak tega dengan anaknya kalau misal Merry pergi dari hidupnya. Anak-anak sangat membutuhkan Merry.
Saat ini, Daris hanya ingin memeluk Merry dengan erat.
"Jika suamiku ini lemah karena anak-anak, maka di sini tugas istrimu yang harus menguatkan! Kita harus saling melengkapi Mas!" tutur Merry.
Tak bisa menahan lagi, Daris langsung memeluk Merry dengan erat. Daris kecup berkali-kali pucuk rambut Merry. Jika tadinya ia menangis karena sedih, takut, dan cemas. Kali ini ia menangis karena bahagia dan terharu.
"Kenapa wanita sebaik dan sekuat kamu punya suami bodoh dan lemah seperti aku Mer?" tanya Daris sambil tetap memeluk Merry.
"Aku yakin istriku ini akan selalu menjadi wanita yang baik dan kuat!" sahut Daris.
"Aduh Mas, engap!" keluh Merry karena Daris memeluknya terlalu erat.
Akhirnya, Daris melepas pelukannya.
"Mas, lain kali kalau ada apa-apa langsung ngomong ya, kita diskusi bareng, jangan seperti ini, kamu malah menyimpan sendiri! Coba kalau kamu udah ngomong dari dulu, pasti kita nggak akan marahan kayak kemarin!" omel Merry sambil cemberut.
"Kalau tau ternyata kamu nggak bakalan ninggalin aku, ya pasti aku udah ngomong dari dulu!" jawab Daris sambil terkekeh.
"Makanya Mas, ngomong dong! Harusnya dicoba dulu!" protes Merry.
"Dicoba? Kalau hasilnya bagus nggak masalah! Tapi kalau ternyata hasilnya nggak baik gimana? Aku udah kehilangan kamu dari dulu dong?" jawab Daris melawan ucapan Merry.
"Ya bagus dong!" sahut Merry cepat.
"Bagus?" tanya Daris dengan cepat.
"Bagus lah! Orang kayak kamu tuh bagusnya ditinggalin! Pake gaya bilang cinta sama wanita lain lah, yang ini lah, yang itu lah!" ujar Merry geregetan pada Daris.
"Ya maaf, aku emang salah kok!" ucap Daris yang tak bisa memberi perlawanan. Daris sadar dirinya memang salah.
"Atutu, nggak usah nangis dong! Nanti kalau anak-anak tiba-tiba dateng tahu Papanya nangis kayak gini, ntar dikira Bundanya yang jahat! Padahal kan yang jahat Papanya !!" ujar Merry sambil menggoda Daris.
__ADS_1
Daris tersenyum, "Aku nggak nangis, orang aku senyum gini!" jawab Daris.
"Iya nggak nangis, ini tapi bekas air matanya masih ada di pipi!" ucap Merry sambil menghapus sisa air mata suaminya.
"Kamu juga ada bekas air matanya!" sahut Daris.
"Ah, masa sih? Aku nggak cengeng loh!" sanggah Merry
"Terus ini apa kalau bukan bekas air mata Sayang??" tanya Daris sambil menghapus sisa air mata Merry juga.
Merry jadi malu diperlakukan seperti ini.
"Ih udah ih Mas! Kaya anak ABG lagi pacaran!" ucap Merry sambil mengubah posisinya tak menghadap Daris lagi.
"Hahaha, emang kita masih ABG kan?" tanya Daris sambil memeluk Merry dari sisi kiri Merry. Lalu, menempelkan pipinya di kepala Merry.
"Ngarang, mana ada ABG udah beranak tiga!!" ujar Merry sambil tertawa.
Daris pun ikut tertawa, lalu mengecup kepala
Merry berkali-kali.
"Mer!"
"Iya Mas?"
"Tapi aku harus menyelesaikan urusanku dengan Mutiara!" ucap Daris yang membuat perasaannya kembali terbebani.
"Mas tenang aja, kita hadapi bersama-sama ya!" ucap Merry.
"Rasanya nggak adil Mer, aku yang buat salah, masa kamu ikut pusing mikirin?" tanya Daris.
"Ih Mas, kita itu suami istri!" jawab Merry.
"Tapi itu kan kesalahan aku sebelum kita kenal! Kamu nggak tahu apa-apa!" ujar Daris.
"Mas Mas, udah baik kamu dikasih istri yang nggak perhitungan! Coba aja kamu dapet istri yang perhitungan, sedih hidup kamu Mas!!" ujar Merry dengan sedikit emosi dan malas.
"Hehehe, iya Sayang, makasih ya! Beruntung banget aku punya istri kamu!" ucap Daris sambil mengeratkan pelukannya.
Nempel terooss!! batin Merry.
"Aku minta maaf ya Mer, aku akan selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu!" ucap Daris.
"Iya iya, udah dimaafin!" jawab Merry.
"Kenapa kamu bisa kuat dengan masa lalu aku yang seperti itu?" tanya Daris sambil tetap memeluk Merry dan meletakkan kepalanya di bahu kiri Merry.
"Aslinya nggak kuat, tapi dikuat-kuatin aja!! Lagian aku mikirnya itu kan masa lalu, ya udah mau gimana lagi? Kecuali kalau itu terjadi pas kamu udah jadi suami aku! Udah aku buang kamu ke rawa-rawa!!" jawab Merry dengan galak.
"Jangan coba-coba kamu mau ngulang kayak gitu lagi! Aku lempar kamu ke kandang Singa!!" ancam Merry.
Daris tersenyum sambil mendusel-ndusel kepada Merry. "Ampun Sayang, janji nggak bakal gitu lagi! Ancamannya serem, yang tadi mau di buang ke rawa-rawa, sekarang mau di lempar ke kandang Singa!"
Daris sangat bahagia, ia tak akan melepas Merry sekalipun. Merry adalah miliknya dan tak akan ada yang bisa mengambil Merry dari hidupnya, kecuali maut.
__ADS_1
Ā
Eh, mereka baikan hihihiš¤