Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Truth or Dare


__ADS_3

"Assalamualaikum!" Salam Daris saat sore hari sepulang kerja.


"Waalaikumussalam Papa!!" Merry menjawab salam suaminya sambil menggandeng tangan Emir.


"Jawab salam Papa dong!!" pinta Merry kepada Emir.


"Waalaikumcalam Papa!!" ucap Emir.


"Anak sholeh nya Papa nih!!" ucap Daris sambil menciumi pipi Emir.


"Mandi dulu Papa!! Papa bau acem!!" ucap Merry menyuruh suaminya mandi dulu.


"Bunda minta cium juga ya?" Daris sudah bersiap ingin mencium istrinya.


"Nanti kalau Papa udah wangi, baru deh Bunda mau dicium!!" jawab Merry sambil cekikikan.


"Ya udah deh Papa mau mandi dulu, biar nanti bisa puas nyium Bunda!!" ucap Daris menjapit hidung Merry.


Merry langsung cemberut nggak suka hidungnya dijapit gini.


"Udah sana Papa buruan mandi deh!!" Merry mendorong Daris agar segera mandi.


"Iya Bunda iya!!!" jawab Daris sambil senyum-senyum.


*****


Setelah sholat Maghrib dan juga mengaji adalah waktu bagi Merry untuk menemani anak-anak belajar. Apalagi sekarang Emir sudah bersekolah, jadi Merry harus lebih disiplin lagi mengatur waktu belajar bagi Emir.


Merry tak hanya menemani Emir, tapi juga menemani Luham dan Liam. Setelah waktu belajar Emir selesai, biasanya Emir langsung berlari ke Papanya yang sedang membaca-baca dokumen kantor. di


Sedangkan Merry tetap menemani si kembar dengan membaca buku atau tak jarang Luham dan Liam juga bertanya tentang pelajaran di sekolahnya.


Bukan hanya pelajaran di sekolah, tapi bertanya tentang apa yang tadi atau baru ia temui dan tidak mengerti. Lebih tepatnya yang banyak bertanya adalah Luham, sedangkan Liam masih belum terbuka pada Merry.


"Bun, kalau ada orang yang jahat sama Bunda, terus Bunda gimana?" tanya Luham karena dia sedang membaca cerita seorang tokoh protagonis yang terus dijahati oleh tokoh antagonis.


"Ya Bunda tetep baik aja sama mereka! Kalau Bunda membalas dia dengan kejahatan juga, namanya Bunda nggak ada bedanya dong sama orang yang jahat!!" jawab Merry.


"Masa orangnya jahat sama Bunda, tapi Bunda tetep baik sama yang jahatin Bunda? Kan orangnya jahat Bun!!" ucap Luham.


"Kalau Bunda sih mikirnya gini Kak, seumpama ada orang yang jahat sama Bunda, terus Bunda membalas dia dengan Bunda balik jahat. Akhirnya orang itu akan semakin marah dan balas dendam ke Bunda dengan hal-hal yang semakin jahat. Kalau kayak gitu bukan hanya Bunda yang ikut berbuat jahat, tapi Bunda juga semakin mengajak dia untuk berbuat jahat!!" tutur Merry.


"Terus Bunda?" tanya Luham.


"Kalau seumpama ada orang jahat tapi kita membalasnya dengan kebaikan! Contoh kebaikannya adalah kita mendoakan agar orang tersebut menjadi orang yang baik, tetap bersikap baik kepada orang itu, tidak mengungkit-ungkit masalahnya, bisa jadi orang itu hatinya tersentuh dan pada akhirnya tidak berbuat jahat lagi, atau mungkin orangnya jadi malu karena dikacangi!"


"Tapi, kalau jahatnya sampai parah dan merugikan, coba kita tanyakan ada masalah apa sampai orang tersebut jahat, coba dibicarakan baik-baik dengan kepala dingin, siapa tahu bisa menemukan titik terang dan jalan keluar, bisa rukun deh!! Dan yang paling parah kalau sampai ke tindak kriminal, kita harus tetap memaafkan tapi serahkan ke pihak berwajib, agar yang jahat bisa dibimbing dan menyadari kesalahannya, lalu berubah menjadi orang yang baik!!" tutur Merry dengan perumpamaan yang semudah mungkin.


"Terus kalau seumpama ada yang mukul Luham di sekolah gimana Bunda?" tanya Luham.

__ADS_1


"Luham pernah dipukul sama temen di sekolah?" tanya Merry.


Luham menggeleng, "Tidak Bunda, semua teman-teman Luham baik pada Luham!"


"Terus kalau seumpama ada yang mukul Luham, kira-kira Luham membalas nggak?" tanya Merry.


Luham menggeleng lagi, "Luham nggak tega mukul orang Bunda! Kalau Luham dipukul pasti Bunda sedih kan?" Luham kembali bertanya lagi.


"Pasti Sayang, siapa sih ya nggak sedih kalau anaknya sakit begitu!!" jawab Merry.


Luham tersenyum, "Kalau Luham membalas memukul, nanti ibunya orang yang Luham pukul akan bersedih, Luham nggak mau itu Bunda! Luham tahu Bunda pasti bersedih karena Luham sudah kena pukul, tapi Luham juga yakin kesedihan Bunda akan tergantikan dengan rasa bangga karena Bunda tahu Luham tak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan juga!!" jelas Luham sambil tersenyum.


Merry terharu, kenapa anaknya ini punya pemikiran yang baik.


"Bunda tahu anak Bunda ini hatinya memang selembut kapas!" ucap Merry sambil mendekat pada Luham, lalu memeluk Luham dan Liam.


"Tetap ingat dimana pun kalian berada, tetap bela kebaikan dan jangan takut saat kalian benar!!" pesan Merry.


"Jangan hanya selalu mengandalkan otot ya Nak, tapi gunakan juga akal dan budi pekerti yang baik! Boleh menggunakan otot jika memang itu diperlukan dan demi kebaikan! Ingat pesan Bunda ya!!" sambung Merry.


"Iya Bunda!" jawab Luham.


"Jangan pernah ragu juga untuk berbicara apapun pada Bunda ya Nak!!" pinta Merry.


"Iya Bunda!!" jawab Luham.


"Bunda selalu percaya, sejahat apapun seseorang pasti ada kebaikan walaupun mungkin hanya setetes air saja! Sentuh kebaikan itu Nak! Siapa tahu dengan kita menyentuh kebaikan yang hanya setetes itu, maka setetes itu berubah banyak dan tak terhingga!" ucap Merry sambil tersenyum.


Setelah mereka selesai belajar, mereka bercanda dan bermain bersama papanya. Ini adalah pemandangan yang indah bagi Merry.


"Truth or dare?" tanya Daris pada Luham.


"Eemm, " Luham nampak berpikir.


"Truth!!" seru Luham.


"Ih cemen, nggak berani dare!!" ucap Daris sambil menjulurkan lidahnya pada Luham.


Liam yang ada di situ menertawakan Luham dan Emir pun yang tidak begitu paham ikut tertawa.


"Ih Papa, kejujuran itu mahal harganya!" Luham membela dirinya.


"Keberanian juga mahal harganya, kejujuran dan keberanian harus berjalan bersama! Tanpa keberanian, kejujuran tidak akan pernah tersampaikan! Tanpa kejujuran, keberanian akan menjadi suatu kebohongan yang bisa merugikan orang lain dan diri sendiri!"


"Ingin berkata jujur butuh keberanian Nak, apalagi kalau kejujuran itu tentang suatu hal yang menyakitkan atau tentang rahasia lama, untuk jujur harus punya keberanian yang besar dan apapun itu kita harus jujur walaupun itu pahit misalnya!" tutur Daris sambil melihat Merry.


Merry tersenyum sambil mengangguk. Daris juga balik tersenyum.


"Apalagi kalau suatu kejujuran itu banyak musuhnya, misalnya dengan kita jujur maka akan banyak yang memusuhi kita, tentu kita harus punya keberanian yang besar! Tapi yang perlu kalian ingat, tentunya Papa ingat juga, di manapun itu junjung kebenaran dan kejujuran, jangan takut!! Ibarat di dunia ini hanya ada satu orang yang jujur, maka kitalah yang harus menjadi orang itu!!" sambung Daris.

__ADS_1


"Terus kalau yang keberanian juga butuh kejujuran Pa?" tanya Liam penasaran.


"Kita harus selalu berusaha untuk jujur, apalagi kalau kita orang yang berani, misalnya berani berbicara di depan orang banyak!! Kalau yang kita sampaikan tidak jujur dan tidak benar berarti kita berdusta, itu kan nggak boleh Sayang!! Atau seumpama ada teman di kelas yang suka berbohong, nah Liam memergokinya, lalu oleh Bu Guru teman disuruh memberi kesaksian supaya teman itu bisa diberi sanksi yang semestinya!"


"Oke Liam memang berani, tapi ternyata memberi kesaksian palsu atau malah berkata jika temannya tidak mencuri! Bisa jadi teman yang mencuri itu keenakan dan terus mencuri! Terus kalau Liam takut diancam, Papa selalu mengajari kepada anak-anak Papa untuk tidak takut membela kebenaran..,"


"Dan menumpas kejahatan!!" sahut Luham.


Daris memberikan dua jempolnya untuk anak-anak. Akhirnya mereka tertawa bersama.


"Ayo lanjut!" Daris mengajak anak-anak untuk melanjutkan permainan.


"Lebih sayang sama Papa atau Bunda?" tanya Daris.


"Mau jawaban jujur atau bohong nih?" sambil cekikikan, Luham ganti bertanya.


"Jujur dong!!" jawab Daris sambil tertawa, ada-ada saja anaknya ini.


"Eh sebentar-sebentar, bohong dulu Kak!!" Merry ikut menimpali sambil tertawa.


"Kenapa gitu?" tanya Daris pada Merry.


"Takut ngga disebut ya?" tanya Daris sambil tertawa dan mengejek Merry.


"Ih enak aja, palingan yang disebut juga aku!" Merry menjulurkan lidahnya pada Daris.


"Ya aku lah!!" Daris penuh percaya diri kalau yang disebut oleh Luhan adakah dirinya.


"Udah udah, Luham mau jawab bohong dulu seperti yang Bunda mau!!" sahut Luham sambil cekikikan.


"Jawaban bohong ini yaaa!! Jawabannya adalah....,"


Merry dan Daris saling melirik, Daris sombongnya minta ampun percaya diri kalau dirinya akan menang.


"Papaaaa hahahaha!!" sambung Luham sambil tertawa terbahak-bahak, sedangkan Liam juga ikut dan tertawa, dan tak ketinggalan Emir ikut tertawa keras sambil menutup mulutnya dengan dua tangan.


Sedangkan Merry langsung berdiri dan bersorak gembira.


"Aku menang, aku menang yuhuuuu!!" Merry mengejek Daris dengan menjulurkan lidahnya pada Daris.


Daris cemberut karena tidak menang, tapi saat melihat Merry yang sangat kegirangan, Daris jadi berubah tertawa dan jadilah mereka tertawa bersama.


"Kalau jawaban jujurnya, Luham lebih sayang Bunda!!" ucap Luham.


"Ututututu, cu cwit banget sih ABG nya Bunda ini!!" Merry memeluk Luham, lalu menjiwit kedua pipi Luham.


"Iya deh nggak papa, Papa bahagia kalau kamu lebih sayang sama Bunda!!" sahut Daris.


"Maca cih? Nggak iri?" tanya Merry sambil menggoda Daris.

__ADS_1


"Enggak dong, asal..." Belum menyelesaikan perkataannya, Daris langsung menuju Merry dan menciumi Merry tanpa ampun, Merry berteriak geli. Bukannya malah menolong, anak-anak malah ikut menciumi Merry sambil tertawa, termasuk Liam juga ikut.


__ADS_2